Oleh: politisimuslim | April 21, 2007

BANTAHAN (JIDAL) KAUM YAHUDI DAN NASRANI

Orang-orang non-muslim akhirnya merasakan adanya kekuatan kaum muslimin. Mereka merasa bahwa kekuatan ini adalah kekuatan yang terpancar dari kedalaman hati yang paling dalam. Yaitu, hati yang mengetahui makna pengorbanan di jalan Islam dan merasakan penderitaan yang bermacam-macam yang disebabkan olehnya. Hati ini ketika pagi tidak memandang sore dan ketika sore tidak memandang pagi. Inilah hati yang memiliki waktu yang bisa merasakan nikmatnya manfaat pandangan agama yang perkaranya dinyatakan secara terang-terangan, melaksanakan hukum-hukumnya, meninggikan kalimatnya, dan merasakan kebahagiaan.
Akan tetapi, musuh-musuh Islam justru memperlakukan umat Islam dengan buruk. Pengaruh-pengaruh ini tampak pada tetangga-tetangga mereka (umat Islam) yang Yahudi. Ketakutan mereka mulai kelihatan. Kaum kafir memikirkan kedudukan mereka yang baru kaitannya dengan keberadaan Muhammad dan sahabat-sahabatnya setelah melihat perkembangan kaum muslimin di Madinah yang kekuatan dan kedahsyatannya bertambah secara berlipat-lipat, jumlah manusia yang menerima Islam bertambah banyak, dan kemurkaan mereka juga semakin bertambah dengan adanya sebagian kaum Yahudi yang menerima Islam. Mereka takut Islam melebarkan sayapnya hingga menembus barisan mereka dan merusak kelompok-kelompok mereka. Karena itu, mereka mulai menyerang Islam berikut akidah-akidah dan hukum-hukumnya. Maka, mulailah terjadi perang perdebatan (jidal) antara kaum muslimin dengan Yahudi. Perang ini jauh lebih sengit dan tipu dayanya lebih besar daripada perang perdebatan antara kaum muslimin dan kafir Quraisy Makkah. Dalam perang pemikiran ini, maka isu, kemunafikan, dan pengetahuan tentang kabar-kabar orang-orang dahulu, tentang para Nabi dan Rasul menjadi senjata di tangan kaum Yahudi untuk menyerang Muhammad, risalahnya, dan para sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Ansor. Para rahib mereka meniupkan isu pada orang yang menampak-nampakkan keislaman dan orang yang sekiranya dapat duduk di antara kaum muslimin dengan menampak-nampakkan ketaqwaan, kamudian setelah itu dia menyelipkan keraguan dan melemparkan pertanyaan-pertanyaan pada Muhammad yang sekiranya akan menggoncang akidah kaum muslimin dan risalah kebenaran yang diserukan oleh beliau.
Sekelompok orang dari bani Aus dan Khazraj yang telah menerima kemunafikan bergabung dengan kaum Yahudi untuk bertanya dan membuat onar di antara kaum muslimin. Perdebatan antara kaum Yahudi dan muslimin telah melampaui batas yang kadang-kadang mengantarkannya pada permusuhan fisik, padahal di antara mereka masih terikat perjanjian. Untuk menggambarkan rusaknya kaum Yahudi dan semangat permusuhan mereka yang tertuang dalam perdebatan cukup dengan melihat perbuatan mereka yang sempat mengusik kesabaran dan ketenangan Abu Bakar, padahal dia adalah sahabat Rasul yang dikenal berperangai halus, sangat sabar, dan bertabiat lemah lembut. Diriwayatkan bahwa Abu Bakar pernah berbicara pada orang Yahudi yang biasa dipanggil Fanhash. Beliau mengajaknya masuk Islam, tetapi Fanhash menolaknya dengan mengatakan, “Demi Allah, wahai Abu Bakar, tidaklah kami membutuhkan Allah, sementara Dia benar-benar butuh kepada kami. Kami tidak tunduk kepada-Nya sebagaimana Dia tunduk kepada kami. Sesungguhnya kami terlalu cukup dan tidak membuuthkan-Nya. Tidaklah Dia tidak butuh kepada kami. Seandainya Dia tidak butuh kami, tentu Dia tidak mencari pinjaman harta kami sebagaimana yang diyakini oleh sahabatmu. Dia melarang kalian riba dan memberikannya kepada kami. Seandainya Dia tidak butuh kami, tentu Dia tidak memberi kami riba (bunga pinjaman).” Fanhash berkata demikian dengan merujuk firman-Nya [yang artinya]: Siapakah yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Sllah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (QS. Al-Baqarah: 245). Mendengar jawaban ini, Abu Bakar spontan marah. Dia tidak mampu menahan kesabarannya atas jawaban ini. Abu Bakar murka murka. Tangannya langsung memukul wajah Fanhash dengan keras seraya menghardik, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, seandainya tidak ada perjanjian antara kami dan kalian, pasti saya akan memenggal kepalamu, hai musuh Allah!” Seperti demikianlah kedahsyatan perdebatan antara kaum muslimin dan Yahudi yang sempat memakan putaran waktu yang panjang.
Pada waktu itu, datang ke Madinah utusan dari orang-orang Nasrani Najran yang berjumlah 60 orang berkuda. Barangkali utusan ini datang ke Madinah karena mengetahui apa yang terjadi di antara kaum muslimin dan Yahudi mengenai pertikaian-pertikaian yang semakin memanas hingga mengantarkan pada permusuhan. Dengan demikian, paham Nasrani tersebar dan menghapuskan agama lama (Agama Yahudi) dan agama baru yang keduanya akhirnya saling mendesak paham Nasrani. Utusan ini bertemu Nabi dan kaum Yahudi, sementara Nabi memandang mereka (orang-orang Najran yang Nasrani) dan kaum Yahudi sebagai Ahlu Kitab. Lalu beliau mengajak mereka semua masuk Islam seraya membacakan pada mereka firman Allah: “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) (QS. Ali Imran: 64).
Orang Yahudi dan Nasrani kemudian bertanya kepada Nabi tentang orang yang mengimani para rasul, lalu beliau membacakan pada mereka firman-Nya [yang artinya]: “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 136). Mereka tidak menemukan apa yang dikatakan kepada Rasulullah saw. Hujjah ini menolak jiwa mereka dan kebenaran menjadi tampak. Akan tetapi, mereka tetap tidak beriman karena berambisi pada kedudukan sehingga sebagian mereka berteriak keras karena hal itu.
Diriwayatkan bahwa Abu Haritsah, salah seorang utusan Nasrani Najran yang paling banyak ilmu dan pengetahuannya, melontarkan perkataan jelek kepada kawannya tentang ucapan Muhammad yang sebenarnya dia puas dengan jawaban Rasul. Ketika kawannya bertanya, “Apa yang mencegahmu dari menerima ucapannya, padahal engkau mengetahuinya?” Jawabnya: “Apa yang akan diperbuat kaum itu (orang-orang Najran) pada kami. Mereka tidak akan memuliakan kami, tidak akan menjadikan kami pemimpin, dan tidak akan lagi menghormati kami. Mereka hanya akan mengabaikan kami. Seandainya aku melakukannya (menerima kebenaran Muhammad), tentu mereka akan mencabut dari kami setiap apa (kedudukan, kehormatan, dan kekayaan) yang engkau lihat.” Jawaban itu menunjukkan tidak adanya iman mereka. Mereka menolak dengan kesombongan dan kekufuran.
Kemudian Rasulullah saw. menantang kaum Nasrani ber-mubahalah dan membacakan firman-Nya kepada mereka [yang artinya]: “Siapa saja yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61). Mereka bermusyawarah, kemudian mengumumkan bahwa mereka memandang tidak perlu meladeni tantangan mubahalah Nabi saw. dan membiarkan Nabi saw. pada agamanya, sementara mereka sendiri kembali kepada agama mereka. Akan tetapi, mereka meminta Nabi saw. untuk mengutus seseorang yang akan menjadi hakim di antara mereka dan memutuskan persengketaan tentang persoalan-persoalan harta di antara mereka. Nabi saw. mengutus Abu ‘Ubaidah bin Jarrah untuk menemani mereka dalam memutuskan perkara-perkara yang mereka perselisihkan. Keputusan-keputusan yang dikeluarkan didasarkan pada Islam.
Seperti demikianlah kekuatan dakwah Islam, kekuatan pemikiran dan hujjahnya yang mampu mengungguli semua mujadalah kalamiyah yang dikobarkan oleh kaum Yahudi, munafiq, dan Nasrani. Semua pemikiran-pemikiran non-Islam menjadi susut dan samar, dan akhirnya tidak ada yang tersisa kecuali Islam. Hanya Islam yang mampu bertahan. Islam meladeni semua diskusi yang membahas tentang pemahaman hukum-hukum dan dakwahnya. Islam memusat dan benderanya menyebar dari sisi pemikiran dan pemerintahan. Sementara jiwa kaum munafiq dan Yahudi masih terus terlipat dalam kebencian terhadap kaum muslimin. Jiwa mereka menyimpan dendam dan murka kepada umat Islam. Dendam dan murka mereka dikarenakan kekuasaan Islam bermarkas di Madinah dan masyarakat berkonsentrasi di sana di mana kekuasaan itu mampu melindas semua musuh. Detasemen-detasemen dikirimkan secara susul-menyusul. Kekuatannya yang tampak memiliki pengaruh dalam mendiamkan jiwa-jiwa yang sakit ini. Kalimat Allah terus membuktikan kebenaran-Nya dan perlawanan terhadap Islam di Madinah dan sekitarnya menjadi berbahaya karena mereka tetap diam dan tunduk pada kekuasan kaum muslimin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: