Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

AL-SYAKHSIYYAH (KEPRIBADIAN)

Manusia melaksanakan aktifitasnya untuk memenuhi gharizah dan haajaah ‘udwiyyah dan kumpulan dari aktifiats ini adalah suluk (tingkah laku) manusia. Suluk terikat dengan mafaahim manusia dari al-asyya dan al-af’aal dan al-hayaah. Suluk adalah yang menunjukkan syakhsiyah seseorang, tidak termasuk di dalam syakhsiyah ini seperti poster tubuh seorang dan baik buruknya tubuh, bentuknya, warna kulitnya atau ras bangsanya.
Syakhsiyah adalah thariqah akal manusia terhadap suatu realitas, atau muyulnya terhadap realitas. Arti lain dari Syakhsiyah manusia adalah aqliyah dan nafsiyyah manusia lantas apa aqliyyah dan apa nafsiyyah itu ?

A. Al Aqliyyah

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarannnya maka tinggalkanlah. (QS. Al Hasyr 7)
Manusia mengindera realitas dan mengkaitkan dengan ma’lumat saabiqah yang ada padanya tentang realitas yang diindera itu, kemudian menghukumi realitas tersebut berdasarkan al-qaaidah al-fikriyyah yang dipakai sebagai parameter di dalam proses berfikirnya.
Minyak tanah misalnya, yang sering disebut sebagai emas hitam, realitas minyak akan diindera manusia, dan minyak itu kemudian mempengaruhi hubbu al tamalluknya maka dia akan menghukuminya bahwa minyak tadi bisa memenuhi gharizah baqanya. Akan tetapi qaaidah fikriyah yang digunakan manusia sebagai parameter untuk menghukumi sesuatu disandarkan pada penghukuman yang dahulu sama dengan yang akhir.
Maka seorang muslim melihat bahwa minyak tanah yang bisa memuaskan gharizah baqa wajib menjadi milik umum, jika dia mengambil akan menguranginya seperti mengurangi sesuatu yang bukan bagiannya, maka individu-individu dari masyarakat mempunyai hak atas minyak tanah tersebut. Sedangkan kapitalisme / liberalisme melihat bahwa minyak tanah bisa memuaskan Gharizah baqa dan menjadi milik individu, berhak setiap individu untuk memilikinya asal mampu, tanpa mengindahkan kepentingan yang lain.
Seorang wanita cantik secara realitas akan mempengaruhi al-mailu al-jinsi bagi seorang pria, maka dia akan menghukuminya bahwa wanita tersebut bisa memuaskan sebagian dari gharizah nau’nya. Akan tetapi qaaidah fikriyah yang digunakan manusia sebagai parameter dalam menghukumi realitas, disandarkan kepada penghukuman yang pertama (seorang muslim) berbeda dengan yang akhir (kapitalis).
Maka seorang muslim melihat bahwa wanita yang bisa memuaskan gharizah nau’nya adalah sesuatu yang harus dijaga dan dipelihara, sedangkan kapitalisme / liberalisme melihat wanita selain bisa memuaskan gharizah nau’nya, juga sebagai barang perniagaan yang bisa dimanfaatkan untuk pemuasan gharizah baqa, juga bisa digunakan di dalam perwujudan usaha-usaha maadiyyah seperti untuk mata-mata / spionase, mengundang seorang pembesar sebagai jamuan dan lain-lain. Dan sebab perbedaan dalam menghukumi sesuatu yang dilakukan seorang muslim dan kapitalis / liberalis atas minyak tanah dan atas wanita dari perbedaan qaaidah fikriyah yang dibuat landasan berfikir. Maka aqidah Islamiyyah yang timbul darinya hukum-hukum bagi seorang muslim bukanlah aqidah kapitalis / liberalis yang menjadi sumber hukum orang kapitalis.
Aqliyah adalah cara berjalan atas asasnya untuk berfikir sesuatu atau disebut juga dengan cara manusia mengaitkan realitas dengan ma’lumat yang disandarkan pada qaaidah tertentu. Adapun aqliyyah Islamiyyah adalah cara berfikir dan menghukumi tentang al-asyya dan al af’aal yang berlandaskan atas al-qaaidah al-fikriyyah al-asaasiyyah bagi seorang muslim yaitu aqidah Islamiyyah karena hal itu merupakan hukum-hukum syara’ yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya dan dengan Tuhannya serta dengan yang lainnya. Seorang muslim menggunakan hukum syara’ untuk menghukumi al-asyya dan al-af’aal dan hukum-hukum ini bersumber dari aqidah Islamiyyah.
Seorang muslim yang mengindera realitas kemudian mengkaitkannya dengan ma’lumat saabiqah maka ia akan menemukan esensi realitas tersebut, kemudian esensi tersebut dibahas dari hukum syara’ selanjutnya realitas ini dijelaskannya, jadi proses dari ihsaas sampai ke pengaitan penjelasan berdasarkan hukum syara’ disebut al-aqliyyah al-Islamiyyah. Barang siapa yang menempuh cara ini di dalam memahami realitas dan menghukuminya, maka berarti telah menggunakan ‘aqliyyah Islamiyyah, sehingga ia dapat menghukumi bahwa jihad itu fardhu, shadaqoh itu sunnat, buah apel itu mubah dimakan, berobat dengan barang yang najis itu makruh dan zina itu haram karena hukum syara khitob pembuat syara’ yang dikaitkan dengan aktifitas manusia yang tidak akan keluar dari al-ahkaamu al-khomsah, yakni : fardhu, mandhub / sunat, mubah, makruh dan haram.
Jadi aqidah Islamiyyah merupakan sumber munculnya hukum syara’ yang berasal dari wahyu Allah. Firman Allah:
Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.”(QS.Al hasyr 7).
Para sahabat nabi semuanya memegang ‘aqliyyah Islamiyyah mutamayyizah (modern), setiap mendapatkan dan mengetahui realitas dipandang dari sisi dan visi Islam.
Dalam perdamaian hudaibiyyah berkata Ibnu Hisyam yang dinukilkan dari ibnu Ishaq dari Al-Zuhri:
Ketika selesai perdamaian Hudaibiyyah, tapi masih di dalam tulisan saja, ‘Umar bin al-Khaththob bergegas mendatangi Abu Bakar kemudian berkata.” Bukankah dia itu rasululah ?”Abu bakar menjawab:”Betul dia Rasulullah.” Maka berkata lagi:”Bukankah kita kaum muslimin?” Beliau menjawab: Betul, kita kaum muslimin. Berkata lagi ‘Umar:” Bukankah mereka kaum musyrikin?” Menjawab Abu Bakar:” betul mereka kaum musyrikin.Berkata Umar:” Untuk apa kita memberi kehinaan pada agama kita ( mengadakan perjanjian dengan mereka ?” Berkata Abu Bakar :” Yaa Umar, tetaplah pada prinsipnya (pegang tegung keputusan yang telah dipegang nabi), maka saya bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah..”
Abu Bakar dengan ‘aqliyyah Islamiyyah-nya yang tunggal menemukan bahwa perdamaian Hudaibiyyah adalah jaiz / mubah, maka berkata kepada umar yang belum menemukan hukum atas perkara itu: Tetaplah pada prinsipnya yaitu ikutilah perintah Rasul, Saya bersaksi bahwa Dia adalah Rasulullah.”
Maka penghukuman perdamaian Hudaibiyah yang dikatakan Abu Bakar berangkat dari pemikiran aqiidah Islamiyyahnya, yakni dengan adanya persaksian beliau terhadap kerasulan Muhammad…, dan datang perkara ini dari Allah SWT.
Adapun ‘Umar bin al-khaththab juga menggunakan aqiidah Islamiyyah mutamayyizah, terbukti dia telah berkata kepada Abu Bakar: “Saya bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah”, kemudian beliau mendatangi Rasul dan berkata: “Wahai Rasulullah bukankah anda seorang Rasul? Rasul menjawab:” Benar saya Rasul. Berkata ‘Umar:” Untuk apa kita memeberikan kehinaan pada agama kita ? Jawab Rasul: Saya hamba Allah dan Rasul-Nya dan tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Allah juga tidak akan mengabaikan saya. Berkata al-Zuhri:”maka ‘Umar berkata:”Saya senantiasa bersodaqoh, berpuasa, shalat dan memerdekakan budak, saya takut dan berlindung kepada Allah dari perkataan yang saya katakan dan mengharap semua perkataan saya menjadi baik. Maka ‘Umar berkata: “ Saya bersaksi bahwa dia adalah Rasulullah”, menerangkan bahwa beliau masih muslim, dan masih mengambil penghukuman terhadap sesuatu berdasarkan Islam, lalu beliau pergi kepada Rasul dan melaksanakan dengan ridlo terhadap perdamaian Hudaibiyah.
Maka ‘aqidah Islamiyyah yang digunakan manusia sebagai parameter untuk menghukumi realitas itulah yang membatasi dan membedakan dengan al-aqliyyah yang lain, maka siapa yang berfikir terhadap realitas dari perspektif Islam (Islamic thinking oriented) itulah ‘aqliyyah islamiyyah dan siapa yang berfikir terhadapa realitas dari perspektif kapitalisme / liberalis maka itulah ‘aqliyyah kapitalisme dan siapa berfikir terhadap realitas dari perpektif komunis, maka itulah aqliyyah komunisme yang tidak modern.

B. Al Nafsiyyah

Tidak sempurna Iman salah seorang diantara kamu hingga nafsunya mengikuti apa yang datang dari saya (Nabi). (Al-Hadits)
Gharizah dan haajaah ‘udwiyyah yang dimiliki manusia menuntut pemenuhan, yang akan mendorong manusia melakukan aktifitas pemenuhan tersebut. Manusia akan bergerak secara fitri sebagai pemenuhan (isyba’) yang disebut dengan dorongan-dorongan (dawaafi’), maka jika dibiarkan manusia di dalam dorongan-dorongan ini tanpa aturan dan patokan, manusia akan memenuhi gharizah dan haajaah ‘udwiyyah menurut hawa nafsunya, sehingga haruslah dorongan-dorongan tersebut dikaitkan dengan mafaahim manusia tentang al-a’maal dan al-asyya.
Karena mansuia hidup di dalam masyarakat, maka konsekwensinya disitu harus ada pemikiran-pemikiran tertentu di dalam menghukumi al-asyya dan al-af’al, yang bisa mempengaruhi dan mengakses kepada masyarakat. Sehingga pemikiran tersebut dijadikan sebagai mafahin tertentu untuk menghukumi terhadap dorongan-doronga tersebut. Pengkaitan antara dorongan-dorongan manusia dan mafahimnya disebut dengan muyul (kecenderungan). Maka muyul itu lebih tinggi dari dorongan-dorongan karena muyul itu dorongan-dorongan yang dikaitkan dengan mafahim.
Dorongan-dorongan pemenuhan ada di dalam manusia dan hewan, sedangkan muyul ada pada manusia dan tidak ada pada hewan, karena beda fundamen manusia dengan hewan pada idraak / tafkir, manusia bisa berfikir, hewan tidak dan dengan tafkir saja didapatkan mafahim. Maka nafsiyyah adalah cara mengkaitkan manusia di dalam dorongan-dorongan pemenuhan dengan suatu mafahim, dan mafahim ini kembali kepada pemikiran-pemikiran tertentu yang bersumber dari perspektif kehidupan dalam arti hidup itu dibatasi atau tidak.
Maka jika mafaahim itu muncul dari ‘aqiidah islamiyyah tentu nafsiyyahnya adalah nafsiyyah Islamiyyah, begitu juga jika mafahimnya muncul dari aqiidah komunis atau kapitalis maka nafsiyyahnya adalah komunis dan kapitalisme. Dan jika mafahimnya muncul dari qaidah / aturan yang bermacam-macam berarti nafsiyyahnya adalah nafsiyyah yang kacau dan cenderung anarchisme.
Nafsiyah adalah yang menjadikan manusia mendahulukan beraktifitas atau menahan beraktifitas dan nafsiyah inilah yang menghukumi dan memutuskan di dalam dorongan-dorongan gharizah dan haajaah ‘udwiyyah.
Seorang muslim sebelum diharamkan khamr, suka meminum khamr, karena mafahimnya terhadap khamr adalah mubah / boleh, maka ketika turun ayat :
“Sesungguhnya syaiton itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan Shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”(QS. Al Maaidah 91).
Ketika mendengar ayat pengharaman khamr di atas, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah menghentikan meminum khamr dan menahan mereka yang masih terbelit dengan minuman khamr, lalu dilanjutkan penumpahan seluruh khamr di jalan-jalan madinah, setelah itu mereka tidak meminum khamr lagi.
Maka perubahan pemahaman dari khamr, telah merubah muyul mereka kepada khamr. Dan kecenderungan baru ini adalah hasil dari pengkaitan dorongan-dorongan dengan mafahim (nafsiyyah).
Mafahim islam datang untuk merubah muyul orang Arab (untuk pertama kali) dan dengan mafahim Islam ini telah mampu merubah totalitas muyul mereka sampai akar-akarnya.
Kita bisa menyimak kisah dua saudara sekandung, salah satunya masuk Islam yaitu Muhayyishoh bin Mas’ud dan satunya lagi masih kafir, Yaitu Huwayyishoh bin Mas’ud. Ketika Rasulullah menyuruh sahabat yang muslim yaitu Muhayyishoh untuk membunuh Ka’ab bin Yahuudza. Kemudian saudaranya yang kafir yaitu Huwayyishoh mencela Muhayyishoh seraya berkata: Apakah engkau telah membunuh Ka’ab bin Yahuudza, sungguh ka’ab telah sering memberi makan kamu dan tumbuh di dalam perutmu hartanya, sungguh engkau tercela Muhayyishoh. Maka Muhayyishoh bin Mas’ud menjawab: “ Sungguh Rasul telah menyuruh saya untuk membunuhnya, seandainya Rasul menyuruh saya membunuh kamu maka akan kubunuh kamu. Huwayyishoh menjawab: Demi Allah sungguh agama yang datang padamu itu betul-betul mengagumkan, maka Masuk Islamlah Huwayyishoh bin Mas’ud.
Maka nafsiyyah Muhayyishoh bin Mas’ud adalah adanya pengkaitan dorongan-dorongan dengan mafahimnya, sehingga menjadikan muyulnya berdasarkan hukum syara’ hal ini jelas dari perkataan Muhayyishoh kepada Huwayyishoh: “Sungguh Rasul menyuruh saya membunuh Ka’ab, sehingga seandainya Rasul menyuruh saya membunuh kamu tentu aku akan membunuhmu”, jadi tidak berdasar gharizah atau kemaslahatan, seperti yang dijadikan pegangan saudaranya yang akfir. Dan itulah nafsiyyah yang benar seperti yang diajarkan Islam sehingga menjadikan kekaguman saudara yang kafir, yang dilanjutkan dengan proklamasi dirinya menjadi Islam.

C. Asy-Syakhsiyyatu ‘Aqliyyatun Wa Nafsiyyahtun

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga aku (nabi) dijadikan akalnya untuk berfikir.” (Al Hadits).
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu hingga nafsunya mengikuti apa yang datang dari saya (nabi) atau Al hadits.
‘Aqliyyah adalah cara yang berlandaskan asasnya berfikir tentang realitas, atau juga disebut cara manusia mengkaitkan ma’lumat saabiqah dengan realitas berdasarkan kepada qaaidah tertentu.
Dan nafsiyyah adalah cara manusia mengkaitkan dorongan-dorongan pemenuhan gharizah dan haajaah ‘udwiyyah dengan mafahimnya, atau disebut juga dengan muyul yang merupakan hasil dari pengkaitan mafahim dengan dorongan-dorongan. Lantas apa pengait antara aqliyyah dan nafsiyyah?
Sesungguhnya sudah merupakan urusan alami manusia adalah berfikir tentang al-asyya dan al-a’maal, kemudian menghukuminya berlandaskan qaaidah tertentu seperti aqidah yang dipegangnya. Dari tafkir ini akan dihasilkan mafahim yaitu menjadikan pemikirannya sebagai dalil-dalil atas realitas yakni indera menemukan relitas atau tergambarnya realitas di dalam otak dan meyakininya seperti menemukan realitas yang bisa diindera langsung.
Mafahim ini mempengaruhi pada dorongan-dorongan pemenuhan. Maka jadilah baginya muyul pemenuhan sebagai hasil dari pengkaitan antara mafaahim dengan dorongan, bagi mafahim ada ikatan antara ‘aqliyyah manusia dengan nafsiyyahnya, karena mafahim yang terbentuk adalah dari jalan berfikir tentang realitas (aqliyyahnya) yang akan menghukumi muyul yang dihasilkan dari pengkaitan antara mafaahim dan dorongan-dorongan (nafsiyyahnya).
Dan pengkaitan antara ‘aqliyyah dan nafsiyyah nampak jelas di dalam syakhsiyyah mutamayyizah contohnya yang bisa diteladani adalah Anas bin Nadhor salah satu sahabat semoga Allah ridlo padanya, dalam perang Uhud beliau bersama ‘Umar bin al-Khaththab dan Tholhah bin ‘Ubaidillah melewati kelompok shahabat muhajirin dan anshor, kelompok shahabat tersebut duduk dan melemparkan senjatanya setelah tersebar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Maka Anas bin nadhor berkata kepada mereka:” Apa yang membuat anda sekalian duduk? Mereka menjawab: “ Rasulullah SAW terbunuh”, berkata Anas bin Nadhor: “ Apa yang akan anda perbuat dengan hidup anda setelah Rasulullah mati? (apakah anda akan berhenti berjuang dengan wafatnya Rasul SAW?) bangkit dan matilah seperti matinya Rasulullah, kemudian mereka bangkit dan menghadapi kaun Quraisy lalu memeranginya sehingga mereka mati syahid.
Suluk dari Anas bin Nadhor menunjukan sebuah syakhsiyyah mutamayyizah, menunjukan adanya ikatan yang kuat antara ‘aqliyyah dan nafsiyyahnya. Anas bin Nadhor mengindera realitas yakni para shahabat membiarkan tidak saling menolong dalam peperang an setelah tersebar berita terbunuhnya Rasululah dan Anas bin Nadhor mengikatkan realitas dengan ma’lumat saabiqah (pahitnya kekalahan dan haramnya berpaling pada hari kepayahan pada waktu perang dan pengaruh tersebarnya kematian Rasulullah pada shahabat) Anas bin nadhor berpijak dari pemikiran qaaidah asasiyyah yaitu aqidah Islamiyyah dan bahwa peperangan itu wajib dan balasan bagi mujahid atau mati sahid adalah surga juga ajal itu sudah ditentukan Allah dan lari dari peperangan adalah haram.
Pemikiran-pemikiran ini bagi Anas bin Nadhor sebagai mafahim karena beliau yakin dan percaya atas pemikiran tersebut, kemudian mengkaitkan antara mafahim ini dengan dorongan-dorongan gharizah baqa’ yang terlihat madhahirnya dari para sahabat yaitu menjaga kehidupan dan takut dari mati, kemudian Anas bin Nadhor menyesuaikan dorongan-dorongan ini dengan mafahimnya maka jadilah mereka cenderung untuk berperang walaupun mereka melaksanakan sesuatu yang kontradiksi dengan dorongan-dorongan gharizahnya, maka ‘aqliyyah Anas bin Nadhor adalah aqliyyah Islamiyyah beliau bisa merubah dorongan-dorongannya dan menjadikannya sebagai muyul yang Islamiyyah, sehingga jadilah nafsiyyahnya cenderung berperang melawan musuh dan lebih baik mati sahid menyusul Rasulullah.
Sungguh Anas bin Nadhor telah menterjemahkan Syaksiyyah mutamayyizah yang tinggi kepada suluk yang menjasad (mengkristal) dalam dirinya dengan memerangi kaum Musyrikin.
Adapun aktifitasnya bukanlah Syakhsiyyah buka pula ‘aqliyyah dan bukan pula nafsiyyah akan tetapi merupakan bekas dari bekas-bekasnya syakhsiyyah,’aqliyyah dan nafsiyyah.
Syakhsiyyah kadang-kadang bisa berbentuk syaksiyyah mutamayyizah dan syaksiyyah ghairu mutamayyizah.

D. Syakhsiyyah Mutamayyizah

Syakhsiyyah mutamayyizah adalah syakhsiyyah yang antara aqliyyah dan nafsiyyah dalam satu jenis yakni dari satu sumber aqidah, maka muyulnya ikut pada mafahimnya, yaitu nafsiyyahnya ikut kepada aqliyyahnya, yaitu kecenderungan kepada al-asyya dan al a’maal di dalam memenuhi gharizah dan haajaah ‘udwiyyah berdasarkan mafahim yang bersumber dari qaiidah fikriyyah asasiyyah yang semua pemikiran disandarkan kepadanya.
Sehingga syakhsiyyah mutamayyizah mempunyai warna tertentu, dan haruslah qaaidah fikriyyah asassiyyah yang timbul darinya hukum-hukum pemiliknya sebagai penghukum atas realitas, qaaidah asasiyyah ‘ammah hendaknya sebagai rujukan, karena darinya bersumber hukum-hukum yang lazim untuk mengatur hubungan manusia, dengan tuhannya, dirinya dan lainnya.
Dan hal itu tidak akan bisa datang kecuali jika qaaidah asasiyyah sebagai fikroh kulliyyah (pemikiran yang total) dari kaun, insan dan kehidupan, sehingga dijadikan qaidah asasiyyah sebagai pengurai problema besar (‘uqdatul Kubra) bagi manusia, yaitu pemenuhan perasaan kekurangan, kelemahan dan membutuhkan yang kemuadian akan muncul nidhom pemenuhan gharizah dan haajaah ‘udwiyyah secara keseluruhan.
Syakhsiyyah mutamayyizah tidak akan ada kecuali sebagai mabda, seperti syakhsiyyah Islamiyyah, syakhsiyyah ro’sumaaliyyah, syakhsiyyah syuyu’iyyah, karena aqliyyah dan nafsiyyah seluruh darinya menggunakan ukuran pemikiran dan muyul dari aqidah aqliyyah yang terpancar darinya nidhom yang mengatur seluruh hubungan manusia dan itulah mabda, atau lebih mudahnya mabda adalah pemikiran yang mendasar yang diatasnya dibangun pemikiran-pemikiran lain.
Dan syakhsiyyah Islamiyyah yang tinggi sebagai al-diin Islam menyebar di atas bumi, sudah berjasad pada diri manusia yang beriman kepada aqiidah Islamiyyah, sebagai fikroh kuliyyah atas kaun, insan dan kehidupan serta apa-apa sebelum hidup di dunia dan apa-apa setelah hidup di dunia dan hubungan antara sebelum dan sesudah hidup di dunia. Jadilah aqidah ini sebagai qaaidah fikriyyah yang diatas asasnya seorang muslim berfikir, dan mengkaitkan realitas dengan ma’lumat saabiqah dan menghukumi realitas dengan parameter hukum syara’ yaitu: fardlu, madhub, mubah, makruh dan haram.
Dan jadilah aqidah ini sebagai asas pada muyulnya maka jadilah mafahimnya mengkaitkan dengan dorongan-dorongan pemenuhan yang merupakan reaksi dari aksi thaaqah hayawiyyah yang berupa gharizah dan haajaah ‘udwiyyah.
Dan dengan itu jadilah syakhsiyyah islamiyyah adalah syaksiyyah mutamayyizah, aqliyyah dan nafsiyyah dari satu jenis, yang keduanya disandarkan kepada satu qaaidah asasiyyah yaitu aqiidah Islamiyyah.
Syakhsiyyah Islamiyyah seseorang berbeda dalam kekuatannya, seorang muslim yang menjadikan aqidah Islamiyyah sebagai asas di dalam pemikiran dan kecenderungannya, maka dialah yang bisa dikatakan mempunyai syakhsiyyah Islamiyyah, selain itu pemilik syaksiyyah ini sangat suka mengerjakan yang sunat disamping yang fardhu dan menjauhi dari yang makruh dan juga yang haram, mengerjakan yang mubah yang dekat dengan sunat dan fardhu dan menahan dari mengerjakan yang mubah yang dekat dengan haram-dan makruh.
Jika bisa mengerjakan seperti itu maka itulah syaksiyyah islamiyyah saamiyyah (tinggi), pelakunya mampu mengkaitkan dan menguatkan fikroh dan muyulnya, oleh sebab itu aktifitasnya dilakukan dengan mafahim Islamiyyah.
Seorang Muslim yang merasa cukup dengan mengerjakan yang fardhu dan mubah dan sebagian yang mandhub, serta menahan dari pekerjaan haram dan sebagian yang makruh, maka dia mempunyai syaksiyyah Islamiyyah adl’af dari syakhsiyyah Islamiyyah saamiyyah, yakni secara hierarki berada di bawah syakhsiyyah islamiyyah saamiyyah yang disebutkan di atas.
Dan jika seorang, muslim merasa cukup dengan mengerjakan yang fardhu dan mubah saja, serta menahan dari mengerjakan yang haram, dan tidak merasa bahaya dan khawatir untuk mengerjakan yang makruh dan meninggalkan yang mandhub maka dia mempunyai syaksiyyah dlo’iifah / lemah, secara hierarki berada di bawah syakhsiyyah Islamiyyah adl’af.
Dari tiga contoh di atas terdapat derajat perbedaan yang kuat dan lemahnya syaksiyyah islamiyyah seorang muslim.
Kadang-kadang seorang muslim menempuh yang haram atau meninggalkan yang fardhu, dan syaksiyyah islamiyyahnya hanya masih sebagai asas untuk pemikiran dan muyulnya saja, atau masih sebagai aqliyyah dan nafsiyyahnya saja karena adanya lubang kekosongan di dalam suluknya yang sebetulnya seorang muslim tidak akan lepas dari suluk tersebut sebagai komponen lengkap syaksiyyah Islamiyyah maka kadang-kadang seorang muslim lupa atau salah di dalam mengkaitkan suatu pemahaman dari mafahim dengan aqidah islamiyyah dan kadang-kadang tidak tahu adanya kontradiksi antara muyulnya dengn aqidah, maka jadinya dia menghukumi waqi’ / realitas dengan hukum yang tidak islami sehingga kecenderungan melaksanakan aktifitas yang tidak diakui syara’.
Rasul berkata kepad mereka:” Wahai Hatib apa yang membawamu atas perkara ini”? Hatib menjawab:” Wahai Rasulullah demi Allah saya masih seorang mu’min yang percaya kepada Allah dan Nabi-Nya, dan saya tidak akan merubah dan mengganti keimanan saya, akan tetapi saya sebagai Qurasy asli dan juga keluargaku, maka jagalah keluarga saya dan jangan perangi kaum Qurasy.”.
Maka Umar bin al-Khaththab berkata: “ Wahai Rasulullah biarkan saya mematahkan batang lehernya, karena orang ini telah munafiq”, Bersabda Rasul:” Apa yang engkau ketahui wahai Umar sungguh Allah telah mengetahui sahabat Badr pada peperangan Badr, selanjutnya sabda Rasul:”Lakukanlah apa yang kamu semua kehendaki sungguh saya memohon ampun dan memaafkan kalian, maka Allah menurunkan ayat kepada Hatib bin Abi Balta’ah:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita muhammad), karena rasa kasih sayang.” (QS. Al Mumtahanah 1 ).
Haatib bin Abi Balta’ah masih sebagai seorang muslim, syakhsiyyahnya Islamiyyah, dia tunduk untuk melakukan aktifitas yang haram, yaitu memata-matai kaum muslimin dan dia berhak mendapat hukuman, terkecuali dia tidak mengingkari aqidah Islamiyyah, dan tidak pisah darinya qaaidah asasiyyah di dalam tafkir dan muyulnya, hal ini ditunjukukkan dengan jawaban yang diberikan kepada Rasulullah,”Sungguh saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan saya tidak akan mengganti atau merubah iman saya”’ akan tetapi dia membenarkan tindakannya yang bertentangan dengan hukum syara’ karena dia ingin menjaga keluarganya yang ada di Makkah, dan dalam tindakan ini dia tidak mengkaitkan muyulnya dengan mafahim Islamiyyahnya, dan dia menjalankan gharizah nau’nya untuk menjaga anaknya dan keluarganya sehingga di dalam perilakuknya ada lubang kekosongan pada suluknya, sebagai hasil dari kecenderungannya yang terlepas dari sasaran / majal aqidah Islamiyyah, dan itulah yang menarik dia untuk mengutamakan gharizah al nau’nya.
Demikian juga para shahabat bertindak di dalam perang uhud dan perang bani mustholaq mereka tidak keluar dari syakhsiyyah Islamiyyah. Sungguh hal ini telah disifati oleh dalil syar’iyyah dari Al-qur’an dan Al-Hadits akan syakhsiyyah Islamiyyah ini kepada Shahabat dan orang mu’min, Firman Allah:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang kafir, tapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan Keridloan-Nya.”(QS. Al Fath 29).
Dan firman Allah tentang Jihad mereka:
Dan mereka menolong Allah dan Rasulnya,”(QS.Hasyr 8).
“Mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka.” (QS. An Anfaal 72).
Dan Allah mensifati mereka di dalam ‘ibadahnya, firman-Nya:
“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”(QS. Al Furqaan 64).
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan Harap, dan mereka menafkahkan sebagaian rizqi yang Kami berikan kepada mereka”(QS. As Sajdah 16).
“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).”(QS. Al Ma’aarij 244-25)
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang melawat (mencari ilmu atau berjihad), yang ruku’ yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakannlah orang-orang mu’min itu.” (QS. At Taubah 112).
Dan Allah mensifati akhlaqnya dengan firmanNya:
“ Dan Hamba-hamba Tuhan yang maha Penyayang itu (ialah) orang orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan 63).
“Mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS. Al Hujuraat 15 ).
“Mereka tidak meminta kepada orang-orang secara mendesak.” (QS.Al Baqarah 273).
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.”(QS.Ali ‘Imran 134).
Sabda Nabi SAW:
“Sahabat-sahabatku seperti bintang jika kamu mengikutinya, tentu akan mendapat petunjuk.”(Al Hadits).
Bagi mereka tampak sekali syakhsiyyah islamiyyahnya yang tinggi, mereka mengumpulkan antara ibadah dan siayah, antara kepemimpinan dan pemeliharaan rakyat, antara kasih sayang dan ‘adil antara bangun malam dan berjihad, kesemua itu mereka mencari apa yang diberikan Allah berupa rumah akhirat dan tidak melupakan nasib mereka di dunia, mereka menahan diri mereka dari menahan diri dari meminta walaupun mereka miskin dan mengkoreksi pemimpin yang dholim. Dalam berjuang dijalan-Nya tidak takut celaan orang suka mencela, akal dan kecenderungan mereka mengikuti apa yang datang dari Allah dan rasul-Nya, karena mereka berfikir dan memahami sabda Nabi:
“ Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga (Nabi) dijadikan akalnya untuk berfikir.” (Al-Hadits)
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu hingga nafsu mengikuti apa yang datang dari saya (Nabi).” (Al Hadits)

E. Asy-Syakhsiyyah Ghoiru Mutamayyizah

“ Dan jika dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”(QS. Al Baqarah 11).
Syakhsiyyah ghoiru mutamayyizah mempunyai indikasi aqliyyah pemiliknya bukanlah nafsiyyahnya, jadi bukan satu sumber yang saling mendukung, tidak ada sinkronisasi.
Syakhsiyyah ghoiru Mutamayyizah dipakai manusia jika qaaidah yang dibangun di atas asas pemikirannya bukanlah qaaidah yang dibangun atas asas muyulnya maka dia akan menghukumi al-asyya dan al-af’aal dengan parameter qaaidah yang digunakan berfikir tentang realitas (yaitu aqliyyahnya), ketika cenderung memuaskan gharizah dan haajaah ‘udwiyyahnya berdasarkan mafahim yang diambil dari qaaidah lain yang digunakan dalam pengkaitan antara mafahim dngan dorongan-dorongannya (yaitu nafsiyyahnya).
Orang yang mempunyai syakhsiyyah ghoiru mutamayyizah nampak padanya kekacauan, kegoyahan di dalam suluknya, karena tafkirnya bukanlah muyulnya, maka mereka memberikan hukum-hukum terhadap realitas berbeda dengan muyulnya dan tindakannya yang ditunjukan pada realitas ini.
Dan sungguh nampak syakhsiyyah ghoiru mutamayyizah ini dalam masyarakat Madinah Munawwarah pada zaman rasulullah SAW, ketika menampakkan keislamannya sekaligus menyamarkan kekufurannya, dan jadilah mereka menghukumi atas al-asyya dan al-af’aal dari visi Islam, akan tetapi muyulnya masih tunduk pada mafahim jahilliyyah yang disandarkan pada kekufurannya.
Dan Allah telah mensifati mereka secara detail di dalam Al-Qur’an yang menerangkan kontradiksi aqliyyah dan cara menghukuminya beserta muyul dan aktifitasnya, firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 8 -14:
“Diantara manusia ada yang mengatakan : Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah oleh Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka : “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang mengdakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka : Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain yang telah beriman, mereka menjawab: Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman? Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka mengatakan: Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hannyalah berolok-olok.” (QS.Al Baqarah 4-14).
Allah SWT berfirman:
“Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenarannya) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras, dan apabila ia berpaling (dari kamu) ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS. Al Baqarah 204-205).
Maka ucapan mereka menunjukan aqliyyahnya, tampak mereka sepertinya seorang muslim, maka mereka mengatakan: kami beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan Hari Akhir dan ditambah dengan kamuflase / penyamarannya dengan bersaksi Allah tuhannya yang ada di hati, akan tetapi muyulnya senantiasa berjalan dengan mafahim kufur , karena sebenarnya kufur itulah aqidahnya dan mereka melaksanakan aktifitas pemuasan gharizah dan haajaa ‘udwiyyah dibangun atas mafahim kufur.
Maka mereka mengadakan kerusakan di bumi memusuhi manusia dan menggunakan berbagai cara dan alasan untuk menahan peperangan, dan lebih parah lagi mengendurkan pasukan yang lain, seperti yang terjadi ketika perang Uhud dimana mereka mengundurkan diri dari pasukan kaum muslimin sebelum dimulai peperangan menghadapi kaum musyrikin.
Dan juga syakhsiyyah ghoiru mutamayyizah yaitu yang menggunakan qaidah-qaidah tertentu sebagai ukuran dalam tafkir dan muyulnya, yakni qaidah tertentu itu sebagai aqliyyah dan nafsiyyahnya.
Akan tetapi qaidah-qaidah ini hanya memancarkan aturan-aturan yang mengatur pemuasan sebagian hubungan-hubungan manusia seperti nasrani sekarang ini yang hanya mengatur sebagian gharizah dan haajaah ‘udwiyyah saja, sehingga, membuat pemeluknya mengalami kekacauan dan kegoyahan. Sebab dalam mengatur sisa pemuasan gharizah dan haajaah ‘udwiyyah lain, berdasar qaidah-qaidah lain dan nidhom yang lain. Qaidah tersebut tidak memberikan fikroh kulliyyah (pemikiran totalitas) tentang kaun (fenomena alam), manusia dan kehidupan yang darinya terpancar nidhom syamil (lengkap) dan kamil (sempurna) yang mengatur seluruh hubungan manusia.
Syakhsiyyah ghoiru mutamayyizah kadang-kadang anarchis, karena pemilik aqidah ini tidak mengambil qaidah yang tetap untuk aqliyyah dan nafsiyyahnya, maka pemikiran dan muyulnya ditujukan kepada al-asyya dan al-af’aal yang keduanya berbeda, bertentangan dan dipengaruhi lingkungan yang satu beda dengan yang lain.
Karena pemilik syakhsiyyah ini tidak menggunakan qaidah tertentu yang tetap, dalam menghukumi al-asyya dan al-af’aal maka timbullah hukum-hukum yang berbeda dalam satu perkara seperti mengharamkan daging untuk dirinya pada satu saat, dan dilain waktu menghalalkannya kembali.
Dan juga pemilik syakhsiyyah tidak menggunakan qaidah tertentu yang tetap untuk nafsiyyahnya, maka pada waktu tertentu mereka cenderung memuaskan gharizah tadayyunnya dengan menyembah matahari, kemudian meninggalkannya dan beralih menyembah sungai.
Syakhsiyyah ghoiru mutamayyizah kadang-kadang bersifat rutinitas / stagnasi, pemiliknya menggunakan patokan-patokan yang tetap untuk menghukumi al-asyya dan al-af’aal yang terindera baginya, qaidah ini tidak akan bisa meluas untuk menghukumi al-asyya dan al-af-‘aal yang diperbaharui. Muyulnya dibatasi qaidah yang baku ini tanpa adanya subyek atau obyek terhadap apa yang diketahui dari realitas-realitas, maka jadilah rutinitas / terus menerus di dalam tafkir dan muyulnya, maka tinggallah tindakan-tindakannya seperti sebuah alat yang disetir manusia pada waktu bergerak di jalan tanpa bisa berinisiatif, sehingga bila diperlihatkan padanya peristiwa-peristiwa baru, maka berhentilah otaknya dan kosong, perasaannya menjadi pandir, maka tidak dia tidak bisa berfikir untuk menghukumi peristiwa tersebut, dan muyulnya tidak bisa membatasi dengan parameter yang dihadapi dari peristiwa tadi.

F. Pembentukan Syakhsiyyah Islamiyyah

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha sucu Engkau , maka peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS. Ali Imran 191).
Manusia mendapatkan pengetahuan-pengetahuannya dari jalan indera. Alat terpenting dari indera yang berperan di dalam mendapatkan pengetahuan adalah pendengaran dan penglihatan. Firman Allah:
“Dan kami jadikan bagi mereka pendengaran, penglihatan dan hati.”(QS.Al-Ahqaaf 26).
“Dialah yang menciptakan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati .”(QS. Al Mu’minuun 78).
“Dan (Allah) memberi bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.”(QS. An Nahl 78).
Pendengaran dan penglihatan adalah dua indera yang melalui keduanya manusia mendapatkan sebagian pemikiran-pemikirannya bahkan bisa dikatakan semuanya.
Dalam pembentukan syakhsiyyah Islamiyyah haruslah dengan pemberian pemikiran-pemikiran Islam untuk pembentukan aqliyyahnya, dan kemudian nafsiyyahnya serta metode yang baik untuk pemberian dan pengambilan pemikiran-pemikiran, adalah dengan cara al-talqiy al-fikry, (pola pemberian ide dengan dengan pendekatan pemikiran) dengan cara ini manusia mengambil dengan pemikiran-pemikiran dari jalan mendengar atau membaca, maka dia akan mendengar atau membaca kalimat-kalimat , kemudian memaknai maknanya seperti apa yang ada pada kalimat tersebut, bukan apa yang dikehendaki oleh pembaca atau apa yang dikehendaki oleh pengulas bukunya, kemudian memahami dalil-dalil dan makna kalimat makna tersebut seperti apa yang ada pada realitas maka jadillah bacaan yang sudah masuk dalam afkarnya sebagai mafahim, bukan sekedar berupa lapadz saja, karena bacaan tersebut mempunyai dalil-dalil yang bisa diindera sehingga pembaca realitas (bacaan) tersebut bisa mengungkapkannya dengan bahasanya dan dapat mentransfer pemikiran-pemikiran ini kepada yang lain dengan jalan seperti yang ia dapatkan sebelumnya, yaitu al-talqy al-fikri.
Sesungguhnya pemikiran itu fitri ada pada manusia, adapun yang menjadikan aqiidah Islamiyyah sebagai qaaidah fikriyyah asaasiyyah pada pemikirannya dalah aktifitas yang dilakukan manusia sendiri, dan aktifitas ini membentuk aqliyah Islamiyyah yang bisa menjadikan pemiliknya berfikir berdasarkan asas-asas Islam.
Gharizah dan haajaah ‘udwiyyah fitri ada pada manusia, adapun yang menjadikan aqidah Islamiyyah sebagai qaaidah fikriyyah asaasiyyah adalah juga aktifitas yang dilakukan manusia itu sendiri. Dan aktifitas ini akan membentuk nafsiyyah Islamiyyah, yang akan menjadikan pemiliknya bisa mengkaitkan dorongan-dorongan pemenuhan dengan mafahim Islamiyyah, maka muyulnya akan muyul Islamiyyah yang akan cenderung kepada yang halal dan berpaling dari yang haram. Maka tafkir dan muyul yang ada pada manusia juga sebagai fitrah, adapun dijadikannya aqidah Islamiyyah sebagai asas di dalamnya bertafkir dan muyulnya ini juga dari usaha manusia itu sendiri.
Maka suatu keniscayaan bagi siapa yang ingin membentuk syakhsiyyah pada manusia haruslah dimulai dengan asas ini, yakni aqiidah Islamiyyah, dan itu dengan pengajaran aqidah, menggunakan pendekatan pendidikan secara aqliyyah bukan secara talqin (pendiktean secara lisan). Karena dengan aqliyyah ini akalnya akan bisa menetapkan dan faham bahwa Allah itu ada. Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yang kemudian bisa mengimani terhadap apa yang datang dari Al-Qur’an dan semua di atas adalah hasil dari penggunaan aqidah aqliyyah.
Setelah pembentukan asas ini yaitu aqidah Islamiyyah, harus dipasok pemikirannya dengan tsaqofah Islamiyyah sebagai input yang akan memperkuat pemikirannya dari penambahan Tsaqofah Islamiyyah ini diharapkan mempunyai kapabillitas berfikir tentang al-asyya dan al-af’aal berlandaskan asas-asas Islam.
Tsaqofah ini kadang-kadang bersifat aqliyyah seperti tauhid, daan kadang bersifat syar’iyyah seperti fiqih dan tafsir dan kadang bersifat lughowiyyah (bahasa) seperti nahwu dan balagoh, dan manusia berbeda di dalam menyerap tsaqofah ini karena perbedaan kemampuan aqliyyahnya dan kekuatan al-ribthnya (penghubungan ma’lumat yang satu dengan ma’lumat lainnya).
Seorang muslim yang hanya mengambil aqidah Islamiyyah sebagai asas di dalam aqliyyah dan nafsiyyahnya yaitu sebagai asas di dalam tafkir dan muyulnya, sudah representatif akan adanya syakhsiyyah islamiyyah dalam dirinya, karena dengan itu dia bisa menghukumi realitas berdasarkan aqidah Islamiyyah, dan bisa menentukan posisi dirinya terhadap al-asyya dan al-af’aal yang bisa memenuhi gharizah dan haajaah ‘udwiyyahnya berdasarkan aqidah Islamiyyah, maka dia akan cenderung kepada yang halal dan berpaling dari yang haram.
Untuk pengembangan aqliyyah Islamiyyah haruslah dengan penambahan-penambahan tsaqofah islamiyyah yang akan menjadikan seorang muslim mampu mengambil hukum syara’ dengan usahanya sendiri melalui penggunaan dalil-dalil syar’iyyah dan juga akan menjadikan dia mampu membentuk aqliyyah Islamiyyah dengan tsaqofah ini.
Sedang untuk mengembangkan nafsiyyah islamiyyah haruslah dengan cara pengkaitan dorongan-dorongan gharizah dengan mafahim sebagai hasil dari aqliyyah Islamiyyah, maka haruslah dikondisikan hidup dalam cakrawala keimanan dari dirinya sendiri, maka hal ini adalah dengan cara memperbanyak amalan-amalan mandhub seperti tadabbur terhadap ayat-ayat Allah berupa Al-qur’an dan tadabbur terhadap ciptaan Allah dan muthola’ah serta mengamalkan sirah rasul dan sahabat seperti seringnya rasul dan sahabat berdo’a dan qiyaamul lail, firman-Nya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran 190-192).
Firman Allah :
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikannlah Shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al Ankabut 45).
Di dalam cakrawala keimanan seorang muslim akan merasakan ke Maha Agungan dan Maha Kuasanya Allah, dan bertambahlah idraak shillah billah, maka akan memperkuat ke dalaman nafsiyyahnya dan akan menjadikan muyul serta aktifitasnya tunduk pada perintah dan larangan Allah.
Pelaksana / Pembina syakhsiyyah Islamiyyah haruslah memperhatikan dalam pembinaan asas-asas yang berdiri dan tegak-nya syakhsiyyah atas asas-asas ini (aqiidah Islamiyyah), sehingga menghasilkan al-tashdiiq al-jaazim (penerimaan kebenaran secara pasti) terhadap aqidah Islamiyyah dan hendaknya thasdiiq sesuai dengan realitas yang terindera dan hendaknya ada dalil-dalil aqliyyah atau naqliyyah yang diyakini atas wujudnya Allah, agar aqidah ini menjadi mafahim dan agar pemikiran-pemikiran yang muncul dari aqidah juga sebagai mafahim.
Dalam hal di atas kita mencontoh uswah hasanah dari Rasulullah SAW, di dalam membentuk syakhsiyyah shahabat yang mengkokohkan tiang daulah Islamiyyah yang telah didirikannya dan yang membawa Islam dengan bersih dan jelas kepada manusia. Maka Rasululah SAW melakukan di dalam pembinaan syakhsiyyah yang tanggal ini terstruktur pada garis-garis sebagai berikut:
Pertama, mengarahkan pandangan para sahabat kepada makhluq-makhluq yang menunjukan adanya Allah dan kuasa-Nya, firman Allah:
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. Al ‘Alaq 1-2).
“Demi fajar dan malam yang sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil. Dan malam bila berlalu . Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.”(QS. Al Fajr 1-5).
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.” (QS. Al Buruuj 1).
Bukankah kami telah memberikan padanya dua buah mata. Lidah dan dua buah bibir.”(QS. AL Balad 8-9).
Kemudian pandangan Al-Qur’an adalah kalamullah yang menunjukan kenabian Muhammd SAW, firman Allah:
Qaaf, demi al-Qur’an yang sangat mulia. Mereka (mereka tidak menerima) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir : “ Ini adalah suatu yang amat ajaib.” (QS. Qaaf 1-2).
“Haa miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, Untuk kaum yang mengetahui.” (QS.41:1-3).
“Sesungguhnya kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.” (QS. Az Zukhruf 3).
Dan tantangan kepada mereka yang meragukan Al-Qur’an, firman-Nya:
Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya” Katakanlah “ (Kalau benar yang kamu katakan itu) maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”(QS. Yunus 38).
Mula pertama konsentrasi Islam di dalam pembinaan syakhsiyyah ini adalah pada aqiidah Islamiyyah yang dasar pencariannya dari akal, maka berpindahlah ayat-ayat yang mulia kepada manusia dari penginderaan yang dia ketahui dari kaun, manusia dan kehidupan, kepada penegasan wujudnya Al-Kholiq dan penegasan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan Muhammad adalah RasulNya.
Kedua, penjelasan hubungan kehidupan manusia di dunia dan di akhirat, penjelasan ini banyak terdapat pada surat-surat Makkiyyah, Firman Allah:
“ Dan adapun orang-orang yang berat timbangannya (kebaikannya) maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangannya (kebaikannya). Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas.”(QS. AL Qaari’ah 6-11).
Firman Allah :
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kelebihan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya . Maka surgalah tempat tinggal(nya). (Orang-orang) kafir bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit kapankah terjadinya?” (QS>An Naazi’aat 37-42).
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh dengan kenikmatan Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka , benar-benar berada di dalam neraka. Mereka masuk kedalamnya pada hari pembalasan.”(QS. Al Infithaar 13 -15).
“Sesungguhnya neraka jahanam itu padanya ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.”(QS. An Naba’ 21-22).
“Sesungguhnya orang-orang bertaqwa mendapat kemenangan (Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur.”(QS.An Naba 32-33 ).
Inilah hubungan antara dunia dan akhirat dengan hasil final pahala bagi orang yang beriman dan beramal sholeh dan hukuman karena dosa bagi yang kufur dan yang beramal jelek.
Syakhsiyyah Islamiyyah dijadikan pijakan berfikir sebelum suatu aktifitas dilaksanakan yang nantinya final dari aktifitas di dunia tergambar dari ni’mat yang langgeng sebab adzab yang pedih, akan merasakan kelejatan rahmat Allah dan surga-Nya, serta takut akan adzab Allah dari nerakanya, dan selalu meminta keridhoan Allah terhadap segala apa yang dikerjakannya dan akan menjauhi apa-apa yang bisa membuat Allah murka.
Ketiga, menuntut kaum muslimin untuk memecahkan problema hidupnya dengan menggunakan asas–asas Islam, oleh sebab itu mereka harus mengetahui hukum syara’ sebelum melaksanakan aktifitas , maka jika tidak tahu haruslah bertanya kepada yang tahu :Firman Allah :
Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl 43).
Sehingga para sahabat tidak akan melaksanakan suatu aktifitas sebelum bertanya kepada Rosulnya tentang hukum aktifitas itu, dan ini terjadi pada Khoulah binti Tsa’labah, yang menyebabkan turunnya ayat kepadanya:
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya , dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua, Allah Maha Mendengar Lagi Maha Melihat”(QS.Al Mujaadilah 1).
Khoulah binti Tsa’labah bertanya kepada Nabi SAW tentang hubungannya dengan suaminya Aus bin Shamit yang telah mendziharnya.
Dan turunlah wahyu yang merupakan syakhsiyyah Islamiyah bila dilaksanakan, seperti apa yang telah ditanyakan Khoulah binti Tsa’labah kepada Nabi tentang problematika yang dihadapinya.
Contoh lain dari firman Allah SWT tentang hal-hal yang ditanyakan sahabat:
“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan itu kepunyaan Allah dan Rosul.” (QS. Al Anfal 1).
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan Katakanlah:”Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al Baqarah 219).
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran” oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.”(QS. Al Baqarah 222)
“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita. Katakanlah:”Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Qur’an.(QS. An Nisaa’ 127).
Dan Rasul SAW menampakan rasa cinta diantara para shahabat, sehingga mereka bertanya kepada nabi maka nabi menjawabnya dengan apa yang diwahyukan dari Allah untuk memberi pembekalan kepada mereka menuju ke dalaman iman yang bisa menambah perasaaan mereka dengan ketenangan karena shilahbillah. Dan Rasul menjadikan para shahabat cinta kepada Allah sehingga seakan-akan Allah hadir dan mengatur di dalam suluknya. Maka jadilah Islam di dalam diri mereka sebagai aqliyyah dan nafsiyyahnya. Salah satu contoh shahabat adalah Mas’ud bin Umair, dengan syakhsiyyah Islamiyyah yang diajarkan oleh Rasulullah kepadanya ini, Ia mampu mempersiapkan masyarakat Madinah Munawarah sebagai masyarakat Islami pertama yang dibentuk pada awal Daulah Islamiyyah.
Dan syakhsiyyah Islamiyyah saamiyah yang didatangkan oleh Rasul SAW selalu sebagai penolong di dalam menjaga daulah dalam mengemban da’wah selama hidupnya, sampai adanya khilafah pengggati setelah wafatnya Rasul. Karena adanya kontinuitas hubungan aktifitas dalam pembentukan syakhsiyyah yang disampaikan shahabat dengan berlandaskan asas Islam, hingga berlangsung tetapnya syakhsiyyah mutamayyizah ini sepanjang situasi dan kondisi, di kota-kota dan penjuru Daulah Khilaafah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: