Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

KEYAKINAN TERHADAP QADHA DAN QADAR

Pemaparan
Karena persoalan Qadha dan Qadar erat hubungannya dengan akidah, maka pandangan yang diberikan dan diskusi yang dilakukan mengenai persoalan ini harus dengan metode rasional–sebagaimana pembahasan sebelumnya–supaya keimanan yang lurus dan benar bisa dicapai. Metode rasional ini tidak menerima bukti-bukti filsafat dan logika mantik yang abstrak dan imajiner yang tidak berdasarkan fakta konkret dan terindra.
Asas pertama dalam akidah, yaitu keimanan terhadap eksistensi Allah al-Khaliq al-Mudabbir ditetapkan dengan metode rasional yang berlandaskan pada sesuatu yang terindra. Begitu pula asas kedua, yaitu mengimani al-Quran al-Karim sebagai risalah bagi seluruh manusia, serta asas ketiga, yaitu mengimani Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah Swt. bagi seluruh manusia dibangun berlandaskan pada sesuatu yang terindra pula.
Adapun perkara-perkara gaib yang terkandung dalam al-Quran dan Hadis Mutawatir sebagai asas keempat juga ditetapkan dengan metode rasional yang berlandaskan pada sesuatu yang terindra. Masih ada tersisa satu asas keimanan, yaitu masalah Qadha dan Qadar dan tentu saja pembahasannya harus ditempuh dengan cara yang sama, yaitu metode rasional yang berlandaskan pada sesuatu yang terindra dan menolak metode mantik atau filsafat karena semua itu bersifat dzann (persangkaan). Adapun akidah dasarnya harus sesuatu yang meyakinkan dan tidak akan sampai pada keyakinan selain sesuatu yang meyakinkan. Firman Allah Swt., “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tiada berguna sedikit pun terhadap kebenaran” (QS an-Najm [53]: 28).
Apakah mengimani Qadha dan Qadar merupakan perkara yang dituntut oleh al-Quran dan Hadis Mutawatir? Bagaimana munculnya masalah ini dan menjadi bagian dari Akidah Islam? Pendapat seperti apa yang memberi keyakinan dan kepastian, juga memberi ketenangan dalam jiwa dan dapat memuaskan akal yang menjadikan Qadha Qadar ini bagian dari Akidah Islam? Bagaimana masalah Qadha dan Qadar ini muncul dalam pemikiran Islam dan menjadi salah satu asas Akidah Islam? Selain itu, apakah al-Quran serta Hadis Mutawatir menuntut kaum Muslim untuk mengimani Qadha dan Qadar? Pertanyaan ini akan dijawab dalam bab berikut.
Setelah futuhat Islam (pembukaan daerah oleh kaum Muslim) makin luas, terjadilah benturan pemikiran yang amat keras antara kaum Muslim dengan penganut agama lain yang mengemban pemikiran filsafat Yunani. Hal ini menimbulkan keinginan yang kuat pada kaum Muslim untuk mendakwahkan Islam dengan berbekal senjata berupa filsafat saat melawan musuh mereka. Di samping itu, sudah menjadi ciri khas ajaran Islam yang memerintahkan untuk berdebat dengan musuh Islam, “Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS an-Nahl [16]: 125).
Dari perdebatan ini, lahirlah ilmu kalam dan ulama Mutakallimin. Mereka membela Islam dengan metode pembahasan, penetapan, dan penggalian dalil yang khas. Metode mereka menyalahi metode al-Quran, hadis, dan Sahabat, serta pada saat yang sama juga berbeda dengan metode filsafat Yunani. Perbedaan metode mereka dengan metode al-Quran; al-Quran berjalan di atas dasar fitrah dan akal yang berlandaskan pada sesuatu yang terindra, bukan pada logika abstrak dan filsafat khayali.
Sementara itu, perbedaan mereka dengan metode filsafat Yunani; filsafat Yunani bersandar pada bukti akal semata, sedangkan Mutakallimin mengambil bukti dengan dalil rasional untuk mengimani Allah, Rasul, dan Kitab-Nya. Jadi, kesalahannya adalah ketika mencari bukti, mereka bersandar pada logika mantik, bukan pada pengindraan sehingga bertentangan dengan Islam. Tidak terkecuali mereka pun membahas sesuatu yang di luar pengindraan, yaitu mengenai Zat Allah dan sifat-sifat-Nya.
Mereka menganalogikan Allah Swt. dengan manusia dan hal ini mustahil karena tidak ada sesuatu pun yang menyamai Allah Ta’ala. Dalam mengimani Allah, mereka bersandar pada akal semata, padahal seharusnya mereka bersandar pada sesuatu yang terindra yang dapat dijangkau akal. Seharusnya mereka bersandar pada apa yang tercantum dalam al-Quran dan Hadis Mutawatir, serta senjata yang mereka gunakan seharusnya diambil dari al-Quran dan Hadis Mutawatir, bukan dari manusia. Ringkasnya, mereka harus bersandar pada metode al-Quran ketika berdakwah; bersandar pada asas fitrah dan akal; serta pada hal-hal yang terindra saja.
Bagaimana masalah Qadha dan Qadar ini muncul dikalangan ulama kalam? Hal ini jelas dari sambutan mereka terhadap lontaran musuh Islam berupa pemikiran filsafat Yunani dan pertentangan mereka dalam membahas pemikiran yang dilontarkan. Masalah Qadha dan Qadar disebut juga masalah ‘jabr’ dan ‘ikhtiar’ (paksaan dan pilihan) atau masalah ‘kebebasan berkehendak’ yang semuanya bermakna sama, yaitu apakah manusia dipaksa melakukan perbuatannya dan meninggalkan perbuatannya. Semua ini berasal dari pemikiran filsafat.
Golongan Epikurisme (aliran filsafat Yunani) berpendapat adanya kebebasan memilih pada manusia, sedangkan golongan Stoisisme berpendapat adanya paksaan atas manusia dan dia tidak bebas memilih. Kaum Muslim menentang pembahasan mereka dengan bersandar pada sifat adil yang dinisbahkan kepada Allah Swt. Maka itu, munculah kelompok Mu’tazilah sebagai kelompok pertama dari kaum Muslim yang membahas persoalan ini, kemudian disusul oleh kelompok lainnya dalam rangka membantah pendapat Mu’tazilah.
Kelompok ini berpendapat bahwa Allah Swt. suci dari berbuat dzalim, mereka mengakui kebebasan berkehendak pada manusia dan kebebasan memilih untuk melakukan atau tidak melakukan satu perbuatan. Mereka menganalogikan Allah Swt. dengan manusia dan Allah Swt. dipaksa tunduk mengikuti aturan alam ini sebagaimana yang dilakukan oleh para filsuf Yunani. Kemudian, mereka menggali dalil dari al-Quran untuk menguatkan pendapatnya, serta menakwilkan ayat-ayat al-Quran yang tidak sejalan dengan pendapat mereka. Ayat yang mereka jadikan dalil adalah, “Dan tidaklah Allah menghendaki kedzaliman bagi hamba” (QS Al-Mu’minun [23]: 31) dan banyak ayat lainnya. Ayat yang mereka takwilkan misalnya, “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, serta penglihatan mereka ditutup” (QS al-Baqarah [2]: 7).
Mereka berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri dengan dalil, “ Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS al-Muddatstsir [74]: 38). Selain itu, mereka takwilkan ayat, “Padahal, Allahlah yang telah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS ash-Shaaffaat [37]: 96). Mereka juga berpendapat bahwa apa yang terlahir dari perbuatan manusia seperti rasa sakit karena pukulan atau terpotong oleh pisau adalah termasuk perbuatan manusia karena yang memunculkannya adalah manusia.
Pendapat Mu’tazilah ini membangkitkan perasaan kaum Muslim lain untuk memelihara akidah, mereka menentang dan menolak Mu’tazilah. Datanglah kelompok Jabariyah yang menolak mentah-mentah pendapat tersebut. Mereka katakan bahwa manusia itu dipaksa, tidak punya kehendak dan kekuasaan untuk menciptakan perbuatannya, serta Allah Swt. yang telah menciptakan perbuatan manusia. Mereka menggali dalil dari banyak ayat, di antaranya, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah”(QS at-Takwiir [81]: 29). “Padahal, Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS ash-Shaaffaat [37]: 96).
Mereka menakwilkan ayat lain yang bertentangan dengan pendapat mereka. Kelompok Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa seluruh perbuatan manusia sesuai dengan kehendak dan keinginan Allah Swt. Ketika mereka merasa pendapatnya bertolak belakang dengan Jabariyah, mereka menafsirkan kata ‘iradah’ dan ‘masyiah’ bahwasanya Allah Swt. menginginkan kekufuran pada orang kafir dan kefasikan pada orang fasik sesuai dengan pilihan mereka tanpa ada paksaan. Mereka menafsirkan makna perbuatan berasal dari Allah Swt. di atas tangan manusia yang maksudnya adalah Allah Swt. telah menciptakan perbuatan, tetapi manusia yang menjalankan perbuatan itu.
Kelompok Ahlus Sunnah ini menjelaskan bahwa manusia mengupayakan perbuatan ketika iradah dan kekuasaan Allah menuju pada manusia. Allah Swt. menciptakan perbuatan itu sesuai iradah-Nya dan pada saat yang sama Allah Swt. menghadapkan iradah itu kepada manusia. Mereka menggali dalil dari ayat yang sama dengan kelompok Jabariyah, yaitu firman Allah Swt. dalam surat al-Baqarah (2) ayat 286, “ Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. Ayat ini mereka jadikan dalil bahwa al-kasbu (usaha) itu datang dari hamba, sementara itu dalil tentang penciptaan perbuatan itu dari Allah Swt. adalah ayat yang digunakan oleh kelompok Jabariyah.
Namun, mereka menganggap dirinya berbeda dengan Mu’tazilah dan Jabariyah, padahal sebenarnya pendapat mereka sama persis dengan Jabariyah. Sesungguhnya tidak ada satu dalil pun yang menjelaskan masalah al-kasbu (usaha) hamba, baik dalil akli maupun naqli karena pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah ini tidak lebih dari upaya mengompromikan pendapat Mu’tazilah dan Jabariyah.
Para ulama Kalam (Mutakallimin) telah membuat topik pembahasan Qadha dan Qadar ini mengenai perbuatan hamba dan apa yang terlahir dari perbuatan itu berupa karakter yang ada pada perbuatan. Mereka mempersoalkan apakah perbuatan yang dilakukan manusia berikut karakter yang ada di dalamnya itu diciptakan oleh Allah Swt. atau oleh manusia? Apakah perbuatan itu terjadi karena keinginan Allah Swt. atau keinginan manusia? Mereka membicarakan semua ini berdasarkan filsafat Yunani. Karena itu, dari sini ditentukan batasan masalah Qadha dan Qadar itu adalah perbuatan hamba dan karakter yang ada dalam suatu benda yang ditimbulkan manusia dari perbuatannya. Qadha berkaitan dengan perbuatan hamba dan qadar berkaitan dengan karakteristik benda.
Setelah pendapat Mu’tazilah mulai surut dan didominasi oleh Ahlus Sunnah, perdebatan lebih condong pada pendapat Ahlus Sunnah. Pendapat Ahlus Sunnah terbagi menjadi dua, sebagian mereka melarang pembahasan Qadha Qadar dengan alasan Hadis Rasul saw., “Apabila disebut tentang qadar, hendaklah kalian diam”. Sebagian lagi mengatakan ada perbedaan antara Qadha dan Qadar. Qadha adalah hukum global pada sesuatu yang global, sedangkan Qadar adalah hukum parsial pada sesuatu yang parsial.
Pendapat lainnya tentang Qadha itu adalah perencanaan dan Qadar adalah pelaksanaan. Ada pula yang berpendapat Qadar itu takdir, sedangkan Qadha adalah penciptaan. Di antara mereka ada yang menggabungkan Qadha dan Qadar, serta menjadikan Qadar sebagai landasan, sedangkan Qadha adalah bangunan yang ada di atasnya. Di samping itu, sebagian dari mereka ada yang memisahkan kata Qadha dan Qadar. Namun, yang penting adalah pembahasan Qadha dan Qadar ini telah menjadi pembahasan akidah dan menjadi salah satu rukunnya. Dengan demikian, sangat perlu untuk menggunakan metode rasional ketika membahasnya agar sampai pada pendapat yang meyakinkan.
Kembali pada pendapat Mutakallimin tentang makna Qadha dan Qadar, kita dapati mereka telah jauh keluar dari makna bahasa dan makna dari nas syar’i. Kata Qadha dan Qadar mengandung banyak makna. Kata qadha secara bahasa artinya membuat sesuatu, memutuskan perkara, dan melaksanakan perintah. Secara syar’i, qadha bermakna menetapkan, memerintah, mengharuskan, dan memutuskan. Tidak ada qadha yang bermakna hukum Allah pada sesuatu yang global ataupun makna qadar adalah hukum Allah pada sesuatu yang parsial.
Adapun qadar menurut bahasa berarti mengatur, mempersiapkan, membandingkan, mengagungkan, memutuskan, membagi, dan mempersempit. Makna syar’i qadar sama dengan makna bahasanya. Jelas bagi kita apa yang dimaksud dengan kata Qadha dan Qadar yang ada dalam ayat-ayat al-Quran dan Hadis, yaitu takdir dan ilmu Allah Swt., serta tidak ada hubungannya dengan makna yang dimaksud oleh ulama kalam. Adapun ucapan Rasul saw., “Apabila disebut tentang qadar, hendaklah kalian diam”, ini berarti apabila disebut tentang ilmu Allah dan takdir-Nya bagi sesuatu, jangan kalian libatkan diri kalian untuk membahasnya karena itu termasuk sifat dari Allah Swt. yang wajib diimani dan diterima karena Allah swt. berfirman, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” (QS asy-Syuura [42]: 11). Demikian pula ucapan Sahabat, “Segala sesuatu menurut qadarnya”, berarti takdir itu dari Allah Swt. dan atas ilmu-Nya. Begitu pula, ucapan Rasul saw., “Katakanlah, Allah telah menetapkan sesuatu dan apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi”, artinya Allah Swt. telah menuliskannya di Lauhul Mahfudz, yaitu ilmu-Nya.
Merujuk pada sumber hukum syara’ di masa seluruh Sahabat ra, kita mendapati di masa mereka dan sepanjang abad pertama hijriah, kaum Muslim tidak mengenal pembahasan Qadha dan Qadar sebagai gabungan dua kata. Adapun yang ada adalah kata qadha saja dan qadar saja. Rasul saw. dalam doa qunut berkata, “ Jauhkanlah dariku keburukan yang telah engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkaulah pemberi ketetapan sehingga tidak ada sesuatu yang dapat ditetapkan seseorang terhadap apa yang menjadi ketetapan-Mu, artinya jauhkan dariku keburukan yang telah ditetapkan. Ucapan Rasul,“Katakanlah, Allah telah menetapkan sesuatu dan apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi” ini bermakna takdir dan ilmu Allah. Lebih dari itu, telah ada makna bahasa dan makna syar’i untuk kedua kata ini sehingga bertambah kuatlah bahwa tidak ada hubungan keduanya dengan masalah qadha dan qadar.
Dengan demikian, yang harus diperhatikan adalah membatasi makna dua kata itu pada makna bahasa dan makna syar’i, serta membuang makna yang berasal dari filsuf Yunani dan ulama kalam. Adapun topik atau masalah Qadha dan Qadar sebagai gabungan dua kata adalah tentang perbuatan manusia dan karakteristik benda. Pembahasan masalah ini harus dilandaskan pada asas yang dapat membuahkan hasil yang semestinya, serta bukan pada dugaan dan khayalan.
Ini berarti penting bagi kita untuk memaparkan pandangan seputar filsafat dan mantik khususnya karena tidak satu pun nas Syar’i yang mengungkapkan masalah qadha dan qadar sebagai rahasia Allah. Masalah qadha dan qadar dapat diindra sehingga harus dibahas dan diberikan pandangan akal yang berdasarkan fakta karena hal ini berkaitan dengan keimanan terhadap Allah dan menjadi bagian dari pembahasan akidah.
Ketika mendalami masalah ini, tampak jelas yang menjadi dasar pembahasannya adalah pahala dan siksa atas perbuatan manusia, tidak ada yang lain. Hal ini akan segera tampak dalam penjelasan tiga bab selanjutnya.
Diskusi
Tanya: Apa yang dimaksud dengan benturan keras yang terjadi antara kaum Muslim dengan penganut agama lain yang menjadi musuh mereka?
Jawab: Perlawanan terhadap kaum Muslim dan negara mereka dengan menggunakan senjata, seperti halnya yang dilakukan oleh sekelompok aliran Syi’ah ataupun yang lainnya. Mereka memberi pengaruh kepada kaum Muslim dengan pemikiran-pemikiran filsafat yang jauh dari Islam. Adapun kelompok Khawarij mereka adalah sekelompok Muslim dan seandainya permusuhan mereka tidak beralih pada kontak senjata terhadap negara, niscaya pemikiran mereka tetap hidup di tengah kaum Muslim. Kisah mereka terhenti di masa kerajaan ‘Amman.
Tanya : Dalam al-Quran, Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahlul Kitab selain dengan cara yang lebih baik” (QS al-‘Ankabut [29]: 46). Lalu, senjata apa yang dipergunakan?
Jawab: Khilafah Islam tidak pernah menggunakan senjata ketika menghadapi perang pendapat, kecuali ketika memerangi kemurtadan dan ketika terjadi kerusakan di muka bumi oleh kekuatan senjata karena hal ini diperintahkan oleh syara’
Tanya: Bagaimana metode al-Quran yang berlandaskan pada fitrah dan akal dalam menyikapi suatu fakta yang terindra?
Jawab: Fitrah manusia telah mengakui adanya Pencipta. Al-Quran telah menyeru dan memberi isyarat pada fitrah agar mengimani sesuatu yang diyakini dengan mengaitkannya pada bukti-bukti rasional yang didasarkan pada pemberian jawaban terhadap satu peristiwa yang terindra, ataupun pada makhluk hidup dan benda mati yang diakui semuanya oleh fitrah, bahwa ada Pencipta yang telah menciptakan dan mengatur mereka.
Tanya: Bagaimana perbedaan metode mantik dengan metode al-Quran?
Jawab: Mantik berpegang pada asumsi-asumsi akal semata tanpa memperhatikan fakta yang terindra. Sebagai contoh, bahwasanya perkataan manusia itu adalah sifat bagi manusia, perkataan menjadi makhluk karena manusia adalah makhluk, kemudian lahirlah kesimpulan bahwa al-Quran itu berupa perkataan, jadi al-Quran dianggap makhluk.
Inilah kesimpulan mantik yang tidak disandarkan pada sesuatu yang terindra karena al-Quran telah dipastikan dengan bukti akal di atas sesuatu yang terindra bahwa ia adalah Kalamullah dan menjadi satu dari sekian sifat Allah Swt. Kesimpulan mantik seperti itu harus ditolak karena bertentangan dengan firman Allah Swt, “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia” (QS asy-Syuura [42]: 11).
Tanya: Apa maksud dari pendapat Epikurisme tentang kebebasan memilih pada manusia dan siapa yang terpengaruh oleh pendapat seperti itu?
Jawab: Artinya adalah manusia bebas untuk memilih dalam melakukan perbuatan atau tidak. Tidak ada sesuatu pun yang menguasai keinginannya saat dia berbuat. Kelompok Mu’tazilah telah terpengaruh oleh pendapat ini.
Tanya : Apa maksud dari pendapat Stoisisme tentang adanya paksaan dan tidak bebas memilih pada manusia, serta siapa yang terpengaruh oleh pendapat ini?
Jawab: Artinya, manusia dipaksa untuk melakukan atau tidak melakukan satu perbuatan, dia tidak memiliki keinginan dan kehendak dalam melakukan perbuatan atau tidak. Manusia diibaratkan bulu yang diembus angin. Kelompok Jabariyah telah terpengaruh oleh pendapat ini.
Tanya: Bagaimana kaum Muslim menyandarkan pendapatnya pada sifat adil Allah Swt. ketika mereka berselisih pendapat dengan ulama kalam dan para filsuf?
Jawab: Mereka mengatakan bahwa Allah Swt. itu adil, serta keadilan-Nya bersifat mutlak tidak pernah berlaku dzalim pada siapa pun. Karena itu, Mu’tazilah berpendapat bahwa manusia bebas memilih dalam melakukan perbuatan atau tidak, lalu manusia memikul tanggung jawab atas perbuatannya. Mu’tazilah menolak pendapat Jabariyah karena bertentangan dengan keadilan Allah Swt. Sementara itu, Jabariyah menakwilkan nas-nas agar sesuai dengan makna adil yang dinisbahkan kepada Allah Swt. sebagai analogi terhadap keadilan manusia.
Tanya : Mengapa ulama Kalam tidak memperhatikan adanya pahala dan siksa, padahal mereka memperhatikan sifat adil pada Allah Swt.?
Jawab: Karena mereka mencari jawaban pada pemikiran filsafat, kemudian mereka berusaha menemukan dalil-dalil syar’i yang mendukung pendapat mereka. Al-Quran tidak dijadikan asas pembahasan, tetapi filsafat Yunani sebagai asasnya. Mereka tidak merujuk pada al-Quran selain mencari legalitas bagi pendapat mereka.
Tanya: Tidakkah perdebatan masalah Qadha dan Qadar ini dapat dianggap sebagai sikap ikut-ikutan terhadap pendapat para filsuf?
Jawab: Untuk mengetahui dasar persoalan ini, pembahasan tentang Qadha dan Qadar jangan dianggap sebagai sikap ikut-ikutan, tapi untuk menghasilkan kepastian dan agar persoalan ini ditempatkan secara benar. Karena inilah, yang akan menjauhkan Akidah Islam dari bahaya, serta akan membersihkan kaum Muslim dari fitnah yang keji.
Adapun jika pembahasan ini dianggap sebagai penolakan, maka itu benar diliihat dari membantah masalah sebelumnya. Namun, saat kita melihat masalah ini sebagai pembahasan akidah, kita tidak boleh meninggalkannya, tetapi harus memberikan pendapat dan sikap. Hal ini karena akidah adalah asas seluruh pemikiran dan hukum sehingga menjadi wajib untuk mengambil akidah dengan cara yang benar. Perdebatan ini yang bisa mewujudkan kewajiban memelihara akidah karena, “Tidak sempurnanya suatu kewajiban kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib”.
Tanya: Dari mana kita mendapat gambaran bahwa persoalan Qadha dan Qadar bersifat rasional dengan faktanya yang terindra?
Jawab: Dalam hubungan ini karena dasar pembahasan Qadha dan Qadar dikaitkan dengan perbuatan manusia dan karakteristik benda yang faktanya terindra, serta dikaitkan pula dengan pahala dan siksa yang terkait dengan perbuatan manusia yang juga merupakan sesuatu yang dapat diindra.

Bagian 2
Pemaparan
Apabila kita memperhatikan sejumlah ayat dalam al-Quran yang dijadikan dalil masalah Qadha dan Qadar, kebanyakan dijadikan orang sebagai dasar bahwa manusia itu dipaksa oleh keinginan dan kehendak Allah untuk melakukan perbuatan. Di samping itu, Allahlah yang menciptakan perbuatan manusia. Mereka tidak hanya mencukupkan dengan apa yang ditunjukkan oleh ayat tentang ajal ditangan Allah Swt. Seperti, “ Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang tertentu waktunya” (QS Ali ‘Imran [3]: 145) dan ayat, “Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS al-A’raaf [7]: 34).
Namun, mereka menggunakan dalil ayat lain mengenai paksaan atas perbuatan manusia. Misalnya, ayat, “Tidak ada satu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS al-Hadiid [57]: 22), firman-Nya dalam surat at-Taubah (9) ayat 51, “Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanyalah kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal”, dan firman Allah Swt. dalam surat Saba’ (34) ayat 3, “Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan di bumi, serta tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, selain tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)”. Selain itu, dalam surat al-An’aam (6) ayat 60, “Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allahlah kami kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan” dan dalam surat an-Nisaa (4) ayat 28, “Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, ‘Ini adalah dari sisi Allah’, dan kalau mereka ditimpa satu bencana, mereka mengatakan, ‘Ini datangnya dari sisi kamu (Muhammad)’. Katakanlah, ‘Semuanya datang dari sisi Allah’. Maka itu, mengapa mereka (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun”. Di samping itu, juga firman-Nya, “Padahal Allahlah yang telah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS ash-Shaffaat [37]: 96).
Mereka berusaha memperkuat pendapat dengan hadis-hadis seperti sabda Rasul saw., “Ruhul Qudus (Jibril as) telah berbisik padaku, ‘Tidak akan pernah mati seseorang hingga dipenuhi rezeki, ajal, dan apa yang telah ditakdirkan baginya”.
Dengan nas-nas tersebut kelompok Jabariyah menggali dalil bahwa Allah Swt. yang telah menciptakan hamba dan apa yang dilakukannya. Manusia dipaksa dalam perbuatannya dan tidak diberi pilihan. Berbeda dengan Jabariyah, Mu’tazilah berpendapat bahwa manusia yang telah menciptakan perbuatannya dan tidak ada satu pun yang mencampuri keinginannya. Dengan demikian, manusia memikul tanggung jawab dan perhitungan atas perbuatannya. Di antara dua pendapat yang bertolak belakang ini muncul pendapat ketiga yang datang dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menjelaskan bahwa manusia mempunyai ‘kasb ikhtiari’ (bagian yang diupayakan) dalam perbuatannya dan dia akan dihisab atas hal itu.
Sejauh mana kedetailan dan kebenaran masalah Qadha dan Qadar menurut pandangan Ahlus Sunnah? Untuk itu kita perlu mengetahui apa yang menjadi dasar dalam pembahasan masalah ini, yaitu sebagai berikut.
Apakah manusia yang telah menciptakan perbuatannya ataukah Allah?, apakah Allah mengetahui bahwa manusia akan melakukan satu perbuatan dan apakah ilmu Allah meliputi hal itu?, apakah perbuatan manusia bergantung pada iradah Allah dan iradah itu megharuskan adanya perbuatan tadi?, serta apakah perbuatan manusia itu telah dituliskan pada Lauhul Mahfuzh dan tulisan tersebut mengikat manusia untuk melakukan perbuatannya?
Ringkasnya, apakah asas pembahasan Qadha dan Qadar itu adalah qudrah (kekuasaan) Allah Swt. untuk menciptakan manusia beserta perbuatannya, ataukah asasnya adalah ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, ataukah iradah Allah yang berhubungan dengan semua yang ada, serta apakah asasnya itu Lauhul Mahfuzh yang dituliskan segala sesuatu?
Saat kita mendalami masalah ini tampak dengan jelas bahwa asas pembahasan bukanlah semua yang telah disebutkan di atas. Semestinya asas itu berkaitan dengan topik pahala dan siksa bagi perbuatan, serta asas ini menentukan siapa yang bertanggung jawab dalam satu perbuatan. Artinya, apakah manusia itu terikat atau bebas dalam melakukan perbuatan, yang baik ataupun buruk, serta apakah manusia mempunyai pilihan dalam melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan, ataukah dia dipaksa dalam hal ini?
Sekarang kita akan membahas peranan manusia dan kaitannya dengan perbuatan yang berasal darinya atau yang menimpanya untuk melihat sejauh mana tanggung jawab manusia terhadap perbuatan yang dilakukannya dan dia menanggung hisab atas perbuatannya itu. Kita menemukan ada dua jenis perbuatan, yaitu perbuatan yang dilakukan karena pilihan manusia, serta perbuatan yang terjadi dari manusia dan yang menimpa manusia tanpa ada pilihan.
Perbuatan yang dilakukan dengan pilihan manusia adalah sejumlah perbuatan yang manusia menjadi pengendalinya dan dia berbuat sesuai dengan keinginannya atau ada peran manusia yang sempurna di dalamnya. Sama saja apakah perbuatan itu sesuai dengan Syariat Allah Swt. atau syariat lainnya. Jenis perbuatan ini terbagi dua sebagai berikut.
Pertama, perbuatan yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan naluri dan jasmaninya secara langsung. Seperti kebutuhan naluri beragama dipenuhi manusia dengan melakukan shalat; naluri baqa’ dipenuhi dengan memiliki harta; naluri seksual dipenuhinya dengan melakukan hubungan seksual; serta rasa laparnya dipenuhi dengan makan; dan lain-lain.
Kedua, perbuatan yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya secara tidak langsung. Yaitu, ketika manusia membuat dan mengadopsi syariat tertentu yang mengatur cara pemenuhan kebutuhannya. Apakah syariat ini dibuat oleh akal dan pemikirannya atau diadopsi dari syariat yang sudah ada yaitu Syariat Allah Swt.
Pada setiap perbuatan itu kita menemukan bahwa manusia melakukan perbuatan atau tidak melakukan perbuatannya kapan saja diinginkan, tidak ada campur tangan dari luar terhadap keinginannya itu ketika dia melakukannya atau tidak.
Adapun perbuatan yang terjadi tanpa ada pilihan manusia adalah sejumlah perbuatan yang tidak dikendalikan dan dikuasai olehnya. Tidak ada kehendak manusia ketika perbuatan itu terjadi dan manusia tidak kuasa untuk menolaknya. Perbuatan ini terbagi dua sebagai berikut.
Pertama, perbuatan yang termasuk Nidzamul Wujud yang ada pada alam semesta, manusia, dan kehidupan. Seseorang hidup dan beraktivitas di alam ini mengikuti aturan yang telah ditentukan. Gaya tarik bumi (gravitasi) geraknya juga ditentukan. Contoh lain pada manusia, kemampuan usahanya untuk memenuhi kebutuhan telah ditentukan, perkembangan dan pertumbuhannya juga telah ditentukan. Perbuatan yang termasuk Nidzamul Wujud ini terjadi tanpa ada upaya dan keinginan dari manusia, dia dipaksa untuk menerimanya tanpa ada pilihan. Manusia tidak bisa menolak gravitasi atau terbang di udara tanpa menggunakan alat, dia tidak bisa untuk mencampuri kedatangannya ke dunia dan kepergiannya nanti, serta dia juga tidak bisa menentukan bentuk tubuh ataupun warna kulitnya. Sebagai makhluk, manusia tidak punya pengaruh sedikit pun dalam semua itu. Allahlah yang telah menciptakan Nidzamul Wujud, dan dengan hal itu Dia mengatur alam ini selamanya.
Kedua, perbuatan yang tidak termasuk Nidzamul Wujud, tetapi berasal dari manusia, dengan tanpa keinginan dan pilihannya. Contohnya, ketika seseorang bermaksud menembak seekor burung, tapi salah sasaran dan mengenai orang lain. Contoh lain, seseorang yang tidur di atas menara, kemudian jatuh dan menimpa orang lain hingga meninggal. Dari sisi terjadinya perbuatan itu, tanpa ada kehendak dari manusia. Adapun perbuatan yang menimpa manusia dan dia tidak kuasa untuk menolaknya contohnya adalah orang yang terbunuh oleh si penembak burung dan orang yang berada di bawah menara.
Setelah kita memperhatikan dua jenis perbuatan ini, nyatalah bahwa manusia berada di bawah penguasaan perbuatan itu. Selain itu, manusia tidak punya kehendak dan keinginan dalam menciptakan perbuatan yang termasuk dalam Nidzamul Wujud atau dalam perbuatan yang tidak kuasa dia menolaknya, yaitu selain yang termasuk dalam Nidzamul Wujud. Kedua macam perbuatan inilah, yang dinamakan Qadha. Karena itu, Allah Swt. sajalah yang menetapkannya, yaitu memerintahkan terjadinya perbuatan itu tanpa campur tangan manusia. Dalam lingkup perbuatan seperti ini, seorang hamba tidak akan dimintai pertanggung- jawaban atas perbuatan-perbuatan yang menimpanya, baik bermanfaat atau tidak, buruk atau baik, ataukah perbuatan itu menurut kemampuan akalnya dirasakan baik atau buruk. Manusia hanya diminta untuk menerima dan mengimani bahwa semua itu berasal dari Allah Swt. selama manusia mengimani Allah sebagai Khalik dan Pengatur.
Diskusi
Tanya: Apakah kematian dan ajal termasuk pembahasan Qadha dan Qadar, padahal itu bukan perbuatan manusia?
Jawab: Ya, benar. Maut dan ajal merupakan perbuatan nyata yang menimpa manusia dan harus ada penentuan sejauh mana tanggung jawab manusia terhadapnya, dan hal ini mendukung masalah Qadha dan Qadar.
Tanya: Apakah tulisan yang tercantum dalam ayat-ayat yang mulia itu termasuk dalam masalah Qadha dan Qadar, padahal itu semua dinisbahkan kepada Allah Swt?
Jawab: Ya, benar. Ayat-ayat itu berkenaan dengan perbuatan yang berasal dari manusia dan perbuatan yang menimpa manusia.
Tanya: Bagaimana ilmu Allah Swt. bisa masuk dalam pembahasan Qadha dan Qadar?
Jawab: Ilmu Allah Swt. meliputi segala sesuatu, baik perbuatan maupun benda, sebelum adanya dan sesudahnya, ini termasuk hubungan perbuatan manusia dengan Allah. Karena itu, perlu ada pengetahuan tentang sejauh mana pengaruh ilmu ini terhadap perbuatan manusia untuk menentukan tanggung jawab manusia terhadapnya.
Tanya: Apa makna ayat yang mengatakan bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpa manusia berasal dari sisi Allah Swt?
Jawab: Artinya, Allah Swt. itu Pencipta dan Pengatur yang berkuasa atas segalanya. Kekuasan Allah Swt. itu mutlak dan Dia menciptakan manusia dengan bentuk seperti itu, kemudian mengatur dan memberinya aturan. Seandainya terjadi suatu perbuatan, manusia akan menafsirkannya dengan baik atau buruk menurut apa yang membawa manfaat atau mudharat kepadanya. Sesungguhnya perbuatan tersebut berasal dari Allah, di samping itu merupakan qadha yang manusia tidak punya peranan dan keinginan untuk membuatnya, serta tidak kuasa untuk menolaknya.
Tanya : Kesalahan apa yang ada pada pendapat kelompok Jabariyah, Mu’tazilah, dan Ahlus Sunnah, padahal mereka berusaha menentukan hubungan manusia dengan perbuatannya dan tanggung jawab manusia terhadap perbuatannya?
Jawab: Kesalahannya adalah mereka berhenti pada topik kekuasaan Allah dalam menciptakan, ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu dan ketentuan-Nya yang tercatat di Lauhul Mahfuzh, serta adanya iradah dan kehendak Allah yang dikaitkan dengan perbuatan hamba. Mereka membatasi persoalan perbuatan manusia dalam hubungannya dengan bagaimana manusia mewujudkan perbuatan itu dan bagaimana dia dapat menolaknya ketika perbuatan itu terjadi.
Mereka tidak memperhatikan adanya hubungan perbuatan manusia dengan pahala dan siksa. Jika mereka memperhatikan hal itu dan memasukkannya dalam cakupan keimanan, niscaya Jabariyah tidak akan punya pendapat seperti itu. Ringkasnya, Allah Swt. tidak berlaku adil apabila Dia membagi manusia secara paksa, ada yang masuk surga dan ada yang ke neraka. Sehubungan dengan ini manusia menurut mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan-perbuatannya.
Begitupun Mu’tazilah tidak akan berpendapat seperti itu, yang intinya adalah mereka telah menghilangkan dan mengingkari banyak nas syara’ yang menetapkan bahwa manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya dan perbuatan yang menimpanya. Pada dasarnya manusia tidak bisa mencegah ada atau tidaknya perbuatan tersebut.
Demikian pula Ahlus Sunnah tidak akan berpendapat seperti yang mereka katakan, yang intinya adalah mereka memperhatikan pendapat-pendapat dari dua kelompok sebelumnya, kemudian mereka menolaknya. Namun, penolakannya tidak menggunakan pendapat yang berbeda ataupun dalil, tetapi menggabungkan pendapat Mu’tazilah dan Jabariyah. Sementara itu, yang wajib bagi mereka adalah memberi batasan dasar persoalan Qadha dan Qadar sebagai patokan.
Tanya : Bukankah asas masalah yang diajukan oleh ketiga kelompok itu adalah tanggung jawab manusia terhadap perbuatan-perbuatannya?
Jawab: Asas masalah yang dibicarakan ketiga kelompok ini adalah tanggung jawab manusia dalam menciptakan dan mengadakan perbuatan bukan pahala dan siksa atas perbuatan. Seandainya mereka memperhatikan asas ini, niscaya mereka tidak berpendapat demikian.
Tanya: Mereka mengatakan akan ada perhitungan dan pertanggung jawaban manusia saat menciptakan perbuatan, bukankah ini berarti ada pahala dan siksa?
Jawab: Kita kesampingkan dulu pendapat Jabariyah karena mereka tidak mengenal adanya perhitungan, selama manusia dalam keadaan dipaksa untuk melakukan perbuatan dan tidak punya iradah. Kita lihat pendapat dua kelompok lainnya, mereka mengisyaratkan adanya perhitungan, namun tidak dijadikan asas pembahasan masalah ini. Asas yang mereka buat adalah tanggung jawab manusia dalam melakukan atau tidak melakukan perbuatan. Jadi, isyarat adanya perhitungan merupakan kesimpulan saja, bukan menjadi asas masalah.
Tanya: Apa perbedaan antara perbuatan yang dilakukan manusia karena keinginannya dengan perbuatan yang manusia hanya terlibat di dalamnya?
Jawab: Perbuatan yang dilakukan sendiri oleh manusia adalah perbuatan yang murni sesuai dengan kehendak dan pilihannya. Adapun perbuatan yang manusia hanya terlibat di dalamnya adalah perbuatan yang dilakukan oleh yang lain. Manusia tidak turut campur tangan dalam pelaksanaannya, tetapi terjadi keinginan yang sama antara dia dengan yang lain untuk melakukan perbuatan itu.
Tanya : Mengapa ada pendapat yang mengatakan bahwa ada campur tangan dalam keinginan manusia?
Jawab: Orang yang berpendapat seperti itu mengatakan atau menggambarkan adanya campur tangan faktor luar dalam keinginan manusia karena posisi manusia sebagai makhluk, seperti yang dikatakan kelompok Jabariyah.
Tanya : Apa yang dimaksud dengan Nidzamul Wujud?
Jawab: Nidzamul Wujud adalah aturan yang dibuat Pencipta untuk makhluk-makhluknya, yaitu untuk alam semesta, manusia, dan kehidupan. Allah Swt. menciptakan mereka dan membuatkan aturan yang harus dijalankan tanpa ada penyimpangan. Contohnya, semua bintang berjalan pada orbitnya masing-masing yang telah ditentukan mengikuti hukum alam.
Selain itu, misalnya setiap benda yang ada di alam ini memiliki karakteristik yang khas dan berbeda satu dengan yang lain. Begitu pula manusia diciptakan Allah Swt. dengan bentuk fisik dan anggota tubuhnya yang masing-masing telah diberi aturan tertentu sesuai dengan hukum alam. Allah Swt. menciptakan kehidupan pada makhluk dengan memberinya roh, serta hidup matinya makhluk bergantung pada adanya roh ini.
Allah Swt. telah menentukan pengaturan pada makhluk sehingga tumbuh sempurna dan menjadi matang selama roh tetap ada padanya. Makhluk ini akan mati dan hancur karena kepergian roh, sebagaimana dia dapat bergerak dengan batas yang telah ditentukan selama masih hidup. Itulah makna Wujud (yang ada) yaitu, alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta seperti itulah Nidzam (aturan) yang ditentukan baginya.
Tanya : Mengapa saat menjelaskan persoalan ini, pembicaran dibatasi pada manusia saja dan melewatkan makhluk hidup lainnya?
Jawab: Karena manusia adalah makhluk hidup yang paling sempurna, sebagaimana firman Allah Swt., “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS at-Tiin [95]: 4). Ayat ini menggambarkan realitas yang ada.
Tanya : Apabila mungkin bagi manusia untuk melawan gaya gravitasi, kemudian dia dapat terbang di angkasa dengan pesawat, mengapa kita menganggap Nidzamul Wujud pada sisi ini sebagai sesuatu yang mengikat?
Jawab: Maksud dari ucapan bahwa manusia itu diatur dan dipaksa atas perbuatannya dalam lingkaran Nidzamul Wujud adalah bahwa manusia dengan tubuhnya dipaksa untuk berjalan di atas bumi dan tidak bisa terbang, namun jika dia terbang menggunakan pesawat, maka dia telah mengambil sisi lain yang bukan masuk dalam Nidzamul Wujud. Akan tetapi, termasuk perbuatan yang dilakukan manusia di alam ini, yaitu terbang bukan dengan tubuhnya sendiri, melainkan dengan pesawat. Dia melakukan hal itu tanpa paksaan, tapi karena keinginan yang ada pada dirinya.
Tanya : Apa maksud dari tidak adanya peranan manusia pada saat kedatangannya di dunia (lahir) dan kepergiannya (wafat)?
Jawab: Kelahiran dan kematian adalah aktivitas yang tidak ada campur tangan manusia di dalamnya. Keduanya adalah Qadha yang berlaku baginya.
Tanya: Mengapa perintah Allah Swt. dalam mewujudkan perbuatan dibatasi pada Qadha saja, padahal setiap perbuatan itu tidak keluar dari perintah Allah Swt?
Jawab: Perbuatan Qadha diberi nama demikian karena tidak ada campur tangan dari kehendak atau keinginan manusia. Adapun perbuatan yang diinginkan manusia terjadi karena peranan manusia dan kehendaknya, dalam hal ini tidak ada paksaan dari Allah Swt.
Tanya : Apakah itu berarti adanya atau terjadinya perbuatan baik dan buruk itu dari Allah Swt?
Jawab: Benar. Selama penafsiran manusia terhadap baik dan buruk itu sesuai kondisi yang menimpanya berupa manfaat dan mudharat. Sementara itu, apakah penafsiran ini benar atau salah, maka hal itu mengikuti Allah Swt. yang telah mengadakan dan menjadikan perbuatan ketika perbuatan itu termasuk ke dalam Qadha dan Qadar. Berarti pula Allah Swt. mengizinkan hal itu tanpa merampas iradah manusia ketika perbuatan itu termasuk yang dikuasai manusia. Allah Swt. berfirman, “Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS an-Nisaa’ [4]: 19).
Tanya : Apa makna iman terhadap Qadha?
Jawab: Seorang Muslim harus mengimani semua perbuatan yang menimpanya bahwa itu semua dari Allah Swt. Dalam menjalaninya, dia bersabar dan mengintrospeksi diri terhadap manfaat dan mudharat yang menimpanya sebagai ketaatan terhadap firman Allah Swt., “Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka” (QS Faathir [35]: 8). Di samping itu, ayat, “ (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepadamu” (QS al-Hadiid [57]: 23).
Tanya : Mengapa perbuatan yang tidak dikuasai manusia dibagi menjadi dua, yaitu perbuatan yang termasuk Nidzamul Wujud dan bukan. Padahal, semua perbuatan manusia itu terjadi di dunia?
Jawab: Memang benar, perbuatan manusia itu semuanya terjadi di dunia, tetapi hal itu sesuai dengan tabiatnya masing-masing. Karena itu, harus ada pembagian karena beberapa perbuatan yang dikehendaki Allah Swt., seperti perbuatan yang termasuk Nidzamul Wujud berbeda dengan perbuatan yang tidak tunduk terhadap Nidzamul Wujud.
Tanya: Mungkinkah menjelaskan benang merah yang menghubungkan antara iradah Allah dan Qadha ?
Jawab: Iradah Allah Swt. berarti tidak ada suatu benda pun di dunia ini dan juga tidak ada satu perbuatan pun yang terjadi yang jauh atau dekat bertentangan dengan keinginan dan kehendak-Nya. Hal ini berarti bahwa Allah Swt. berkuasa untuk campur tangan dalam sekejap, dalam mencegah ataupun mewujudkan suatu benda dan perbuatan.
Adapun Qadha adalah peranan atau campur tangan yang nyata dari keinginan dan kehendak Allah Swt., ketika Allah Swt. mengadakan suatu benda dan perbuatan. Dari sini, jelas benang merah antara iradah dan qadha Allah Swt. adalah adanya sifat iradah pada-Nya. Dia tidak akan berhenti untuk campur tangan dalam mewujudkan satu benda dan juga perbuatan.
Bagian 3
Pemaparan

Pada bab lalu kita memfokuskan pembahasan pada masalah Qadha, yaitu semua perbuatan yang termasuk Nidzamul Wujud atau bukan, yang terjadi dan menimpa manusia tanpa ada peranan manusia di dalamnya, serta tidak ada keinginan manusia untuk membuat dan menolaknya. Dalam perbuatan seperti ini manusialah yang dikendalikan.
Sekarang kita akan membahas tentang Qadar. Saat kita memperhatikan perbuatan yang telah diputuskan oleh Allah Swt. atau perbuatan yang mengendalikan dan menguasai manusia, kita melihat bahwa semuanya terjadi dari benda ke benda. Kita memahami bahwa perbuatan itu bersifat fisik, jadi termasuk materi atau benda. Begitu pula aturan umum yang telah Allah Swt. ciptakan pada makhluk untuk mengokohkan keberadaan benda dan perbuatan adalah materi pula. Jika demikian, apa sebenarnya benda atau materi itu?
Dengan pengamatan yang dalam, kita dapati setiap benda mempunyai ciri khas tertentu (spesifik) yang berbeda di antara benda-benda. Ciri khas inilah yang mendorong benda untuk mewujudkan perbuatan. Dalam hal ini Allah Swt-lah yang telah menciptakan Nidzamul Wujud dan ciri khas yang ada pada setiap benda. Ciri khas ini dinamakan khasiat. Misalnya, khasiat membakar terdapat pada api, khasiat terbakar pada kayu, serta khasiat memotong pada pisau dan terpotong pada daging. Semuanya diciptakan Allah Swt. sesuai dengan Nidzamul Wujud dan mengikat benda tanpa bisa menyimpang darinya.
Seandainya terjadi penyimpangan dan keluar dari kebiasaannya, pasti ada campur tangan Pencipta yang Maha Mengatur. Hal ini seperti yang terjadi pada mukjizat para nabi. Api yang tidak bisa membakar Nabi Ibrahim as merupakan salah satu contohnya. Jika tidak ada campur tangan Allah Swt., tidak akan terjadi hal yang demikian. “Wahai api dinginlah, dan keselamatan bagi Ibrahim” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 69). Begitu pula dengan kisah Nabi Musa as dengan mukjizat tongkatnya yang membelah laut Merah hingga air itu terbelah dan seolah-olah membeku, padahal khasiat air adalah mengalir. “Lalu, Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka itu, terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. (QS asy-Syu’araa’ [26]: 63).
Hal ini tidak ada bedanya dengan khasiat yang Allah Swt. ciptakan pada manusia. Allah Swt. menciptakan otak, naluri, dan kebutuhan jasmani pada manusia dan masing-masing diberi khasiat tertentu. Khasiat ini senantiasa terikat dengan materinya sesuai dengan Nidzamul Wujud. Misalnya, otak manusia punya khasiat untuk berpikir, naluri seks punya khasiat kecenderungan seksual, dan naluri baqa’ punya khasiat cinta materi. Selain itu, naluri beragama diberi khasiat kecenderungan untuk menyembah dan mengagungkan sesuatu.
Setiap khasiat penampakannya berbeda-beda karena punya peranan yang berbeda-beda. Semua khasiat ini yang menciptakan adalah Allah Swt., serta Dialah yang menentukan keistimewaannya masing-masing, tidak ada peranan manusia di dalamnya. Adapun yang diperintahkan kepada seorang Muslim terhadap hal ini adalah membenarkan dan meyakini dengan penuh keikhlasan bahwa hanya Allah Swt. semata yang telah menentukan khasiat pada segala sesuatu tanpa ada campur tangan manusia.
Sejauh mana khasiat ini mengharuskan manusia untuk melakukan satu perbuatan? Dalam arti, apakah merupakan tabiat khasiat memaksa manusia melakukan perbuatan tertentu sehingga manusia itu dikendalikan olehnya dan tidak bisa memilih?
Saat membaca firman Allah Swt. dalam surat asy-Syams (91) ayat 7-10, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”, kita memahami bahwa al-Khaliq al-Mudabbir, Allah Swt. ketika menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya. Allah Swt. mengilhamkan–yaitu Allah Swt. ciptakan kekuasaan untuk melakukan–kefasikan dan ketakwaan kepada manusia.
Allah Swt. dengan pengaturannya yang bijak menciptakan khasiat dalam naluri beragama yang mampu mendorong manusia untuk berbuat kefasikan dan kemaksiatan terhadap-Nya. Kemudian, manusia melakukan perbuatan buruk atau manusia terdorong berbuat takwa dan menaati aturan Allah Swt. Allah Swt. tidak memberi ilham pada jiwa manusia dengan mencabut kemampuan memilih antara yang baik dan buruk, namun Allah menyimpannya dalam naluri. Oleh karena itu, kita dapati manusia memikul tanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukannya. Dia akan menjadi orang yang beruntung dengan melakukan perbuatan baik dan akan merugi dengan perbuatan buruknya.
Di dalam khasiat yang telah Allah Swt. ciptakan, terdapat potensi (qabiliah) untuk mendorong manusia melakukan perbuatan sesuai dengan perintah Allah Swt. atau melanggar perintah-Nya tanpa ada paksaan. Khasiat hanya mendorong manusia untuk menggunakan sesuatu tempat khasiat berada dan tidak mengharuskan manusia berbuat apa pun Peranan khasiat dalam hal ini terbatas pada mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhannya, tidak lebih dari itu.
Benar, bahwa khasiat itu selalu melekat di dalam materi, baik berupa benda, naluri, maupun kebutuhan jasmani manusia, dan manusia tidak akan bisa lepas darinya. Pengaruh khasiat tampak jelas pada hasil perbuatan manusia. Namun, khasiat selamanya tetap tunduk di tangan manusia untuk digunakan setiap saat diinginkan. Manusialah yang mewujudkan perbuatan itu dan dia juga yang menahan untuk tidak melakukannya.
Dalam naluri seks terdapat kecenderungan seksual, naluri tersebut tidak memaksa manusia untuk memenuhinya hanya dengan satu cara. Sehubungan hal ini dalam kecenderungan itu ada potensi untuk memenuhi kebutuhan naluri dengan beberapa cara. Artinya ada potensi yang memberi keleluasaan kepada manusia untuk menggunakan berbagai pilihan.
Begitulah kecenderungan yang senantiasa menyertai naluri, tetapi tidak mendorong manusia memenuhi kebutuhannya dan tidak memaksa pemilik naluri untuk memenuhi sesuai perintah Allah Swt. atau tidak. Manusia mempunyai naluri sebagai potensi hidupnya disertai dengan khasiat yang punya potensi untuk mendorong. Jadi, manusialah yang memunculkan perbuatan dalam rangka memenuhi kebutuhannya dengan baik ataupun buruk.
Bagaimana perbuatan ini mengambil cara yang baik dan buruk saat memenuhi kebutuhan naluri? Sesungguhnya Allah Swt. telah menciptakan khasiat kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan naluri, serta pada kecenderungan ini Allah Swt. ciptakan pula potensi untuk memenuhinya dengan cara yang baik atau buruk. Allah Swt. menciptakan akal manusia dengan khasiat membedakan dan memahami sesuatu. Allah Swt. berfirman, “Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS al-Balad [90]: 10). Maksudnya, akal memiliki kemampuan memahami jalan yang baik dan yang buruk. Saat naluri dan kebutuhan jasmani menuntut pemenuhan, akal akan membimbingnya untuk membedakan antara baik dan buruk, serta mengatur dan mengarahkan pemenuhan.
Apabila si pemilik naluri ini mengambil Akidah Islam dan akidah ini memiliki standar halal dan haram, maka dia akan memenuhi kebutuhannya sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt. Jika dia mengambil akidah lain, maka pemenuhannya sesuai dengan pandangan akidah tersebut. Pemilik akallah yang mewujudkan perbuatan untuk memenuhi kebutuhan dengan sesuatu yang halal atau haram sesuai dengan pilihan akalnya.
Perbuatan mengambil apa yang diyakini oleh akal adalah perbuatan yang dilakukan manusia karena keinginan dan pilihannya, kemudian dia jadikan apa yang diyakininya itu sebagai pengatur dan pengarah ketika memenuhi kebutuhan. Kemampuan membedakan yang baik dan buruk ini adalah khasiat akal yang telah ditentukan baginya. Akan tetapi, perbuatan baik dan buruk ditentukan oleh si pemilik akal. Khasiat hanyalah penolong baginya untuk mengetahui jalan dan pilihan yang tersedia banyak di hadapannya.
Apa peranan perasaan pada pengaturan dan pengarahan naluri? Perasaan itu adalah kecenderungan (tendensi) dan pendorong (motivasi). Sesuai dengan fitrahnya, perasaan diarahkan oleh Pencipta agar manusia menggabungkannya dengan keyakinan yang ada pada akal. Pada saat manusia memenuhi tuntutan fitrah, dia membentuk perasaannya dengan akidah yang sahih–maka saat itu terbentuk perasaan Islami–atau dengan akidah selain Islam. Kemudian, perasaan ini akan mengkristal dan membentuk jiwa pemiliknya. Dengan demikian, seseorang mempunyai sifat tertentu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh ikatan antara pemahaman yang diyakininya dengan kecenderungan naluri dan jasmaninya.

Diskusi

Tanya : Seperti apa pemahaman tentang Qadha?
Jawab: Qadha kata yang disertai dengan Qadar ataupun terpisah, dalam pembahasan Akidah Islam saat ini adalah sesuatu yang berbeda dengan makna bahasa dan makna syar’inya. Kata Qadha mempunyai arti perbuatan yang terjadi dari manusia ataupun yang menimpa manusia tanpa kehendak dan pilihannya, baik perbuatan itu termasuk dalam Nidzamul Wujud maupun tidak.
Tanya: Apa maksud bahwa manusia tidak mampu menghindari Qadha?
Jawab: Ketika perbuatan Qadha menghampiri dan menimpa manusia, manusia tidak kuasa untuk menolaknya.
Tanya: Adakah perbedaan antara mempunyai kekuasaan dan mempunyai pilihan untuk menolak satu perbuatan?
Jawab: Ada, kekuasaan untuk menolak ini diartikan bahwa manusia yang tertimpa satu perbuatan mampu menolaknya. Sementara itu, mempunyai pilihan untuk menolak berarti ada peluang memilih untuk menolak atau tidak. Karena itu, sesungguhnya manusia mampu untuk menolaknya, tetapi dia tidak mempunyai kekuasaan untuk menolaknya. Ini adalah dua hal yang berbeda.
Tanya: Apa yang dimaksud dengan kata ‘materi’, ketika dikaitkan dengan suatu benda dalam pembahasan ini?
Jawab: Materi adalah seluruh potensi, baik yang tampak dan bisa diindra, serta dirasakan maupun yang tersembunyi, tapi kita mengetahui adanya dari dampak yang ditimbulkannya, seperti angin, gaya magnetis, dan uap.
Tanya : Apakah setiap benda hanya mempunyai satu khasiat, dan mungkinkah satu benda mempunyai beberapa khasiat?
Jawab: Mungkin saja satu benda punya beberapa khasiat. Seperti air, khasiatnya mengalir (berbentuk cairan), menguap, dan membeku pada derajatnya masing-masing. Setiap khasiat penampakannya berbeda. Khasiat cair tampak saat air mengalir pelan atau cepat sesuai dengan pusarannya. Hal itu tampak pula saat air bercampur dengan materi lain dan saat air mengalir di celah-celah sempit.
Tanya : Di mana unsur rohani, jika semua perbuatan manusia itu berupa materi?
Jawab: Aspek rohani pada perbuatan adalah sesuatu yang lain, serta tabiat perbuatan itu sendiri adalah sesuatu yang lain pula. Perbuatan apa pun yang terjadi antara dua materi di dunia ini adalah berupa materi pula. Saat manusia memperhatikan halal dan haram, maka dia telah memperhatikan aspek rohani yang ada dalam materi yang merupakan ciptaan Allah Swt.
Allah Swt. memerintahkan agar manusia menggunakan aspek rohani ini dalam perbuatannya. Inilah yang dinamakan ‘perpaduan materi dengan roh’ (mazj al-maadah bi ar-ruuh) yang artinya perbuatan itu dikendalikan dan diarahkan oleh aspek rohani. Perbuatan itu adalah materi, penggunaan aspek rohani adalah roh. Jadi, tidak ada yang dinamakan dengan perbuatan roh, yang ada hanyalah perbuatan (yaitu tabiat perbuatan) yang dipadukan dengan ruh (yaitu keinginan yang kuat untuk memperhatikan aspek rohani).
Tanya : Selama khasiat tetap ada dalam materi dan tidak akan lepas, mengapa hal tersebut tidak kita namakan dengan Qadar yang bersifat memaksa?
Jawab: Apabila khasiat dikatakan seperti Qadar yang memaksa kita untuk menggunakan suatu materi sesuai dengan khasiatnya, maka itu benar. Namun, tidak ada yang memaksa kita untuk menggunakan khasiat ini pada perbuatan halal atau haram. Akan tetapi, akallah yang membedakan mana yang haram atau halal. Contohnya, ketika kita menggunakan khasiat memotong yang ada pada sebilah pedang untuk perbuatan baik, seperti membunuh musuh atau dalam perbuatan buruk, seperti membunuh orang yang bukan musuh, maka semua itu adalah kehendak kita bukan karena paksaan dari khasiat. Dalam hal ini, kita semata-mata menggunakan sesuatu yang ditetapkan di dalam khasiat.
Tanya : Mengapa tidak kita katakan khasiat yang ada pada naluri dan kebutuhan jasmani adalah Qadar yang bersifat memaksa?
Jawab: Khasiat yang ada pada naluri dan kebutuhan jasmani tidak mengharuskan manusia untuk menggunakannya hanya dengan satu cara saja, namun khasiat ini membiarkan manusia memilih bentuk atau cara penggunaannya. Naluri beragama misalnya, khasiatnya tidak memaksa manusia untuk menyembah sesuatu, tapi hanya mendorongnya untuk beribadah. Manusialah yang menentukan apa yang akan disembahnya, serta bagaimana caranya berdasarkan pilihannya. Tidak ada paksaan apa pun dalam cara penggunaan khasiat.
Tanya: Apakah di dalam naluri dan kebutuhan jasmani terdapat banyak khasiat atau hanya satu saja?
Jawab: Naluri dan kebutuhan jasmani masing-masing punya banyak khasiat. Naluri beragama, di antara khasiatnya adalah keinginan untuk menyembah, menyucikan, mengagungkan, dan takut pada sesuatu yang diagungkannya. Ini merupakan gabungan dari dua khasiat yaitu takut dan harap. “Sementara itu, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap” (QS as-Sajdah [32]: 16).
Naluri seks dengan khasiat kecenderungan seksual antara laki-laki dan wanita–yang dengan ini muncul pernikahan, serta khasiat perasaan keibuan dan kebapakan yang melahirkan kasih sayang dalam keluarga. Naluri baqa’ (mempertahankan diri), di antara khasiatnya adalah cinta pada diri sendiri ketika manusia akan mempertahankan jiwanya saat menghadapi bahaya dan khasiat suka pada harta–dengan segala jenisnya–yang dengan ini manusia terdorong untuk berusaha mencari harta hingga akhir hayatnya.
Selain itu, khasiat cinta tanah air, penampakannya adalah manusia mencintai akan tanah kelahirannya atau tempat tinggalnya dan akan membela tanah air itu dari musuh yang akan merampasnya. Termasuk naluri baqa’ pula ketika manusia membutuhkan makanan dan minuman untuk mempertahankan dirinya.
Tanya : Mengapa pada pemaparan sebelumnya disebutkan bahwa setiap naluri dan anggota tubuh itu punya satu khasiat?
Jawab: Pemaparan itu berkaitan dengan penyebutan bukan pembatasan. Penyebutan itu digunakan pada khasiat yang paling menonjol dari setiap potensi kehidupan.
Tanya: Apakah benda mati mempunyai banyak khasiat, seperti pada naluri dan kebutuhan jasmani?
Jawab: Benar. Besi misalnya, pada derajat panas tertentu akan membeku dan akan meleleh pada derajat yang lain. Besi hanya bisa dilebur dengan materi tertentu untuk membentuk materi baru yang punya khasiat berbeda dengan sebelumnya.
Tanya: Apakah pada otak manusia hanya ada khasiat berpikir saja?
Jawab: Tidak. Otak bisa berpikir ketika unsur-unsurnya lengkap. Khasiat otak sebagai pusat syaraf pengindraan untuk menerima dan mengarahkan alat indra, perasaan, dan gerak dengan syaraf yang terpisah satu sama lain. Karena itu, apabila unsur-unsur otak tidak berfungsi, maka otak tidak bisa berpikir.
Tanya: Apakah Qadar dalam pembahasan ini punya arti sama dengan makna bahasa dan makna syar’inya?
Jawab: Tidak sama. Qadar di sini berarti khasiat yang ada pada benda hidup dan benda mati yang Allah Swt. ciptakan untuk menjalankan tugasnya masing-masing.
Tanya : Apakah kita bisa membedakan antara ilham dengan hidayah, ataukah keduanya sama?
Jawab: Sudah pasti keduanya berbeda. Ilham yang ada pada jiwa adalah khasiat yang telah Allah Swt. ciptakan agar manusia bisa membedakan antara kefasikan dan ketakwaan atau antara yang baik dan buruk. Tempat untuk membedakan itu adalah pada otak. Memang benar, emosi dan suara hati itu fitrah pada diri manusia, namun fitrah ini tidak bisa memberikan khasiat membedakan (khasiat tamyiz). Ini dihubungkan dengan tamyiz yang ada pada akal.
Adapun hidayah seperti pada firman Allah Swt., “Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS al-Balad [90]:10) dan “Sungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (QS al-Insaan [76]:3), telah ada pada manusia ketika Allah Swt. menurunkan hidayah ini pada Rasul-rasul-Nya dan pada Rasul penutup, yaitu Muhammad saw.
Rasul Muhammad saw. menjelaskan pada manusia tentang jalan kebaikan dan keburukan. Jalan kebaikan adalah taat pada perintah Allah Swt. dan larangan-Nya, sedangkan keburukan adalah melanggar perintah dan larangan-Nya. Jadi, hidayah itu sudah diturunkan, sedangkan ilham sesuatu yang disimpan dalam jiwa manusia. Andaikan hidayah belum diturunkan, penggunaan ilham tidak akan berjalan baik. Seandainya tidak ada ilham, tidak mungkin manusia mengetahui hidayah.
Tanya : Apakah dorongan pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani terpisah dari khasiat akal saat perbuatan dilakukan?
Jawab: Kadang terpisah kadang tidak. Hal ini mengikuti sejauh mana kecenderungan pada naluri dan kebutuhan jasmani itu dibuat terkait dengan pemikiran, pemahaman, standar, dan aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh akal setelah selesai proses tamyiz dan ada pemahaman sebelumnya. Kemudian, penetapan dan pelaksanaan proses tamyiz bertambah sedikit demi sedikit.
Tanya: Jika demikian, lalu apa maksud ayat, “Maka, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS asy-Syams [91]: 8)?
Jawab: Ilham dalam ayat tersebut termasuk kemampuan yang disimpan oleh Allah Swt. pada jiwa manusia, jadi merupakan khasiat, yaitu kemampuan untuk melakukan amal yang baik dan buruk tanpa ada paksaan.
Tanya: Bagaimana naluri menjalankan fungsinya dalam kehidupan ini?
Jawab: Naluri mendorong pemiliknya untuk memenuhi tuntutan kebutuhannya. Contoh, ketika naluri beragama terangsang dengan pemikiran tentang keagungan Sang Pencipta yang wajib disembah, maka naluri ini cenderung untuk menyembah-Nya dan mendorong si pemiliknya untuk beribadah. Sementara itu, si pemilik naluri ini akan menentukan–dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh akalnya berupa keyakinan–jenis dan bentuk pemenuhannya.
Naluri baqa’ ketika terangsang dengan ancaman, maka dia terdorong untuk mempertahankan dirinya, kemudian mendorong si pemilik naluri untuk waspada dan berikutnya akan diambil sikap sesuai dengan keyakinan yang diakui oleh akalnya. Adapun naluri seksual, ketika terangsang, baik karena kebutuhan seksual maupun karena rasa sayang, serta juga oleh rangsangan gambar atau khayalan, maka dia akan mendorong manusia untuk memenuhinya sesuai dengan keyakinannya.
Tanya : Jika demikian, di mana letak kebaikan dan keburukan, halal dan haram dalam penggunaan naluri?
Jawab: Baik dan halal ada pada saat keimanan campur tangan dalam diri si pemilik naluri. Jika keimanannya dan pemikirannya Islam, seseorang akan mengarahkan pemenuhan kebutuhannya sesuai dengan Islam. Buruk dan haram ada pada saat keimanan seseorang bukan pada Islam atau keimanan terhadap Islamnya lemah, serta tidak punya kekuatan untuk mengatur dan mengarahkan pemenuhan kebutuhan.
Karena itu, keimanan membutuhkan perhatian dan bantuan yang terus menerus supaya tidak lemah dan jatuh. Bagaimana tidak demikian, karena manusia mengatur perilakunya dengan keimanan. Di samping itu, keimanan ini harus senantiasa konsisten. Untuk itu, si pemilik naluri sangat memerlukan perhatian dan bantuan. Jika tidak, maka apalah artinya firman Allah Swt., “Oleh sebab itu, berikanlah peringatan karena bermanfaat” (QS al-A’laa [87]: 9). Ini peringatan yang ditujukan pada orang yang melalaikan keimanan.
Selain itu, firman Allah Swt., “Tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS adz-Dzaariyaat [51]: 55). Ini bagi orang ini telah mengakui kebaikan, namun dia tidak berupaya menambahnya sehingga perlu diberikan peringatan.

Bagian 4
Pemaparan

Kita telah membahas peranan perasaan dalam memunculkan perbuatan pada manusia, ketika perasaan ini merupakan khasiat yang telah ditentukan dan tidak akan terpisah. Namun, peranan khasiat ini hanya mendorong satu perbuatan dan tidak memaksa manusia untuk memenuhi atau tidak memenuhi dorongan tersebut, dengan cara begini dan begitu. Ada satu hal yang menuntun kita untuk membicarakan batasan tanggung jawab terhadap hal di atas, yaitu apakah tanggung jawab untuk mewujudkan kecenderungan ini ada pada manusia? Ataukah tanggung jawab dan muhasabah ini ada untuk memunculkan perbuatan sebagai jawaban dari kecenderungan itu?
Telah jelas bagi kita bahwa kecenderungan dan eksistensinya yang senantiasa ada pada semua naluri atau kebutuhan jasmani merupakan Qadar. Ini berarti Allah Swt. sajalah yang menciptakannya pada diri manusia dan manusia tidak berperan di dalamnya. Berikutnya, tidak ada hisab dan pertanggungjawaban terhadap adanya kecenderungan ini bagi manusia mana pun karena semua itu berjalan dengan hikmah Allah Swt. semata, yaitu adanya pengaturan dari Pencipta atas makhluk-Nya.
Allah Swt. berfirman, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 23). Pertanggungjawaban bagi manusia terbatas pada melakukan perbuatan atau meninggalkan perbuatan. Firman Allah Swt. dalam surat az-Zalzalah (99): 7-8, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. Ketika Allah Swt. menciptakan naluri, kebutuhan jasmani, dan benda, Allah Swt. tetapkan khasiatnya masing-masing supaya mereka dapat menjalankan peranannya dalam kehidupan ini berdasarkan apa yang telah ditetapkan baginya. Jadi, semuanya tetap sebagai potensi tersimpan yang siap digunakan saat diperlukan.
Ketika Allah Swt. menciptakan manusia, diciptakan pula baginya naluri, kebutuhan jasmani, dan akal yang punya khasiat tamyiz. Akal diberi kemampuan untuk memilih antara mengerjakan satu perbuatan atau tidak. Tidak ada pada diri manusia hal apa pun yang mengharuskan dia melakukan atau meninggalkan perbuatan, tidak ada pada naluri atau kebutuhan jasmani dan juga khasiat.
Dari sinilah, manusia mempunyai pilihan sempurna antara melakukan perbuatan atau menjauhinya. Semua ini karena peranan khasiat akal, yaitu tamyiz yang telah Allah Swt. anugerahkan dan tetapkan pada akal manusia. Selanjutnya, manusia memikul tanggung jawab dan hisab pada saat khasiat itu telah ada. Artinya, Allah Swt. telah mempersiapkan pahala untuk perbuatan baik yang dilakukan manusia karena akalnya telah memilih demikian dalam rangka melaksanakan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. Begitu pula Allah Swt. telah mempersiapkan siksa untuk perbuatan buruk yang dilakukan manusia karena akalnya memilih hal itu sebagai pengingkaran terhadap perintah-Nya, dan dia memenuhi tuntutan naluri dan kebutuhan jasmani dengan cara yang dilarang Allah Swt.
Setelah jelas bagi kita tentang peranan naluri, kebutuhan jasmani, dan benda dalam memunculkan perbuatan dengan pilihan manusia dalam menggunakan khasiat tamyiz yang dianugerahkan kepadanya, dari sini muncul pertanyaan tentang hubungan semua itu dengan masalah Qadha dan Qadar dari satu sisi, pengaruh ilmu Allah Swt., keinginan, dan kehendak-Nya dari sisi lain, serta apa pengaruhnya pada kehidupan manusia?
Hubungan naluri, kebutuhan jasmani, ataupun benda beserta khasiat yang ada di dalamnya dan juga akal dengan masalah Qadha dan Qadar adalah sebagai satu bagian dalam akidah dan keimanan seorang Muslim. Dalam hubungan ini, Allah Swt. telah menciptakan semuanya dan manusia tidak punya pengaruh dalam penciptaan ini. Dia wajib mengimaninya karena Allah Swt. berfirman, “Dia tidak akan ditanya tentang apa yang telah diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanyai” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 23).
Khasiat yang diciptakan pada semua makhluk merupakan Qadar yang tidak ada campur tangan manusia untuk mewujudkannya, namun pengaruhnya tampak dalam penggunaan khasiat ini dengan cara tertentu, yaitu dalam perbuatan. Perbuatan ini ada yang menguasai manusia tanpa ada kehendak manusia untuk mewujudkannya, baik yang termasuk Nidzamul Wujud maupun bukan, dan perbuatan yang dikuasai (dapat dikendalikan) oleh manusia. Jika perbuatan itu menguasai manusia, maka termasuk Qadha. Demikian pula dengan Qadar, yaitu khasiat yang diciptakan pada benda, akal, dan naluri, serta pada kebutuhan jasmani.
Qadha adalah perbuatan-perbuatan yang masuk dalam Nidzamul Wujud atau tidak yang terjadi dari manusia atau menimpa manusia di luar keinginannya. Qadar adalah segala sesuatu yang disediakan di alam ini untuk dipergunakan. Qadha mengharuskan manusia untuk menggunakan khasiat dengan arahan tertentu tanpa keinginan manusia dan tanpa bisa mengharap atau menolaknya. Dengan demikian, manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban dan tidak dihisab selama itu di luar keinginan dan pilihannya.
Adapun saat manusia menggunakan khasiat dengan keinginan dan pilihannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban dan akan dihisab sesuai firman Allah Swt., “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS al-Muddatstsir [74]: 38) dan “Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS ath-Thuur [52]:21). Di samping itu, firman-Nya, “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya” (QS al-Baqarah [2]: 286).
Dari uraian di atas, jelas sudah mengenai hubungan masalah Qadha dan Qadar dengan naluri, dan yang lainnya. Adapun hubungan antara ilmu Allah Swt., keinginan, serta kehendak-Nya dengan masalah Qadha dan Qadar, yaitu ilmu Allah Swt. yang diisyaratkan dalam sejumlah nas, hal itu merupakan cakupan penguasaan Allah Swt. yang mutlak terhadap dunia ini dan apa pun yang terjadi di dalamnya berupa perbuatan, baik yang diinginkan manusia maupun tidak.
Tidak ada kaitan ilmu ini dengan keberadaan sesuatu dari sisi bagaimana mengadakannya karena hal ini terkait dengan penciptaan Allah Swt. terhadap sesuatu itu. Keterkaitan ilmu Allah Swt. dari sisi sesuatu terhadap keberadaan, eksistensi, dan akan berakhir dengan bentuk begini atau begitu. Adapun keinginan dan kehendak Allah Swt. yang diisyaratkan dalam nas-nas lain berarti tidak ada sesuatu pun atau kejadian apa pun, serta tidak ada khasiat apa pun di dunia ini kecuali keberadaan atau terjadinya itu bukan karena paksaan dari Allah Swt., baik perbuatan itu termasuk Qadha dan Qadar maupun perbuatan yang lakukan manusia sesuai dengan keinginannya sendiri. Semua itu tidak ada kaitannya dengan iradah Allah Swt., tetapi termasuk dalam lingkup Qadha dan Qadar.
Selain itu, termasuk dalam pembahasan adanya perintah Allah Swt. bukan karena keinginan dan pilihan manusia. Adapun perbuatan yang diinginkan manusia tidak ada kaitannya dengan iradah Allah Swt. dan bukan karena paksaan-Nya karena iradah Allah Swt. bersifat mutlak tidak dicampuri dengan keinginan makhluknya, sebagaimana halnya qadha.
Iradah Allah Swt. tidak dapat mencegah perbuatan yang dikehendaki manusia atau memaksakan terjadinya perbuatan yang lain. Iradah Allah Swt. tidak turut mencampuri, namun membebaskan manusia melakukan perbuatan atau meninggalkannya. Manusia melakukan perbuatan karena keinginannya dan karena izin Allah Swt. Demikianlah hubungan antara Qadha dan Qadar dengan ilmu dan kehendak Allah Swt.
Adapun pengaruh pembahasan Qadha dan Qadar dalam kehidupan manusia akan tampak ketika manusia memahami dengan jelas hakikat benda berikut khasiat dengan berbagai jenisnya, serta segala sesuatu yang menimpa padanya. Lalu, manusia mengetahui apa yang wajib untuk diimani dan diyakini, serta apa yang wajib untuk diamalkan. Serta-merta dia melangkah dalam kehidupan ini tanpa takut untuk mengendalikan segala sesuatu dan mempergunakannya dengan cara yang diizinkan baginya.
Dengan kata lain, manusia bisa menyingkap apa pun yang memang diperbolehkan. Semuanya dilakukan sesuai dengan perintah dan larangan Allah Swt. tanpa kepasrahan terhadap perkara-perkara gaib dalam melakukannya. Dengan demikian, sampailah dia pada hasil dengan sebab musabab yang sejalan dengan hukum alam dan aturan yang telah Allah Swt. buat untuk alam semesta ini. Namun, semua itu bersandar pada kemampuan untuk memahami sesuatu dan khasiatnya yang telah Allah Swt. anugerahkan pada manusia.
Di samping itu, hendaknya manusia bertawakal kepada Allah Swt. karena kelemahan dirinya, serta dia selayaknya meminta agar diberi-Nya kekuatan untuk menambah pengetahuan tentang segala sesuatu. Selanjutnya, dia berharap dengan khasiat dan segala jenisnya tersebut bisa menambah pengembangan dan pembangunan di alam ini. Dari sini, jelas sudah kepentingan penjelasan masalah Qadha dan Qadar dalam kehidupan seorang Muslim karena dia akan menjadi subjek dengan kekuatan pendorong yang kuat, bukan sebagai orang yang malas dan selalu berpangku tangan.

Diskusi

Tanya: Dari mana datangnya keinginan manusia untuk melakukan perbuatan tertentu atau meninggalkan perbuatan tersebut?
Jawab: Kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan naluri dan kebutuhan jasmani mendorong manusia untuk melakukan perbuatan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, kecenderungan ini tidak menentukan jenis perbuatan, kadarnya, ataupun waktunya. Kecenderungan semata-mata mendorong perbuatan untuk pemenuhan kebutuhan. Hal ini karena khasiat kecenderungan tidak terikat dengan perbuatan tertentu, tetapi bagi manusia banyak pilihan jenis perbuatan.
Sementara itu, memilih, bukan tabiat kecenderungan, tetapi tabiat akal. Tabiat akallah yang memberikan pilihan-pilihan dan menjelaskan perbedaan di antara pilihan tersebut. Kemudian, akal akan menentukan satu pilihan perbuatan yang akan dilakukan.
Dari sinilah, terbentuknya keinginan (iradah) manusia, yaitu dorongan kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan. Pemenuhan tersebut tanpa dibatasi perbuatan tertentu dan tanpa adanya campur tangan khasiat akal untuk menentukan jenis perbuatan dalam rangka mewujudkan pemenuhan itu.
Tanya: Jika demikian, berarti tidak ada hubungan antara keinginan manusia dengan pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmaninya?
Jawab: Hal ini benar dari sisi kecenderungan dan motivasinya. Akan tetapi, iradah itu tidak terbentuk dari itu saja karena sesungguhnya setelah kecenderungan dan motivasi tadi diarahkan oleh keimanan yang ada pada akal, manusia akan menggunakan kecenderungan tadi. Yaitu, ketika manusia memanfaatkan khasiat tamyiz dalam menentukan perbuatan mana yang akan dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan dan perbuatan mana yang akan ditinggalkannya.
Adapun yang menjadi pemeran utama dalam pembentukan iradah adalah pemenuhan itu sendiri. Namun, pemenuhan akan tetap tersimpan hingga suatu saat akan keluar pada tempat tertentu yang ditentukan oleh pemikiran dan keyakinan yang tersimpan dalam otak dan akal, ketika akal membedakan jenis perbuatan.
Tanya : Di mana hubungan perintah dan larangan Allah Swt. dalam masalah ini?
Jawab: Perintah dan larangan Allah Swt. itu adalah pemikiran, keyakinan, dan hukum-hukum yang tersimpan dalam otak di bawah tuntutan untuk menjalankan kepentingan akal dalam membedakan perbuatan yang mungkin dapat memenuhi dengan asas perintah dan larangan tersebut.
Kemudian, akal akan mengarahkan kecenderungan pada satu perbuatan yang juga ditentukan oleh pemikiran, keyakinan, dan hukum-hukum tadi. Jika terjadi yang sebaliknya, yaitu kecenderungan diarahkan pada perbuatan lain yang menyimpang dari pemikiran, keyakinan, dan hukum tadi itu, maka berarti kesalahan ada pada pengetahuan yang tersimpan dalam otak bukan pada kecenderungan.
Tanya: Jika demikian, mungkinkah terjadi penyelarasan antara pemikiran dan informasi yang ada pada otak dengan perbuatan yang muncul dari manusia ?
Jawab: Hal itu bisa dilakukan dengan cara membuat informasi dan motivasi hanya terdiri dari satu jenis. Yaitu, dengan menjadikan informasi tadi sebagai pemahaman, standar, dan aturan pada diri seseorang. Kemudian, motivasi dikaitkan dan diarahkan secara sempurna dengan pemahaman dan standar tadi. Hal inilah yang disebut dengan kesatuan pemikiran dan perasaan, kesatuan akal dan jiwa, atau kesatuan kepribadian (wihdah asy-syakhshiyyah).
Tanya: Bagaimana menjelaskan Qadha dan Qadar dapat mendorong seorang Muslim untuk berbuat dan memberikan kemajuan dalam hidupnya?
Jawab: Ketika dia memahami bahwa Qadha dan Qadar bagian dari keimanan dan keyakinan dalam diri seorang Muslim. Perbuatan-perbuatan di luar Qadha yang dipadukan dengan Qadar akan memberikan pengaruh berupa bertambahnya aktivitas Muslim di seluruh lapangan kehidupan. Kemudian, seorang Muslim wajib meyakini bahwa dia memiliki iradah yang ditantang oleh khasiat-khasiat untuk melakukan penemuan baru secara terus-menerus.
ULASAN

Seperti apa gambaran Qadha dan Qadar dalam kehidupan seorang Muslim? Sesungguhnya masalah Qadha dan Qadar termasuk tulang punggung keimanan. Seorang Muslim ketika meyakini bahwa Allah Swt. adalah Pencipta dan Pengatur dirinya, maka dituntut untuk melihat seperti apa pengaturan tersebut. Lalu, sampai batas mana tanggung jawab manusia terhadap perbuatan yang dilakukannya dan pada perbuatan yang menimpanya dalam lingkaran pengaturan ini. Walhasil, jelaslah perbuatan mana yang menjadi haknya dan mana yang merupakan kewajibannya.
Telah jelas batas tanggung jawab manusia itu ada pada perbuatan yang berasal dari manusia atau yang dikehendakinya. Dia akan memikul hisab dan sanksi atas apa yang dilakukannya sesuai dengan pilihan dan keinginannya. Adapun perbuatan yang dia lakukan jika bukan karena kehendak dan pilihannya atau perbuatan yang menimpa dirinya tanpa diinginkan, maka itu tidak termasuk tanggung jawab manusia dan tidak akan dihisab karenanya.
Dengan demikian, dia akan merasa tenang terhadap Qadha yang telah Allah Swt. tetapkan bagi hamba-Nya dan juga terhadap Qadar yang Allah Swt. tentukan pada semua makhluk. Karena itu, jelas baginya mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Dia merasa tenang karena Allah Swt. adil dalam hisab dan balasannya.
Dari sini penting untuk menjelaskan peranan Iradah Allah, Keinginan dan Kehendak-Nya, Izin Allah, Ilmu Allah Swt., dan tulisan yang tercantum di Lauhul Mahfuzh dalam perbuatan manusia. Maksudnya, apakah perbuatan manusia itu dilakukan karena adanya hal-hal tersebut atau karena salah satu darinya, dalam arti lain apakah manusia harus melakukan perbuatannya atau meninggalkannya karena hal tadi?
Ilmu, Iradah, dan Kehendak Allah Swt. merupakan sifat-sifat-Nya dengan kesempurnaan mutlak. Tidak akan terjadi sesuatu, kecuali Dia akan mengetahuinya dan sesuatu itu terjadi karena Izin, Kehendak, atau karena Iradah-Nya. Namun, maksudnya segala sesuatu yang terjadi bukan karena paksaan dari-Nya karena Allah Swt. Mahakuasa dan kekuasaan-Nya ini mutlak untuk mencampuri terjadi atau tidaknya sesuatu. Ketika Allah membiarkan sesuatu itu terjadi, maka kejadian itu karena Iradah dan kehendak-Nya dalam lingkaran ilmu-Nya.
Allah Swt. menciptakan makhluk hidup atau benda mati, serta Dia mengatur keduanya dengan pengaturan yang khas. Adapun makhluk-makhluk ini menjalankan aktivitasnya dengan pengaturan Allah Swt. Ketika Allah Swt. membiarkan makhluk ini menjalankan aktivitasnya, maka itu termasuk ke dalam Iradah-Nya karena Dia memiliki kekuasaan untuk mencabut pengaturan tadi. Pengaturan ini bertabiat memaksa dan mengikat benda dan makhluk hidup selain manusia karena mereka tidak dikhususkan seperti manusia yang punya iradah sebagai makhluk yang berakal.
Manusia diberi iradah yang terbentuk dari keyakinan dalam akal dan perasaannya sehingga dia dapat mengatur dan menguasai perbuatan-perbuatan yang menjadi tanggung jawabnya. Manusia akan diberi pahala saat mengatur perbuatannya dengan perintah dan larangan Allah Swt. dan akan diberi sanksi saat dia mengarahkan perbuatannya tidak dengan perintah dan larangan Allah Swt.
Berdasarkan nas-nas syara’ yang membicarakan ilmu Allah, Iradah, Kehendak, Izin, dan tulisan Allah di Lauhul Mahfuzh, tidak berarti manusia kehilangan iradahnya. Akan tetapi sebaliknya, iradah itu tetap ada pada manusia dan berakibat pada adanya pertanggungjawaban dan perhitungan. Allah Swt. berfirman, “Dia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya, dan dia mendapat balasan dari apa (kejahatan) yang dikerjakannya” (QS al-Baqarah [2]: 286) dan firman-Nya, “Tuhanmu tidak berbuat aniaya pada siapa pun” (QS al-Kahfi [18]: 49).
Terjadinya serangan musuh-musuh Islam terhadap kaum Muslim menjadi bukti bahwa keyakinan terhadap Qadha dan Qadar pada mereka merupakan sebab utama berdiam dirinya dan ketertinggalan mereka dari umat yang lain. Karena itu, mereka harus melepaskan diri dari keyakinan ini agar terlepas dari keterbelakangan dan bisa berjalan menuju kebangkitan dan kemajuan.
Serangan ini bisa terbantahkan dengan jelasnya pemahaman tentang Qadha dan Qadar. Karena itu, seorang Muslim saat memahami dengan sempurna bahwa Allah Swt. telah menciptakan alam ini dan mengaturnya dengan aturan yang terperinci dan lengkap, dia akan melakukan perbuatan dengan mengaitkan sebab dan akibatnya. Dalam hal ini antara sebab dan akibat tidak akan pernah menyimpang, kecuali ada peranan Allah Swt. dalam hal itu, seperti pada mukjizat para nabi.
Adapun dalam kehidupan normal, sunnatullah berlaku, yaitu ada keterkaitan antara hasil dengan sebabnya (hubungan sebab akibat), misalnya tidak ada kemenangan dalam peperangan tanpa mempersiapkan fisik dan mental (rohani). Selain itu, tidak ada keberhasilan dalam ujian tanpa belajar sungguh-sungguh, serta tidak akan sukses panen dengan hasil melimpah, kecuali dengan perhatian yang serius pada bidang pertanian. Keyakinan terhadap Qadha dan Qadar dapat membuka mata manusia bahwa lapangan kehidupan ini terbentang luas di hadapannya. Setiap kelalaian dalam mengambil sebab, berarti kemalasan dalam mencapai hasil.
Banyak bukti bagi kita dari kehidupan Rasul saw. mengenai hal ini; di antaranya turunnya pasukan pemanah dari bukit Uhud menjadi sebab kekalahan; berhentinya Rasul saw. dan tentaranya di mata air saat perang Badar untuk istirahat dan minum sehingga musuh tertahan menjadi salah satu faktor kemenangan; menggali parit di sekeliling Madinah menjadi faktor kemenangan; keinginan kuat dari Nabi saw. agar masuk Islam salah satu dari dua orang yang bernama Umar menjadi sebab kemenangan Islam; perginya Rasul saw. menemui para pemuka kabilah dan mendakwahi mereka menjadi salah satu sebab kemenangan; dan lain-lain.
Inilah Islam, Islam menghendaki pemahaman yang benar terhadap Qadha dan Qadar. Sikap berdiam diri dan berpangku tangan dengan alasan bahwa suatu keadaan telah diketahui Allah Swt. sejak azali atau karena Kehendak dan Izin Allah dianggap telah keluar dari Akidah Islam yang benar.
Cukup bagi kita dengan mengatakan seandainya kaum Muslim sejak masa Rasul saw., serta sepanjang masa kekhilafahan dan futuhat bersikap pasrah terhadap perkara gaib atau yang disebut dengan Qadriyah Ghaibiyah (fatalisme), niscaya futuhat kaum Muslim tidak akan terwujud dan Islam tidak akan menyebar ke seluruh penjuru bumi.
Wahai kaum Muslim bertakwalah kepada Allah Swt. dalam keyakinan, lepaskanlah aib dan kotoran yang ada. Ketahuilah bahwa Qadha dan Qadar Allah Swt. akan menguatkan kelemahan kalian. Bergeraklah kalian untuk memimpin kebangkitan umat Islam dan untuk menyelamatkan bangsa-bangsa yang ada di muka bumi. Janganlah kalian berlindung pada orang-orang zalim karena mereka telah mempersiapkan kegagalannya di dunia dan akhirat. Hanya Allah Swt. semata yang akan mewujudkan tujuan kalian selama kalian yakin akan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa” (QS al-Hajj [22]: 40).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: