Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

BAGAIMANA MENGEMBAN DAKWAH ISLAM?

Pemaparan

Tidak diragukan lagi bahwa tertinggalnya kaum Muslim dari umat yang lain tidaklah akan terjadi, seandainya mereka senantiasa berpegang teguh pada agama Islam, serta selalu berkeinginan untuk menjaganya dengan ikhlas dan tidak mengabaikan sedikitpun atau berusaha untuk membuat penafsiran terhadap ajaran Islam.
Ketertinggalan ini dimulai sejak kaum Muslim meninggalkan ajaran Islam dan membuka kesempatan bagi peradaban asing untuk menyusupkan ide-idenya dan mencari cara untuk menghancurkan kaum Muslim. Mereka membiarkan pemikiran-pemikiran Barat memenuhi akal dan menguasai benak mereka. Di sisi lain, umat Islam berpangku tangan dari dakwah Islam ketika mereka melepaskan ajaran Islam sebagai kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyah) dalam kehidupannya, dan ketika buruknya penerapan hukum dan aturan Islam bagi urusan kehidupan mereka.
Untuk melepaskan diri dari dominasi, ini mau tidak mau harus ada usaha untuk bangkit. Usaha ini tidak akan bisa dipetik hasilnya selain dengan cara mengembalikan kehidupan Islam. Kehidupan Islam bisa dicapai dengan dakwah Islam melalui pemikiran Islam yang menjadi tuntunan dan melalui tegaknya Daulah Islam yang berperan mengemban pemikiran Islam ini. Yaitu, pada saat Daulah mengemban dakwah Islam dengan segala sarana yang memungkinkan ke seluruh penjuru dunia.
Memang benar, mungkin akan ada orang yang mengatakan, “Mengapa hanya dengan pemikiran Islam dan bukan yang lain?” Jawabannya datang dari realitas kehidupan yang dialami oleh semua umat di muka bumi ini saat ini tanpa terkecuali. Adapun yang dimaksud adalah adanya malapetaka yang ditinggalkan Sosialisme-Komunisme yang saat ini mulai mengalami kehinaan, kemunduran, dan penyusutan di negerinya sendiri, serta karena adanya permusuhan yang dimunculkan oleh Kapitalisme-Demokrasi sebagai keburukan yang ada pada sistem dan ideologinya. Kapitalis saat ini telah memperlihatkan taring-taringnya berupa teknologi beracun yang mereka sebut dengan ‘tatanan dunia baru’. Semuanya tunduk di bawah keinginan mereka dan hegemoni Amerika setelah hilangnya kekuatan Sosialis Rusia yang menjadi rival Amerika.
Ini hal penting pertama yang harus dipersiapkan terutama bagi mereka yang akalnya belum bersentuhan dengan sumber pemikiran Islam yang jernih. Kedua, meskipun tidak adanya penerapan pemikiran Islam dalam fakta kehidupan, tetapi hal ini tidak kurang pentingnya dari yang pertama, yaitu penegasan bahwa hanya Islam saja yang mampu memperbaiki dunia ini setelah dihancurkan oleh dua mabda lainnya. Islam sajalah yang mampu memunculkan kebangkitan hakiki yang sahih bagi kaum Muslim dan umat lainnya. Agar semua ini dapat terwujud, sudah semestinya dilakukan pengembanan dakwah Islam.
Apa maksudnya mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia sebagai suatu kepemimpinan berpikir?
Pemikiran apapun ketika terwujud dalam perbuatan manusia, mesti sebelumnya telah ada pengembanan pemikiran itu sebagai sebuah pemahaman pada dirinya yang kemudian digunakan untuk mengatur perbuatannya. Jika dia tidak mampu untuk berpikir tentang semua aspek kehidupannya, maka dia hanya berpikir untuk satu perbuatan itu saja. Namun, apabila dia mampu, maka pemikirannya sempurna dan menyeluruh. Ini artinya pemikiranlah yang menuntun manusia dalam hidupnya dan menjadi pemimpin baginya. Apabila dakwah Islam diemban sebagai pemikiran yang menuntun pengembannya bagi kehidupan dirinya pertama kali, kemudian menjadikan orang lain menjalani hidup seperti dirinya, maka saat itu Islam telah diemban sebagai kepemimpinan berpikir atau tuntunan berpikir bagi setiap orang yang berhubungan dengannya, bagaimanapun sarana penyampaiannya.
Bagaimana mewujudkan kepemimpinan berpikir untuk dakwah Islam? Yaitu, dengan cara mengemban pemikiran akidah Islam yang jelas dan pasti kepada orang lain supaya akidah menjadi pemikiran mereka pula. Kemudian, menjelaskan aturan Islam yang terpancar dari akidah untuk mengatur semua aspek kehidupan individu dan masyarakat; serta dijelaskan semua pemikiran yang dibangun di atas tuntunan ini dan pemahaman-pemahaman yang terpancar dari pemikiran tersebut. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mempengaruhi, mengarahkan, serta membentuk pandangan hidup seseorang dan masyarakat, selama mereka terikat dan hidup dengan pemahaman ini.
Namun, adakah perbedaan cara mengemban dakwah Islam saat ini dengan masa lalu? Dengan pengamatan yang cermat, terlihat bahwa perbedaan yang terjadi itu hanya dalam perkara cara (uslub) dan bentuk-bentuknya saja, bukan pada pokoknya. Tata cara pokok pengembanan dakwah Islam saat ini tidak ada bedanya dengan masa lalu, selama mencontoh kepada Rasulullah saw. Di samping itu, tidak menyimpang sedikitpun dari metodenya, baik secara keseluruhan maupun dalam perinciannya. Juga selama hakikat perbedaan itu dapat dimengerti walaupun masa berganti, serta bangsa-bangsa ataupun negeri-negeri berbeda-beda dan letaknya berjauhan.
Bagaimana tata cara yang semestinya untuk mengemban dakwah? Yang semestinya dilakukan adalah bersikap terus terang, berani berbuat, memiliki kekuatan berkonfrontasi, dan berpikir saat berbuat sesuatu. Semua hal tersebut tampak ketika seorang pengemban dakwah menentang segala sesuatu yang bertentangan dengan akidah dan pemikirannya yang jelas atau bertentangan dengan metode kehidupan tempat akidah dan aturannya diterapkan. Menghadapi hal yang bertentangan ini dengan cara menjelaskan kepalsuannya tanpa melihat lagi hasil dan kondisi yang ada.
Mengemban dakwah Islam harus meletakkan kedaulatan secara mutlak hanya untuk mabda Islam, tanpa mempertimbangkan apakah hal itu sesuai dengan keinginan masyarakat umum atau tidak, apakah sesuai dengan adat istiadat ataukah bertolak belakang. Kejernihan akidah dan pemikirannya, serta kejelasan tata cara penerapannya, mengharuskan pengemban dakwah tidak mencari muka dan berbasa-basi di depan masyarakat atau bermuka dua di hadapan penguasa. Selain itu, tidak toleran terhadap adat istiadat dan kebiasaan masyarakat sehingga hanya mabda saja yang menjadi pegangan.
Jika hal tersebut yang harus dilakukan dalam mengemban dakwah kepada kaum Muslim, bagaimana halnya berdakwah kepada selain Muslim dengan agama atau ideologi yang berbeda-beda?
Tidak ada paksaan atas siapa pun untuk meyakini satu agama, ini juga mencakup seluruh akidah dan ideologi. Artinya, tidak ada paksaan kepada selain kaum Muslim untuk menganut Islam, tetapi tidak juga dikatakan kepada mereka, “Pegang teguhlah agama atau ideologi kalian!” Namun, mereka harus diajak pada Islam tanpa paksaan dengan hujah dan bukti-bukti yang kuat, selama yang menjadi target mengemban dakwah adalah menjadikan Islam satu-satunya yang menjadi penguasa dunia. Bukankah Allah Swt. berfirman, “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar, untuk dimenangkan-Nya atau seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya” (QS at-Taubah [9]: 33)?
Akan tetapi, dalil apa yang mewajibkan untuk mengikuti cara-cara mengemban dakwah yang keras dan menantang seperti telah dijelaskan di atas?
Dalilnya adalah sirah Rasul saw. yang menantang seluruh dunia dengan risalah Islam yang dibawanya. Beliau mengumumkan perang pemikiran kepada seluruh manusia tanpa kecuali untuk mengamalkan Islam dalam kehidupan mereka apakah meyakini semua atau sebagiannya. Rasulullah memulai dakwahnya dengan menantang orang-orang Quraisy dan menghinakan kepercayaan mereka, sementara itu beliau saat itu sendirian dan diisolasi tanpa dibekali senjata apapun, kecuali keimanan terhadap risalah Islam. Kemudian, dakwah beliau meluas hingga mencakup semua orang, tanpa memperhatikan kepercayaan dan adat istiadat bangsa Arab, pemikiran dan pemahaman kesukuan, serta kejumudan mereka.
Apakah terdapat perbedaan pada tata cara mengemban dakwah setelah Islam diterapkan dengan sebelumnya?
Selama landasan mengemban dakwah adalah keinginan yang kuat untuk menjadikan mabda sebagai pemimpin dunia, maka hal ini mengharuskan adanya pelaksanaan hukum-hukum Islam secara sempurna dan tidak meremehkannya sedikit pun. Dalam hal ini Rasul saw. tidak menerima tawaran delegasi Tsaqif bahwa mereka akan masuk Islam apabila Rasulullah tidak menghancurkan berhala mereka, yakni Latta selama tiga tahun dan membebaskan mereka dari kewajiban shalat. Penolakan ini dilakukan seperti halnya beliau tidak menerima ajakan mereka untuk membiarkan Latta barang sebulan seperti yang mereka minta. Rasulullah saw. hanya menerima tawaran mereka agar bukan mereka sendiri yang menghancurkan berhala, beliau mewakilkannya kepada Abu Sufyan dan Mughirah bin Syu’bah untuk menghancurkannya.
Ini berarti bahwa beliau tidak menerima apapun selain akidah yang sempurna dan pelaksanaan aturan yang sudah menjadi keharusan. Adapun sarana dan bentuknya, ternyata beliau menerimanya. Kedua tawaran itu tidak berhubungan dengan hakikat akidah. Artinya, Rasulullah tidak toleran dalam pemikiran atau metode, namun toleran terhadap sarana yang memungkinkan untuk digunakan dalam mempertahankan kesempurnaan pemikiran ataupun metode.
Apakah pengembanan dakwah Islam memiliki tujuan tertentu?
Sesungguhnya setiap amal dakwah mengharuskan setiap langkahnya memiliki tujuan tertentu dan mengharuskan pengembannya untuk tidak menghilangkan tujuan dari benaknya. Seorang pengemban dakwah tidak rela membiarkan satu pemikiran tanpa diamalkan karena hal itu akan menjadi khayalan yang membiusnya. Andaikan demikian, hal itu ibarat seseorang yang berjalan di tempat dan akan selalu berakhir dengan kejumudan dan keputusasaan. Namun, dia akan menggabungkan pemikiran dengan perbuatan, serta mengarahkan keduanya untuk merealisasikan tujuan secara nyata hingga tercapai. Inilah yang dilakukan Rasulullah saw. ketika menyiapkan masyarakat Madinah dan mendirikan Daulah di sana setelah merasakan kejumudan masyarakat Mekah dan penolakan mereka terhadap Islam.
Dengan mendirikan Daulah di Madinah, beliau menerapkan Islam dan mengembangkan risalahnya, seraya mempersiapkan umat untuk mengemban risalah Islam sepeninggal beliau agar tetap berjalan pada garis yang telah beliau tentukan. Berdasarkan hal ini, dakwah Islam dalam kondisi tidak ada seorang khalifah bagi kaum Muslim harus mencakup dua hal, yaitu mengajak untuk memeluk Islam dan kembali pada kehidupan Islam dengan menerapkan Islam, serta mengemban risalahnya ke seluruh dunia. Dengan cara ini, maka dakwah akan beralih dari dakwah lokal (setempat) menjadi dakwah ke seluruh dunia.
Apa yang dikandung dakwah Islam dan apa yang harus dilakukan?
Dakwah Islam berisi ajakan untuk memperbaiki setiap akidah atau kepercayaan, menguatkan hubungan dengan Allah Swt., dan menjelaskan kepada masyarakat berbagai pemecahan problem kehidupannya. Dengan cara ini, dakwah akan dinamis dan mencakup seluruh aspek kehidupan individu dan masyarakat. Sebagai contoh, ketika Rasulullah saw. masih di Mekah sebelum masa penerapan Islam, sering membacakan ditengah-tengah masyarakat ayat, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab” (QS al-Lahab [111]: 1) dan ayat, “Sesungguhnya al-Quran benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang Mulia, dan (al-Quran) itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepada-Nya” (QS Al-Haaqqah [69]: 40-41). Dalam kesempatan lain, beliau membaca, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang bila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” (QS al-Muthaffifiin [83]: 1-3). Beliau juga membaca,“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka (dijanjikan) Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang besar” (QS al-Buruuj [85]: 11).
Akan tetapi, ketika Rasulullah di Madinah setelah mendirikan Daulah Islam, beliau membaca ayat, “(Lalu) dirikanlah sholat, dan tunaikanlah zakat” (QS al-Baqarah [2]: 43). Dibacanya pula ayat, “Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta serta dirimu di jalan Allah” (QS at-Taubah [9]: 41). Begitu pula ayat, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan transaksi tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” (QS al-Baqarah [2]: 282). Juga, ayat, “…(telah dibagikan fa’i) supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu” (QS al-Hasyr [59]: 7). Selain itu, dibacakan pula ayat,“Tidak sama para penghuni jahanam dengan para penghuni Surga. Penghuni Surga itulah orang-orang yang beruntung” (QS al-Hasyr [59]: 20).
Dengan demikian, dakwah Islam harus diemban untuk seluruh manusia dengan menyampaikan aturan-aturan yang akan menyelesaikan problem mereka. Keberhasilan dakwah Islam terletak pada keberadaannya yang dinamis yang dapat menyelesaikan seluruh problem manusia sebagai manusia sehingga terjadi perubahan yang menyeluruh pada diri manusia.
Tanggung jawab besar ini mengharuskan pengemban dakwah untuk berkeinginan keras menuju kesempurnaan, serta selalu mengkaji dan mencari kebenaran. Selain itu, berkeinginan membersihkan pemikirannya hingga selalu bersih dan jernih; membersihkan perbuatannya hingga tidak pernah lupa mengaitkan pemikiran dan perbuatannya untuk meraih tujuan. Hal ini akan menjamin keberhasilan dan kontinuitas pengembanan dakwah, dengan syarat para pengemban dakwah menjalankan semua itu sebagai kewajiban dari Allah Swt. Mereka melakukannya dengan gembira dan mengharap keridhaan dari Allah Swt., bukan dari yang lain. Setiap kali melakukan apa pun, semua ditujukan bagi Allah Swt. semata, serta keberhasilan yang diperolehnya semata-mata karena pertolongan Allah Swt. dan taufik-Nya.

Diskusi

Tanya : Sejak kapan kaum Muslim mulai meninggalkan ajaran Islam?
Jawab: Ketika kaum Muslim mulai melakukan penakwilan tsaqafah asing yang datang dari Persia, India, dan Yunani yang dicampuradukkan dengan pemikiran Islam sehingga hilanglah kemurnian dan kejernihan pemikiran Islam.
Tanya : Adakah contoh untuk hal tersebut?
Jawab: Ya, seperti pemikiran tasawuf yang tenggelam dalam keruhanian yang diambil dari bangsa India. Pemikiran tasawuf ini menyerang kehidupan dunia dengan segala keburukannya, materialisnya, dan berbagai kejahatannya. Mereka hanya bersiap untuk kehidupan akhirat, di antaranya dengan jalan membujang dan hidup sengsara. Pada pemikiran tasawuf terdapat pemikiran yang berkaitan dengan perkara gaib dan bersikap pasrah kepadanya. Semua ini merupakan pengaruh dari pemikiran Yunani dan tidak ada kaitannya dengan masalah Qadha dan Qadar dalam Akidah Islam.
Tanya: Bukankah pemikiran-pemikiran Barat telah menyerbu negeri kaum Muslim?
Jawab: Ini terjadi pada abad-abad terakhir ketika pemikiran Demokrasi, Kapitalisme dan Sosialisme menyerbu negeri kaum Muslim. Pemikiran ini menghancurkan Daulah dan kaum Muslim dibiarkan ibarat daging yang tercabik-cabik di negeri-negeri yang lemah, serta mereka berhukum pada aturan, pemikiran, dan peradaban asing.
Tanya: Apakah negeri Sosialis berpikir untuk melepaskan mabdanya dan berpaling pada Kapitalisme karena ada bantuan-bantuan ekonomi, ataukah hanya sebagai taktik atau cara untuk mengejar bantuan dan menghindari permusuhan?
Jawab: Pada awalnya hal tersebut tidak terjadi, mereka tidak melepaskan mabda Sosialisme dan berpaling pada Kapitalisme. Adapun yang terjadi hanyalah perkembangan fakta yang diperkirakan oleh para pemuka mabda Sosialisme bahwa mereka akan meraih kemajuan sebagaimana Barat Kapitalis sebelumnya. Namun, dengan berbagai alasan akhirnya mereka terdorong untuk melepaskan diri dari mabdanya dan menggiring masyarakat pada mabda Kapitalisme. Apa yang telah terjadi itu adalah logis bagi seluruh masyarakat yang membuat mabdanya dengan akal mereka. Pada satu saat, mereka akan meninggalkan mabdanya karena adanya tekanan fakta yang dihadapi dengan dalih untuk keselamatan dan kemajuan bangsanya. Dalam kejadian ini manusia dijadikan tikus percobaan.
Tanya: Apa kaitannya mengemban dakwah Islam dengan kebangkitan umat Islam?
Jawab: Selamanya kebangkitan setiap umat dimulai dengan pemikiran. Namun, hanya dakwah Islam yang bisa melahirkan pemikiran Islam dengan kejernihan dan kebersihannya. Lalu, akan mengembalikan kekayaan pemikiran kaum Muslim yang hilang akibat kebusukan ide Kapitalisme Barat dan Sosialisme Timur. Oleh karena itu, tidak ada kebangkitan tanpa dakwah Islam. Kelangsungan kebangkitan Islam ditentukan oleh kelangsungan dakwah Islam, baik sebelum Daulah berdiri dan Islam belum diterapkan atau setelahnya. Daulah inilah yang nantinya akan mengurusi pengembanan dakwah.
Tanya: Adakah perbedaan antara pengembanan dakwah sebelum dan sesudah Daulah berdiri?
Jawab: Sebelum Daulah berdiri, dakwah difokuskan pada empat hal berikut. Pertama, pembinaan intensif untuk membangun individu yang ber-syakhshiyah Islam. Kedua, pembinaan masyarakat untuk mewujudkan opini Islam dan kesadaran. Ketiga, membeberkan rencana dan langkah, serta konspirasi-konspirasi orang-orang kafir yang menentang kaum Muslim, agama, dan negeri mereka. Aktivitas bertujuan agar kaum Muslim terlepas dari dominasi asing. Keempat, mengadopsi kepentingan masyarakat agar Islam tampak dalam kehidupan mereka dan bukan semata pemikiran dalam benak. Ini berkaitan dengan dakwah sebelum Daulah berdiri.
Adapun dakwah setelah Daulah berdiri mencakup dua hal berikut. Pertama, pembinaan intensif bagi individu dan jamaah. Kedua, menyingkap kekeliruan, serta mengadopsi hukum dan pemikiran dalam rangka mengoreksi penguasa dan mengawasi kerja mereka supaya penerapan Islam dan dakwah Islam dengan jihad ke negeri-negeri lain berjalan lebih baik. Daulah sendiri nantinya yang akan mengungkap kekeliruan dan mengadopsi hukum. Sementara itu, individu, kutlah (kelompok), dan partai tidak ada kepentingan untuk melakukan hal tersebut.
Tanya: Apakah boleh menggunakan sarana komunikasi terbaru (canggih) ketika melaksanakan dakwah Islam?
Jawab: Tentu saja boleh. Islam membolehkan untuk mengambil produk sains dan penemuan-penemuan yang sifatnya universal, serta bukan milik satu umat mana pun atau mabda mana pun. Lebih khusus lagi, kalau produk tersebut tidak bertentangan dengan pemikiran Islam mana pun.
Tanya : Apabila dalam mengemban dakwah Islam kita harus terikat dengan apa yang telah dicontohkan Rasul kepada kita, tapi saat Rasul berdakwah beliau menerima wahyu secara bertahap. Sementara itu, saat ini ditangan kita telah ada seluruh risalah, apa yang semestinya dilakukan?
Jawab: Dari segi turunnya risalah, memang terjadi secara bertahap. Namun, dari segi kandungan risalah yang diperintahkan oleh wahyu tidaklah demikian. Dalam hubungan ini di dalam wahyu, sebelum berdirinya Daulah perhatian ditujukan pada kepentingan umat di satu sisi dan sisi lainnya adalah meluruskan akidah umat dan menguatkan hubungan mereka dengan Rabbnya.
Hubungan yang terjadi pada manusia ada tiga, yaitu hubungan manusia dengan Rabbnya; dengan dirinya sendiri; dan dengan manusia yang lain. Inilah yang menjadi fokus dakwah sebelum Daulah berdiri. Demikian pula halnya setelah Daulah berdiri, kandungan wahyu bertambah luas mengikuti luasnya aktivitas dan tempatnya. Sesungguhnya apa yang dilakukan Rasulullah saw.–meskipun turunnya wahyu itu secara bertahap–wajib bagi kita saat ini untuk mengamalkannya di setiap waktu. Yaitu, dengan memperhatikan pengembanan dakwah sebelum berdirinya Daulah, sebagaimana yang Rasul saw. lakukan, yaitu dakwah dengan pemikiran.
Adapun setelah Daulah berdiri dakwah dilakukan dengan aktivitas fisik. Individu dan partai-partai Islam senantiasa mengemban dakwah pemikiran. Partai yang berhasil menduduki pemerintahan dan memberlakukan hukum Islam, tetap mengemban dakwah di lingkungan Daulah sesuai dengan arahan yang telah digariskan, yaitu dengan cara pemikiran dan fisik. Secara pemikiran adalah mengembangkan ide-ide Islam di seluruh lapangan kehidupan. Sementara itu, secara fisik dengan jihad memerangi musuh untuk meninggikan bendera Islam.
Semua hal ini tidak ada bedanya dengan partai Islam lainnya. Hal ini karena fungsi keberadaan partai adalah berdakwah dengan pemikiran, sedangkan Daulah yang mengurusi aktivitas fisik.
Tanya: Apa yang bisa dipahami dari peristiwa Rasul saw. menerima usulan Bani Tsaqif sehingga bukan mereka sendiri yang menghancurkan berhala Latta, sementara itu beliau menolak usulan mereka untuk membiarkan Latta barang sesaat pun?
Jawab: Dari peristiwa itu, dipahami bagi siapa pun yang meyakini akidah tidak boleh melalaikan penerapan Islam dan akidahnya dari aspek inti atau pokok ajarannya. Namun, dari aspek cara atau teknis pelaksanaan dan penerapan Islam bisa berbeda. Ketika Rasul saw. mengizinkan selain Bani Tsaqif untuk menghancurkan berhala mereka, hal itu tidak membawa pengaruh terhadap pokok akidah dan penerapannya, tetapi itu teknis semata dalam penerapan akidah. Pemahaman ini menguatkan kita sejauh mana kebolehan untuk mempermudah pengembanan dan penerapan pemikiran akidah dalam realitas kehidupan.
Tanya: Apakah boleh menggunakan berbagai cara (uslub) untuk mempermudah penerapan dan pelaksanaan hukum Islam?
Jawab: Tentu saja tidak. Cara (uslub) ditentukan oleh jenis aktivitasnya. Uslub menghancurkan berhala bisa saja dilakukan oleh bani Tsaqif atau oleh yang lain, yang penting adalah terjadinya penghancuran berhala. Bentuk penghancuran atau sarana untuk itu bisa saja menggunakan kapak, rantai, atau dengan meledakkannya selama tidak membahayakan yang lain.
Tanya : Apa yang menjadi tujuan mengemban dakwah Islam di dunia dan apa yang ingin dicapai di akhirat nanti?
Jawab: Sebelum Daulah berdiri, dakwah Islam dilakukan dengan cara membina individu secara intensif; membina jamaah; mengungkap langkah-langkah kafir untuk melawan kaum Muslim; dan melegalisasi hukum syara’ untuk kemaslahatan umat. Semua itu dilakukan untuk mewujudkan tujuan tertentu yang menjadi kepentingan setiap aktivitas tersebut.
Demikian pula halnya setelah Daulah berdiri. Yang terpenting adalah menggabungkan semuanya agar amal-amal dakwah senantiasa bersifat pemikiran. Adapun aktivitas yang dilakukan Daulah harus bersifat fisik dan sekaligus pemikiran. Daulah tidak akan menyerukan satu pemikiran tanpa dimaksudkan untuk mewujudkan aspek fisik pada saat yang bersamaan. Demikianlah tujuan pengembanan dakwah yang dilakukan individu dan partai-partai Islam sebelum berdirinya Daulah Islam dan setelahnya, yaitu penerapan Islam di dunia dengan mendirikan Daulah yang mengurusi dakwah dengan metode fisik, yaitu jihad.
Adapun tujuan yang ingin dicapai di akhirat dan merupakan tujuan yang paling tinggi, yaitu mendapat keridhaan Allah Swt.
Tanya : Akan tetapi, kita mengetahui kandungan ayat yang turun di Madinah berbeda dengan ayat yang turun di Mekah. Seperti apa dakwah yang kita lakukan sekarang saat belum ada Daulah dengan gabungan kandungan ayat yang turun di dua tempat yang berbeda, pada saat yang sama kita diwajibkan untuk mengikuti metode dakwah Rasulullah saw?
Jawab: Memang benar, wahyu diturunkan sesuai dengan peristiwa yang terjadi. Adapun ayat-ayat yang mengandung hukum serta aturan diturunkan di Madinah, bukan di Mekah. Namun, Rasulullah saw., ketika mendakwahkan risalahnya di Mekah, mengisyaratkan pada kepentingan-kepentingan masyarakat dan pengaturan hak-hak mereka, seperti yang diwajibkan oleh syariat baru tersebut. Ini ditunjukkan oleh ayat-ayat Makiyah yang telah kita bahas sebelumnya.
Semuanya menyeru aspek pemikiran karena ayat-ayat tersebut membicarakan tentang takaran dan timbangan; kezaliman yang mengganggu kepentingan manusia dan balasan berupa siksaan bagi orang-orang zalim; serta balasan pahala bagi mereka yang berbuat adil.
Adapun setelah berdirinya Daulah di Madinah, Rasul saw. berpegang pada ayat tentang penipuan makanan, beliau mengancam pemiliknya, bahkan kadang sampai menghancurkan barang dagangannya. Rasul saw. menerapkan pemikiran Islam, tidak sekadar menyampaikannya saja, seperti sebelum Daulah berdiri.
Tanya : Namun, tidakkah berarti penelitian terhadap berbagai pemikiran ini diragukan kebenarannya?
Jawab: Ini benar, namun suatu pemikiran tidak akan bisa disampaikan kecuali dengan adanya bahasa. Penunjukkan bahasa, adakalanya bersifat pasti dan adakalnya dzanni. Penerapan satu pemikiran pada sebuah fakta, senantiasa memerlukan jaminan bagi kekuatan dalil yang digunakan dan kebenaran dalam memahami fakta yang akan diberikan pemikiran tersebut. Lalu, di dalam kehidupan ini senantiasa terjadi realitas baru yang mesti dihukumi dengan pemikiran Islam, karena itu perlu penyelidikan terhadap realitas baru yang terjadi dan yang akan terjadi di masa datang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: