Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

PERBANDINGAN ANTARA PERADABAN ISLAM DENGAN PERADABAN BARAT

Pemaparan

Kaum intelektual menggabungkan kalimat al-hadharah dengan al-madaniyah, yang pada umumnya mereka tidak membedakan arti kedua kata tersebut. Namun, sebagian dari mereka telah memunculkan perbedaan penunjukkan dua kata itu. Sebenarnya apa persamaan dan perbedaan dari keduanya?
Kata hadharah mengisyaratkan pada tahadhdhur (peradaban) lawan dari tabaddu (padang sahara) dan kata haadhirah (ibu kota) lawan dari baadiyah (pedalaman). Kata madaniyah mengisyaratkan pada tamaddun (kehidupan mewah) lawan dari tariifun (perkampungan) dan kata madiinah (perkotaan) lawan dari riifun (dusun, pinggiran).
Secara bahasa, setiap kata menunjukkan hal yang sama. Tahadhdhur dan haadhirah mengisyaratkan pada kehidupan kota yang dicerminkan oleh sikap penduduknya. Lawannya adalah tabaddu dan baadiyah, yaitu kehidupan desa yang tercermin dari kehidupan penduduknya. Demikian pula tamaddun dan madiinah, keduanya mengisyaratkan kehidupan perkotaan yang berbeda dari riifun yang mencakup kehidupan dusun dan desa. Akan tetapi, makna kata riifun lebih luas maknanya dari baadiyah karena mencakup seluruh kehidupan di luar kota termasuk penduduk yang bercocok tanam dan penduduk nomad. Sementara itu, baadiyah hanya mencakup satu aspek saja.
Adapun secara istilah, hadharah khusus ditujukan pada berbagai pemahaman hidup, sedangkan madaniyah khusus pada bentuk-bentuk fisik (materi) kehidupan. Ini berarti kata hadharah terbatas pada penunjukan makna-makna dan pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh pandangan hidup atau ideologi. Adapun kata madaniyah mencakup bentuk-bentuk materi, seperti patung-patung yang diambil dari pandangan hidup atau yang dipengaruhinya, sebagaimana juga bentuk-bentuk materi yang dihasilkan dari sains dan industri, seperti komputer dan pesawat yang tidak diambil dan tidak dipengaruhi pandangan hidup. Itu merupakan hasil kemajuan ilmu dan teknologi, serta perkembangannya.
Apa yang mengharuskan adanya perbedaan antara hadharah dan madaniyah dalam realitas kehidupan?
Selama hadharah dan madaniyah masing-masing diartikan sebagai berikut, hadharah adalah sekumpulan pemahaman tentang segala sesuatu dalam kehidupan yang berlandaskan pada arah pandang ideologi yang dianut oleh seseorang dan umat, sedangkan madaniyah adalah kumpulan dari bentuk-bentuk fisik benda yang terindra yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dipengaruhi salah satu pemahaman ideologi atau tidak, maka ini berarti hadharah bersifat khas pada setiap umat mengikuti arah pandang ideologinya atau mengikuti akidah mabdanya. Sementara itu, madaniyah bisa bersifat khas milik satu umat tatkala dipengaruhi pemahaman akidah dan mabdanya, bisa pula bersifat umum untuk seluruh umat manusia ketika madaniyah ini hasil dari sains dan industri yang tidak khusus dimiliki oleh umat atau bangsa mana pun.
Ketika perbedaan penunjukan dua kata, yaitu hadharah dan madaniyah seperti penjelasan di atas, maka perlu ada perhatian yang serius tentang hal tersebut. Selain itu, perlu ada perhatian terhadap perbedaan bentuk-bentuk madaniyah yang dipengaruhi hadharah (pemahaman tertentu) dengan bentuk-bentuk madaniyah yang menjadi produk sains dan industri atau yang tidak dipengaruhi pandangan hidup tertentu.
Namun, apa hasil dari adanya perhatian serius terhadap perbedaan ini dalam kehidupan individu maupun masyarakat?
Hasilnya tampak ketika madaniyah diambil dengan segala macam bentuknya; dari segi dibedakan bentuk-bentuknya; dan dari segi dibedakan madaniyah dengan hadharah. Ketika seorang Muslim dihadapkan pada madaniyah Barat sebagai hasil kemajuan ilmu dan industri, maka saat itu dia tidak melakukan kesalahan ketika mengambilnya karena tidak satu pun pemahaman mabdanya yang melarang untuk mengambilnya. ‘Cukuplah bagimu saat itu mengambil apa yang diperlukan’, artinya mengambil apa yang menjadi kebutuhan umat Islam. Adapun madaniyah produk hadharah Barat, tidak boleh diambil. Keharaman mengambil produk ini karena haram mengambil hadharah Barat yang bertentangan dengan hadharah Islam, apakah dari segi asasnya; gambaran tentang kehidupan; atau dari segi pemahaman kebahagiaan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Bagaimana pertentangan hadharah Islam dengan hadharah Barat dari segi asas atau landasannya?
Landasan hadharah Barat, yaitu Kapitalisme Demokrasi atau asas ideologinya adalah Sekularisme dan pengingkaran terhadap peranan agama dalam kehidupan, berikutnya pemisahan agama dari negara dan pengaturannya. Pandangan hidup mereka tidak ada kaitannya dengan agama, serta tidak dipengaruhi agama dan juga aturannya. Menurut mereka, kehidupan ini ada seperti sekarang tanpa memperhatikan siapa yang menciptakannya. Akal dan pengaturan manusialah yang akan mengatur kehidupan.
Adapun asas hadharah Islam adalah keimanan terhadap Allah Swt. Dialah yang mengatur kehidupan dunia. Manusia, alam semesta, dan kehidupan masing-masing diberikan pengaturan khusus. Begitu pula Allah Swt. mengutus Muhamad saw. dengan membawa agama Islam–yang menjadi dasar bagi hadharah–yang mencakup keimanan kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, serta Qadha dan Qadar. Artinya, hadharah Islam dibangun di atas asas rohani. Demikianlah, tampak jelas perbedaan antara hadharah Islam dengan hadharah Barat.
Bagaimana pertentangan hadharah Islam dengan hadharah Barat dari segi gambaran tentang kehidupan?
Kehidupan dalam gambaran hadharah Barat adalah manfaat. Setiap perbuatan manusia distandardisasi dengan manfaat, artinya manfaat dijadikan sebagai landasan aturan dan hadharah. Hadharah yang berlandaskan manfaat tidak mengakui standar apa pun selain manfaat atau nilai materi dalam kehidupannya. Oleh karena itu, tidak ditemukan adanya nilai kemanusiaan, nilai akhlak, dan nilai rohani dalam pandangan mereka. Hal inilah yang membuat setiap aktivitas yang mengimplementasikan nilai-nilai tersebut diserahkan pada organisasi yang terpisah dari negara. Lembaga atau organisasi tersebut dinamakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), seperti Palang Merah dan organisasi kemanusiaan lainnya, atau lembaga misionaris dan aktivitas kerohanian yang lain. Adapun aktivitas yang bernilai akhlak mengikuti aktivitas yang bermanfaat menurut pandangan mereka. Jadi, setiap akhlak yang membawa manfaat, hal itu baik dimata mereka, seperti kejujuran, dusta, penipuan, atau menepati janji.
Adapun gambaran kehidupan menurut hadharah Islam, bahwasanya dalam hidup ini mesti dipadukan antara materi dan roh. Artinya, setiap amal manusia diselaraskan dengan perintah dan larangan Allah Swt. Dalam hal ini amal manusia–apa pun jenisnya–adalah materi, ketika dia melakukan amal tersebut, kemudian dikaitkan hubungannya dengan Allah Swt., itulah roh. Dengan demikian, manusia akan melakukan perbuatan tersebut jika halal dan akan menjauhinya jika haram.
Inilah maksud dari sejalan dengan perintah dan larangan Allah dan inilah maksud dari menggabungkan antara materi dengan roh (mazjul maadah bir-ruuh). Tujuan Muslim mengikatkan amalnya dengan perintah dan larangan Allah Swt. bukan semata untuk memperoleh manfaat, namun untuk mencapai keridhaan Allah Swt.
Adapun tujuan duniawi dari pelaksanaan amal tersebut sesuai dengan jenis perbuatannya. Dalam berdagang, nilai materilah yang menjadi tujuan. Dari amal akhlaki diperoleh nilai akhlak dan dari amal ibadah dimaksudkan untuk mendapat nilai rohani. Jadi artinya, ketika melakukan satu amal harus diperhatikan halal dan haram sehingga nilai materi yang diperoleh dari amal tersebut adalah keuntungan yang halal dan bukan keuntungan yang datang dari keharaman.
Bagaimana pertentangan hadharah Islam dengan hadharah Barat dari segi pemahaman tentang makna kebahagiaan?
Kebahagiaan dalam hadharah Barat adalah memberikan bagian yang besar pada manusia dalam hal kesenangan jasmani dan menyediakan sebanyak-banyaknya sarana dan fasilitas untuk hal tersebut. Hal ini mengikuti gambaran hidup mereka yang mementingkan kemanfaatan. Ketika kenikmatan dan kesenangan jasmani tercukupi, seperti aktivitas seksual atau segala aktivitas fisik yang membawa manfaat lainnya tercukupi, itulah kebahagian. Yaitu, saat manusia dapat memenuhi kebutuhan jasmaninya.
Adapun dalam pandangan hadharah Islam, kebahagiaan tercapai saat ridha Allah Swt. didapatkan. Jadi, tidak sekadar dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani ataupun kebutuhan naluri karena pemenuhan kebutuhan ini tidak lebih hanya sarana untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Pemenuhan seperti ini tidak menjamin adanya kebahagiaan, bagaimanapun tingkatan kemampuan pemenuhannya. Terkadang terjadi pada manusia, setelah dia dapat memenuhi kebutuhan perut atau yang lainnya, tetap saja gelisah, begitu pun setelah dipenuhi kebutuhan seksualnya. Hal itu terjadi karena dia hanya mengaitkan semua itu dengan manfaat jasmani semata. Namun, ketika manusia mengaitkan pemenuhan kebutuhannya itu dengan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah Swt., saat itu ia akan merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan keridhaan , sama saja apakah kebutuhannya itu terpenuhi dengan sempurna atau tidak.
Mengapa bentuk-bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadharah Barat berbeda dengan madaniyah yang dihasilkan dari hadharah Islam?
Hal ini tampak jelas pada contoh-contoh fisik, semisal lukisan. Lukisan yang dihasilkan dari peralatan menggambar, adakalanya dipengaruhi oleh hadharah Barat ketika gambar tersebut menampilkan kecantikan wanita dan keindahan tubuhnya. Hal itu dianggap sebagai bagian dari seni menurut kacamata mereka. Adakalanya pula dipengaruhi hadharah Islam, ketika Islam melarang gambar wanita telanjang yang dapat merangsang naluri seksual dan menyebabkan kekacauan akhlak.
Contoh lain adalah membangun rumah. Rumah termasuk bentuk madaniyah yang apabila dipengaruhi oleh hadharah Barat, akan memperlihatkan aktivitas wanita yang berada di dalam rumah dan terlihat oleh orang yang berada di luar dengan maksud untuk kesenangan. Apabila dipengaruhi hadharah Islam, di sekeliling rumah akan dibuat pagar penghalang agar wanita yang berada di dalam rumah dengan pakaian yang biasa digunakan di dalam rumah, tidak terlihat.
Selain itu, contoh lainnya adalah pakaian. Apabila pakaian tersebut identik dengan ciri kekufuran, seperti pakaian pendeta, maka hal ini bertentangan dengan pakaian yang dikehendaki oleh hadharah Islam yang lazim dipakai untuk ibadah. Sebagaimana bertentangannya pakaian-pakaian kerja tertentu yang menurut mereka disesuaikan dengan jenis-jenis pekerjaan. Adapun pakaian lainnya yang lahir dari Barat untuk kebutuhan tertentu atau hiasan tertentu (seperti jas, celana panjang, dan lain-lain, pen.) hal itu tidak bertentangan dengan Islam karena merupakan madaniyah produk dari sains dan teknologi yang boleh diambil. Ini berlaku umum untuk seluruh manusia, bukan milik hadharah tertentu. Demikian pula halnya dengan bentuk-bentuk madaniyah berupa produk dari sains dan tekhnologi, seperti peralatan laboratorium, alat-alat kedokteran, mesin-mesin industri, perabot rumah tangga, mebel, alat pertukangan, dan yang lainnya. Semuanya ini berlaku umum untuk seluruh manusia tidak ada kaitannya dengan hadharah dan ideologi tertentu.
Sebelum pemaparan ini diakhiri, ada baiknya kita melihat dampak negatif yang dihasilkan hadharah Barat yang terjadi di dunia saat ini.
Dengan melihat sepintas saja, begitu tampak dengan jelas akibat yang ditimbulkan dari diterapkannya hadharah Barat, yaitu terjadinya keguncangan pada kehidupan manusia dan mereka kehilangan ketenangan dalam hidupnya. Hal ini terjadi karena hadharah Barat telah membuang agama dari kehidupan dan tidak mengakui aspek kerohanian dalam kehidupan masyarakat, yang tentu saja ini bertentangan dengan fitrah manusia. Hadharah Barat menggambarkan kehidupan sarat dengan manfaat materi. Hubungan di antara manusia dilandaskan hanya pada manfaat, tidak ada yang lainnya.
Akhirnya, menghasilkan kesulitan dan kegelisahan pada individu dan masyarakat. Bagaimana tidak?, selama manfaat dijadikan asas, akan mengakibatkan perselisihan dan baku hantam, serta penggunaan kekuatan dalam memenuhi keinginan-keinginan mereka. Jiwa penjajah telah menjadi karakter mereka, akhlak dibuat guncang, serta terjadi krisis rohani di tengah kehidupan individu dan masyarakat. Semua ini memudahkan seseorang untuk berselisih dan bersaing sebagai solusi bagi masalahnya atau mudah melakukan perbuatan kriminal yang menurut logikanya dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan dirinya ataupun masyarakat. Tidak ada upaya untuk kembali pada agama, selain mengakui kerusakan hadharah mereka dan kesulitan yang mereka alami akibat dari banyaknya penyimpangan yang terjadi.
Dalam kondisi ini, mencari kebahagian hakiki tidak ada gunanya. Mereka kembali memeriksa agama, namun agama yang mana?! Karena seandainya mereka meneliti sejarah secara objektif, akan ditemukan bahwa hadharah Islam yang selaras dengan fitrah manusia; mengatur perbuatan manusia dengan halal dan haram; memiliki gambaran hidup yang memadukan antara aspek materi dengan rohani; serta adanya pemahaman kebahagiaan yang dicapai individu dan masyarakat itu adalah dengan mendapat ridha Allah Swt.
Dengan demikian, hanya Islamlah yang dapat mewujudkan kebahagiaan hakiki bagi individu dan masyarakat; menyelamatkan kehidupan manusia dari kubangan lumpur; serta membawa mereka pada kesejahteraan dan ketenangan.

Diskusi

Tanya : Apa perbedaan dari kalimat ‘rajul muttahadhar’ dan ‘rajul mutamaddun’?
Jawab: Rajul muttahadhar (laki-laki yang berhadharah) maksudnya adalah seorang laki-laki yang memiliki perilaku maju sesuai pandangan hidupnya. Rajul mutamaddun (laki-laki bermadaniyah) maksudnya adalah seorang laki-laki yang memiliki bentuk-bentuk kemajuan sesuai dengan bentuk-bentuk madaniyah yang umum diketahui di negerinya tanpa ada kaitannya dengan pandangan hidup tertentu. Orang yang berhadharah terkadang punya madaniyah, namun orang yang punya madaniyah, terkadang punya hadharah dan terkadang tidak.
Tanya : Apa manfaat dibedakannya hadharah dan madaniyah dalam realitas kehidupan?
Jawab: Hal tersebut akan memberikan pemahaman yang lurus dan pengetahuan yang benar sejauh mana dipadukan atau dipisahkannya hadharah dan madaniyah bagi kaum Muslim serta umat yang lain. Selanjutnya, mana yang boleh dan tidak boleh diambil dari bangsa atau umat yang lain. Inilah tujuan penting yang harus dicapai.
Tanya: Bagaimana mungkin, pakaian bisa dipengaruhi hadharah?
Jawab: Hadharah dapat mempengaruhi pakaian dalam dua segi, pertama dari bahan pakaian. Dalam pandangan hadharah Barat, bahan apa pun boleh dijadikan pakaian, baik untuk wanita maupun pria selama mendatangkan manfaat bagi produsen ataupun konsumen. Sementara itu, hadharah Islam mengharamkan pakaian laki-laki yang terbuat dari sutra dan penggunaan emas, sedangkan untuk wanita kedua barang itu diperbolehkan.
Kedua, dari bentuknya. Pakaian untuk wanita adalah pakaian panjang dan longgar yang menutup seluruh tubuh wanita, sedangkan untuk pria menutup bagian tubuh pria dari pusar hingga lutut. Itulah yang dikehendaki oleh hadharah Islam. Islam juga melarang menyamakan pakaian wanita dan pria, serta memerintahkan untuk berhati-hati dari pakaian yang identik dengan kekufuran.
Adapun hadharah Barat tidak mempertimbangkan semua itu, selama kecantikan, keindahan, dan keuntungan materi dapat dicapai.
Tanya: Mungkinkah kita mengatakan bagi semua bentuk madaniyah hasil dari sains dan teknologi, semuanya itu tidak dipengaruhi hadharah?
Jawab: Tidak, karena ada pula madaniyah hasil dari sains dan teknologi yang dipengaruhi hadharah, misalnya pakaian. Pakaian bisa dipengaruhi hadharah ketika dimaksudkan untuk memperlihatkan kecantikan tubuh wanita.
Tanya : Bagaimana dengan pendapat yang mengharamkan hadharah Barat, termasuk mengutip ilmu dan teknologi dari mereka?
Jawab: Dalam hal ini penting untuk dibedakan antara hadharah dengan madaniyah. Hadharah Barat yang merupakan kumpulan dari pemahaman ideologi mereka, secara hukum syara’, tentunya harus ditolak. Adapun madaniyah terbagi menjadi dua, ada yang dipengaruhi hadharah dan ada pula yang tidak. Yang dipengaruhi hadharah, tentu harus ditolak, sedangkan yang tidak dipengaruhi hadharah, tetapi merupakan produk dari sains dan tekhnologi, serta berlaku umum bagi seluruh manusia, tidak dikhususkan untuk bangsa tertentu, boleh diambil.
Tanya : Apa hubungan hadharah Barat dengan akidah sekuler mereka?
Jawab: Selama hadharah adalah kumpulan pemahaman tentang kehidupan, maka akidah sekuler yang ada pada mereka, menjadikan pemahaman tentang kehidupan tidak diambil dari pemahaman agama, tetapi dari akal dan pemikiran manusia yang memutuskan dan mengatur segala sesuatu. Tentu saja standarnya adalah manfaat. Demikian pula seluruh asas hadharah umat mana pun, baik Barat atau yang lainnya, menyesuaikan dengan ideologi atau pandangan hidup masing-masing.
Tanya: Apa hubungan antara keimanan kepada Allah Swt., yang tidak lain adalah Akidah Islam, dengan hadharah Islam?
Jawab: Hadharah adalah pemahaman tentang kehidupan, pemahaman ini diambil dari akidah yang terdiri dari pemikiran dan hukum. Ini berarti perbuatan yang dilakukan sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt., serta kehalalan dan keharaman dilandaskan pada akidah. Dari sini, jelas sudah hubungan antara hadharah dengan akidah, yaitu bagaikan akar dan dahan, hubungannya erat dan tidak bisa dipisahkan.
Tanya: Apa yang dimaksud dengan gambaran kehidupan yang ada pada setiap hadharah?
Jawab: Maksudnya adalah penafsiran dan penjelasan tentang hakikat kehidupan. Menurut hadharah Barat, kehidupan ini adalah manfaat. Hakikatnya setiap perbuatan yang dilakukan manusia dilandaskan kepada manfaat, yang tergambar saat manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Hadharah Islam menafsirkan kehidupan adalah terpadunya materi dengan roh sehingga semua perbuatan manusia harus memperhatikan kehalalan dan keharaman, bukan sekadar melihat materi semata atau hanya roh saja, melainkan harus menggabungkan keduanya. Inilah gambaran kehidupan yang maksudnya adalah penafsiran dan penjelasan tentang hakikat kehidupan.
Tanya: Mengapa semua perbuatan manusia dikatakan sebagai materi, termasuk juga shalat?
Jawab: Shalat terdiri dari sejumlah gerakan dan bacaan, semuanya adalah materi. Aktivitas ini merupakan pelaksanaan perbuatan yang didasarkan pada perintah Allah, itulah yang dinamakan roh. Karena itu, shalat dikatakan perbuatan materi (fisik) dan roh. Namun, hal seperti ini tidak dikhususkan untuk shalat saja, tetapi perbuatan apa pun yang dilakukan dengan mengikuti perintah dan larangan Allah Swt. Jadi, memang shalat adalah perbuatan fisik yang di dalamnya lebih banyak unsur rohnya bagi manusia karena di dalam shalat, seorang Muslim menghadapkan wajahnya dan berhubungan langsung dengan Allah Swt.
Tanya: Apabila semua perbuatan manusia adalah materi dan tidak dilandaskan kepada perintah Allah dan juga larangan-Nya, maka bagaimana dengan keempat nilai perbuatan manusia?
Jawab: Nilai suatu perbuatan adalah tujuan langsung yang hendak dicapai. Tujuan dari semua perbuatan manusia hanya ada empat. Yaitu, materi, kemanusiaan, akhlak, dan nilai rohani. Andai kita sebutkan satu per satu perbuatan manusia, pasti kita dapatkan banyak maksud atau empat nilai ini. Jika salah satunya dilakukan berdasarkan perintah dan larangan Allah, itu artinya telah dipadukan materi dengan roh. Lalu, jika tidak, maka perbuatan itu hanya materi semata.
Tanya: Bagaimana hadharah Barat memandang kebahagiaan?
Jawab: Acap kali hadharah ini memandang bahwa kebahagiaan manusia itu tidak ada kaitannya dengan Pencipta, tetapi kebahagiaan itu milik manusia dan sesuai dengan keinginannya. Keinginan manusia ini tercapai ketika kebutuhan naluri dan jasmaninya terpenuhi. Dari sinilah, hadharah ini memandang kebahagiaan manusia tercapai saat terpenuhinya kebutuhan hidup.
Tanya: Apabila aktivitas seksual dapat memenuhi tuntutan naluri seks, bagaimana hadharah Islam dan hadharah Barat memandang hal ini?
Jawab: Menurut keduanya, pemenuhan kebutuhan naluri apa pun dapat mewujudkan kenikmatan. Namun, dalam pandangan hadharah Barat, aktivitas seksual hanya ditujukan untuk kenikmatan semata dan dalam rangka mencapai kebahagiaan, sesuai dengan pemahaman mereka. Adapun menurut hadharah Islam, aktivitas seksual ditujukan untuk memperoleh keturunan dan memelihara kehormatan diri agar mendapatkan ridha Allah Swt. Ketika aspek roh dan materi ini berpadu, maka akan diraih keridhaan Allah Swt. yang dapat menciptakan ketenangan hati dan jiwa. Demikian pula halnya dengan perbuatan yang lain.
Tanya : Apa maksudnya pakaian sebagai bentuk madaniyah terkadang menimbulkan pertentangan antara hadharah Islam dengan hadharah Barat?
Jawab: Hal ini tampak jelas pada pakaian-pakaian yang berhubungan dengan pemahaman masing-masing. Seperti adanya perbedaan antara pakaian pria dan wanita dalam pandangan kedua hadharah tersebut. Pakaian dari Barat, banyak memperlihatkan anggota tubuh, serta sempit membentuk lekuk tubuh. Sementara itu, pakaian dalam Islam tidak demikian. Di Barat, ada juga pakaian yang digunakan saat tertentu, misalnya saat gembira atau sedih, sedangkan dalam Islam tidak demikian. Ini semuanya dipengaruhi oleh pandangan hidup masing-masing sehingga menimbulkan adanya pertentangan.
Tanya : Akan tetapi, bagaimana kaitannya dengan pakaian yang berasal dari hadharah Barat untuk kebutuhan tertentu dan hiasan tertentu, namun tidak bertentangan dengan Islam?
Jawab: Apabila terdapat keperluan khusus atau hiasan tertentu yang diakui dalam Islam, seperti pakaian untuk penerbangan atau pakaian kerja pada industri tertentu, atau perhiasan yang cocok dipakai untuk hari raya ‘Id atau pernikahan atau ta’ziyah, maka itu tidak bertentangan dengan Islam dan hadharah Islam, selama kebutuhan atau perhiasan itu diakui oleh syara’.
Tanya : Mengapa hadharah Barat bertentangan dengan fitrah manusia?
Jawab: Hadharah Barat dibangun di atas dasar pemisahan agama dari kehidupan, yang akhirnya mereka mengingkari fitrah manusia yang mencakup naluri untuk beragama dan pengaturannya.
Tanya : Mengapa dalam pembahasan ini dibatasi hanya pada perbandingan dua hadharah saja, yaitu Islam dan Barat Kapitalisme, sementara Sosialisme tidak disinggung sedikitpun?
Jawab: Hal ini karena hadharah Islamlah yang satu-satunya yang berdiri di atas dasar rohani, yaitu ada penggabungan antara materi dengan roh dalam menggambarkan kehidupan, serta memiliki pemahaman kebahagiaan yang khas.
Sementara itu, dari segi asas, Barat Kapitalisme telah mencampakkan agama, bahkan pada Sosialisme agama itu diingkari keberadaannya. Gambaran kehidupan pada mereka adalah manfaat materi bagi individu dan masyarakat. Selain itu, kebahagiaan yang mereka pahami sama sekali tidak berkaitan dengan keinginan untuk memperoleh keridhaan Tuhan, tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan yang ada pada individu ataupun masyarakat.
Kedua hadharah tersebut, hidup bergelimang dengan nafsu syahwat dan obsesi-obsesi duniawi, baik individu maupun masyarakatnya. Sementara itu, Islam dengan hadharahnya, menganggap dunia dan keindahannya sebagai sarana menuju akhirat yang kekal kenikmatannya.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: