Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

Apakah Qordlowiy Membolehkan Riba?

Apakah Al-Qordlowi membolehkan riba? Pertanyaan tersebut telah menimbulkan keraguan dan melemahkan mereka yang kerap menstandarkan setiap perkara dengan ra’yu (akal) mereka. Mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Tindakan mereka tersebut –yakni menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal—persis sebagaimana yang disinyalir dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Thobroni dalam Kabiir wal Bazzar dengan sanad yang disandarkan kepada orang-orang yang selamat dari cela yakni Auf bin Malik dari Rasulullah SAW beliau Bersabda:
”Ummatku terpecah belah atas tujuh puluh tiga firqoh, yang terbesar menjadi fitnah atas ummatku yakni kaum yang menstandarkan setiap urusan mereka dengan ra’yu (akal) mereka. Mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal”. Hadits ini dikutip dari Majmu’ Zawaid Juz I, Kitab Ilmu Bab Taqlid dan Qiyas.
Banyak sekali orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu –yakni apakah Al-Qordlowi membolehkan riba?–, ternyata ada yang mengakui dan ada juga yang menyangkal. Dan berikut ini merupakan penjelasan terhadap ajuan pertanyaan tersebut yang mengharuskan seorang muslim untuk tidak mengatakan sesuatu sebelum pasti baginya dan sebelum dibahas terlebih dahulu. Karena tidaklah suatu pembahasan menjadi jelas, tersibak dari kegelapan kalau dengan menggunakan fakta yang dangkal tidak mendalam.
Pertanyaan yang dilontarkan cuma satu, namun pembahasanya cukup berbelit (memunculkan perdebatan). Maka kehati-hatian membahasnya seperti mengisi periuk dengan air yang sudah penuh. Begitupun dalam hal menyampaikan dan menyimpulkan atas perkataan Al-Qordlowi, maka posisinya sama seperti menuangkan air pada bejana tadi baik yang pro maupun yang kontra karena sesungguhnya memberikan fatwa dengan menstandarkan kepada ra’yu (akal) semata tidak keluar dari daerah nash syara’ dan perbedaan fiqh—dengan dugaan ra’yu nya—dan para ulama telah menetapkan sebagai ketentuan syara’ dalam fiqh ikhtilaf atas tidak adanya penolakan bagi orang-orang yang menjadi pengemban akal yang dzann selama baginya hal tersebut digunakan seperti dalil.
Dan seharusnya diketahui, bahwasanya menyerang pernyataan-pernyataan Al-Qordlowi tidak dimaksudkan untuk menyerang pribadi Al-Qordlowi, menjadikan Al-Qordlowi sebagai musuh ataupun tujuan yang lain. … Yang disampaikan disini adalah kalimat haq yang harus untuk disampaikan. Bagaimana tidak, bukankah sebagian manusia ada yang mengambil fatwa tersebut tanpa melakukan pengamatan? Benarlah apa yang dikatakan Ibnu Muqaffi’: “tidak ditemukan sesorang yang lebih takut terhadap agamanya ketika dia mengambil ra’yu-(akal) nya dan ra’yu seseorang sebagai sesuatu yang diwahyukan Allah”.
Dan adapun ketetapan seseorang memiliki niat yang lurus, namun jika seorang alim yang keliru maka dia telah menghancurkan Islam. Dan bagaimana mungkin kita menyandarkan diri kepada orang-orang alim yang idenya bertentangan dengan ketentuan yang qath’i yakni yang muhkamat dan bukan mutasyabihat. Dan telah diriwayatkan dari Abu Syammah dengan sanad ke Abu Ziyad bin Hudair, dia berkarta: berkata Umar kepadaku: Apakah engkau tahu, siapa yang akan menghancurkan Islam? Aku berkata: “Tidak”, lalu dia berkata:” Islam akan dihancurkan oleh orang alim yang keliru (sesat), berjidalnya orang munafiq atas nama Qur’an, dan ketetapan penguasa dzalim”. Haruslah tiap-tiap ummat Islam menjaga Islam dan kelanggengan Islam dengan menjelaskan setiap perkara yang bertentangan dengan dalil Islam yang qoth’i.
Dan seseorang tidak boleh menyebarkan kebohongan dan menggelincirkan –menjerumuskan—seseorang sebagaimana fatwa tadi padahal dia mendengar hadits yang diriwayatkan oleh Daruquthni dari Anas dari Rasulullah SAW: ”Barang siapa yang –melakukan ghasy—terhadap ummatku maka baginya laknat Allah, para malaikat serta manusia semuanya. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, Apakah ghasy itu? Rasul menjawab: “Seseorang yang menyampaikan kepada mereka –ummat—perkara bid’ah dan mereka mengerjakannya.”
Kita adalah pengemban dakwah, bukanlah hakim, oleh karena kita tidak diperbolehkan menghukumi seseorang sebagai ahli syurga atau ahli neraka. Karena hal tersebut –menghukumi seseorang—merupakan ketentuan Allah yang Maha Adil. Dan yang bisa kita lakukan adalah menghukumi pemikiran, aturan dan pendapat, apakah pemikiran, hukum dan pendapat tersebut merupakan pendapat Islam atau bukan? Dan dalam pembahasan ini kita akan menilai (menghukumi) pernyataannya Al-Qordlowi dalam penetapan nash-nash syara’. Dan penentu hukum dalam hal ini adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Dan ungkapan pernyataan Al-Qordlowi sendiri sebagai fakta.
Harus kita ketahui juga bahwa orang-orang yang menginginkan masuk Islam maka apa-apa yang tidak berasal dari Islam tidak akan pernah diambil olehnya dan tidak akan pernah menyebarluaskan pernyataan dengan sangat jelas, misalnya ungkapan bahwa: “Riba itu mubah”, karena jelas sekali pengharamannya dalam Qur’an. Dan tidak menyatakan pengharaman riba akan tetapi yang dikatakannya adalah bahwa: “Riba yang diharamkan itu adalah yang berlipat ganda bukan yang sedikit”. Pemahaman seperti itu merupakan ta’wil terhadap ayat:
“Janganlah kalian makan riba yang berlipat-ganda”.
Dalam hal ini dia mengharamkan riba yang berlipat ganda dan menghalalkan riba yang sedikit seperti 5% atau 7%.
Kalau pembahasannya dilakukan dengan ilmu bahasa dan ragam bahasa dalam Qur’an dan sunnah maka akan diketahui bahwa penshifatan kata “adh’afan mudho’afah” bukanlah pengkhususan (syarat) –bahwa yang berlipat ganda—tersebut disebut riba, tidak diambil dari mafhum ayat qur’an akan tetapi terhadap manthuq-nya saja, karena mafhumnya yakni membatasi pengharaman pada riba yang berlipat-ganda hal tersebut salah dililhat dari dua sisi:
Pertama: munculnya pemahaman tersebut adalah karena ke-ghaliban (kebiasaannya/umumnya). Adapun pemahaman ghalib yang muncul dalam masalah tersebut adalah bahwa sesungguhnya “berlipat ganda” adalah pemahaman yang muncul dari keumuman tadi. Tidak ada pemahaman “mafhum mukholafah” dalam hal tersebut. Tidak bisa juga dikatakan bahwa sesungguhnya riba jika tidak berlipat ganda menjadi halal, tidak ada mafhum mukholafah disana karena keumuman (kebiasaan) tadi menjadi haram, berlipat ganda atau tidak.
Dan tiap-tiap yang keluar secara ghalib tidak diambil mafhum mukholafah, sebagai contoh Firman Allah SWT dalam QS An-Nuur ayat 33:
“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian”.
Mafhum mukholafah-nya adalah jika wanita tersebut tidak menginginkan kesucian, maka boleh memaksanya. Pemahaman tersebut tidaklah tepat, walaupun si budak wanita tadi menginginkan kesucian ataukah tidak, karena penshifatan tersebut keluar dari keghalibannya ketika itu. Lain halnya jika ada keghaliban pemaksaaan budak sedangkan mereka menginginkan kesucian. Dan tidak dapat diambil mafhum mukholafah dalam hal tersebut.
Yang kedua: penegasian (penghilangan) mafhum mukholafah pada ayat: “Janganlah kalian memakan riba yang berlipat ganda” hal tersebut terhapus oleh nash setelahnya yakni ayat pengharaman riba dalam setiap bentuk (semuanya) yakni: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” dan ayat riba dalam surat Al-Baqarah yang lain yang turun dari hukum-hukum riba dan tidak turun setelah itu yang mengkhususkannya.
Dan mafhum tersebut tidak bisa diambil dari nash tadi. Misalnya sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS An-Nisaa ayat 101: “Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqasar shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir”. Adapun mafhum mukholafahnya adalah: “Bahwa sesungguhnya bagi kalian jika dalam keadaan aman maka tidak boleh untuk mengqasar shalat dalam keadaan safar. Karena mafhum tersebut telah dihapus (athola) oleh hadits Rasulullah SAW yakni ketika ditanyakan Rasul Bersabda: “Shodaqoh yang Allah berikan bagi kalian, maka terimalah bagi kalian sebagai shodaqoh”. Oleh karena itu, mengqasar shalat diperbolehkan dalam keadaan aman ataupun dalam keadaan takut.
Dua pandangan tersebutlah yang bisa diambil dari pemahaman ayat: “janganlah kalian makan riba yang berlipat ganda”. Pendapat yang dapat diambil adalah manthuq-nya bukan terhadap mafhum mukholafah. Oleh karena itu sama saja, baik sedikit ataupun banyak riba itu tetap haram.
Sesungguhnya orang yang mengatakan bahwa riba itu haram ketika banyak saja, tidak diragukan lagi karena jauh dari pemahaman terhadap ayat tersebut, dan mereka menipu dan meracuni ummat serta menyesatkan mereka.
Qordlowiy tampil dalam sebuah acara televisi as Syari’at wal Hayat (Syari’at dan Kehidupan) pada tanggal 6 Desember 1998 dengan topik asy Syirkah Musahamah (Perseroan). Qordlowiy di bagian pengantar menyatakan sebagai berikut:
Syirkah yang memunculkan perdebatan adalah syirkah yang hukum asal melakukannya dan mengaktifkannya mubah, seperti syirkah semen, syirkah listrik, syirkah tambang dan syirkah telekomunikasi. Syirkah jenis ini pada asalnya tidak terkandung dosa didalamnya (…) Hanya saja keraguan muncul ketika kekayaan bertambah kemudian disimpan di bank yang menggunakan sistem riba (…) Ini berarti bahwa ia (syirkah tersebut) mengambil keuntungan bungan dari bank. Dan kadang-kadang syirkah tersebut membutuhkan suatu perencanaan kemudian ia meminjam dengan riba. Maka aktivitas awal dalam syirkah adalah halal dan mubah akan tetapi riba terlibat dalam tata cara tersebut. Para fuqoha dimasa sekarang berbeda pendapat tentang masalah ini dan sebagian besar ulama melarangnya. Sebagian kecil ‘ulama atau fuqoha membolehkan dengan syarat. Pentingnya syarat ini adalah agar tidak terlibat dengan riba yang besar (ar riba katsiiran). Riba besar dan kecil tergantung kepada suatu standar praktis. Sebagian mengatakan tidak melebihi 30%, karena Rasulullah saw bersabda, الثلث والثلث كثير “sepertiga dan sepertiga itu sudah sangat besar.” Nilai 30% secara aqliyyah diambil dari sepertiga (…) Sebagian fuqoha menjadikan sangat besar berdasarkan الثلث كثير dalam segala sesuatu, karena alif dan lam dianggap sebagai lafadz umum dan al ibroh bi’umuum il lafdzi laa bikhushushi as sabab. Dan saya (Qordlowiy) berpendapat bahwa 30% adalah besar dan saya berpendapat bahwa kecil nilai-nilai seperti 15%. Pendapat ini ma’quul dan dlobith (…)
Masalah kedua. Organisasi-organisasi terutama seperti syirkah di negeri-negeri Islam maka syirkah ini tidak seharusnya meninggalkannya bagi non-muslim. Di sebagian negeri, ini adalah masalah aqliyyah bukan masalah Islamiyyah. Apakah umat Islam akan membiarkannya digunakan oleh non-muslim dan terseret di dalamnya dengan sempurna. ???

Al-Muqoddim: Kalau begitu, Anda mengajak kaum muslimin agar berbondong-bondong “menyerbu” –untuk terpaksa berhutang pada—yayasan-yayasan yang beraktifitas dengan riba?

Al-Qordlowi: Benar, karena sedikit sekali diantara tempat-tempat yang bisa kita pilih untuk berhutang yang menetapkan pengapusan riba dalam aktifitasnya. (…) Kemudian disinilah masalah ketiga bahwa sesungguhnya dia jika tidak mampu untuk menghindari maka kita boleh menerima simpanan ribawiy dari bunga. Dan ketika anda masuk ke dalam syirkah tersebut dan ternyata tidak sanggup untuk merubahnya kepada Islam secara total dan padahal didalamnya ada harta yang berputar yang disimpan di bank ribawi dan ada faedah yang bisa diambil dari harta tersebut, maka kita bisa mengetahui dengan operasi pertimbangan Syirkah tersebut atau melalui perhitungan khusus oleh akuntan yang ahli berapa batas ukurannya. Dikatakan batasannya adalah 10% hingga 20%. Itulah batasan bagi seorang muslim untuk mensucikan dan mengeluarkan hartanya dan tidak memasukkan hartanya secara khusus. .
(…) Ketika seseorang tidak mampu, maka ia bertanya kepada ahli, seperti akuntan dalam syirkah hingga ia mampu mengetahuinya dan akhirnya ia memastikan. Jika seseorang bodoh kemudian dengan ijtihad dikatakan bahwa Allah telah menetapkan 20% dan 25% dan ia (bunga tersebut) dihasilkan dari syirkah ini kemudian ia (Qordlowiy) mengatakan tinggalkan yang meragukan hingga tidak ada yang meragukan.
Sungguh panjang-lebar untuk menjelaskan kepada para pembaca tentang topik dan kepentingannya. Berikut ini pembahasan dari saya (penulis):
1. Bahwa dia (Qordlowiy) memastikan bahwa riba yang haram adalah yang besar, kemudian ia mulai memberikan penjelasan tentang pengertian besar tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam bagian pengantar, bagaimana ayat yang mulia tidak memberikan celah bagi mereka yang mengatakan bahwa pengharaman riba adalah untuk yang besar saja. Tidak ada keraguan bahwa mereka memahami penunjukan ayat (madluul ul ayat) tidak seperti awalnya. Dan ini menyesatkan orang-orang yang bodoh.
2. Sekarang kami akan memberikan sanggahan fatwa-fatwa Qordlowiy yang tidak ditopang atas dalil. Ia hanya mendasarkan pada sebuah hadits dan sebuah qoidah syar’iyyah dan menjelaskan keduanya untuk membenarkan fatwanya dengan bentuk yang nash tersebut tidak menjelaskan demikian. Maka Qordlowiy telah menjadikan akalnya sebagai sebuah sumber hukum secara nyata untuk membatalkan, mengikatkan, menjelaskan, mengumumkan dan mengkhususkan nash-nash syara’. Demikianlah ia menggunakan akalnya tanpa ditopang oleh nash. Karenanya, ia bukanlah seorang mujtahid dan memang ia layak disebut demikian. Dan ia menyiarkan kepada khalayak bahwa mujtahid adalah sumber hukum. Saya (penulis) mengatakan bahwa ijtihad ada dalam agama ini namun ijtihad bukanlah sumber hukum. Ijtihad adalah usaha keras untuk menggali hukum-hukum syara’ dari dalil-dalil yang terperinci. Ini berarti ijtihad bersandarkan pada nash-nash syara’ dengan pemahaman berbasis bahasa Arab dan qoidah-qoidah ushul untuk menghasilkan hukum. Menyeru manusia untuk mengikuti ijtihad bukanlah berarti boleh bagi seseorang untuk mengatakan sesuatu tanpa dalil. Pemikiran yang terpilah-pilah pada sebagian orang seperti ini tidak boleh ada.
3. Disebutkan hadits الثلث والثلث كثير dan qoidah syar’iyyah al ibroh bi’umuum il lafdzi laa bikhushushi as sabab tetapi penggunaannya di lingkup bahasan yang sebenarnya.

Adapun hadits yang digunakan berada pada maudlu’ wasiat dan tidak bisa berdalil dengan hadits tersebut untuk lingkup bahasan yang bukan maudlu’ hadits tersebut. Begitupun, benar bahwa ibroh adalah berdasarkan keumuman lafadz bukan berdasarkan kekhususan sebab. Namun, ibroh tetap berdasarkan kekhususan lingkup bahasannya, sehingga sebab bagi hadits itulah yang menjadi sandarannya, yaitu hadits yang dihasilkan karena adanya sebab bagi perkataan Rasulullah saw atau perbuatannya atau diamnya.
Rasulullah melintas jalan dan melihat domba Maimunah mati, Beliau bersabda, “jika kulit disamak maka sungguh dia suci”. Tidaklah berarti bahwa untuk kulit domba Maimunah saja yang jika disamak maka ia suci. Akan tetapi ia umum. Sebab dalam hadits ini adalah lewatnya Nabi dan tidak ber-ibroh dengannya, karena ibroh adalah berdasarkan keumuman lafadz.
Perkataan Rasul adalah lingkup bahasannya, yaitu sucinya kulit yang disamak, sehingga kta tidak bisa berdalil dengan hadits ini dalam hal pemanfaatan dagingnya, meskipun untuk selain dimakan atau kita menggunakan qoidah syar’iyyah al ibroh bi’umuum il lafdzi laa bikhushushi as sabab untuk pemanfaatan dagingnya, karena al ibroh berdasarkan kekhususan lingkup bahasannya. Allah berfirman (QS an Nisaa’:11), “Allah mensyari’atkan tentang (waris untuk) anak-anakmu yaitu bagian seorang anak laki-laki seperti dua anak perempuan.” Sebab turunnya sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidziy dan al Hakim dari Jabir berkata: datang kepada Rasulullah saw istri Sa’ad ibn ar Rabii’ dan berkata: Ya Rasulullah ini adalah dua anak perempuan Sa’ad ibn ar Rabii’, ayah keduanya syahid ketika perang Uhud bersama engkau dan paman keduanya akan mengambil harta keduanya dan ia tidak memberi bagi keduanya harta dan untuk menikahkan mereka diperlukan harta. Kemudian Rasulullah bersabda: Allah akan memutuskan dalam hal ini maka turunlah ayat ini. Demikian yang dijelaskan dalam Asbaab un Nuzul oleh as Suyuthi.
Bolehkah bagi kita bersandar pada ayat ini untuk menjelaskan bahwa seorang ayah memberi, menganugerahi dan menghibahkan kepada anak-anaknya dengan pembagian bagi anak-anak laki-laki dua kali anak perempuan? Bolehkah kita bersandar pada qoidah al ibroh bi’umuum il lafdzi karena lafadz ‘auladikum adalah lafadz umum karena berbentuk mudlof dan mudlof ilaih? Jawabnya: bagian laki-laki dua kali bagian perempuan khusus dalam masalah waris dan tidak bisa kita mengambil pengertian yang melampaui batas dan berdalil untuk masalah yang di luar lingkup bahasannya.
Dalam lingkup bahasan kepemimpinan wanita sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhoriy dari Abi Bakrah mengatakan: Ketika disampaikan kepada Rasulullah tentang penduduk Persia bahwa penguasa mereka adalah anak perempuan Kisra, Beliau bersabda: Tidak beruntung sebuah kaum jika yang memerintah mereka seorang wanita. Hadits ini tidaklah khusus menjelaskan pengangkatan putri Kisra akan tetapi ia tetap menjelaskan keharaman bagi setiap wanita dalam masalah kepemimpinan, karena qoidah al ibroh bi’umuum il lafdzi laa bikhushushi as sabab. Akan tetapi bolehkah kita mengatakan bahwa kepemimpinan dalam pemerintahan sama hukumnya sebagaimana masalah anak perempuan Kisra atau seperti dalam selain pemerintahan seperti kepemimpinan dalam masalah kecil, anak kecil dan aktivitas dalam pengadilan, perwakilan dan wikalah haram bagi wanita? Haramkah kita mewakilkan kepada wanita dalam masalah perdagangan? Haramkah wanita menjadi pemimpin dalam masalah kecil dan anak kecil juga dalam masalah pengadilan? Yang harus kita pahami adalah lingkup bahasan yang dibicarakan oleh Rasulullah, yaitu masalah pemerintahan. Di masa Umar ibn Khattab seorang perempuan dari sebuah kaumnya ditunjuk menjadi hakim pasar.
Dengan demikian kita mengetahui bahwa sabda Rasulullah الثلث والثلث كثير adalah khusus dalam lingkup bahasan wasiat dan umum untuk seluruh kaum muslimin dan bukan karena sebab serta bukan pula khusus bagi peristiwa yang disebutkan dalam hadits tersebut.

4. Pernyataan Qordlowiy: Sebagian fuqoha menjadikan besar berdasarkan الثلث والثلث كثير dalam segala sesuatu membuat pendengar dan pemirsa ragu bahwa seorang yang mengatakan demikian termasuk fuqoha.
Nash dan hadits الثلث والثلث كثير yang dipelintir dengan ta’wil yang tidak terkandung dalam nash tersebut. Saya katakan: bahwa hadits tersebut tidak sedikitpun menjadi landasan untuk membangun fatwanya. Bahwa hadits – yang melandasi pemahamannya – mengizinkan sepertiga dan tidaklah bisa dipahami bahwa itulah batas besar dan kecil. Namun Qordlowiy mengatakan bahwa Saya berpendapat bahwa 30% besar dan saya berpendapat bahwa kecil nilai-nilai seperti 15%. Pendapat ini ma’quul dan dlobith. Maka hadits yang dita’wiil Qordlowiy adalah batal dalam mengizinkan sepertiga karena Qordlowiy berpendapat bahwa kecil nilai yang kurang dari 30% hingga 15% dan melupakan nash الثلث والثلث كثير . Anehnya (30% tersebut dan bukan seperempat akan tetapi yang datang dari pendapatnya adalah 15% yaitu mendekati seperenam) dan itulah yang menjadi standar. Maka ta’wil tersebut batal dan الثلث والثلث كثير tidak menjadi landasannya. Ia menjadikan akalnya sebagai hukum seperenam dan seperenam itu sudah terlalu banyak. Dan kesalahan bahwa ia mengatakan: 15% ma’quul dan dlobith, maka seolah masalah akal yang muncul dan bukan masalah syari’at yang bersumber pada nash. Perkataannya ini dlobith adalah kesalahan yang besar ketika ia menjadikan pendapat akalnya dlobith bagi perilaku dan istimewa bagi dirinya.
Dengan fatwa dan logika tersebut Qordlowiy membolehkan bagi seorang muslim untuk ikut serta dalam perseroan meskipun syirkah tersebut menyimpan uangnya di bank ribawiy meskipun sebagian pengembangan hartanya berasal dari riba yang dikembangkan dari harta di bank. Kemudian ia mempersyaratkan dengan syarat bahwa yang diharamkan adalah riba yang besar. Sehingga ia mengharamkan seorang muslim ikut serta dalam syirkah yang berbasiskan riba, yaitu syirkah menyimpan uangnya di bank dengan bunga yang besar.

Pertentangan yang aneh:
Dalam fatwanya, Qordlowiy menjelaskan bahwa batas pemisah atau ukuran yang dianggap kecil dan yang melampauinya besar adalah 15%. Namun, ini bertentangan dengan dirinya sendiri dalam pernyataan tentang kriteria bagi mereka yang bodoh tentang standar riba dari sebuah bunga. Ia mengatakan: Jika seseorang bodoh kemudian dengan ijtihad dikatakan bahwa Allah telah menetapkan 20% dan 25% dan ia (bunga tersebut) dihasilkan dari syirkah ini dan ia (Qordlowiy) menambahkan tinggalkan apa-apa yang meragukan hingga tidak meragukanmu. Ada dua pertentangan dari dua sisi:

Pertama, Ia mengatakan bahwa ukuran batas kecil adalah 15% namun ia membolehkan bagi siapapun bergabung dalam syirkah yang ukuran ribanya 20% atau 25% untuk tetap tinggal di dalamnya.

Kedua, Bagaimana manusia mengetahui ukuran riba dalam sebuah syirkah sebelum ia bergabung dengannya dan sebelum beraktivitas yang akan mendatangkan bunga da ia menganggap bahwa syirkah dalam perencanaannya tidak akan menikmati bunga dan tidak mengalami kerugian dan yang dibiarkan di bank adalah bunganya saja (meskipun bunga tersebut besarnya 100%, bukankah ini prospektif).
Dan ia menyandarkan pernyataannya kepada sebuah hadits tinggalkan apa-apa yang yang meragukan hingga tidak meragukanmu. Bagaimana seseorang yang didalamnya ragu, namun ia yakin. Bukankah ia seorang yang bergabung didalam contoh yang dibolehkan oleh Qordlowiy.
Yang perlu diketahui, bahwa kami tidak mengikuti akad perseroan, karena ia batil dari segi asasnya sama saja apakah ia menggunakan riba ataupun tidak.Tapi bukanlah di sini tempatnya.Yang dibahas disini adalah apa-apa yang ada dalam fatwa Qordlowiy dan menjelaskan bahaya fatwanya dan bagaimana mereka menggunakan akal mereka sebagai hakim dalam syari’at Allah, mengikuti hawa nasfsunya tanpa dalil sama sekali.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: