Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

AN-NAHDHAH (KEBANGKITAN)

Kata an-nahdhah adalah kata yang berasal dari bahasa Arab, yang merupakan pecahan dari kata kerja nahadha yang artinya berdiri. Hanya saja, kata itu telah berubah menjadi sebuah makna istilah yang menunjukkan pada fakta tertentu. Orang-orang Arab sebelumnya belum pernah mempergunakan makna tersebut sebagaimana makna yang digunakan pada masa sekarang. Makna kata tersebut secara etimologis (bahasa) berbeda dengan makna secara istilah. Oleh karena itu, kata tersebut tidak akan memiliki makna secara bahasa kecuali disertai adanya indikasi ke arah itu. Hal ini terjadi karena makna istilahnya lebih dominan sehingga menjadi makna yang otomatis tergambar dalam benak pendengarnya ketika mendengar kata tersebut. Hal itu terjadi baik di kalangan para ilmuwan sosial, para pengkaji tsaqafah maupun di kalangan orang awam.
Adapun maknanya secara bahasa terdapat dalam kamus Lisanul Arab:
Nahadha: bangkit dari sebuah tempat dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Nahadha – yanhadhu – nahdhan – nuhudhan artinya berdiri. Intahadha al-qaumu: mereka berdiri.
An-nahdhah: ath-thaqah (kemampuan) – al-quwwah (kekuatan). Makanun Nahidhun: tempat yang tinggi.
Dalam maknanya yang seperti itu dan yang sejenisnya, kita tidak menemukan makna secara istilah yaitu makna yang akan dijadikan objek pembahasan.
KEBANGKITAN
Kebangkitan adalah istilah modern sebagaimana yang telah kami kemukakan. Kata itu digunakan untuk mengungkapkan suatu fakta tertentu yaitu berpindahnya sebuah umat atau bangsa atau seorang individu dari suatu keadaan menuju keadaan lain yang lebih baik. Akan tetapi, keadaan seperti apakah yang kita maksud itu? Sudah sangat jelas bagi kita bahwa banyaknya pelajar dan sarjana, semakin meningkatnya kekayaan dan kemewahan bukanlah makna dari kebangkitan?
Apabila demikian adanya, apakah yang dimaksud dengan perubahan atau perpindahan yang keberadaannya menjadi tanda dari lahirnya sebuah kebangkitan di tengah-tengah umat atau bangsa atau seorang individu itu? Inilah yang menjadi pokok pembahasan. Apa yang membedakan suatu umat dengan umat yang lainnya? apa yang membedakan antara bangsa yang bangkit dengan bangsa yang terpuruk? Apa standar yang membedakan antara manusia yang bangkit dengan manusia yang terbelakang? Apa yang membedakan seseorang dengan yang yang lainnya padahal keduanya telah diberi potensi diri yang sama, keduanya juga sama-sama telah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya dan untuk memuaskan keinginannya, akan tetapi ternyata orang yang satu memperoleh kemajuan sementara yang lain mengalami keterpurukan. Hal itu terjadi tanpa memperhatikan gaya dan model pakaiannya, tidak memperhitungkan bentuk tubuh dan rupanya atau warna kulitnya. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa penilaian kita atas kedua orang tersebut adalah penilaian yang benar yaitu penilaian yang objektif sesuai dengan faktanya. Hal itu terjadi karena kita tidak menetapkan penilaian atas perkara tersebut kecuali setelah kita menyaksikan perilakunya, melakukan pengamatan terhadap tingkah lakunya, dan melakukan interaksi dengannya. Karena kita tidak mungkin melakukan penilaian secara serampangan dan menyifatinya dengan cara dusta dan kebohongan. Perilaku dan interaksinya serta perjalanan hidupnya merupakan cermin yang akan menjelaskan fakta yang sebenarnya dan bukti pasti yang dapat kita jadikan sebagai sandaran dalam menetapkan penilaian. Oleh karena itu, kita dapat menilai seseorang sebagai orang yang maju atau terpuruk berdasarkan tindakan dan tingkah lakunya. Penilaian itu sesuai dengan faktanya tanpa berlebih-lebihan dan serampangan.
Kadang-kadang kita membaca tulisan si Zaid, atau mendengar pidato si Amr atau menyimak ceramah seorang penceramah atau menghadiri majelis si fulan untuk mendengarkan uraiannya. Kemudian kita tersihir oleh tulisan itu, tersentuh hati kita oleh pidato tersebut, tetapi kadang-kadang kita menolak apa yang disampaikan oleh penceramah atau menolak uraiannya. Oleh karena itu, kita tidak dapat menilai orang yang perkataannya kita dengarkan atau orang yang bukunya kita baca. Akan tetapi kita dapat menilai apa yang kita dengar dan apa yang kita baca. Dengan demikian, penilaian itu dilakukan terhadap uraiannya bukan terhadap orang yang menyampaikan uraian tersebut; dan terhadap pembicaraannya bukan terhadap pembicaranya. Adapun penilaian terhadap penceramah, penulis dan pembicara tidak akan dapat dilakukan kecuali dengan cara melihat atau menyaksikan tingkah lakunya atau perilakunya sehingga memungkinkan kita untuk melakukan penilaian terhadapnya.
Oleh karena itu, tidaklah salah apabila ada orang yang mendefinisikan iman sebagai sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan dalam lisan dan diwujudkan dalam perbuatan atau mendefinisakan iman sebagai sesuatu yang diucapkan dengan lisan dan dibenarkan dengan perbuatan. Dengan demikian, bukti yang pasti dan cermin yang objektif, yang sesuai dengan gambaran sebenarnya itu adalah tindakan dan perilakunya bukan yang lain. Adapun perkataan dan tulisan bukanlah gambaran yang sebenarnya kecuali hanya sebagai indikator yang akan menjadi alat pengukur dan alat untuk mengetahui hakekat kepribadiannya.
Allah SWT berfirman: {“Dan di antara manusia terdapat orang yang perkataannya mengenai kehidupan dunia membuatmu kagum sedangkan Allah menyaksikan apa yang terdapat dalam hatinya yaitu permusuhan yang sangat keras.”}(Q. S. Al-Baqarah: 204).
Allah SWT berfirman: {“Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hati mereka.”}(Q. S. Al-Fath: 11).
Allah SWT berfirman: {“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian lakukan. Sangat besar kebencian di sisi Allah apabila kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian lakukan.”}(Q. S. Ash-Shaf: 2).
Adapun penetapan yang sebenarnya adalah firman Allah SWT: {“Dan katakanlah,”Beramallah kalian, maka Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang yang beriman akan melihat amal kalian itu.”}(Q. S. At-Taubah: 105). Sedangkan penelaahan atas pidato yang kita dengar, makalah dan buku yang kita baca atau pembicaraan yang kita simak maka itu adalah kumpulan pemikiran-pemikiran. Pemikiran-pemikiran itulah yang dijadikan objek penelaahan dan penilaian. Pemikiran-pemikiran tersebut memiliki hukum-hukum, kaidah-kaidah dan standar-standar khusus yang akan membedakan pemikiran yang benar dengan pemikiran yang keliru, membedakan pemikiran yang dangkal dengan pemikiran yang mendalam. Oleh karena itu, ketika kita menilai sebuah buku atau makalah atau ceramah maka kita tidak akan memperhatikan kepribadian si penceramah atau si penulis tetapi akan memperhatikan pemikiran dan pemahaman yang terdapat di dalamnya, yang ditunjukkan oleh kata-kata dan makna-maknanya tanpa sedikit pun terpengaruh oleh kepribadian dan pengetahuan si penulis. Kita menilai pemikiran-pemikiran dan pemahaman-pemahaman tersebut berdasarkan standar yang ajeg dan kaidah-kaidah tertentu yang dibuat secara khusus untuk mengetahui kebenaran dan ketepatan dari pemikiran-pemikiran dan pemahaman-pemahaman tersebut.
Oleh karena itu, penilaian atas seseorang tidak akan dapat dilakukan kecuali dengan cara mengetahui tindakan dan perilakunya. Demikian pula, penilaian atas kepribadian seseorang, apakah dia tinggi atau rendah, harus didasarkan pada aspek perilakunya yaitu perbedaan dari aspek akidah dan pemikirannya atau pemahaman dan akhbar (pengetahuan)nya.
Apa yang terjadi pada individu bisa terjadi pula pada masyarakat karena masyarakat merupakan kumpulan individu yang di dalamnya terdapat interaksi yang terus menerus. Interaksi yang terus menerus itulah yang menjadikan kumpulan manusia tersebut sebagai sebuah masyarakat. Apabila interaksi yang terus menerus itu tidak terjadi maka kumpulan itu akan tetap sebagai kumpulan individu-individu seperti halnya para penumpang kapal yang tidak disebut sebagai sebuah masyarakat. Dengan demikian, masyarakat itu bergantung pada adanya interaksi tersebut. Penilaian terhadap masyarakat dibangun berdasarkan pada adanya interaksi yang terus menerus itu, bukan dibangun berdasarkan penderitaan yang dialami seperti akibat bencana dan kemiskinan, bukan pula karena berdasarkan pada kesenangan seperti kemewahan dan kemakmuran. Oleh karena itu, interaksi inilah yang merupakan cermin yang sebenarnya, yang akan merefleksikan masyarakat yang sebenarnya. Interaksi ini pula yang mengatur kehidupan manusia. Melalui interaksi tersebut akan diketahui seperti apa adat dan tradisinya. Melalui perjalanan interaksi dan melalui pengamatan terhadap perilaku manusia dalam melakukan interaksi dan kemaslahatan mereka itu, kita dapat menilai sebuah masyarakat apakah masyarakat itu adalah masyarakat yang saleh atau masyarakat yang bejad. Kita pun dapat menilai apakah masyarakat tersebut adalah masyarakat yang maju atau masyarakat yang terpuruk. Dalam kondisi seperti itu banyaknya pelajar, para intelektual dan para sarjana tidak mempunyai nilai apapun. Demikian pula pertumbuhan industri atau perdagangan, peningkatan ekonomi dan kekayaan. Faktor yang akan dijadikan penilaian adalah tegaknya interaksi sehingga sebuah msyarakat bisa disebut sebagai masyarakat. Maksudnya, bahwa penilaian itu dilakukan terhadap pemikiran-pemikiran dan pemahaman-pemahaman yang membimbing masyarakat tersebut dan yang dijalankan manusia ketika meraih kemaslahatan mereka. Penilaian itu juga dilakukan terhadap rasa benci dan suka yang dibentuk oleh pemikiran-pemikiran dan pemahaman-pemahaman tersebut. Penilaian itu juga dilakukan terhadap nilai-nilai luhur yang mereka yakini dan aturan yang bersifat umum, yang menjaga interaksi tersebut dan mengaturnya serta memelihara apa yang mereka sepakati dalam masyarakat. Oleh karena itu, interaksi itu merupakan cermin yang sebenarnya, yang akan menjelaskan hakekat sebuah masyarakat. Sedangkan penilaian terhadap sebuah masyarakat, yang dibangun berdasarkan pada gambaran tersebut, merupakan penilaian yang objektif. Dengan demikian, apabila gambaran itu memunculkan keselarasan antara kebiasaan umum dan sistem peraturannya yaitu adanya kesamaan jenis sistem peraturan dalam pemikiran dan perasaannya maka kita katakan bahwa masyarakat itu adalah masyarakat yang homogen. Dan bahwa di sana terdapat keselarasan yang sempurna antara pemimpin dan rakyatnya. Apabila gambaran itu muncul dengan intraksi yang baik, perasaan yang baik pula, nilai-nilai yang luhur, akhlak yang mulia serta aturan yang mampu menangani seluruh urusann masyarakat tersebut maka kita katakan bahwa masyarakat itu adalah masyarakat yang maju sekaligus masyarakat yang bangkit. Dan sebaliknya, sebuah masyarakat yang interaksinya kacau, pemikirannya membingungkan, pengindraannya tumpul dan perasaannya berbeda-beda, membenci aturan, berusaha untuk menghancurkan aturan itu, diperintah dengan tangan besi dan kekerasan, dibungkam mulutnya, diancam nyawanya dan diputuskan penghidupannya maka masyarakat seperti itu akan dipimpin oleh egoisme dan diatur oleh hukum rimba. Lalu bagaimana keadaan seperti itu disebut sebagai sebuah masyarakat? Inilah yang terjadi di seluruh masyarakat dunia Islam walaupun dalam masyarakat itu terdapat banyak perguruan tinggi, lembaga pendidikan dan sekolah, walaupun di dalam masyarakat tersebut terdapat banyak pelajar, sarjana dan lulusan pasca sarjana, walaupun Allah telah mengaruniakan sumber daya alam yang kaya raya kepada negeri-negeri tersebut. Itulah yang dikenal dengan sebutan negara-negara dunia ketiga atau negara-negara berkembang atau negara-negara terbelakang.
Contoh yang berkaitan dengan hal itu sangat banyak dan sangat jelas. Sumber daya alam kita sangat melimpah. Minyak dan gas alam serta perut bumi yang mengandung barang tambang dengan berbagai jenisnya. Pertanian dan kekayaan hewani yang begitu melimpah ruah. Batu marmer, batu permata, batu pualam dan sebagainya yang telah Allah karuniakan kepada kita, yang tidak dimiliki oleh umat atau bangsa lain.
Sumber daya manusia yang sangat banyak, para sarjana dan profesional di berbagai bidang telah memenuhi dunia dalam rangka mencari kesejahteraan hidup atau kehidupan yang terhormat. Semuanya itu tidak mampu merubah kondisi masyarakat tersebut sedikitpun dan tidak dapat memajukannya menuju tempat yang layak. Bahkan masyarakat-masyarakat tersebut tetap dalam kondisi merosot dan terpuruk hingga mencapai tingkat yang paling rendah. Hal itu terjadi karena semua perkara tersebut bukanlah asas untuk menuju kebangkitan atau asas untuk mengubah masyarakat dari suatu kondisi menuju kondisi yang lain yang lebih baik. Dan karena semua itu bukanlah asas yang akan menjadi landasan tegaknya sebuah masyarakat, bukan pula sebagai unsur-unsur masyarakat itu sendiri. Tegaknya sebuah masyarakat bergantung pada unsur-unsurnya. Unsur-unsur masyarakat itu adalah asas-asas yang menjadi landasan bagi kelangsungan interaksi yang terus menerus dan juga landasan bagi penjagaannya. Demikian pula, tegaknya sebuah masyarakat bergantung pada pemikiran dan pemahaman yang ada di dalamnya, serta perkara-perkara yang terpancar dari pemikiran dan pemahaman tersebut yaitu perasaan dan nilai-nilai. Di samping itu, bergantung pula pada pengetahuan atas perkara yang akan memelihara keberlangsungan interaksi tersebut yaitu aturan dan perundang-undangan. Tegaknya sebuah masyarakat tidak ada kaitannya dengan kekayaan alam dan yang lainnya. Maksudnya, hal itu tidak ada nilainya bagi maju atau mundurnya sebuah masyarakat.
Dengan pengamatan yang teliti terhadap masyarakat-masyarakat yang terdapat di dunia Islam maka kita akan menemukan bahwa negeri-negeri tersebut sedang mengalami kemunduran taraf berpikir, tumpulnya perasaan dan kekacauan jiwa. Semua itu terjadi akibat adanya upaya untuk menyelaraskan perasaan yang terdapat dalam jiwa masyarakat dengan peraturan yang mengatur interaksi mereka serta adanya upaya peracunan terhadap pemikiran-pemikiran mereka dengan pemikiran-pemikiran asing. Dikaitkan dengan hal itu, maka perbedaan atau pertentangan antara perasaan yang terdapat dalam jiwa mereka dengan sistem peraturan yang diberlakukan terhadap mereka telah menyebabkan terjadinya kegoncangan dan kekacauan pada asas kehidupan mereka. Hal itu juga menyebabkan para penegak sistem peratuan itu menggunakan cara kekerasan dan militer, menggunakan tangan besi dan senjata untuk memaksa masyarakat agar tunduk kepada sistem peraturan tersebut dan agar menjalankan interaksi dan tingkah laku mereka sesuai perundanga-undangan yang diberlakukan bagi mereka. Padahal itu bertentangan dengan akidah dan pemikiran mereka. Hal itu membuat masyarakat menjadi bersikap hipokrit (munafik), penjilat atau melakukan intrik dan konspirasi hingga meminta bantuan syetan untuk menyelamatkan diri mereka dari apa yang terjadi dan memberikan otoritas kepada syetan itu utuk menguasai mereka. Hal tersebut akan terus seperti itu yaitu terjadinya upaya untuk melumpuhkan masyarakat dan menghinakan mereka hingga mereka bersedia menerima apa yang diberlakukan terhadap mereka. Inilah fakta yang dialami oleh masyarakat di dunia Islam yaitu kerusakan, kekacauan dalam pemikiran, tumpul dalam pengindraan, berbeda-beda dalam perasaan dan permusuhan yang serius antara masyarakat dengan sistem yang diberlakukan terhadap mereka sehingga para aparat penegak sistem itu menjadi musuh pertama bagi seluruh masyarakat. Dengan demikian, hal ini tidak sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
[“Imam itu adalah perisai, dimana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”](H. R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasai).
[“Sebaik-baiknya pemimpin kalian adalah para pemimpin yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruknya pemimpin adalah para pemimpin yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.”]. Catatan kaki: (H. R. Muslim, At-Turmudzi dan Ad-Darimi. Mereka meriwayatkan hadits tersebut dari Auf bin Malik dari Rasulullah SAW. Teks lengkap hadits itu adalah: [“Sebaik-baiknya pemimpin kalian adalah para pemimpin yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Sedangkan seburuk-buruknya pemimpin adalah para pemimpin yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian. Seseorang bertanya,”Wahai Rasulullah, bolehkah kita memerangi mereka dengan pedang.” Rasulullah SAW bersabda,”Tidak. Selama mereka melaksanakan hukum Islam. Apabila kalian melihat sesuatu yang kalian benci pada diri pemimpin kalian maka bencilah perbuatannya itu dan janganlah melepaskan diri dari ketaatan.”].


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: