Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

Jamaah Islam

Ada sebagian orang melontarkan pertanyaan : Bagaimana mungkin seorang wanita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan semisal menjadi pegawai negeri, menjadi qadli yang melerai perselisihan, atau menjadi anggota majlis ummat yang harus berdialog dan mengoreksi para penguasa –yang memang diper­bolehkan syara’, sementara syara’ telah membatasinya untuk tidak melakukan khalwat dan tabarruj, serta mengharuskan mereka untuk hidup hanya dalam lingkungan khusus kaum wanita ataupun bersama muhrimnya?
Sebagian lain melontarkan pertanyaan : Bagaimana mung­kin akhlak dan kehormatan wanita dapat terjaga, apabila mereka diijinkan melakukan kegiatan jual-beli di pasar, diperbolehkan berdialog dengan para penguasa yang umumnya adalah kaum laki-laki? Bagaimana cara mereka melakukan berbagai pekerjaan dalam kehidupan umum dan di tengah-tengah masyarakat?

Dua pertanyaan di atas dan semisalnya adalah contoh dari pertanyaan-pertanyaan sinis yang sering dilontarkan sebagian anggota masyarakat tatkala ditunjukkan kepada mereka hukum-hukum Syara’ yang menyangkut tata pergaulan pria dan wanita. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul, karena mereka menyaksikan fakta kehidupan yang mereka alami sehari-hari di bawah sistem kapitalis dan di bawah panji kekufuran, sehingga sulit bagi mereka menggambarkan penera­pan hukum-hukum Islam.

Jawaban dari berbagai pertanyaan tersebut ialah bahwa tata pergaulan pria dan wanita dalam Islam adalah hukum-hukum syara’ yang banyak ragamnya, dimana sebagian diantara­nya terkait dengan sebagian yang lain, dan tidak berarti perintah memegang teguh satu hukum diantaranya harus mele­paskan hukum yang lain; akan tetapi seorang muslim, baik laki-laki maupun wanita, wajib mengikatkan diri terhadap hukum-hukum syara’ secara keseluruhan, sehingga tidak terja­di kontradiksi dalam diri seseorang yang menyebabkan hukum-hukum Islam terlihat saling bertentangan. Jadi, ketika syari’at Islam mengijinkan wanita menjadi pegawai negeri di lembaga-lembaga negara, sekalipun hanya sebagai seorang perawat di rumah sakit, tidak berarti membiarkan mereka mengenakan perhiasannya, bersolek sedemikian rupa bak seo­rang pengantin, menampak-nampakkan perhiasannya yang menggi­\rkan kepada kaum laki-laki, bahkan sengaja menggoda se­hinggga membangkitkan syahwat mereka.

Juga tidak membiarkan begitu saja wanita berdandan menampak­kan perhiasannya, dalam keadaan pebuh pesona seperti itu lalu pergi ke tempat-tempat perdagangan untuk membeli sesuatu, seraya berbicara dengan penuh rayuan kepada pembeli supaya mereka dapat menikmati kemolekan gerak bibirnya pada saat membeli serta sengaja mempermahal harga atau merayunya supaya membeli. Islam juga tidak membiarkan kaum wanita bekerja sebagai juru tulis atau sekertaris pada sebuah perusahaan dan membiarkannya melakukan khalwat karena peker­jaannya menuntut untuk tidal melakukan tindakan itu, dan mengenakan pakaian yang menyingkapkan rambut dan bagian dada, punggung, siku, betis atau apa saja dari anggota tubuhnya yang telanjang dan dapat merangsang (laki-laki).
Tidak..Sama sekali Islam tidak membiarkan semua itu terjadi, termasuk perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan dalam sebuah jama’ah/komunitas yang hidup dalam sebuah masyarakat yang tidak islami, yang dkehidupannya didominasi oleh cara hidup barat. Akan tetapi Islam menghendaki agar setiap muslim dan muslimah menerapkan hukum-hukum Islam secara skeseluruhan dalam dirinya masing-masing. Jadi tatkala Islam membolehkan kaum wanita melakukan aktivitas jual beli di pasar, Islam melarangnya untuk eluar rumah dalam keadaan tabarruj, serta memerintahkan agar dapat melakukan kedua hal itu secara bersama-sama. Aqidah Islam mengharuskan setiap muslim untuk menerapkan seluruh hukum terhadap dirinya. Disamping itu Islam telah mensyari’atkan hukum-hukum yang meliputi amal perbuatan yang beraspek positip/konstruktif maupun negatif, yang dapat memlihara setiap muslim, baik ia laki-laki ataupun wanita agar tidak keluar dari nilai-nilai yang utama, serta menjadi perisai agar tidak tergelincir dalam pandangan biologis semata tatkala mereka berada dalam sekelompk jama’ah masyarakat.
Inilah berbagai hukum yang mencakup aktivitas pekerjaan yang mengandung aspek konstruktif, yaitu antara lain:
1. Islam telah memerintahkan baik kepada laki-laki maupun wanita agar menundukkan pandangannya serta memlihara kema­luannya, dengan firman Allah SWT:

“KAtakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demi­kian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandan­gannya dan memelihara kemauannya.” (An-Nur:30-31)

Menahan pandangan dari setiap laki-laki ataupun wanita merupakan tindakan pemeliharaan diri preventif yang hakiki bagi mereka masing-masing. Tindakan yang bersifat preventiv inilah yang sebenarnya dapat mencegah terjadinya perbuatan-perbuatan yang diharamkan. Sebab sarana berupa penglihatan itu. jika pandangan ditundukkan akan dapat mencegah tindakan yang mungkar.

2. Diperintahkan kepada kaum laki-laki maupun wanita agar bertakwa kepada Allah SWT, dengan firman-Nya antara lain :

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan katakanlah perkatan yang benar (Al Ahzab : 70)

“Dan bertaqwalah kamu (isteri-isteri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al Ahzab 55)

“Dan akibat yang baik ituu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Tha ha : 132)

Manakala seorang muslim telah memiliki sifat taqwa, pasti ia akan takut terhadap azab Allah, akan memburu surga-Nya sekaligus meraih keridlaanNya. Sesungguhnya dengan ketaqwaan ini akan dapat mencegahnya dari perbuatan yang munkar, menghalanginya dari tindakan yang meksiyat kepada Allah. Inilah cara penegahan yang paling ampuh, dan tidak ada cara lain yang lebih baik daripada caraitu. Dengan demikian apabila seorang muslim telah memiliki sifat taqwa maka ia dengan sendirinya memiliki sifat luhur yang paling sempurna.

3. Islam telah memerintahkan kaum laki-laki maupun kaum wanita agar menjauhi perkara-perkara yang subhat, dan men­ganjurkan sikap hati-hati agar tidak tergelincir dalam perbuatan ma’siyat kepada Allah, serta menjauhkan diri dari pekerjaan, atau tempat apapun tidak berbaur dengan kondisi dan situasi apapun yang di dalamnya terdapat syubhat, supaya mereka tidak terjerembab dalam perbuatan yang haram. Rasu­lullah saw bersabda:

“Sesungguhnya yang halla telah jelas, begitu pula yang haram telah jelas; dan diantara dua perkara itu terdapat syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barang siapa berhati-hati dengan tindakan syubhat sesungguhnya ia telah menjaga agama dan dirinya, dan baeang siapa yang melakukan tindakan syubhat, maka ia telah melakukan tidanakan yang haram, sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggem­balakan kembingnya di seputar pagar, kadang-kadang bisa jatuh melewati pagar itu. Ketahuilah sesungguhnya setiap raja memiliki pagar pembatas, dan sesungguhnya pagar (batas) Allah adalah apa yang diharamkannya.”

Perkara syubhat itu terjadi dalam tiga keadaan:
pertama: Syubhat yang ada pada benda apakah termasuk haram ataukah mubah; atau syubhat yang terdapat pada suatu perbua­tan apakah termasuk wajib, haram, makruh, mandub ataukah mubah. Keberadaan syubhat yang ada pada benda ataupun perbu­atan tidak boleh diambil atau dilakukan sebelum jelas benar status hukumnya. Sehingga ia mengambil dan melaksanakannya dengan perasaan tenang atas dugaan kuat mengenai hukum Allah pada kasus tersebut,baik setelah ditempuh proses dan upaya ijtihad didalamnya, atau setelah mengetahui hukum Allah di dalamnya, baik ia seorang mujtahid ataupun seorang yang alim dalam hukum baik ia seorang muqallid ataupun ‘ammiy’ selama ia yakin akan ketaqwaan dan ilmumya dalam hukum, jadi bukan semata-mata ilmunya saja.

kedua: Adanya kesamaran yang dianggap oleh orang lain seba­gai haran, meskipun sebenarnya perbuatan itu tergolong mubah, karean begitu dekatnya perbuatan tersebut dari perbu­atan haram. Misalnya sesorang yang menyimpan hartanya pada Bank yang melakukan aktivitas riba atau seseorang yang menjual anggur kepad pedagang yang memiliki usaha pembuatan Khamr atau mengajar wanita secara privat baik secara ming­guan atau harian dan contoh lain yang sejenisnya. Semua contoh atas perbuatan-perbuatan tadi tergolong dalam tinda­kan mubah yang setiap orang boleh melakukannya, akan tetapi lebih utama untuk tidak melakukannya dalam rangka mensucikan diri dan bersikap wara’.

Ketiga: Adanya kesamaran di kalangan manusia yang elakukan mubah sehingga dianggap perbuatan itu dilarang. Akibatnya perbuatan mubah tersebut dijauhi oleh orang-orang karena khawatir terhadap anggapan orang lain (yang menggolongkannya ke dalam perbuatan haram). Seperti misalnya orang yang melewati suatu tempat yang di dalamnya penuh dengan kerusa­kan (tempat pelacuran, bioskop, perjudian dan lain-ain). Orang bayak kemudian menyangkanya sebagai seorang fasik,be­jat, disebabkan kekhawatiran terhadap pendapat orang banyak itulah maka ia kemudian menjauhkan perbuatan mubah tadi. Contoh lainnya adalah seorang suami yang menyuruh isterinya menutupi (dengan cadar) wajah isterinya atau muhrimnya yang lainnya padahal ia mengetahui bahwa wajah bukanlah aurat, akan tetapi karea diliputi perasaan khawatir akan pandangan masyarakat yang menganggap isterinya atau saudara perempuan­nya membuka aurat. Dalam kasus keadaan seperti ini terdapat dua macam tijauan:
a. bahwasanya sesuatu itu karena kesamarannya kemudian dianggap oleh orang-orang sebagai suatu yang haram atau makruh, dilihat dari faktanya memang haram atau menurut syara’ digolongkan sebagai makruh. Tatkala seseoang melaku­kan suatu perbuatan yang mubah sementara orag-orang mengang­gapnya ia melakukan sesuatu yang teralarang, maka dalam keadaan seperti ini menjauhi hal yang mubah karena khawatir persangkaan orang terhadap dirinya. Diriwayatkan dari Ali bin Husain bahwasanya Shafiyah binti Huyai salah seorang isteri Nabi saw telah menyampaikan khabar padanya bahwa Shafiyah telah dapat kepada Rasulullah untuk berziarah, sementara Rasulullah sedang melakukan i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadlan. Pada saat itu Aku sedang bercakap-cakap dengan Nabi berberap saat sejak usai­nya shalat ‘Isya’ kemudian ia (Shafiyah) bangkit berdiri bersamaan dengan itu Rasulullah berdiri bersamanya, sehingga di pintu masjid dekat dengan tempatnya ummu salamah, isteri Nabi. Tiba-tiba berlkalu dekat mereka dua orang laki-laki dari Anshar seraya mengucvapkan salam pada Nabi kemudian langsung pergi. Rasulullah berseru kepada mereka berdua: Tinggallah di tempat kalian sesungguhnya ia adalah Shafiyah binti Huyyay. Maka dua orang laki-laki itu terkejut seraya mengucapkan :
Maha suci Allah wahai Rasulullah sesungguhnya kami tidak mengatakan seperti itu. Kemudian Nabi bersabda:
“Sesungguhnya syaitan memasuki anak adam melalui peredaran darahnya, dan aku khawatir ia memasuki tubuh kalian berdua.”
Arti kata (——) adalah kembali, sehingga makna (—–) berarti mengembalikannya. Dari hadits ini bisa di pahami bahwa Rasulullah saw menjelaskan syubhat yang ada dalam diri dua orang sahabat beliau, meskipun dalam diri rasulullah saw tidak mungkin ada sybhat.

b. Sesuatu yang menimbulkan kesamaran dalam diri masyarakat bahwa sesuatu itu terlarang padahal pada hakekatnya tidak terlarang, akan tetapi karena adanya rasa kekhawatiran pendapat masyarakat bahwasanya perbuatan itu terlarang. Ia menjauhinya karena pendapat masyarakat, bukan karena sesuatu itu terlarang. Syubhat yang tergolong seperti ini tidak boleh dijauhkan, bahkan harus dilaksanakan dan menganggapnya bahwa hal itu diperintahkan oleh syara’, sehingga tidak perlu memperhatikan pendapat masyarakat. Allah telah menegur Rasulullah karena perbuatan seperti itu dengan firmanNya:
“Sedangkan kamu takut kepada manusia, padahal Allahlah yang berhark kamu takuti.” (Al Ahzab: 37)

Ini menunjukkan bahwasanya seorang muslim apabila telah melihat atau memahami bahwa syara’ tidak melarang sesuatu, maka hendaknya melakukan hal itu meskipun seluruh menasuia mengatakan bahwa hal itu terlarang.
Ayubhat-syubhat seperti ini yang telah dilarang oleh syara’, apabila seorang laki-laki ataupun wanita menjauhkan diri dari perbuatan itu, maka keduanya akan terjaga dari perbuatan ma’shiyat, dan memiliki sifat-sifat yang mulia.

4. Islam mendorong para perjaka atau gadis untuk menikah, sehingga biologis antara laki-laki dan wanita terbatas pada pernikahan yang dilakukan sejak usia muda. Keadaan seperti ini, yaitu pandangan seksual lebih utama bila dibatasi hanya dalam bentuk pernikahan, sejak munculnya gejolak naluri seksual. Rasul bersabda:

“Wahai pemuda, barang siapa mampu menanggung beban maka hendaklah menikah.
Kemudian dalam perkara pernikahan terlihat dari ajakan untuk memperkecil bilangan mahar, sebagaimana sabda beliau :
“Barang siapa yang sedikit nilai maharnya, maka itulah yang mendapatkan barokah yang banyak.”

5. Bagi mereka yang tidak mungkin melakukan pernikahan disebabkan oleh keadaan tertentu, hendaknya memiliki sifat ‘iffah, dan mampu mengendalikan nafsu. Allah swt berfirman :
“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya sehingga Allah memberikan kepada mereka kemampuan dengan karunia-Nya.” (QS. An Nur : 33)
Bagi mereka yang tidak mampu melakukan pernikahan, diperin­tahkan melakukan shaum sebagai suatu pemecahan naluri seksu­alnya sehingga dengan beribadah shaum itu ia akan dapat mengalahkan naluri saksualnya, atau dangan cara mencari kesibukan yang lebih utama dan mulia. Ini dapat memperkuat hubungan manusia dangan Allah SWT dengan jalan mentaati-Nya. Sabda Rasulullah saw :

“Wahai para pemuda, apabila kalian telah mampu menanggung beban, maka hendaknya menikah. Karena sesungguhnya hal itu akan dapat menundukkan pandanganmu, menjaga kemaluanmu. Dan jika kalian tidak mampu melakukannya, hendaknya melakukan shaum, sebab melakukan yang demikian itu adalah penawar.”
Shaum dilakukan bukan untuk mengekang naluri seksual, akan tetapi dengan shaum hendak diwujudkan pemahaman-pemahaman yang dapat mengkaitkannya dengan naluri beragama sehingga menjauhkannya dari pemahaman-pemahaman yang berkaitan dengan naluri melestarikan jenis. Dengan demikian naluri seksual itu tidak akan muncul tanpa melemahkan ataupun menyakitinya. Tindakan ini dilakukan bukan berarti bahwa shaum itu dituju­kan agar melemahkan tubuh manusia, sebab makan secukupnya di malam hari dapat menggantikan makan di siang hari. jadi melemahkan tubuh bukanlah yang dituju dari shaum, akan tetapi adalah mewujudkan nilai-nilai ruhiyah tatkala melaku­kan shaum sunnah.

6. Islam telah memerintahkan kepada kaum wanita agar memi­liki sifat malu dan mengenakan pakaian yang sempurna dalam kehidupan umum, dan menjadikan kehidupan khusus terbatas hanya untuk wanita dan mahramnya saja. Tidak diragukan lagi bahwa wanita yang memiliki sifat kemalu-maluan akan menjauh­kannya dari orang-orang yang tidak takut kepada Allah. Al-Qur’an telah memberikan sifat terhadap wanita yang berpakai­an dengan sifat yang mendetail, sempurna dan menyeluruh. Seorang wanita tatkala mengenakan pakaiannya yang sempurna dengan menutupi leher dan dadanya, dan tatkala menghamparkan jilbabnya, diulurkan baju kurung atau baju luarnya sampai kebawah sehingga menutupi tubuh dan kakinya. Apabila hal ini dilakukan berarti pakaiannya telah sempurna, dan dengan pakaian seperti ini ia telah bersikap hati-hati, disamping telah nampak perasaan malunya. Dengan pakaian yang sempurna ini ia dibolehkan terjun ketengah-tengah kehidupan umum untuk melakukan berbagai kegiatan dan aktifitasnya. Dengan perbuatannya itu ia telah menampakkan rasa malu dan kesopa­nan, yang dapat menjauhkannya dari pandangan yang meragukan dari orang-orang yang tidak takut kepada Allah SWT.

Inilah hukum-hukum syara’ yang tercakup dalam perbuatan-perbuatan yang diwajibkan. Adapun hukum-hukum syara’ yang mencakup perbuatan-perbuatan yang dilarang, antara lain :

1. Islam melarang kaum laki-laki dan wanita satu sama lain melakukan khalwat. Yang dimaksud dengan khalwat adalah berkumpulnya seorang laki-laki dan seorang wanita disuatu tempat yang tidak memberikan kemungkinan seorangpun untuk masuk tempat itu kecuali dengan idzin kedua orang tadi, seperti misalnya berkumpul di rumah, atau tempat yang sunyi yang jauh dari jalan dan orang-orang. Didalam kamus al-Muhith disebutkan mengenai khalwat yaitu :

“——————————————“
Dengan demikian khalwat adalah pertemuan dua orang yang terpisah dengan orang lain selain dari dua orang tadi. Khalwat merupakan perbuatan yang merusak. Oleh karena itu Islam melarang perbuatan khalwat ini dengan larangan yang tegas terhadap setiap bentuk khalwat antara seorang laki-laki dengan seorang wanita yang bukan muhrimnya, walau bagaimanapun orang itu ataupun keadaan khalwat tersebut. Rasulullah saw telah bersabda :

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah jangan melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai muhrim, karena sesungguhnya yang ketiga itu adalah syaithan.”
Larangan melakukan khalwat oleh syara’ merupakan tindakan preventif antara laki-laki dan wanita. Kenyataan menunjukkan bahwa khalwat menjadikan kaum laki-laki melihat wanita sebagai wanita (tidak memperdulikan hukum syara’-red), dan sebaliknya menjadikan wanita tatkala melihat laki-laki sebagai laki-laki. Dengan demikian larangan melakukan khal­wat dengan bersendirian akan menjauhkan dari sebab-sebab kerusakan, karena khalwat merupakan suatu sarana yang secara langsung menimbulkan kerusakan.

2. Islam melarang kaum wanita melakukan tabarruj, sebagaima­na firman Allah :

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah berhenti dari haidl serta mengandung, yang tidak ingin kawin lagi, tidaklah dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka dengan tidak bermak­sud menampakkan perhiasannya (bertabarruj).” (QS. An-Nur : 60)
Larangan terhadap kaum wanita yang sudah tua untuk melakukan tabarruj dengan mengyaratkan terhadap pakaian yang dikena­kannya agar ditanggalkan, meskipun tidak terdapat di dalam­nya tindakan tabarruj, mensyaratkan pemahaman tentang laran­gan tabarruj. Apabila terhadap kaum wanita yang sudah tua dilarang melakukan tabarruj, maka terlebih lagi hal itu bila dilakukan oleh wanita biasa. Firman Allah SWT :

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An-Nur : 31)
Pemisalan yang tertera dalam ayat ini dianggap sebagai tindakan bertabarruj. Yang dimaksud dengan tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan kecantikannya terhadap orang yang bukan muhrim. Jadi jika dikatakan bahwa seorang wanita bertabarruj, maka berarti telah menampakkan perhiasan dan kecantikannya terhadap orang yang bukan muhrim. Banyak hadits-hadits yang melarang setiap perbuatan yang dianggap sebagai tabarruj. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari seraya berkata : bahwasannya Rasulullah bersabda :

“Siapapun wanita yang memakai wewangian kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, maka ia telah melaku­kan zina.”
Dengan kata lain ia dianggap sebagaimana layaknya pezina yang terperosok dalam dosa. Dalam riwayat lainnya Rasulullah bersabda :

“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tak pernah menduga, (yaitu) sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti ummat manusia. Dan wanita yang membuka auratnya seraya berpakaian tipis merangsang, berlenggak-lenggok serta banyak lagak. Mereka tidak dapat masuk surga dan tidak dapat mencium baunya (padahal bau surga dapat tercium dari jarak yang relatif jauh).”
Ini merupakan dalil-dalil yang jelas mengenai larangan melakukan tabarruj. Oleh karena itu tabarruj hukumnya adalah haram. Atas dasar ini pula setiap perhiasan yang tidak lazim, yang akan memancing pandangan kaum lelaki, yang dapat memperlihatkan kecantikan wanitamaka hal itu tergolong tabarruj, apabila ditampakkan oleh seorang wanita di depan kehidupan umum. Atau hal itu diperlihatkannya dalam kehidu­pan khusus di depan laki-laki asing yang bukan muhrimnya. Seperti misalnya memakai wawngi-wangian, memoles wajah dengan warna-warna tertentu, dan memakai (topi) tetapi tidak berkerudung. Memaki celana panjang tanpa jilbab (baju pan­jang/luar), yang semua itu dikenakan tatkala keluar di tengah-tengah kehidupan umum.
Kenyataan menunjukkan bahwa tabarruj dapat mengubah perasaan dan membangkitkan naluri seksual sehingga mndorong terjadinya hubungan biologis antara laki-laki dan wanita. Tabarruj juga menyebabkan seorang laki-laki akan memburu kaum wanita dan akan mendatangkan hubungan antara keduanya semata-ata dilandasi hubungan selaku laku-laki dan wanita, serta berakibat hubungan mereka hanya berupa hubungan seksu­al semata. Dan inilan yang aka merusak kerja sama antar akaum laki-laki dan wanita yang dapat menghancurkan tatanan hidup kejama’ahan, bukan membangun. Disamp[ing itu tabarruj juga dapat mengubah hubungan yang hakiki, yang dilandasi kesucian dan ketaqwaan. Perbuatan tabarruj ini akan mengisi waktu-waktu kosong dalam kehidupan dengan membangkit-bangkitkan perasaan dan bergejolaknya naluri seksual. Sehingga tiadalah dalam hidup ini kecuali dengan mengikuti kehendak badan, —— . Tidak ada yang dilakukannya melain­kan memuaskan kedahagaan badannya, yang menucul karena tabarruj. Tabarruj dapat pula mengalihkan seorang muslim baik ia laki-laki maupun wanita dari pelaksanaan risalah-Nya di dalam kehidupan, yaitu mengemban dakwah Islam, serta berjihad untuk meninggikan kalimat Allah. Berdasarkan hal ini, maka harus ada standar penilaian terhadap bahwayanya tabarruj bagi jama’ah Islam, dan memberi pernilaian terhadap apa yang muncul dari tabarruj yang dilakukan wanita terhadap laki-laki yaitu akan membangkitkan dan merangsangnya, yang akan membaahayakan jama’ah dan hubungan jama’ah. Inilah pembahasan mengenai tabarruj yang telah diharamkan oleh Islam, sekaligus mengkaji faktanya, dan bahaya yang dapat ditimbulkannya bagi jama’ah Islam. Adapun menampakkan perhi­asan dan kecantikan di dalam rumah dan di tempat-tempat khusus, maka hal ini tidak dianggap sebagai tabarruj, dan tidak ada kesesuaian dengan istilah tabarruj.
3. Islam melarang, baik laki-laki maupun wanita, melakukan amal perbuatan yang dapat membahayakan akhlak, atau yang dapat merusak jama’ah. Seorang wanita dilarang melakukan kesibukan dalam setiap pekerjaan yang menampakkan kewani­taannya. Diriwayatkan dari Rafi’ bin Rafa’ah seraya berkata: Nabi saw telah melarang kami melakukan pekerjaan kecuali dengan menggunakan kedua tangannya. Beliau berkata : “Seper­ti inilah jari-jemarinya yang kasar sebagai mana halnya tukan roti, pemintal, atau pengukir. Dengan demikian Seorang wanita dilarang untuk melakukan kesibukan (bekerja) di tempat-tempat penjualan untuk menarik pengunjung, melakukan pekerjaan di kantor-kantor diplomatik dan konsulat atau yang sejenisnya dengan maksud untuk mengeksploitisir kewanitaan­nya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan politik, bekerja sebagai pramugari di pesawat-pesawat terbang, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang mengeksploitisir kewanitaannya.

4. Islam melarang perbuatan menuduh berzina terhadap wanita-wanita yang suci. sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik berbuat zina, dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka dera­lah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mareka untuk selama-lamanya. dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur : 4)

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lemah lagi beriman (berbuat zina), maka mereka terkena laknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar.” (QS. An-Nur : 23)
Sabda Rasulullah saw :

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Para sahabat bertanya : Apa gerangan wahai Rasulullah ?. Beliaupun menja­wab : “Syirik terhadap Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah, memakan harta riba, memakan harta anak yatim,———, menuduh berzina terhadap wanita suci lagi tidak melakukan apa-apa.”
Yang dimaksud dengan kata (———) adalah wanita yang suci, dan dilarang menuduh setiap wanita yang suci. Dengan demikian dilarang menuduh wanita yang suci dengan mensyari­’atkan agar lidah yang biasa menyebarkan kata-kata buruk berhenti melakukannya, mencemari kehormatan orang lain, sehingga tidak tersebar kata-kata kotor di tengah-tengah jama’ah Islam, sehingga tidak tersebar tuduhan-tuduhan yang bathil, sehingga kesucian jama’ah Islam dapat terjaga.

Inilah hukum-hukum syara’ yang tercakup di dalamnya segala perbuatan yang bersifat larangan yang menjadikan jama’ah Islam meskipun di dalamnya terwujud kerjasama yang dapat menjaga kesucian dan ketaqwaan.

Dari sini maka setiap orang bisa membayangkan jama’ah Islam, disamping dapat mengetahui bagaimana wanita yang muslimah itu, juga memberikan pandangan bagaimana seorang wanita dalam kehidupan umum melakukan pekerjaan yang telah diboleh­kan oleh syara’ tanpa menimbulkan kerusakan atau kemudhara­tan. Malahan hal seperti ini merupakan kebutuhan yang mende­sak dalam kehidupan umum dalam rangka kemajuan jama’ah. Oleh karena itu hendaknya kaum muslimin yang meyakini hukum-hukum syara’, baik mereka berada di Darul Islam maupun Darul Kufur, di negeri-negeri aislam maupun di negeri-negeri bukan Islam, yang hidup di tengah-tengah jama’ah muslim ataupun yang tidak, begitu pula terhadap kaum wanita yang melakukan yang melakukan pekerjaan yang telah dibolehkan oleh syara’ tidak perlu merasa khawatir dengan pekerjaannya, karena sesungguhnya amal perbuatan yang sesuai dengan hukum-hukum syara’, semuanya menjamin kesucian wanita dan dapat memaju­kan jama’ah, menta’ati perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Syara’ lebih mengetahui apa yang lebih layak bagi manusia, baik secara individu maupun dilihat dari aspek jama’ah, dalam kehidupan khusus, maupun kehidupan umum.

Inilah kesimpulan sistem/aturan sebagai pemecahan Islam terhadap masyarakat yang senantiasa muncul problematika-problematika, yaitu pertemuan antara laki-laki dan wanita. Sistem ini menjelaskan hukum-hukum syara’ yang datang untuk mencegah kerusakan yang muncul sebagai akibat dari pertemuan tadi. Di samping itu juga untuk memperoleh kemaslahatan untuk mewujudkan kesucian dan ketaqwaan, kesungguhan dan kerja. Sekaligus juga sistem ini menjaga kehidupan khusus yang menjadi tempat tinggal setiap orang, yang dapat mene­nangkan jiwa dan memperoleh ketentraman. Begitu pula menja­min kehidupan umum yang didalamnya terdapat kesungguhan (kerja) yang dapat menghasilkan sesuatu, dimana jama’ah hidup didalamnya sekaligus membutuhkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Hukum-hukum ini merupakan bagian dari sistem sosial kemasyarakatan, karena sistem ini mengatur pertemuan antara laki-laki dan wanita, di samping juga mengatur apa yang muncul sebagai akibat pertemuan hubungan keduanya, berikut seluruh problematika yang bersumber dari hubungan ini, seperti pernikahan, thalaq, anak, nafkah dan lain-lain. Sesungguhnya hukum-hukum seperti hukum-hukum pernikahan, thalaq dan sebagainya yang merupakan aturan-aturan bagi masyarakat adalah sistem/aturan yang menyangkut hubungan individu dengan individu. Namun demikian asal muasalnya sistem ini lahir dari adanya pertemuan yang terjadi antara laki-laki dan wanita. Oleh karena itu hal ini dapat di kaji- yaitu asal muasal dan sebab-sebab munculnya dalam sistem sosial kemasyarakatan. Adapun perincian dan segala yang berkaitan dengannya, maka hal ini menjadi bagian dari atu­ran-aturan masyarakat, yang dibahas dalam bab mengenai muamalat.

PERKAWINAN

Dari pertemuan antara wanita dan pria muncul hubungan yang berkaitan dengan kemaslahatan masyarakat tempat mereka hidup di dalamnya. Dan hal ini bukan problematika yang muncul dari pertemuan di tengah-tengah masyarakat untuk urusan jual beli, upah mengupah, perwakilan dan sebagainya. Dalam benak langsung terbayangkan bahwa hubungan ini hanya menyangkut perkawinan. Pada hakekatnya perkawinan itu meruakan salah satu penampakannya, karena tercakup juga urusan-urusan lain selain perkawinan. Oleh karena itu hubungan seksual bukan­lah satu-satunya penampakan naluri melestarikan jenis, tetapi salah satu penampakkannya. Terdapat penampakan-penampakan lainnya selain hubungan seksual seperti rasa keibuan, kebapakan, persaudaraan, anak terhadap orang tua, rasa kebibian, kepamanan, semua itu adalah penampakan naluri melestarikan jenis. Dari pertemuan antara pria dan wanita ini muncul hubungan keibuan, kebapakan dan lain-lain terma­suk perkawinan. Sistem sosial memasukkan hal-hal tersebut, termasuk perkawinan. Hukum-hukum syara juga mencakup pemba­hasan tentang anak, bapak maupun ibu seperti juga membahas masalah perkawinan.

Namun demikian perkawinan merupakan pangkal dari hubungan dan urusan cabang lainnya. apabila perkawinan tidak terja­di, tidak akan muncul hubungan kebapakan, anak, keibuan, dan lain-lain. Dari sini maka perkawinan itu merupakan pangkal­nya, kemudian seluruhnya bercabang dilihat dari segi peratu­rannya. Perasaan-perasaan tersebut secara alami membutuhkan pemenuhan/pemecahannya sebagaimana halnya salah satu pera­saan itu membutuhkan pertemuan dua jenis kelamin manusia. Naluri menuntut untuk dipenuhi dan akan menggerakkan penam­pakan rasa keibuan, atau rasa anak terhadap orangtua, begitu juga dengan bergeraknya penampakan hubungan antara dua jenis kelamin menuntut untuk dipenuhi. Sebab hubungan perkawinan, keibuan dan lain-lain tadi seluruhnya merupakan penampakan naluri melestarikan jenis, dan perasaan-perasaan yang ada di dalamnya adalah juga perasaan-perasaan untuk melestarikan jenis, serta akan membentuk kecenderungan karena kenyataan ini yang berjalin dengan mafhum (idea yang dianut) dalam setiap penampakan tersebut, sebagaimana terbentuknya ke­cenderungan dalam urusan lain.

Perkawinan merupakan pengaturan hubungan antara kelaki-lakian dan kewanitaan, yaitu pertemuan dua jenis kelamin antara pria dan wanita dengan aturan ang khusus. Dan perat­uran khusus ini yang mengatur hubungan laki-laki dan wanita dalam bentuk yang khas dan satu-satunya hubungan yang meng­hasilkan keturunan. Melalui hubungan ini juga akan makin berkembanglah jenis keturunan manusia. Pada akhirnya ter­bentuklah keluarga yang diatasnya didirikan peraturan hidup khusus.

Islam telah memerintahkan dan mendorong untuk melakukan pernikahan. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra yang berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kamu telah mampu memikul beban, maka hendaklah ia kawin, karena dengan meni­kah dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu hendaklah ia berpuasa, karena dengan puasa itu dapat menjadi penghalang.”
Diriwayat dark Qatadah dari Hasan dari Samurah, bahwasanya Nabi saw telah melarang hidup membujang, kemudian Qatadah membacakan ayat:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS Ar Ra’d: 38)

Arti kata tabattul adalah sama sekali tidak menikah (membu­jang), menjauhkan diri dari kenikmatannya, semata-mata untuk beribadah saja. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasa­nya Nabi saw bersabda:

“Ada tiga orang yang Allah berhak menolongnya: Mujahid (yang sedang berperang) di jalan Allah, orang yang kawin untuk menjaga dirinya (dari dosa), dan Makatib (budak) yang bekerja (untuk biaya tebusannya) agar merdeka.”

Sabda Rasulullah saw.:

“Tidak ada sistem kependetaan (yang hidup membujang) dalam Islam.”

Kalimat ruhbaniyyahdan tabattul berarti tidak berhubungan (kawin) dengan wanita, tidak menikah, menyibukkan diri dengan hanya beribadah kepada Allah SWT. Al Quran datang dengan ayat-ayat yang jelas mengenai pernikahan ini, seba­gaimana firman Allah SWT:

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat.” (QS An Nisa: 3)

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS An Nur: 32)

Islam mendorong untuk menikahi wanita yang masih perawan/gadis, yang subur keturunannya, serta baik agamanya. Dari Anas ra bahwasanya Nabi saw memerintahkan untuk melaku­kan pernikahan dan melarang hidup membujang dengan larangan yang sangat keras, seraya bersabda:

“Kawinilah oleh kalian wanita yang penyayang dan subur, karena sesungguhnya di hari Kiamat (nanti) aku akan membang­gakan banyaknya bilanganmu diantara para nabi.”

Dari Ma’qal bin Yassar, berkata bahwa telah datang kepada Nabi saw seorang laki-laki yang berkata:

“Sesungguhnya aku berniat mengawini wanita berketurunan baik-baik lagi cantik, tetapi ia mandul, apakah aku (boleh) mengawininya? Nabi saw bersabda: “Kawinilah oleh kaian wanita yang penyayang dan subur, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya bilanganmu.”

Diriwayatkan dari Jabir bahwasanya Nabi saw bersabda:

“Wahai Jabir apakah engkau (telah) mengawini wanita yang masih gadis atau janda? Jabir menjawab ‘janda’. Maka beliau saw bersabda: “Mengapa engkau tidak mengawini wanita yang masih gadis, sehingga engkau bisa bermain-main dengan­nya dan ia dapat bermain-main denganmu.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi saw ber­sabda:

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya niscaya engkau akan beruntung.”

Dianjurkan seorang laki-laki untuk memilih wanita yang masih gadis, dan untuk mengetahui bahwa wanita tersebut subur dapat diketahui dari ibunya, bibinya atau pamannya, serta memilih yang agamanya baik, dan memilih yangcantik agar dapat memelihara dirinya (dari dosa), berketurunan baik, yaitu memiliki pangkal keutamaan, ketaqwaan dan kemuliaan, namun semua itu bukan syarat mutlak, melainkan berupa anju­ran dan keutamaan ssaja. Yang penting bagi seorang laki-laki hendaknya memilih wanita yang diridlainya, begitu pula seorang wanita hendaknya memilih seorang laki-laki yang diridlainya.

Adapun mengenai masalah kufu (seimbang) antara mempelai laki-laki dan wanita, sesungguhnya tidak ada dasarnya sama sekali dalam syariat Islam, dan tidak disebutkan, kecuali dalam hadits-hadits yang palsu. Sementara Al Quranul Karim sendiri menolaknya, begitu pula dengan hadits-hadits yang shahih. Setiap wanita muslimah sekufu dengan setiap laki-laki muslim, dan setiap laki-laki muslim sekufu dengan wanita muslimah mana saja. Dan perbedaan antara laki-laki dan wanita dalam masalah harta tidak dapat dijadikan tolok ukur begitu pula perbedaan dalam masalah keturunan atau bibit dan lain-lain. Dengan demikian seorang laki-laki anak tukang sampah sekufu dengan wanita anak amirul mu’minin, atau wanita anak tukang cukur sekufu dengan laki-laki anak amirul mu’minin. Begitu pula setiap kaum muslimin sekufu dengan kaum muslimin yang lain. Firman Allah SWT:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah SWT ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (QS Al Hujurat: 13)

Nabi saw telah mengawinkan puteri pamannya Zainab binti Jahsy, salah seorang tokoh pembesar Quraisy dengan Zaid bin Haritsah, seorang hamba sahaya yang telah dimerdekakan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, berkata:
“Telah datang kepada Rasulullah saw. seorang wanita seraya berkata: ‘Sesungguhnya bapakku hendak mengawinkanku dengan anak saudaranya untuk mengangkat martabatku.’ Nabi saw bersabda: ‘Serahkanlah urusan ini kepada (wanita) nya.’ Maka si wanita itupun menjawab: ‘Aku telah memberikan (imbalan) apa yang telah dilakukan oleh bapakku, akan tetapi aku hanya ingin memberitahukan kepada kaum wanita bahwasanya seorang bapak tidak berhak menentukan setiap perkara.”

Arti kata yang diucapkan wanita tadi ‘untuk mengangkat martabatku’ adalah untuk mengangkat derajat putera saudara­nya dengan cara mengawinkannya denganku. Ini berarti seo­rang bapak telah mengawinkan puterinya sementara si wanita itu tidak suka (ridla), karena wanita tersebut tidak melihat dalam diri laki-laki (yang menjadi pasangannya) sesuatu keutamaan atau kelayakan untuk menikah. Jadi bukannya tidak sekufu dan laki-laki itu adalah anak pamannya, tetapi dalam hal ini tidak adanya unsur keridlaan. Diriwayatkan dari Abi Hatim al Mazni, yang berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Apabila kepada kalian datang (seorang laki-laki) yang kalian ridlai agama dan akhlaknya maka kawinkanlah dia, jika hal ini tidak dilakukan maka akan muncul fitnah di atas dunia serta kerusakan yang besar.” Mereka bertanya: ‘Wahai Rasulullah saw., bagaimana jika hal itu ada padanya? Beliau saw menjawab: “Apabila kepada kalian datang (seorang laki-laki) yang kalian ridlai agama dan akhlaknya maka kawinkan­lah, hal ini diulang-ulang hingga tiga kali.”

Diriwayatkan pula oleh Imam Tirmidzi dari penuturannya Abu Hurairah ra, dengan lafadz bahwasanya Rasulullah saw. ber­sabda:

“Apabila (seorang laki-laki) datang hendak melamar kepada kalian sedangkan agama dan akhlaknya kalian ridlai, maka kawinkanlah, jika hal itu tidak dilakukan akan muncul fitnah di atas dunia dan kerusakan yang besar.”

Begitu pula hal ini telah diriwayatkan melalui jalur perawi yang lain dari Abu Hurairah ra bahwasanya ayah Hindun mence­gat Nabi saw di suatu tempat bernama Yafuukh, maka Nabi saw bersabda:

“Wahai bani Bayadloh kawinkanlah oleh kalian aba Hind dan nikahkanlah dia.”

Dari Handholah bin Abu Sufyan al Jamahi dari ibunya yang berkata:

“Aku melihat saudara perempuan Abdurrahman bin Auf dibawa (telah dinikahi) oleh Bilal.”

Seluruh dalil-dalil diatas dengan jelas menunjukkan bahwa kufu antara dua orang mempelai tidak ada dasarnya dan tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan tolok ukur. Setiap wanita yang telah ridla atau suka dengan seorang laki-laki untuk menjadi suaminya, maka ia berhak untuk menikahi laki-laki yang diridlainya, begitu pula sebaliknya setiap laki-laki yang telah ridla atau suka dengan seorang wanita utnuk menjadi isterinya, maka ia berhak menikahi wanita yang diridlainya, tanpa memperhatikan lagi persoalan sekufu atau tidak. Adapun apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwasanya Nabi saw bersabda:

“Orang-orang Arab sekufu dengan orang Arab lainnya, satu qabilah dengan qabilah lainnya, satu lingkungan dengan lingkungan lainnya, satu laki-laki dengan laki-laki lainnya, kecuali —————

Hadits ini palsu, tidak jelas asal usulnya sehingga terto­lak. Telah berkata Ibnu Abi Hatim bahwa beliau pernah menanyakan kedudukan hadits ini kepada bapakku, maka jawab­nya: hadits ini munkar. Begitu pula Ibnu Abdilbarr bahwa hadits ini tergolong munkar maudlu (palsu). Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dari Muadz tentang hadits:

“Orang Arab sekufu dengan orang Arab lainnya, dan hamba sahaya sekufu dengan hamba sahaya lainnya.”

Sanad hadits in dlaif (lemah). Hadits yang diriwayatkan oleh Burairah, bahwasanya Nabi saw telah bersabda kepada Burai­rah:

“(tatkala) engkau telah bebas (merdeka sebagai budak), maka engkaupun bebas memperlakukan barang-barang (milik)mu, maka pilihlah (tetap sebagai isteri dai suami yang masih menjadi budak, atau bercerai).

Hadits ini menunjukkan mengenai kufu, karena status suaminya masih hamba sahaya. Sedangkan hamba sahaya wanita yang bersuamikan hamba sahaya pula, jika ia telah merdeka, diber­ikan pilihan kepadanya, apakah tetap bersuamikan seorang hamba sahaya atau membatalkan perkawinannya (cerai). Jadi hadits itu bukan menunjukkan kufu. Alasannya bahwa suami dari Burairah adalah seorang hamba sahaya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Qasim dari Aisyah bahwasanya Burairah adalah seorang hamba sahaya, tatkala ia bebas , maka Rasu­lullah saw. bersabda kepadanya:

“Pilihlah (olehmu), jika engkau kehendaki tetap tinggal bersama (bersuamikan) seorang hamba sahaya, dan jika engkau kehendaki boleh berpisah (bercerai) dari suamimu.”

Diriwayatkan pula oleh Muslim dari Urwah, dari Aisyah:

“bahwasanya Burairah telah merdeka, sedangkan suaminya seorang hamba sahaya, maka Rasulullah saw. menyuruhnya memilih, seandainya (suaminya) seorang yang merdeka maka Nabi saw tidak akan memberinya pilihan.”

Adapun apa yang diriwayatkan bahwasanya Nabi saw bersabda:

“Janganlah kalian menikahkan wanita kecuali dengan orang yang sekufu, dan janganlah kalian menikahkannya melainkan dengan tokoh-tokoh terkemuka.”

Hadits ini dloif dan tidak jelas asal usulnya. Dengan demikian jelaslah bahwasanya tidak terdapat nash yang menun­jukkan adanya kufu. Sedangkan nash-nash yang menunjukkan hal ini dan dikatakan oleh mereka yang mendukung kufu adalah nash yang bathil, sehingga tidak dapat dijadikan dalil. Mensyaratkan kekufuan bertentangan dengan sabda Rasulullah saw.:

“Tidak ada keutamaan antara orang Arab terhadap non Arab, kecuali ketaqwaannya.”

Dan bertolak belakang dengan nash Al Quran yang bersifat pasti:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah SWT adalah orang paling taqwa diantara kamu.” (QS Al Hujurat: 13)

Mengenai perbedaan agama, maka bukan termasuk dalam perkara kufu, melainkan tercakup dalam topik perkawinan seorang muslim dengan selain muslim, ini adalah pembahasan yang berbeda. Allah SWT telah menjelaskan bolehnya seorang laki-laki muslim mengawini wanita yang berasal dari ahli kitab, yaitu Yahudi dan Nashrani, karena Allah SWT berfirman:

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi alkitab it halal bagi­mu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalal­kan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan dianta­ra wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi alkitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik.” (QS Al Maidah: 5)

Ayat ini dengan jelas memaparkan bahwasanya wanita-wanita ahli kitab yang menjaga kehormatannya halal (dibolehkan mengawininya) bagi laki-laki muslim, memberikan kepada mereka maharnya, dan boleh bagi laki-laki muslim mengawini wanita ahli kitab, sebagai pengejawantahan ayat tersebut. Sebagaimana telah disebutkan bahwa wanita-wanita ahli kitab yang memelihara kesuciannya halal bagi laki-laki kaum musli­min, denan kata lain menikahinya merupakan perkara yang halal. Sedangkan jika seorang wanita muslimah hendak men­gawini laki-laki yang berasal dari ahli kitab, syara telah mengharamkannya, secara mutlak tidak diperbolehkan. Dan apabila dilakukan maka perkawinannya dianggap bathil (tidak sah) tidak diakui aqadnya. Keharaman wanita muslimah kawin dengan laki-laki dari ahli kitab diterangkan dengan jelas oleh Al Quran sebagaimana firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji keimanan mereka. Allah SWT lebih mengetahui keima­nan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) telah beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS Al Mumtahanah: 10)

Nash ini tidak mengandung pengertian lain, kecuali satu, yaitu bahwa wanita muslimah tidak halal bagi laki-laki kufur, dan laki-laki kafir tidak halal bagi wanita muslimah. Dan pernikahan suami yang kafir dengan wanita muslimah tidak menjadikan pernikahan itu sah diantara mereka, firman Allah SWT:

“Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS Al Mumtahanah: 10

Yang ditonjolkan dalam ayat ini adalah kalimat kuffar, bukan menggunakan kalimat musyrikin, maksudnya untuk memberitahu terhadap setiap orang kafir, baik mereka itu musyrik atau ahli kitab. Akan halnya ahli kitab itu mencakup Nashrani dan Yahudi dan digolongkana kepada orang-orang kafir dite­tapkan oleh Al Quran sebagaimana firman Allah SWT:

“orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan dari Rabbmu.” (QS Al Baqarah: 105)

Ayat ini merupakan penjelasan (bayan) bukan pembagian (tab’idl). Firman Allah SWT lainnya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah SWT dan rasul-rasulNya dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah SWT dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir terhadap seba­gian (yang lain).’ Serta bermaksud (dengan perkataannya itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS An Nisa: 150-151)

Ahli kitab adalah orang yang tidak beriman terhadap risalah Nabi Muhammad saw, mereka itulah orang-orang yang kafir. Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam.” (QS Al Maidah: 17)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘bahwas­anya Allah salah satu dari yang tiga.: (QS Al Maidah: 73)

“orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik.” (QS Al Bayyinah: 1)

Ini adalah ayat-ayat penjelas, bukan pembagian (tab’idl), begitu pula firman Allah SWT:

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik.” (QS Al Bayyinah: 6)

Firman Allah SWT:

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir diantaara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama.” (QS Al Hasyr: 2)

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafiq yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir diantara ahli kitab.” (QS Al Hasyr: 11)

Ayat-ayat ini memaparkan bahwasanya ahli kitab adalah orang kafir, sebagaimana penjelasan Al Quran/ Jadi kalimat kufar digunakan mencakup mereka (ahli kitab). Atas dasar hal ini Allah SWT berfirman:

“Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar beriman), maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS Al Mumtahanah: 10)

Jelas bahwa ayat ini menunjukkan bahwa tidak bolehnya seo­rang wanita muslimah kawin dengan laki-laki ahli kitab secara mutlak, karena ahli kitab tergolong pada orang-orang kafir.

Adapun orang-orang musyrik, yaitu selain dari ahli kitab, seperti misalnya orang-orang majusi, shobiah, budha, penyem­bah berhala (animisme), dan sejenisnya. Maka sesungguhnya tidak boleh kawin dengan mereka sama sekali. seorang muslim tidak boleh kawin dengan wanita musyrik, beegitu juga seo­rang muslimah tidak boleh kawin dengan wanita musyrik. Hal ini telah diterangkan dengan jelas di dalam nash Al Quran yang bersifat pasti, firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wani­ta-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang yang musyrik walau­pun dia menarik hatimu.” (QS Al Baqarah: 221)

Ayat ini hanya mengandung satu makana, yaitu haramnya laki-laki muslim mengawini wanita musyrik, begitu pula sebaliknya haram mengawinkan wanita muslimah dengan laki-laki musyrik. Apabila memang pernikahan tersebut terjadi, maka pernikahan­nya dianggap bathal (tidak sah). Diriwayatkan dari Hasan bin Muhammad:

“Rasulullah saw. telah mengirim surat kepada orang-orang Majusi Hijir, yang menyerukan agar mereka memeluk Islam, amka sebagian mereka memeluk Islam, dan barangsiapa yang menolak atas mereka dipungut jizyah, serta tidak boleh memakan makanan sembelihan mereka dan kaum wanitanya tdiak­boleh dikawini.”

Oleh karena itu Islam tidak merasa cukup hanya dengan mendo­rong pernikahan dan memberitahukan berbagai kabar gembira (bagi yang melakukannya), akan tetapi juga Islam telah menjelaskan siapa yang boleh dinikahi oleh wanitamuslimah, siapa yang haram dinikahi oleh keduanya. Dijelaskan pula sifat-sifat utama dari calon yang akan dinikahinya dengan meneliti lebih dahulu. Namun demikian Islam memberikan syarat bahwa wanita yang akan dinikahi bukan isteri orang lain, atau masih dalam jangka waktu ‘iddah, karena syarat pernikahan adalah tidak menjadi isteri orang lain serta bebas dari masa ‘iddah.

Adapun tentang wanita yang dilamar dan belum pernah menikah, maka perlu diperhatikan sebagai berikut, apabila seorang wanita telah menerima lamaran, atau melalui walinya, atau telah diijinkan walinya untuk menerima lamaran atau meni­kahinya, baik hal itu dilakukan dengan cara terang-terangan maupun isyarat, maka dilarang bagi laki-laki lain untuk melamarnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Seorang mukmin itu bersaudara dengan mukmin lainnya, maka tidak boleh seorang mukmin membeli barang yang telah ditawar (sebelumnya) oleh saudaranya, dan tidak boleh melamar (seorang wanita) yang telah dilamar oleh saudaranya sampai ia membatalkan (pinangan)nya.”

Sedangkan yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dari Nabi saw yag bersabda:

“Tidak boleh seorang laki-laki melamar (seorang wanita) yang telah dilamar oleh saudaranya sampai ia menikahinya atau meninggalkannya.”

Apabila seorang wanita yang dilamar kemudian menolak lamaran tersebut, atau tidak menjawab/menerimanya, atau tengah meneliti pelamar (laki-laki), maka dalam keadaan seperti ini boleh bagi laki-laki lain melamarnya, dan lamaran orang lain tidak lagi dianggap lamaran, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Fatimah binti Qais ia mendatangi Nabi saw seraya menceritakan bahwa Muawiyah dan aba Jaham telah melamarnya, maka Nabi saw bersabda:

“Adapun Muawiyah sesungguhnya ia terlunta-lunta tidak memi­liki harta, sedangkan Aba Jaham ia tidak akan meletakkan tongkat pada pundaknya (suka memukul), maka (bagaimana kalau) aku nikahkan engkau dengan Usamah bin Zaid.” Maka Nabi saw pun melamarnya untuk Usamah setelah wanita tersebut memberitahukan kepada beliau perihal lamaran Muawiyah dan Aba Jaham kepadanya.

Apabila seorang wanita telah dilamar, maka dia berhak untuk menerima calon suaminya atau menolaknya, dan bukan hak salah seorang dari walinya, dan bukan hak orang-orang yang akan mengawinkannya jika hal itu dilakukan tanpa ijin dari wanita tersebut, serta tidak boleh dihalang-halangi untuk menikah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan seorang gadis itu dimintakan ijinnya, dan ijinnya itu berupa diamnya.”

Sabda Rasulullah saw. lainnya:

“Janganlah seorang janda itu dinikahi kecuali ia memintanya, seorang gadis kecuali dengan ijinnya.”. Sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah saw. bagaimana ijinnya? Maka Nabi saw menjawab: “yaitu diamnya”

Dari Ibnu Abbas diriwayatkan bahwasanya seorang gadis telah datang kepada Rasulullah saw. lalu menceritakan bahwa bapak­nya telah (memaksa) menikahkannya, namun ia tidak suka. Maka Nabi saw memberikan kepada (wanita) tersebut pilihan (boleh menolak atau menuruti bapaknya). Diriwayatkan pula dari Khunsa binti Khadam Al Anshari bahwasanya bapaknya telah (memaksa) menikahkannya sementara ia adalah seorang janda dan tidak suka dengan (calonnya), kemudian ia datang kepada Rasulullah saw. lalu beliau membatalkan perkawinannya itu. Hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan dengan jelas bahwa seorang wanita jika tidak dimintakan ijinnya, maka tidak sempurnalah perkawinannya. Dan apabila ia menolak pernikahannya itu atau menikah secara paksa, maka aqad perkawinan fasakh, kecuali jika ia berbalik pikiran atau ridla.

Adapun larangan untuk menghalang-halangi seorang wanita yang hendak menikah apabila telah dilamar seseorang, hal ini secara pasti disinggung di dalam Al Quran, firman Allah SWT:

“Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan diantara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (QS Al Baqarah: 232).

Begitu pula telah ditegaskan dalam hadits shahih dari Ma’qal bin Yasar:

“Aku telah menikahkan adikku dengan seorang laki-laki, kemudian ia menceraikannya, setelah urusan iddahnya selesai, tak lama kemudian datang melamarnya lagi, maka akupun berka­ta padanya: “Aku telah menikahkanmu, menghormatimu dan memuliakanmu, namun engkau telah menceraikannya, lalu datang hendak melamarnya (rujuk) lagi, tidak, demi Allah SWT ia tidak kukembalikan kepadamu selamanya. laki-laki itu tidak terlalu memasalahkan perkara ini, tetapi wanita menghendaki kembali kepada mantan suaminya. Maka turunlah firman Allah SWT: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka.” Saat itu juga aku berkata kepada Nabi saw: Wahai Rasulullah saw. mana yang paling baik kukerjakan? Beliaupun menjawab: Kawinkanlah ia dengan orang (laki-laki) tersebut.

Dalam riwayat lain dikatakan:

“Maka bayarlah kaffaratul yamin (denda atas sumpah) lalu kawinkanlah ia dengannya.”

Arti kata Adhol adalah menghalang-halangi seorang wanita untuk menikah jika wanita itu memang telah memintanya. Perbuatan itu tergolong haram dan atas pelakunya diberi predikat fasik. Jadi setiap orang yang menghalang-halangi kaum wanita untuk menikah maka perbuatannya itu tergolong perbuatan yang fasik. Para fuqaha telah menyebutkan bahwa seorang laki-laki telah berbuat kefasikan apabila melakukan adhol. dengan demikian apabila seorang wanita telah dilamar untuk menikah, atau ia telah meminta menikah maka hanya dia seorang sajalah yang berhak melakukan persetujuan atau menolaknya.

Apabila kesepakatan antara calon pengantin laki-laki dan wanita telah sempurna untuk menikah maka sesungguhnya hanya mereka berdualah ayng berhak melangsungkan perkawinannya, dan tidak sempurna perkawinan melainkan dengan memenuhi aqad yang syar’i. perkawinan tidak akan diakui sebagai perkawinan kecuali telah memenuhi aqad yang syar’i sesuai dengan hukum-hukum syariat Islam sehingga dihalalkan bagi keduanya untuk saling mengecap kenikmatan masing-masing, dan sempurna sampai seluruh hukum-hukum dalam perkawinan beserta akibat-akibat setelah perkawinan itu dilakukan telah dilaku­kan. Dan jika aqad ini tidak dilakukan perkawinan itu tidak diakui meskipun antara laki-laki dan wanita itu telah ber­gaul dalam periode yang lama/panjang. Berdasarkan hal ini maka pertemuan dua kekasih sebagaimana layaknya pertemuan antara suami dan isteri tidak dianggap sebagai perkawinan. Bahkan perbuatan seperti itu termasuk zina. Begitu pula pertemuan dua orang laki-laki yang sepakat untuk kumpul kebo tidak dianggap juga suatu bentuk perkawinan, tetapi tergo­long perbuatan liwath (homo seksual).

Adapun perkawinan yang dilakukan di catatan sipil merupakan aqad kesepakatan antara laki-laki dan wanita untuk hidup bersama, kesepakatan jika tidak terjadi perceraian, dan berbagai perkara sebagai akibat perceraiaana itu berupa nafqah maupun batas-batas tingkah laku, termasuk kesepakatan untuk keluar rumah, ketaatan isteri terhadap suami atau ketundukkan suami terhadap isteri, dan kesepakatan-kesepaka­tan lainnya, termasuk masalah anak, siapa yang berhak atas (pengasuhan) anak laki-laki atau anak perempuan dan lain-lain. Begitu pula kesepakatan dalam masalah warisan dan keturunan dan kesepakatan lainnya sebagai akibat mereka telah hidup bersama-sama atau menolak untuk hidup bersama sesuai dengan syarat-syarat yang disepakati oleh keduanya serta harus terikat dengan kesepakatan tersebut. Perkawinan di catatan sipil bukan hanya berupa kesepakatan dalam hal perkawinan saja, bahkan kesepakatan tersebut mencakup selu­ruh aspek dama perkawinan termasuk perkara-perkara yang mungkin munculdisebabkan perkawinan, baik berupa nasab (keturunan), nafqah, waris dan lain-lain, termasuk perkara yang membolehkan keduanya atau salah satu ddari keduanya untuk melakukan gugatan, seprti perceraian atau lebih dari sekedar hal itu, dan memberikan kebebasan mutlak bagi setiap laki-laki untuk mengawini wanita mana saja, dan sebaliknya memberikan kebebaan mutlak bagi setiap wanita untuk mengawi­ni laki-laki mana saja sesuai dengan kesepakatan yang dirid­hai keduanya dalam setiap perkara yang dikehendakinya sesuai dengan kesepakatan. Atas dasar hal ini maka perkawinan di depan catatan siil tidak dibolehkan menurut syara dan tidak dianggap sebaagai suatu kesepakatan perkawinan sama sekali, tidak diterima aqad perkawinannya, sama sekali tidak ada nilainya di depan syara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: