Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

AL-INSAN (MANUSIA)

Pembahasan tentang manusia, pengetahuan mengenai maju dan mundurnya manusia dan pengetahuan mengenai contoh hal itu bukanlah berdasarkan pada tindakan dan tingkah lakunya baik secara individu maupun secara kelompok. Hal itu karena pembahasan yang berkaitan dengan manusia harus ditinjau dari aspek manusia sebagai manusia. Oleh karena itu, harus terdapat pengetahuan mengenai hakekat manusia agar dapat diketahui kapan manusia itu mengalami kemunduran atau kemajuan. Upaya untuk mengetahui manusia, menuntut pula upaya untuk mengetahui motif, penggerak dan pengendali dari tindakan dan tingkah lakunya serta keselarasannya dengan perilaku masyarakat di sekitarnya.
Betul, bahwa pandangan terhadap manusia merupakan bagian dari pandangan terhadap alam semesta ini dan kehidupan yang terdapat di dalamnya. Hanya saja, manusia lah yang memelihara alam ini dengan cara membangunnya, yang membedakannya dengan makhluk lain karena mempunyai sifat dan kekhususan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Walaupun manusia berasal dari materi alam dan dari kehidupan yang terdapat di dalamnya, tetapi manusia berbeda dengan makhluk lainnya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman. Itulah sebab dari adanya penundukkan semua yang ada di alam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT. {“Allah telah menundukkan bagi kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi semuanya.”}(Q. S. Al-Jatsiyah: 13). {“Allah telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar. Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang.”}(Q. S. Ibrahim: 33). {“Allah telah menundukkan bahtera bagi kalian agar dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya.”}(Q. S. Ibrahim: 32), dan ayat lainnya yang menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa nikmat akal dan pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi manusia itu sehingga mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan.
Dengan demikian, manusia adalah makhluk hidup. Di dalam diri manusia terdapat apa-apa yang terdapat di dalam makhluk hidup lainnya yang bersifat khsusus. Dia berkembang, bertamabah besar, makan, istirahat, melahirkan dan berkembang biak, menjaga dan dapat membela dirinya, merasakan kekurangan dan membutuhkan yang lain sehingga berupaya untuk memenuhinya. Dia memiliki rasa kasih sayang dan cinta, rasa kebapaan dan sebagai anak, sebagaimana dia memiliki rasa takut dan aman, menyukai harta, menyukai kekuasaan dan kepemilikan, rasa benci dan rasa suka, merasa senang dan sedih dan sebagainya yang berupa perasaan-perasaan yang melahirkan rasa cinta. Hal itu juga telah menciptakan dorongan dalam diri manusia untuk melakukan pemuasan rasa cintanya itu dan memenuhi kebutuhannya sebagai akibat dari adanya potensi kehidupan yang terdapat dalam dirinya. Tubuh manusia yang menyerupai mesin, juga membutuhkan adanya gerak, berjalan, membentuk dan mengganti bagian yang rusak dan membuang zat yang membahayakannya. Potensi kehidupan yang ada di dalam diri manusia mendorongnya untuk memperoleh makanan dan air ketika tubuh membutuhkannya atau membuang zat hasil pembakaran atau yang sudah rusak. Oleh karena itu, sejak dilahirkan hingga mati manusia senantiasa bergerak dinamis sehingga manusia membutuhkan energi untuk melakukan gerak dan juga membutuhkan unsur-unsur dan alat-alat untuk melakukan gerak tersebut. Oleh karena itu, manusia senantiasa aktif untuk memenuhi kebutuhannya atau untuk menutupi kekurangan yang dituntut oleh tubuhnya, dalam rangka membangun anggota tubuhnya atau nalurinya. Perumpamaannya sama seperti makhluk hidup lainnya. Hanya saja, manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya dalam hal kesempurnaan tata cara untuk memperoleh benda-benda pemuas kebutuhannya dan juga tata cara untuk memuaskan kebutuhannya tersebut. Makhluk hidup lain melakukannya hanya berdasarkan naluri yang telah Allah ciptakan untuknya. Allah SWT berfirman: {“Dia yang yang telah menentukan kadar masing-masing dan memberi petunjuk.”}(Q. S. Al-‘Ala: 3). Mereka menempuh cara tertentu untuk mempertahankan hidupnya atau menjaga kelestariannya dan melestarikan jenisnya atau untuk memenuhi rasa laparnya, yaitu dengan cara yang liar dan ganas. Sedangkan manusia berbeda dari makhluk hidup lainnya. Dia melakukannya berdasarkan akal yang telah Allah karuniakan kepadanya, tidak semata-mata bersifat naluriah sebagaimana halnya makhluk hidup lainnya. Ketika dia didorong untuk memuaskan rasa laparnya atau memenuhi kebutuhannya atau mewujudkan kesenangannya maka dorongannya itu senantiasa didasarkan pada pemahaman akal dan pemahaman tentang sesuatu yang mendorongnya itu, apakah di dalam benda itu terdapat potensi untuk memuaskan rasa laparnya? Dan bolehkah dia memanfaatkannya atau tidak? Dia tidak akan melakukan suatu perbuatan hingga muncul dalam dirinya dua buah pertanyaan, yaitu:
Pertanyaan pertama, apakah dalam benda itu terdapat sesuatu yang dapat memuaskan rasa laparnya atau sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya atau memenuhi keinginannya? Jawaban terhadap pertanyaan ini bergantung pada pemahaman yang terdapat dalam dirinya. Apabila pemahamannya mengenai benda itu menyatakan bahwa benda itu dapat memuaskan rasa laparnya atau dapat memenuhi kebutuhannya atau dapat memenuhi keinginannya, baik pemahaman itu bisa berasal dari dirinya sendiri ataupun diperoleh dari orang lain, maka akan dihasilkan kecenderungan terhadap benda itu (untuk menkonsumsinya, pen.). Rasa laparnya akan mendesaknya untuk mengambilnya dan memenuhi hasratnya. Inilah yang disebut dengan pemahaman tentang sesuatu. Hanya saja, dia tidak akan langsung mengambil dan memanfaatkannya kecuali setelah mendengar jawaban dari pertanyaan kedua yaitu apakah dia diperbolehkan untuk memanfaatkan benda tersebut untuk memuaskan rasa laparnya atau tidak? Apabila jawabannya negatif atau tidak boleh maka dia akan berpaling dari benda tersebut dan mengalihkan kecenderungannya atau berupaya mengubah kecenderungannya terhadap benda itu karena benda itu tidak diperbolehkan untuk dimanfaatkan atau digunakan untuk memuaskan rasa laparnya. Adapun apabila jawabannya positif atau diperbolehkan untuk memanfaatkannya maka dia akan mengambilnya dan memuaskan hasratnya terhadap benda itu dan memuaskan rasa laparnya. Inilah yang disebut dengan pemahaman tentang kehidupan.
Oleh karena itu, faktor yang mengarahkan perilaku manusia adalah pemahamannya tentang benda, yaitu dari aspek apakah benda itu dapat memuaskan rasa laparnya atau tidak serta pemahamannya tentang kehidupan, yaitu dilihat dari aspek boleh atau tidaknya memuaskan rasa laparnya dengan benda tersebut.
Pemahaman tentang benda di kalangan manusia hampir satu pendapat. Tidak ada perbedaan di antara mereka berkaitan dengan hal itu kecuali karena adanya perbedaan cita rasa dan keinginan. Oleh karena itu, dilihat dari aspek pemahaman tentang benda dan pengetahuan tentang potensi dan kegunaan benda itu terdapat kesatuan pendapat di kalangan manusia. Dengan demikian, hal itu tidak berpengaruh terhadap perilaku manusia dilihat dari aspek tinggi atau rendahnya. Buah-buahan dengan berbagai jenisnya, sayur mayur dengan berbagai macamnya, daging dengan berbagai kualitasnya, pengetahuan bahwa wanita akan memuaskan naluri untuk mempertahankan jenis, bahwa ibadah akan memuaskan naluri beragama, bahwa pakaian akan memberikan perlindungan dari rasa dingin atau panas atau sebagai perhiasan. Semua pemahaman tentang benda itu adalah satu di kalangan manusia karena merupakan pengetahuan yang bersifat ilmiyah atau pengetahuan yang berkaitan dengan potensi yang terdapat dalam benda-benda tersebut, yaitu apakah semua benda itu dapat memuaskan rasa lapar atau tidak.
Adapun pemahaman tentang kehidupan –yaitu boleh tidaknya memuaskan rasa laparnya dengan benda itu- maka hal itu merupakan perkara yang berada di luar benda itu sendiri dan berada di luar diri manusia. Hal itu harus dikembalikan kepada sebuah kaidah atau beberapa kaidah yang dijadikan sebagai standar perbuatan dan tingkah lakunya. Maksudnya, hal itu dikembalikan kepada sudut pandangnya terhadap kehidupan, yaitu dilihat dari aspek apakah dia akan melakukan perbuatan itu atau akan menghindarinya. Adapun sudut pandang seorang muslim terhadap kehidupan adalah halal dan haram. Oleh karena itu, ketika dalam dirinya timbul rasa lapar misalnya, dan dia melihat sebuah piring berisi makanan maka dia akan tahu bahwa makanan itu layak untuk dimakan –yaitu dia mempunyai pemahaman bahwa makanan itu dapat dimakan- dan akan timbul dalam dirinya kecenderungan terhadap makanan tersebut. Akan tetapi, dia tidak akan mengambilnya hingga terjawab pertanyaan kedua yaitu apakah dia diperbolehkan untuk memanfaatkan makanan itu ataukah tidak? Maksudnya, dia akan bertanya pada dirinya apakah halal baginya untuk mengambil makanan itu dan memakannya ataukah haram? Apabila dia mengetahui bahwa dalam makanan itu terdapat sesuatu yang bertentangan dengan standar yang dia jadikan sebagai sudut pandangnya terhadap kehidupan, misalnya dia tahu bahwa benda itu najis atau di dalamnya terdapat daging babi atau pemiliknya tidak memberi ijin kepada dia untuk memakannya, maka dalam keadaan seperti itu dia akan menghindarkan dirinya dari mengambil makanan tersebut walaupun dia memiliki kecenderungan terhadapnya. Dia akan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari kecenderungan tersebut. Contoh ini berlaku untuk seluruh perkara yang berkaitan dengan upaya pemuasan manusia terhadap kebutuhannya atau pemenuhan terhadap semua keinginannya, baik kebutuhan jasmani seperti makan dan minum maupun kebutuhan yang bersifat naluri seperti ibadah, naluri mempertahankan jenis dan naluri mempertahankan diri.
Dengan demikian, kami katakan bahwa seluruh perbuatan manusia terikat dengan standar-standar dan kaidah-kaidah yang dia yakini. Selain itu, juga dibatasi oleh sudut pandangnya terhadap kehidupan yaitu akidahnya. Dan bahwa seluruh perbuatan manusia itu dikendalikan oleh pemahamannya terhadap kehidupan, yaitu dilihat dari aspek apakah dia akan melakukan perbuatan itu atau tidak. Baik perbuatan itu merupakan perbuatan yang mendasar atau cabang, penting atau sepele, bernilai atau bersifat remeh. Dengan demikian, akidah itulah yang merupakan prinsip dasar bagi pemikiran-pemikiran dan pemahaman-pemahamannya tentang kehidupan. Dari akidah itulah digali seluruh aturan kehidupannya. Dari akidah itu pula diambil sudut pandangnya terhadap kehidupan. Dan dari akidah itu pula diambil kaidah-kaidah dan standar-standar yang akan membedakan sesuatu yang buruk dengan yang baik dan sesuatu yang keji dengan yang mulia.
Itulah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Itu pula yang membuat manusia lebih tinggi derajatnya dibanding seluruh makhluk. Akal manusia dapat membedakan benda dari lingkungannya dan membentuk sudut pandangnya terhadap kehidupan. Akal pula yang membenarkan pemikiran-pemikiran dan meyakininya. Dengan demikian, pemahaman yang terdapat dalam dirinya itulah yang mengendalikan perilakunya dalam kehidupan dan mengarahkan tingkah lakunya ketika berupaya untuk memenuhi kebutuhannya atau memuaskan keinginannya.
Dengan demikian, penilaian terhadap manusia yang didasarkan pada aspek perbuatannya adalah penilaian terhadap pemikiran-pemikiran yang diyakininya, standar-standar yang digunakannya dan sudut pandang terhadap kehidupan yang digunakannya. Penilaian terhadap pemikiran-pemikiran itu menuntut adanya kaidah-kaidah dalil yang bersifat akli yang akan menjadi rujukan ketika hendak menetapkan sebuah hukum.
Dengan demikian, yang menjadi masalah dalam upaya memahami apa itu manusia, yaitu apakah dia termasuk manusia yang maju atau terbelakang, adalah penelaahan terhadap perbuatan dan tingkah lakunya dengan cara membandingkan hal itu dengan apa yang kita miliki yaitu pemahaman-pemahaman, standar-standar dan keyakinan-keyakinan yang berkaitan dengan perbuatan dan perilaku yang tinggi dan rendah rendah. Misalnya: pengorbanan, tindakan mengutamakan orang lain, dermawan, muruah dan dapat dipercaya. Contoh lainnya adalah baik dalam bertetangga, jujur dalam bermuamalah, ikhlas, ihsan dan sebagainya yang dijadikan standar oleh masyarakat dalam menetapkan hakekat sebuah perbuatan. Sebagaimana firman Allah SWT: {“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan ihsan serta menyantuni kerabat; dan melarang perbuatan keji, munkar dan melampaui batas.”}(Q. S. An-Nahl: 90). Seperti juga firman Allah SWT: {“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu sebagai kebaikan, melainkan kebaikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kiamat, para malaikat, kitab-kitab dan para nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang meminta-minta, memerdekan hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji apabila mereka berjanji, orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.”}(Q. S. Al-Baqarah: 177).
Rasulullah SAW bersabda: [“Pemberian hidayah oleh Allah kepada seseorang melalui dirimu adalah lebih baik bagimu daripada munculnya matahari.”](H. R. Ath-Thabrani dari Abi Rafi’).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: