Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

AWAL PEPERANGAN

Rasulullah saw. menetap di Madinah, lalu menjadikannya pusat penerapan Islam. Kemudian wahyu turun yang berkaitan dengan pelegalisasian hukum-hukum (tasyri’) Islam. Lalu beliau mendirikan “istana” Negara Islam dan membangun masyarakat Islam di atas dasar-dasar dan sistem-sistem Islam. Beliau juga mempersaudarakan sesama orang-orang Islam. Ketika itu Islam (hukum dan syari’atnya) menjadi hidup di tengah masyarakat yang merawat dan mengemban dakwahnya. Kaum muslimin bertambah, baik dalam jumlah, senjata, kekuatan, dan daya tahannya. Orang-orang menerima kehadiran Islam, baik secara individu maupun kelompok-kelompok, baik dari kalangan musyrik maupun Yahudi.
Setelah Nabi saw. berhasil memantapkan Islam dan dakwahnya di Madinah, beliau mulai berpikir tentang dakwah Islam keluar Madinah dan menyebarkannya di seluruh Jazirah Arab. Akan tetapi, beliau mengetahui bahwa kafir Quraisy menjadi penghalang yang berdiri mencegah dakwah ini. Mereka adalah penghalang yang bersifat fisik di jalan Islam. Dalam hal ini, dakwah dengan hujjah dan pembuktian argumentatif tidak ada gunanya. Kalau begitu, harus ada kekuatan yang juga bersifat fisik untuk menghilangkan penghalang-penghalang itu. Sesungguhnya Nabi saw. ketika masih di Makkah belum mampu menghilangkan penghalang fisik ini karena tidak adanya Negara Islam yang mampu membawa kekuatan fisik yang cukup untuk meluncurkan kekuatan itu. Kondisinya tidaklah demikian ketika beliau di Madinah. Di Madinah beliau telah berhasil mendirikan Negara Islam yang mampu menghancurkan penghalang fisik ini dengan kekuatan fisik juga setelah kekuatan ini mudah diperolehnya. Karena itu, yang harus dilakukan Nabi saw. adalah menyiapkan kekuatan, iklim perang, dan strategi politik baru untuk dakwah setelah sebab-sebab dan sarana-sarana politik baru ini tersiapkan.
Karena itu, beliau memulainya dengan pembentukan kesatuan-kesatuan militer dan melancarkan pertempuran-pertempuran awal melalui sebagian detasemen yang dikirimkannya dan sebagian lagi pergi bersama kesatuan yang lain. Pemberangkatan pasukan ini tujuannya untuk menantang kafir Quraisy dan menunjukkan kekuatan umat Islam. Detasemen terakhir yang dikirim Nabi saw. adalah detasemen di bawah komandan Abdullah bin Jahsyin. Detasemen inilah yang mengawali perang Badar.
Kisahnya sebagai berikut. Rasulullah saw. dalam bulan Rajab, tahun kedua Hijriah mengutus Abdullah bin Jahsyin dengan sekelompok orang Muhajirin. Beliau memberinya surat dan diperintahkan untuk tidak membukanya kecuali setelah dua hari dari perjalanannya. Setelah masa perintahnya habis dan tidak seorang dari sahabatnya yang enggan membukanya, maka Abdullah membuka surat itu. Tiba-tiba ketika surat dibuka, di dalamnya ada tulisan yang menyatakan: “Jika engkau telah melihat suratku ini, maka berjalanlah terus hingga engkau tiba di sebuah pohon kurma di antara Makkah dan Thaif. Lalu intailah kafir Quraisy di sana dan beritahukan kepada kami tentang kabar mereka.”
Abdullah memberitahukan persoalan itu kepada teman-temannya dan tidak seorang pun yang menentangnya. Mereka berjalan bersamanya hingga tiba di pohon kurma lalu turun dari kuda-kuda mereka. Tidak seorang pun dari kesatuan pasukan kecil ini yang tertinggal kecuali Sa’ad bin Abi Waqash al-Zuhriy dan ‘Utbah bin Ghazwan. Unta dua sahabat tersebut hilang tersesat, lalu pergi mencari tuannya, dan di tengah jalan kafir Quraisy berhasil menawannya. Abdullah bin Jahsyin berdiri di kebun kurma sambil mengintai kafir Quraisy. Di tengah-tengah pengintaiannya, tiba-tiba kafilah Quraisy yang membawa banyak dagangan melintas di depan mereka. Kejadian itu di akhir bulan Rajab, salah satu bulan mulia [yang di dalam bulan itu diharamkan berperang]. Abdullah dan kawan-kawannya bermusyawarah tentang apa yang harus dilakukan terhadap kafilah Quraisy itu, padahal dari Nabi saw. tidak ada perintah apa-apa untuk mereka kecuali yang tersirat dalam surat. Antara satu dengan lainnya saling berkata. “Demi Allah, jika kalian membiarkan kaum ini [lewat] di malam ini karena masuk bulan-bulan haram, maka bulan-bulan itu akan mencegah kalian darinya. Jika kalian memerangi mereka, maka sungguh kalian telah memerangi mereka di bulan haram,” kata mereka bimbang.
Mereka memang bimbang untuk memerangi kafir Quraisy. Akan tetapi, mereka akhirnya mengambil keputusan. Salah seorang dari kaum muslimin melepaskan anak panah ke pemimpin kafilah, ‘Amru bin al-Hadhramiy, dan anak panah itu merobek dadanya sehingga dia jatuh tewas. Dua orang kafir Quraisy berhasil ditawan dan beberapa harta mereka berhasil dirampas kemudian kesatuan kecil ini membawanya pulang ke Madinah. Ketika Nabi saw. melihat mereka, beliau berkata, “Saya tidak memerintahkan kalian berperang di bulan haram!” Harta rampasan dan dua tawanan diletakkan di sudut Masjid dan Nabi saw. tidak mempedulikannya sama sekali. Beliau tidak mengambilnya sedikitpun.
Inilah ringkasan kisah detasemen Abdullah yang dikirim Nabi saw. untuk mengintai berita tentang kafir Quraisy. Akan tetapi, Abdullah tidak sekedar mengintai, tetapi justru memerangi mereka dan bahkan berhasil membunuh sebagiannya, menawan beberapa laki-laki, dan mengambil harta mereka. Demikian itu dilakukan dalam bulan yang diharamkan.
Bagaimana pandangan Islam mengenai perbuatan Abdullah ini? Rasulullah saw. berpikir tentang hal itu dan menangguhkan pengambilan dua tawanan dan harta rampasan sambil menanti turunnya hukum Allah dan ayat-ayat-Nya mengenai perkara itu. Pada sisi lain, peristiwa itu sempat mengguncang mental kafir Quraisy dan menjadikannya alat untuk melakukan propaganda memusuhi Muhammad di antara suku-suku Arab. Mereka melancarkan agitasi di semua tempat. Dalam agitasi itu didengung-dengungkan bahwa Muhammad dan kawan-kawannya telah menghalalkan bulan-bulan haram dan mereka dalam bulan itu telah menumpahkan darah, merampas kekayaan, dan menawan kaum pria. Agitasi ini memberi pengaruh cukup keras pada suku-suku Arab. Di Makkah, antara mereka dan kaum muslimin terjadi perdebatan sengit seputar masalah itu. Mereka meneror kaum muslimin karena alasan itu, menyerang Nabi saw. dan sahabat-sahabatnya. Sementara kaum muslimin di Makkah menyanggah propaganda mereka dengan mengatakan bahwa kawan-kawan mereka melakukan hal itu di bulan Sya’ban, bukan di bulan Rajab. Akan tetapi, sanggahan ini tidak cukup mampu menghentikan agitasi mereka. Apalagi kaum Yahudi juga ikut menyumbang serangan propaganda ini. Mereka (Yahudi) ikut menjelek-jelekkan apa yang dilakukan Abdullah bin Jahsyin. Keadaannya menjadi memanas. Propaganda ini semakin menciptakan suasana krisis yang berujung pada penentangan kaum muslimin. Sementara Rasulullah saw. diam saja sambil menunggu wahyu dan hukum Allah dalam masalah ini. Tiba-tiba firman Allah dalam surat Al-Baqarah turun (yang artinya): “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: ‘Berperang pada bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup. (QS. Al-Baqarah:217)
Ketika turun ayat ini, kaum muslimin menyambutnya dengan gembira. Nabi saw. segera mengambil harta rampasan itu dan dua tawanannya. Dalam ayat ini terkandung jawaban yang mematikan terhadap propaganda-propaganda kafir Qurasiy. Al-Qur’an al-Karim menjawab kafir Quraisy tentang pertanyaan-pertanyaan mereka yang dibuat-buat mengenai peperangan di bulan-bulan haram dengan melemparkan isu bahwa hal itu (perang dalam bulan haram) adalah dosa besar. Akan tetapi, menghalangi kaum muslimin dari ibadah di Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari Makkah di sisi Allah merupakan dosa yang jauh lebih besar daripada melakukan perang di bulan haram. Apa yang dilakukan kafir Quraisy dan fitnah-fitnah mereka terhadap umat Islam dan agamanya dengan iming-imingan, ancaman, penipuan, dan penyiksaan lebih besar dosanya daripada pembunuhan dan perang di bulan haram dan bulan selain bulan haram. Kafir Quraisy yang mengguncang dan memusuhi kaum muslimin karena serangan mereka di bulan haram, mereka terus-menerus memerangi kaum muslimin hingga mereka berhasil memurtadkan kaum muslimin dari Islam jika mereka mampu.
Kalau begitu, dalam serangan kaum muslimin terhadap kafir Quraisy di bulan haram tidak terkandung penentangan atau permusuhan terhadap mereka. Karena kafir Quraisy yang telah melakukan dosa-dosa besar ini dalam menentang laju dakwah, menghalangi jalan Allah, kufur pada Allah, mengusir kaum muslimin yang merupakan penduduk asli Masjidil Haram (Makkah), dan upaya pemurtadan kaum muslimin dari Islam, maka sesungguhnya kafir Quraisy ini memang pantas untuk diperangi, baik di bulan haram maupun di luar bulan haram. Kalau begitu, serangan Abdullah bin Jahsyin dalam bulan haram tidaklah mengandung sesuatu yang mengubah ketentuan Islam atau melanggar Islam, tidak juga merupakan sesuatu yang membahayakan kaum muslimin.
Dengan demikian, detasemen Abdullah bin Jahsyin adalah kelompok yang membuka jalan politik Islam dan politik dakwah Islam. Dalam peristiwa tersebut, Waqid bin Abdullah al-Tamimiy berhasil memanah ‘Amru bin al-Hadhramiy, pemimpin kafilah, lalu membunuhnya. Itu adalah awal darah yang dialirkan kaum muslimin di jalan Allah.
Dalam bulan-bulan haram, perang selalu dilarang hingga turun ayat-ayat peperangan yang memerintahkan perang dalam semua zaman dan tempat. Dengan demikian, larangan perang di bulan haram telah di-nasakh dengan pesan umum ayat-ayat perang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: