Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

Akal Bukan Sumber Hukum

Sejak runtuhnya Khilafah dan seiring menurunnya pemahaman Islam kaum muslim, umat Islam telah dikuasai oleh pemikiran-pemikiran asing dengan berkedokkan Islam. Salah satu yang paling berbahaya dari konsep-konsep asing itu adalah gagasan akal sebagai sumber hukum, baik secara eksplisit maupun implisit, misalnya melalui konsep manfaat sebagai tolok ukur untuk menilai hukum syara’.
Pemikiran tersebut telah dipropagandakan kepada kaum muslim, dan sebagian umat Islam telah mengadopsinya. Kita ketahui bahwa hukum syara’ adalah seruan pembuat hukum mengenai perbuatan hamba. Dengan kata lain, setiap hukum Islam membutuhkan adanya seruan dari Allah Swt. dan hal ini harus ditunjukkan oleh wahyu, sedangkan akal manusia bukanlah penerima wahyu. Karena itu, kita harus merujuk kepada sesuatu yang sudah dipastikan sebagai wahyu, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan yang ditunjukkan oleh keduanya sebagai wahyu, yakni Ijma’ sahabat dan Qiyas yang mengandung ‘illat syar’iyyah di dalam teksnya.
Perlu ditegaskan kembali bahwa hukum Allah Swt. tidak dapat ditentukan atau dinilai berdasarkan akal manusia yang serba terbatas. Malah, peran syariat adalah mengubah kecenderungan manusia dari hawa nafsunya kepada keadilan dan rahmat Allah Swt.
Manusia tidak diperkenankan menggunakan akal untuk membuat hukum karena akal bukanlah sumber wahyu sehingga tidak bisa menjadi sumber hukum syara’. Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadis bahwa Nabi saw bersabda, “Siapa saja yang menafsirkan al-Quran menurut pendapatnya sendiri, maka ia sedang mencari tempatnya di api neraka.” Dalam riwayat lain dikatakan, “Siapa saja yang menafsir al-Qur’an tanpa ilmu, maka ia sedang mencari tempatnya di api neraka”. Bahkan, diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi bahwa Nabi saw. bersabda, “Siapa saja yang menafsir al-Quran berdasarkan pendapatnya semata, meskipun pendapatnya itu benar, ia telah melakukan dosa”.
Hukum Allah Swt. tidak dapat dinilai oleh akal, karena hak membuat hukum hanyalah milik Allah. Akal tidak dapat menilai aturan-aturan Allah Swt. yang mengatur kehidupan kita. Akal pun tidak dapat menilai petunjuk Allah Swt. tentang cara-cara menegakkan Islam. Kedua hal ini berada di luar jangkauan akal manusia dan jika dilakukan maka dianggap berdosa.
Imam Syatibi dalam al-Muwaafaqaat fi Ushl al-Ahkam (Jilid 2, hlm. 25) mengatakan, “Tujuan syariat ialah untuk membebaskan manusia dari belenggu hawa nafsunya sehingga menjadi hamba Allah yang sejati dan itulah maslahat yang sesungguhnya.” Beliau melanjutkan, “Melanggar syariat dengan dalih mengikuti tujuan syariat (maqasid asy-syari’at) ialah ibarat orang yang lebih mementingkan ruh daripada jasad. Berhubung jasad tidak dapat hidup tanpa ruh, maka ruh tanpa jasad pun tidak ada artinya.”
Jadi, untuk mengetahui metode Islam dalam menegakkan Khilafah, kita perlu menyadari bahwa hal itu merupakan bagian dari hukum syara’ dan oleh karena itu kita harus menggalinya dari dalil-dalil syariat. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui proses ijtihad.
Ketiadaan Khilafah sesungguhnya merupakan hal baru yang belum pernah terjadi dalam sejarah kaum muslim sebelumnya. Kaum muslim tidak pernah mengalami situasi di mana Khilafah diruntuhkan dan digantikan oleh sistem kufur. Oleh karena itu, masalah ini membutuhkan ijtihad, karena kita tidak dapat mengikuti hasil ijtihad atau menentukan hukum yang keluarkan oleh ulama terdahulu, karena memang mereka tidak pernah menghadapi situasi dan masalah seperti yang kita hadapi sekarang. Artinya, mereka pun tidak pernah menggali hukum Allah berkaitan dengan kondisi status quo seperti yang kini kita alami.
Dengan demikian, kita perlu memahami apa sebetulnya yang dimaksud dengan ijtihad, serta batasan dan syarat-syaratnya. Selanjutnya, kita pun perlu memahami sejumlah gagasan tentang metode yang digunakan untuk menegakkan kembali Khilafah.

Ijtihad

Telah kita mafhumi bersama bahwa akal bukanlah sumber hukum syara’. Bahkan, akal dan syariat adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Berijtihad bukan berarti menggunakan akal untuk membuat hukum, melainkan menggunakan akal untuk memahami realitas permasalahan yang hendak dihukumi dan memahami nas-nas syara’ yang berkaitan dengan masalah tersebut.
Jadi, untuk mengetahui metode Islam dalam menegakkan Khilafah, kita harus mempelajari dalil-dalil syariat dan menggali hukum dari sana. Imam Syafi’i dalam mahakaryanya ar-Risalah (hlm. 75) mengatakan, “Tidak seorang pun boleh memberikan pendapatnya dalam suatu masalah dengan hanya mengatakan bahwa ini dibolehkan dan itu dilarang, kecuali dia memiliki ilmu yang pasti tentang masalah itu, dan ilmu itu berdasarkan al-Quran dan Sunnah atau diambil dari Ijma’ atau melalui Qiyas.”
Dalam kitab yang sama, halaman 288 paragraf 493, Imam Syafi’i mengatakan, “Dalam seluruh masalah menyangkut kehidupan kaum muslim ada ketetapan yang pasti atau suatu indikasi terhadap kebenaran. Jika ada yang bersifat pasti, maka ia harus diikuti. Jika tidak ada indikasi yang pasti, maka dilakukanlah ijtihad.”
Untuk setiap aktivitas manusia pasti ada hukum syara’ dan untuk setiap hukum syara’ pasti ada dalil syariat yang bersumber dari wahyu. Dengan demikian, hukum syara’ diambil dari dalil-dalil yang terperinci melalui proses ijtihad.
Allah Swt. berfirman:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan Kucukupkan nikmat-Ku atasmu dan Kuridhai Islam sebagai agamamu” (QS al-Maa-idah [5]: 4).
Imam Suyuti menyebutkan bahwa seluruh hukum Islam telah diturunkan dan oleh karena itu agama Islam telah turun secara sempurna (al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, dikutip oleh ash-Shabuni dalam Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 18-19). Dengan demikian, Allah Swt. telah menurunkan kepada kita agama yang sempurna. Tidak ada satu pun masalah manusia yang tidak ada hukumnya dalam syariat Islam, yaitu aturan-aturan yang Allah Swt. turunkan untuk membimbing kaum muslim menjalani kehidupannya. Karena itu, hukum syara’ adalah satu-satunya pedoman bagi kaum mukmin dalam seluruh perbuatannya, termasuk dalam hal menegakkan Khilafah.
Allah swt berfirman:
“Ambillah apa saja yang Rasul berikan kepadamu dan tinggalkanlah apa saja yang ia larang. Bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya siksa Allah itu sangat pedih” (QS al-Hashr [59]: 7).
Dengan demikian, kita hanya dapat mengambil hukum syara’ dari al-Quran dan Sunnah dan sumber lain yang ditunjukkan oleh keduanya, yaitu Ijma’ sahabat dan Qiyas. Kita dilarang mengadopi hukum atau perundang-undangan yang tidak bersumber dari keempat sumber itu dalam menjalankan urusan kehidupan kita.
Nabi saw. bersabda, “Siapa saja yang melakukan suatu perbuatan yang tidak berasal dari kami, maka perbuatannya itu tertolak” (Diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. dalam Jami’u ash-Shahih karya Imam Muslim).
Jadi, kita perlu membatasi diri untuk hanya berpedoman pada Syariat Islam dalam seluruh perbuatan kita; baik dalam hal melakukan kewajiban, seperti shalat, menunjuk khalifah, shaum Ramadhan, dan lain-lain; menjauhi larangan seperti berzina, berbohong, larangan bernegara dengan sistem kufur, dan lain-lain; melakukan kemubahan, seperti makan dan minum, memanfaatkan teknologi, bereksperimen dalam bidang sains, dan sebagainya; maupun jenis aturan syariat yang lain, seperti mandub atau makruh. Semua itu membutuhkan dalil dari al-Quran atau Sunnah untuk menentukan pandangan Islam dan hukum Allah Swt. dalam suatu permasalahan.
Setelah kita menyadari bahwa melanjutkan kehidupan Islam dengan jalan menegakkan Khilafah adalah masalah utama yang umat hadapi saat ini, selanjutnya kita perlu memahami bagaimana pandangan Islam berkaitan dengan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam rangka menegakkan kembali Khilafah, yang berarti mengembalikan Islam ke dalam kancah kehidupan.
Jadi, kita harus sadari bahwa untuk setiap perbuatan ada hukum syara’. Di samping itu, untuk setiap hukum syara’ ada dalilnya, yang bisa diambil dari al-Quran, Sunnah, Ijma’ sahabat, ataupun Qiyas.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: