Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

KETERIKATAN TERHADAP SUNAH

Pemaparan

Hukum Syariat Islam hanya memiliki dua sumber, yaitu al-Quran al-Karim dan Sunah. Al-Quran merupakan firman Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Apa itu Sunah?
Sunah menurut bahasa artinya adalah ‘jalan yang ditempuh’. Misalnya dalam kalimat, “Jalan hidup seseorang”, itu berarti dia mengawali harinya dengan mengerjakan sesuatu, melewati, dan mengakhirinya dengan sesuatu, maksudnya aktivitas hidup rutin hariannya. Kalimat,“Sunnatullah penciptaan manusia” mempunyai arti bahwa Allah Swt. menciptakan manusia melalui proses kelahiran dari ibunya untuk menghabiskan umurnya sampai mati. Dengan ungkapan lain, disebut jalan hidup mereka yang telah Allah tentukan. Adapun menurut pengertian syara’, Sunah mempunyai banyak makna, di antaranya sebagai berikut.
Pertama, Sunah terkadang digunakan untuk menyebut suatu amalan nafilah yang diterima dari Nabi saw. melalui suatu riwayat. Misalnya, bilangan rakaat dalam shalat sunat sebagai lawan dari shalat fardhu. Amalan ini disebut Sunah, artinya tidak termasuk dalam kategori fardhu. Namun, penggunaan istilah Sunah di sini bukan berarti bahwa sunah itu datangnya dari Nabi saw., sedangkan fardhu berasal dari Allah Swt. Yang benar adalah, baik fardhu maupun sunah, apakah dalam shalat atau amalan lainnya, keduanya berasal dari Allah Swt. Rasulullah hanya sebagai Mubalig (penyampai dari Allah) terhadap dua hal ini. Dalam kaitan ini sebagaimana firman Allah Swt.,“Tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS An-Najm [53]: 3-4).
Apabila Sunah juga berasal dari Allah Swt., mengapa disebut dengan nama demikian? Hal ini karena Sunah ini disampaikan kepada Rasulullah saw. bukan dalam rangka menjalankan yang fardhu, namun sebagai tambahan ibadah di samping amalan fardhu. Inilah makna nafilah sebagai lawan dari fardhu dan tidak mencerminkan keterikatan yang pasti terhadap amalan nafilah. Terkadang suatu amalan dinamakan Sunah yang kita terima dari Nabi saw. melalui riwayat, tetapi yang kita terima itu memang sebagai nafilah yang kemudian disebut sunah pula.
Begitu pula halnya dengan amalan fardhu yang kita terima dari Nabi saw. sebagai fardhu yang kemudian disebut dengan kefardhuan. Misalnya, dua rakaat shalat Subuh adalah fardhu yang kita terima dari Nabi saw. melalui riwayat Mutawatir dan perkara ini tidak boleh dilanggar bagaimana pun kondisinya. Adapun shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh adalah sunah yang kita terima dari Nabi saw. melalui riwayat yang Mutawatir pula sebagai nafilah. Meninggalkan shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh ini bukan merupakan hal tercela, meskipun yang lebih utama adalah menunaikannya karena akan diperoleh pujian dari hal tersebut.
Kedua hukum tersebut, yaitu fardhu dan sunah, keduanya berasal dari Allah Swt., dan bukan dari pribadi Rasul saw. Sehubungan dengan ini karena beliau hanyalah penyampai dan Allah Swt. yang telah memerintahkan beliau untuk menyampaikannya kepada hamba-hamba-Nya. Untuk amalan yang fardhu, semua hamba terikat melakukannya, sedangkan amalan sunah, Allah Swt. menempatkannya sebagai nafilah atau tambahan.
Demikianlah, Allah Swt. telah memerintahkan beribadah dalam bentuk amalan fardhu dan nafilah, atau fardhu dan mandub. Nafilah adalah mandub itu sendiri. Kata nafilah ditujukan untuk seluruh shalat sunah sebagai tambahan dari yang fardhu. Jika tidak dibatasi seperti itu, maka itu sama halnya dengan mandub sebagai salah satu hukum syara’.
Kedua, istilah Sunah juga digunakan untuk menyebut apa yang berasal dari Rasulullah saw., berupa dalil-dalil syara’ selain ayat al-Quran. Termasuk perkataan Nabi saw., perbuatan, dan ketetapan-ketetapan beliau dengan cara diamnya beliau. Artinya, segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah berupa perkataan yang tidak disertai perbuatan, atau perbuatan yang tidak disertai dengan perkataan, serta ketetapan beliau, yaitu hal-hal yang beliau diamkan. Yang penting, semuanya itu tidak termasuk dalam al-Quran sehingga dikatakan dengan Sunah.
Bagaimana halnya dengan perbuatan Rasulullah saw. yang bentuk dan jenisnya amat banyak dan beragam, haruskan kita meneladani semuanya? Atau, apakah kita terikat untuk mengamalkan semuanya? Selain itu, perbuatan apa saja harus kita ikuti dan mana yang tidak?
Apabila kita mempelajari perbuatan-perbuatan yang dilakukan Rasulullah saw. ternyata dibagi menjadi dua macam sebagai berikut.
Pertama, ada yang termasuk perbuatan jibiliyah, seperti berdiri, duduk, makan, minum, dan yang lainnya. Dalam seluruh perbuatan ini, para ulama fiqih tidak berbeda pendapat tentang kemubahannya, baik bagi diri Rasul maupun bagi umatnya. Perbuatan tersebut bukan terkategori hukum mandub atau nafilah.
Kedua, perbuatan yang tidak termasuk jibiliyah. Perbuatan seperti ini dibagi dua, pertama perbuatan yang dikhususkan bagi Rasulullah, yang tidak seorang pun diperkenankan mengikutinya. Contohnya, beliau boleh melanjutkan shaum pada malam hari tanpa berbuka; boleh menikah dengan lebih dari empat orang wanita; dan yang lainnya. Perbuatan-perbuatan ini dikhususkan bagi beliau berdasarkan Ijma Sahabat, dan tidak boleh bagi siapa pun meneladani perbuatan semacam ini. Kedua, perbuatan yang tidak dikhususkan bagi beliau. Yaitu, perbuatan yang dikenal sebagai penjelasan bagi umatnya, yang diakui sebagai dalil yang menunjukkan pada hukum-hukum persoalan semasa hidup Rasul saw.
Seperti apa perbuatan Rasul yang merupakan penjelasan bagi umatnya? Penjelasan tersebut bisa berupa perkataan, seperti sabda beliau saw.,“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”. Sabdanya pula, “Laksanakan manasik hajimu berdasarkan manasikku”. Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan beliau merupakan penjelas agar kita mengikutinya. Penjelasan beliau bisa juga berupa indikasi yang menerangkan bentuk perbuatan (qaraain al-ahwal), seperti pemotongan pergelangan tangan pencuri, sebagai penjelasan firman Allah Swt., “Maka, potonglah tangan keduanya” (QS al-Maa-idah [5]: 38).
Status penjelasan yang terdapat pada perbuatan Nabi saw., baik berupa ucapan jelas maupun indikasi yang menunjukkan satu perbuatan, wajib kita ikuti sesuai dengan penunjukan dalil. Apabila dalil menunjukkan perbuatan wajib, maka suatu keharusan bagi kita untuk meneladani Rasul saw. dalam perbuatan wajib tersebut. Selain itu, apabila dalil menunjukkan perbuatan sunah atau mubah, kita pun melakukannya sesuai status hukum tersebut.
Akan tetapi, apakah penjelasan terhadap perbuatan Rasul saw., baik dengan ucapan yang jelas maupun qaraain al-ahwal melingkupi semua perbuatan beliau, ataukah ada perbuatan-perbuatan lain yang tidak berhubungan dengan penjelasan bahwa perbuatan tersebut juga berlaku bagi umatnya?
Benar, memang dalam hal ini terdapat perbuatan Rasul saw. yang di dalamnya tidak terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa hal itu merupakan penjelas–bukan penolakan dan bukan pula ketetapan. Dalam hal ini perlu diperhatikan apakah di dalamnya terdapat maksud untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) atau tidak. Jika di dalamnya terdapat keinginan untuk ber-taqarrub kepada Allah, maka perbuatan itu termasuk mandub. Seseorang akan mendapat pahala atas perbuatannya itu dan tidak mendapat sanksi jika meninggalkannya. Misalnya, pelaksanaan shalat Dhuha. Namun, apabila di dalamnya tidak terdapat keinginan untuk ber-taqarrub, seperti perbuatan Rasulullah saw. yang tidak memakan daging biawak, maka perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang mubah. Terhadap perbuatan tersebut tidak akan diberi pahala jika mengerjakannya dan tidak mendapat sanksi jika meninggalkannya.

Diskusi

Tanya : Apakah ada sumber Syariat Islam selain al-Quran dan Sunah?
Jawab: Tidak ada.
Tanya : Bagaimana pandangan kita terhadap Qiyas dan Ijma Sahabat?
Jawab: Keduanya dimasukkan dalam kategori sumber hukum syara’ yang jumlahnya ada empat sebagai tambahan bagi al-Quran dan Sunah.
Tanya : Apakah semua shalat sunah termasuk nafilah?
Jawab: Benar. Setiap shalat yang dinamakan shalat sunah termasuk nafilah karena istilah syara’ untuk sunah dalam perkara shalat adalah nafilah.
Tanya : Apa yang dimaksudkan dengan nafilah dalam perkara shalat berarti lawan dari fardhu?
Jawab: Maksudnya, setiap jumlah rakaat shalat di antaranya ada yang fardhu dan ada pula yang nafilah sebagai tambahan bagi yang fardhu. Ketika disebutkan bahwa jumlah rakaat suatu shalat itu fardhu, maka pada shalat yang lain disebut sunah atau nafilah. Dengan demikian, jumlah rakaat shalat itu ada yang fardhu, dan ada juga yang sunah atau nafilah.
Tanya: Apakah semua rakaat shalat sunah memiliki tingkat kekuatan yang sama dalam pelaksanaannya?
Jawab: Tidak. Di antara shalat sunah ada yang disebut sunah muakkad, seperti shalat sunah dua rakaat sebelum Subuh dan shalat Witir. Ada pula yang ghairu muakkadah (tidak termasuk muakkad) yang terbagi dua, yaitu shalat sunah yang rutin dan tidak rutin. Shalat sunah yang rutin seperti shalat-shalat sunah selain shalat Fajar dan shalat Witir. Di samping itu, shalat sunah yang tidak rutin, contohnya adalah shalat sunah Dhuha.
Tanya : Selama sunah dalam ibadah berarti nafilah, maka apa artinya selain dalam ibadah?
Jawab: Sunah dalam perkara selain ibadah berarti mandub, yaitu orang yang melakukan perbuatan mandub akan mendapat pujian. Adapun orang yang meninggalkannya tidak mendapat celaan, tapi melakukannya lebih utama daripada meninggalkannya.
Tanya : Apa yang dimaksud dengan Sunah Nabawiyah di luar pembahasan ibadah?
Jawab: Sunah Nabawiyah (Sunah Nabi) dalam konteks hukum syara’ berarti segala sesuatu yang berasal dari Rasul saw., baik berupa ucapan beliau (selain al-Quran), perbuatan beliau, maupun ketetapan-ketetapannya.
Tanya : Mengapa ketika meneladani Rasul saw. dibatasi pada perbuatannya saja?
Jawab: Meneladani atau mengikuti sesuatu berarti melihat dari perbuatan. Kata meneladani tidak berlaku pada mencontoh satu ucapan, tetapi yang diteladani itu adalah perbuatan yang dituntut oleh ucapan. Hal seperti ini bisa pula kita lihat dari ketetapan Rasul dan diamnya beliau terhadap satu peristiwa, jadi diamnya Rasul itu menuntut suatu perbuatan pula. Dengan demikian, maksud dari meneladani Rasul itu tercakup umum dalam firman Allah Swt.,“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik” (QS al-Ahzab [33]: 21).
Tanya: Apa yang dimaksud dengan perbuatan yang berhubungan dengan kebiasaan manusia dan fitrahnya, dan apa pula yang dimaksud dengan perbuatan yang berhubungan dengan kebiasaan Rasulullah saw?
Jawab: Yaitu, perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan tabiat manusia. Allah Swt. telah menciptakan manusia dalam bentuk seperti itu dan dibekali dengan fitrah, yang mengharuskan dia hidup seperti itu. Manusia diberikan sepasang kaki oleh Allah Swt. untuk berdiri dan berjalan, dan perbuatan ini merupakan hal yang biasa dilakukannya. Di samping itu, manusia memiliki anggota tubuh lain dengan fungsi masing-masing. Fungsi-fungsi tubuh tersebut merupakan hal yang biasa dilakukan manusia.
Tanya : Jika demikian, apa makna dari jibiliyah itu?
Jawab: Yaitu, sesuatu yang diciptakan pada manusia dan tidak terdapat pada makhluk lain. Perbuatan jibiliyah adalah sesuatu yang diciptakan dan menjadi kekhususan bagi manusia karena merupakan Qadha Allah Swt. Adapun kekhususan yang dimiliki manusia ini, termasuk Qadar yang telah ditetapkan Allah pada segala sesuatu.
Tanya : Mengapa perbuatan jibiliyah berlaku pada diri Rasul saw. dan juga pada umatnya?
Jawab: Perbuatan jibiliyah bukan perbuatan taklif, yang berakibat manusia akan dimintai pertanggung-jawabannya. Perbuatan jibiliyah termasuk Qadha dan Qadar dari Allah, dan tidak ada pengaruh manusia dalam hal mengubah atau menggantinya.
Tanya : Bukankah kemubahan yang diperuntukkan bagi Rasul dan juga bagi umatnya termasuk perbuatan yang berkaitan dengan hukum syara’?
Jawab: Tentu saja. Akan tetapi, kaitannya hanya sebatas perbuatan dan bukan yang lain. Adapun hukum dari perbuatan mubah ini bukan termasuk pembahasan pujian ataupun celaan. Karena itu, bagi orang yang ingin meneladani Rasul ketika beliau berdiri, duduk, makan, minum, dan yang lainnya, tidak ada kaitannya dengan pujian atau celaan.
Bagi seseorang boleh saja melakukan itu semua persis seperti Rasul melakukannya, tanpa ada sedikit pun pujian. Sebagaimana boleh saja dia tidak melakukannya, tanpa ada sedikit pun celaan baginya. Hal ini dengan tanpa memperhatikan orang yang berpendapat bahwa mencontoh Rasul dalam perbuatan jibiliyah ini sesuatu yang terpuji dan akan mendapat pahala, sekalipun ketika meninggalkannya tidak ada celaan.
Tanya : Apa yang dimaksud bahwa shaum wishal (berturut-turut tanpa berbuka) adalah perkara yang dikhususkan bagi Rasul saw?
Jawab: Perkara ini memang hanya diperuntukkan bagi beliau. Allah telah mengkhususkannya dan tidak berlaku bagi umat Rasul saw. sehingga ini merupakan tuntutan Allah kepada Rasul-Nya dan bukan bagi umatnya.
Tanya: Apa maksud dari sabda Rasul, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”?
Jawab: Kita diperintahkan untuk mengikuti Rasul dalam melaksanakan shalat, sama persis, baik dalam bentuk maupun tata caranya, tanpa menambah ataupun menguranginya.
Tanya: Apa maksud sabda Rasul,“Laksanakan manasik (haji)mu seperti manasikku”?
Jawab: Dalam melaksanakan ibadah haji, kita diperintahkan untuk mencontoh tata cara haji yang beliau lakukan.
Tanya: Apa yang dimaksud dengan perbuatan yang dijelaskan oleh qaraain al-ahwal?
Jawab: Yaitu, suatu perbuatan yang dijelaskan bukan dengan ucapan dan penjelasan kalimat, tetapi dengan sikap atau keterangan dari perbuatan tersebut. Contohnya, ketika Rasulullah saw. memotong tangan pencuri sebagai pelaksanaan dari perintah Allah. Beliau melakukannya dengan cara memotong tulang pergelangan tangan pencuri sebagai penjelasan dari pelaksanaan, bukan dengan ucapannya, melainkan beliau contohkan dengan perbuatan.
Tanya: Apa maksudnya perbuatan yang dijelaskan dengan ucapan ataupun indikasi (qorinah) mengikuti penjelasan Rasul?
Jawab: Maksudnya, jika perbuatan yang dijelaskan dengan qorinah itu adalah hal yang wajib, seperti memotong tangan pencuri, maka perbuatan itu menjadi wajib untuk dilakukan persis seperti Rasul melakukannya, yaitu memotong pergelangan tangan pencuri. Adapun jika perkara yang dijelaskan itu sesuatu yang mandub, seperti mengucapkan salam bagi orang yang sedang duduk, maka ucapan Rasul menjelaskan bahwa perbuatan itu juga mandub. Apabila perkara yang dijelaskan itu sesuatu yang mubah, seperti memakan daging biawak, maka ucapan Rasul menjelaskan bahwa perbuatan tersebut adalah mubah.
Tanya: Seperti apa gambarannya suatu qorinah (indikasi) menjelaskan perbuatan dengan cara menafikan atau menetapkan?
Jawab: Perbuatan Rasul saw. memotong pergelangan tangan pencuri merupakan qorinah yang menjelaskan perbuatan dengan jalan penetapan. Sementara itu, perbuatan Rasul yang mendiamkan para Sahabat ketika mereka makan daging biawak dan Rasul sendiri tidak memakannya merupakan qorinah adanya kemubahan daging biawak dengan cara penafian beliau terhadapnya dan penetapan beliau terhadap para Sahabatnya.
Tanya : Seperti apa gambaran perbuatan yang di dalamnya terdapat keinginan untuk ber-taqarrub dan yang tidak?
Jawab : Perbuatan yang di dalamnya terdapat keinginan untuk ber-taqarrub, misalnya orang yang melakukan shalat sunah Dhuha atau yang lainnya. Keinginan tersebut tampak jelas dari perbuatan yang dilakukannya. Akan tetapi, ketika seseorang memakan daging biawak–yang setiap orang belum tentu menyukainya–perbuatan itu sedikit pun tidak dihubungkan dengan taqarrub kepada Allah karena di dalam perbuatan ini tidak tampak keinginan untuk ber-taqarrub.
Tanya : Mengapa perbuatan yang ditujukan untuk taqarrrub ila Allah dikategorikan dalam perbuatan mandub saja , tidak kedalam fardhu dan juga mubah?
Jawab: Perbuatan yang ditujukan untuk taqarrub ila Allah memang tidak disertai dengan qarinah ataupun kalimat penjelasan. Apabila perbuatan tersebut disertai dengan salah satu yang disebutkan tadi, maka hukumnya akan mengikuti penjelasan tersebut dalam hal fardhu, mandub, atau mubah. Pada kenyataannya, perbuatan untuk taqarrub ila Allah ini termasuk perbuatan mandub, yang jika dilakukan akan mendapat pahala dan jika ditinggalkan, tidak mendapat celaan.
Tanya: Dengan demikian, dari mana hukum mandub itu berasal?
Jawab: Dari tampaknya keinginan untuk ber-taqarrub. Dalam perkara ibadah itu termasuk nafilah, seperti halnya shalat Dhuha, serta dalam hal yang mandub, seperti halnya memberi salam bagi orang yang sedang duduk.
Tanya : Sebagian fuqaha (ulama fikih) dan juga kaum Muslim berpandangan bahwa mengikuti dan meneladani Rasul saw. dalam gerakannya, diamnya, dan yang lainnya, termasuk kewajiban, apakah benar demikian?
Jawab: Sebagaimana penjelasan sebelumnya, meneladani Rasul dalam perbuatan yang mubah bagi manusia bukanlah perkara yang fardhu. Akan tetapi, ada yang termasuk perkara nafilah atau mandub, dan juga mubah. Semuanya mengikuti penjelasan yang menyertainya atau qarinah yang ada padanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: