Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

MAMPUKAH ISLAM MEMIMPIN PEMIKIRAN MANUSIA ?

Pemaparan

Selama perilaku manusia terkait dengan dorongan-dorongan fitrah yang diarahkan oleh pemikiran dan pemahamannya, dan selama dorongan itu lahir dari adanya kebutuhan naluri dan jasmani, sementara itu pemikiran dan pemahaman lahir dari kepuasaan akal, maka kepuasan dan kebutuhan fisik inilah yang mengatur perilaku manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.
Adapun kebutuhan fisik–dengan segala bentuknya– tidak akan pernah berubah dan berganti pada diri manusia sebagai seorang manusia, meskipun penampakan dan kekuatan pendorongnya berbeda-beda. Hal ini karena menyesuaikan dengan pengaruh faktor internal atau eksternal yang ada pada manusia. Sementara itu, pemikiran dan pemahaman akan berubah mengikuti bukti-bukti yang menguatkan keyakinan sebelumnya atau perubahan pada keyakinan tadi.
Adapun yang menjadi topik pembahasan kita sekarang adalah metode Islam dalam memimpin manusia. Metode ini membutuhkan adanya pengamatan terhadap bentuk-bentuk kelompok manusia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Yaitu, sejauh mana kemajuan, kebenaran, dan kesesuaiannya dengan tingkat kemajuan hidup manusia.
Sebelum membahas lebih jauh, terlebih dulu kita perlu membicarakan naluri yang ada pada manusia. Yaitu, naluri baqa’ (eksistensi diri), naluri seksual, dan naluri beragama. Setiap naluri mempunyai penampakan yang berbeda-beda. Naluri baqa’ terlihat saat manusia mempertahankan dirinya, membela tanah air dan tempat kelahirannya, keinginan mendominasi orang lain, dan yang lainnya. Naluri seksual tampak pada kecenderungan seks antara laki-laki dan wanita dan rasa kasih sayang di dalam keluarga antara ayah, ibu, dan anak-anak. Naluri beragama terlihat pada keinginan manusia untuk menyucikan, mengagungkan dan menyembah sesuatu, khusyu, berdoa, dan lain-lain.
Naluri dan penampakannya ini terdapat pula pada hewan. Kalau diperhatikan, kita akan memahami bahwa naluri baqa dan seksual ini ada pada makhluk hidup, baik pada manusia maupun pada yang lainnya. Kita juga meyakini adanya naluri ini karena mengimani firman Allah Swt., “Tidakkah kamu tahu bahwasanya kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi, serta (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS an-Nuur [24]: 41) dan firman-Nya, “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tak satu pun kecuali bertasbih dan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS al-Israa’ [17]: 44).
Oleh karena itu, dorongan naluri dan kebutuhan jasmani itu merupakan dasar pertama yang menggerakkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, pemenuhan itu tunduk pada pedoman, keyakinan, dan penerimaan akal yang menentukan cara pemenuhan, apakah manusia akan melaksanakannya atau tidak. Setiap kali pemikiran itu benar, maju, dan sesuai dengan manusia, saat itu juga pengaturan dan arahan pemikiran terhadap dorongan naluri dan jasmani itu benar. Setiap kali pemikiran itu mundur dan manusia di atur oleh dorongan naluri, maka dia mengalami kemunduran. Dalam pembahasan kita tentang ikatan kelompok manusia, maka kemunduran berpikir ini didapati pada manusia yang melakukan ikatan dengan orang lain berdasarkan ajakan naluri baqa yang selalu ingin mempertahankan diri, mempertahankan tempat yang telah memelihara dirinya, dan negeri tempat dia hidup. Ikatan ini dinamakan Patriotisme (rabithah wathaniyah). Ikatan ini didapati pada manusia, hewan, dan burung. Ikatan ini tampak apabila ada bahaya yang mengancam, seperti serangan atau penjajahan terhadap negeri tempat tinggalnya, dan akan hilang seiring dengan lenyapnya ancaman tadi. Karena itu, ikatan seperti ini tidak layak digunakan manusia karena akan mengakibatkan kemunduran, serta semangat yang sesaat dan temporal.
Ketika pemikiran yang mengarahkan dorongan naluri dan jasmani ini bertambah sempit, yaitu tidak meliputi seluruh manusia, tetapi dibatasi oleh ikatan keluarga, suku, atau kaum, kemudian naluri baqa’–dengan penampakan cinta kekuasaan–mengatur ikatan ini sehingga mendorong manusia untuk menjadi pemimpin dalam keluarga, suku, atau suatu kaum tersebut. Hal itu karena mengikuti tingkat pemikiran yang ada padanya.
Jika pemikiran tadi bertambah luas, maka keinginan untuk berkuasa pun bertambah. Ketika ada kesempatan untuk meluaskan pemikiran sempit ini, kekuasaan dan kedaulatan suatu kaum terhadap kaum lainnya menjadi tidak manusiawi. Saat itulah terbentuk ikatan Nasionalisme (rabithah qaumiyah) di antara manusia yang didominasi oleh hawa nafsu dan permusuhan. Tidak ada kemaslahatan yang tampak untuk manusia selama ikatan ini ada karena ikatan ini bertumpu pada emosi naluri yang berubah-ubah dan tidak alami untuk menjadi pengikat di antara umat manusia.
Adapun ketika pemikiran manusia tidak melihat penyebab untuk mengikat manusia selain kemaslahatan, yaitu ketika ada maslahat bagi manusia dan juga bagi yang lain, maka saat itu ikatan tersebut terbentuk. Namun, ketika maslahat ini hilang, hilang pula ikatan tersebut. Karena itu, sesungguhnya ikatan ini akan menyebabkan kelompok manusia itu cerai-berai dan terpisah, bahkan menghilangkan bentuk-bentuk kerja sama dan akan menimbulkan perbedaan kepentingan di antara para anggotanya.
Hal itu terlihat pada kelompok-kelompok yang ada saat ini di Barat dan Soviet yang dikuasai oleh pemikiran-pemikiran maslahat, mereka sangat berambisi untuk menjadikan kepentingan (maslahat) ini dikaitkan dengan ideologi yang mengatur masyarakat. Belum hilang dari ingatan kita, bagaimana ikatan ini telah menghancurkan umat manusia karena penjajahan dan perampasan sumber daya alam yang digerakkan oleh naluri baqa’ yang bergelora. Walhasil, ikatan ini tidak layak untuk menghimpun manusia, bahkan membahayakan karena kita juga tidak lupa, nalurilah sebenarnya yang bermain di dalamnya.
Apabila naluri beragama–dengan kecenderungan mengagungkan dan menyembah–dibiarkan berjalan sendiri, kemudian mendorong manusia untuk memperhatikan agama (sekadar ritual, ed.) dan mengabaikan kehidupan, artinya mendorong manusia hanya memperhatikan aspek rohani, lalu berpaling dari urusan kehidupan dunia dan pengaturannya, maka saat itu terbentuklah ikatan rohani. Dalam kondisi ini, pemikiran manusia hanya ditujukan mengatur segenap potensinya untuk beribadah dan melumpuhkan semua aspek kehidupan lain. Ikatan ini tidak layak untuk mengikat satu masyarakat, seperti halnya agama Nasrani yang tidak layak mengikat masyarakat Eropa, padahal mereka menjadi penganutnya. Semestinya yang layak menjadi pengikat itu adalah ikatan yang meliputi seluruh umat manusia dan bersifat tetap, langgeng, dan lestari, juga mampu melakukan pengaturan semua aspek kehidupan manusia.
Jadi, di mana ikatan yang sahih ditemukan, sementara itu keempat ikatan yang dijelaskan sebelumnya tidak sahih? Hal inilah yang akan kita bahas selanjutnya.

Diskusi

Tanya : Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyah)?
Jawab: Yaitu, penuntun atau pemimpin manusia–baik individu maupun kelompok–melalui penerimaan akal, keyakinan, dan pemikiran-pemikiran mereka, serta bukan dengan tangan besi atau penggunaan senjata.
Tanya : Mengapa demikian?
Jawab: Mayoritas manusia menganut satu pemikiran ideologi–meskipun tidak semuanya, mereka diarahkan dengan pedoman yang sama dalam memandang kehidupan dan dalam mengatur urusan hidup. Di samping itu, mereka tidak ragu untuk taat pada orang yang memimpin karena kesamaan pemikiran tadi.
Tanya: Apa hubungan bentuk kepemimpinan seperti ini dengan semua naluri dan kebutuhan jasmani manusia?
Jawab: Selama kepuasan akal belum sempurna pada manusia dalam bentuk yang mendalam pada jiwa kecuali setelah penerimaan alasan dan bukti-bukti yang berkaitan, maka hendaknya penerimaan akal ini mesti selaras dengan fitrah insaniah yang mencakup dorongan dan kecenderungan yang lahir dari kebutuhan naluri dan jasmani.
Tanya: Bukankah kepemimpinan pada kelompok dan masyarakat berbeda dari kepemimpinan pada individu?
Jawab: Ya, benar. Akan tetapi, pembahasan kita saat ini mencakup dua sisi, individu–sebagai pendukung utama sebuah kelompok dan masyarakat–akan mengatur perilaku dan hubungan sosialnya dengan kepuasan akal dan keyakinan pemikirannya. Ketika semua ini ditemukan pada individu lainnya, mereka akan membentuk kelompok, selanjutnya dalam waktu cepat akan menjadi sebuah masyarakat yang hidup berdasarkan pemikiran dan keyakinan dalam pengaturan urusan mereka.
Tanya : Benarkah manusia itu adalah makhluk sosial?
Jawab: Ini pernyataan yang kurang jeli, karena jika yang dimaksud dengan makhluk itu adalah tubuh beserta anggota dan fungsinya, juga naluri dan kecenderungannya, maka hal ini di satu sisi ada kesamaannya dan di sisi lain ada perbedaannya. Jika kesamaan manusia dan hewan ini ada pada susunan tubuh, seperti darah, daging, tulang, dan urat syaraf, maka pada nilai naluri dan penampakannya berbeda.
Pada manusia terdapat akal dan proses berpikir, tetapi hal ini tidak ada pada hewan, yang ada hanyalah identifikasi naluri saja. Adapun kata ‘sosial’, sifat ini juga ada pada hewan jika yang dimaksud adalah hubungan seks dua jenis kelamin, jantan dan betina untuk melestarikan keturunannya. Namun, jika yang dimaksud adalah bertemunya individu untuk membentuk kelompok dan masyarakat itu pun ada pada hewan, meski berlainan kondisi dan bentuknya dari manusia. Hal ini ditegaskan dalam al-Quran surat al-An’aam (6) ayat 38, “Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, kecuali umat-umat (juga) seperti kamu”. Kata ‘seperti kamu’ dalam ayat ini adalah mirip dalam berkelompoknya hewan seperti manusia, bukan sama dalam jenisnya.
Tanya : Selama hewan melata dan burung-burung itu sebagai ‘umat-umat’ seperti manusia, bagaimana kita menampik persamaan ini?
Jawab: Ikatan di antara hewan-hewan melata dan burung-burung didasarkan pada pemahaman nalurinya (identifikasi naluri), sedangkan ikatan di antara manusia didasarkan pada pemahaman akal.
Tanya: Akan tetapi, kita pernah mendengar dari ilmuwan psikologi sosial yang mengatakan bahwa hewan melata dan burung itu bisa memahami sesuatu seperti halnya manusia, benarkah demikian?
Jawab: Benar pada hewan terdapat proses pemahaman sebagaimana manusia, tapi jenis pemahaman ini berbeda antara manusia, hewan melata, dan burung. Hal ini telah dijelaskan sebelumnya bahwa otak manusia mempunyai kecenderungan memahami dan berpikir, sementara itu pada hewan tidak didapati seperti itu. Pemahaman pada hewan terkait dengan fungsi-fungsi naluri dan indranya, artinya hewan hanya mempunyai pemahaman dari perasaan semata.
Tanya : Mengapa kita mengatakan pemikiran manusia mundur pada saat perilakunya diarahkan oleh naluri dan perasaannya?
Jawab: Tingkah laku yang berdasar pada dorongan naluri semata hanya pantas untuk hewan dan burung. Adapun yang harus ada pada manusia adalah peningkatan tingkah lakunya sesuai dengan pemikiran yang dapat membedakan mana perbuatan yang diarahkan oleh dorongan naluri semata dan mana yang tidak.
Tanya : Namun, mengapa kita mengatakan pemikiran menjadi sempit saat muncul ikatan Nasionalisme pada manusia, sementara itu kita mengatakan pemikiran mundur saat munculnya ikatan Patriotisme, padahal munculnya kedua ikatan itu karena naluri baqa’?
Jawab: Memang benar tempat munculnya dua ikatan tersebut adalah sama yaitu naluri baqa’, tapi pendorong dan penampakan keduanya berbeda. Pemikiran yang mundur mengikuti perilaku manusia yang cenderung mempertahankan diri, tempat tinggal, dan tanah airnya. Pemikiran yang sempit mengikuti perilaku yang cenderung cinta kekuasaan. Ketika manusia menginginkan kekuasaan itu, dia ada pada posisi sebagai seorang individu, bukan pada kelompoknya, maka pemikirannya menjadi sempit.
Namun, ketika cinta kekuasaan ini bertambah dengan melihat keluarga dan suku lainnya, maka pemikirannya sedikit berkembang dan maju. Akan tetapi, jika bertambah luas lagi untuk melihat kaum lainnya, maka manusia berpemikiran sempit. Lebih dari itu, jika bertambah luas lagi terus-menerus untuk melihat umatnya dengan apa yang ada di dalamnya berupa pemikiran dan keyakinan, maka pemikirannya mengalami kemajuan yang menjauhkan dirinya dari dorongan naluri, yaitu cinta kekuasaan. Kemajuan tersebut bukan untuk mengalahkan yang lain tapi demi aspek kemanusiaan.
Tanya : Mengapa muncul perselisihan di antara para anggota kelompok yang berdasarkan ikatan Nasionalisme?
Jawab: Karena ketika derajat pemikiran mundur dan seseorang cinta terhadap kekuasaan, baik untuk dirinya maupun keluarganya, maka dia akan akan berselisih dengan keluarga lainnya. Lalu, pada saat pemikiran sempit itu terjadi pada setiap suku atau bangsa yang cinta terhadap kekuasaan, maka pertentangan dan perselisihan akan menimpa mereka.
Tanya: Kapan saatnya perselisihan di antara umat manusia berakhir?
Jawab: Ketika pemikiran akidah yang menjadi pemimpin, maksudnya pemikiran seperti ini yang menghendaki kebaikan dan kemajuan bagi manusia mana pun.
Tanya: Namun, penganut pemikiran Patriotisme dan Nasionalisme mengatakan, pemikiran mereka juga universal dan manusiawi?
Jawab: Apa yang mereka katakan tidak berdasar pada realitas sama sekali. Pemikiran keduanya tidak mencakup seluruh negeri dan seluruh kaum. Sementara itu, pemikiran yang menyeluruh (universal) bagi manusia adalah yang tidak dibatasi oleh bangsa ataupun kaum.
Tanya: Apakah ikatan yang berdasarkan kemaslahatan termasuk pemikiran yang mundur atau sempit?
Jawab: Ikatan ini mengikuti jenis kemaslahatannya. Apabila maslahat muncul dari dorongan naluri yang tidak diarahkan oleh keyakinan untuk kebaikan manusia, maka itu termasuk pemikiran yang mundur, seperti halnya Patriotisme. Yaitu, ketika ketika seseorang akan mempertahankan jiwanya serta membela negeri dan hartanya. Apabila muncul dari pemikiran yang sempit, ini sebagaimana paham Nasionalisme dan setiap kaum cinta kekuasaan.
Namun, apabila kemaslahatan muncul dari pemikiran akidah untuk kebaikan manusia tanpa memperhatikan negeri atau kaumnya, maka ikatan kemaslahatan itu agak maju karena pemikiran ideologilah yang menentukan ikatan ini.
Tanya : Mengapa ikatan rohani dianggap tidak layak pula?
Jawab: Karena ikatan yang layak bagi manusia adalah ikatan yang berdasarkan pemahaman akal. Ikatan seperti ini mencakup semua aspek kehidupan, tidak hanya mengurusi satu hal saja. Ikatan ini tidak dibatasi negeri atau kaum. Jadi, ketika ikatan rohani hanya memperhatikan naluri beragama dan tidak aspek lainnya, maka ikatan ini berbahaya dan akan menghancurkan kehidupan.
Tanya: Selama naluri baqa’ mewujudkan ikatan Patriotisme ketika terjadi kemunduran berpikir dan ikatan Nasionalisme saat terjadi pemikiran yang sempit, mengapa ditemui pula bentuk ikatan ini saat pemikiran dan cakupannya meluas?
Jawab: Ketika pemikiran dan ruang lingkupnya bertambah luas, pandangan naluri baqa’ manusia akan melihat segala apa yang dicakup pemikirannya itu. Dengan demikian, terjadi padanya apa yang disebut dengan ketinggian naluri, artinya terjadi kepemimpinan naluri oleh pemikiran akidah yang mencakup seluruh manusia dan akan terlepas dari ikatan hawa nafsu hewan.
Tanya: Di mana pengaruh naluri seksual pada ikatan antara manusia?
Jawab: Naluri ini akan memunculkan ikatan keluarga.
Tanya : Di mana pengaruh naluri beragama pada ikatan di antara manusia?
Jawab: Naluri beragama akan memunculkan ikatan rohani (ikatan karena keagamaan).
Tanya : Bagaimana manusia mampu mewujudkan ketinggian tiga naluri yang ada padanya agar terwujud ikatan sahih yang layak baginya dan mencakup seluruh manusia?
Jawab: Ketika manusia tidak membiarkan naluri–dengan segala dorongannya–menguasai tingkah lakunya. Nalurinya diatur dan diarahkan oleh pemikiran akidah yang melindungi manusia di mana pun berada dan kapan pun. Pemikiran ini akan memberi solusi untuk semua persoalan kehidupan.
Tanya: Adakah contoh pemikiran akidah yang bersifat universal ini?
Jawab: Ada, yaitu ketiga mabda (ideologi) yang ada saat ini. Ideologi Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme. Ketiganya mengemukakan pemikiran akidah universal tanpa melihat benar tidaknya ide dan solusi yang ditawarkan. Inilah yang akan dijelaskan pada bab-bab selanjutnya, insya Allah.

Bagian 2
Pemaparan
Pada bab pertama, pembahasan kita telah sampai pada tanya jawab mengenai ikatan yang sahih untuk manusia. Ikatan ini istimewa karena berdasarkan pada akidah rasional (aqidah aqliyah), bukan pada respon terhadap tuntutan naluri. Ikatan ini menjelaskan seluruh solusi problem kehidupan manusia di mana pun dan kapan pun berada. Inilah yang disebut dengan ikatan ideologis.
Apa maksud dari ikatan ideologis? Sesungguhnya sebuah ideologi–apa pun namanya–merupakan akidah rasional (aqidah aqliyah) yang memancarkan aturan untuk semua aspek kehidupan. Hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan, akidah itu adalah pemikiran yang menjelaskan hakikat kehidupan dunia yang terdiri dari manusia, alam semesta, dan kehidupan; hakikat realitas yang ada sebelum kehidupan dunia dan realitas yang ada sesudahnya; serta hubungan ketiganya dengan realitas yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia.
Pemikiran akidah dalam pandangan Islam adalah kehidupan dunia dengan segala isinya adalah makhluk Allah Swt. dan Dialah yang mengatur semuanya. Realitas yang ada sebelum kehidupan dunia ini adalah adanya Pencipta dan Pengatur kehidupan, serta realitas yang ada sesudah kehidupan dunia adalah adanya hari pembalasan atas perbuatan manusia dengan surga atau neraka. Lalu, hubungan ketiga unsur kehidupan dengan realitas sebelumnya adalah adanya Pencipta yang menciptakan kehidupan dan mengatur semuanya. Adapun hubungan ketiganya dengan realitas sesudah kehidupan dunia adalah adanya perhitungan atas perbuatan dan keyakinan dalam kehidupan dunia. Sementara itu, pemikiran akidah Kapitalis dan Sosialis sangatlah berbeda dengan Islam.
Ini dikaitkan dengan akidah. Adapun jika dikaitkan dengan aturan yang terpancar dari akidah, itu merupakan sekumpulan aturan yang menjadi solusi bagi seluruh masalah manusia. Aturan ini menjelaskan cara melaksanakan atau menerapkan aturan tersebut; bagaimana tata cara pemeliharaan akidah itu sendiri agar tetap lurus dan bersih dari kemungkinan adanya paham skeptisme; serta juga penjelasan tata cara mengemban ideologi bagi seluruh manusia.
Dengan apa kita menyebut akidah sebagai pemikiran yang menyeluruh dan aturan sebagai pemikiran cabang untuk seluruh aspek kehidupan? Kita menyebutnya dengan pemikiran ideologis (fikrah mabda).
Dengan apa kita menyebut tata cara penerapan aturan akidah, tata cara pemeliharaan, dan tata cara pengembanan akidah? Kita menyebutnya dengan metode ideologis (thariqah mabda).
Apakah ini berarti bahwa ideologi (mabda) itu adalah kumpulan pemikiran dan metode yang keduanya punya ciri khas, dan bagaimana lahirnya ideologi ini?
Yang pasti, munculnya ideologi ini berasal dari benak manusia. Kemunculannya terdiri dari dua cara, pertama dari wahyu Allah Swt. yang diberikan kepada manusia untuk disampaikan, dan kedua dari pemikiran jenius yang dimiliki manusia. Jika mabda ini berasal dari wahyu Allah Swt. yang memerintahkan untuk menyampaikannya, maka mabda ini benar karena datang dari Pencipta yang mengatur kehidupan ini.
Adapun jika mabda berasal dari kejeniusan manusia, mabda ini batil karena datang dari akal yang lemah dalam memahami hakikat kehidupan. Di samping itu, aturan yang dibuatnya menimbulkan perbedaan dan pertentangan, serta terpengaruh oleh lingkungan. Hal ini akan mengantarkan pada kesengsaraan manusia. Ini berarti mabda yang diwahyukan dari Allah Swt. adalah mabda sahih dalam idenya dan aturannya, sedangkan mabda buatan manusia adalah batil dalam ide dan aturannya.
Sebelum kami menjelaskan sebab wajibnya sebuah mabda terdiri dari fikrah dan thariqah (konsep dan metode), maka pemberian nama seperti ini tidak dibenarkan sehingga kita perlu mengetahui dari mana datangnya nama tersebut.
Kata mabda secara bahasa berarti sumber pertama. Dalam penjelasan hakikat kehidupan dunia, mabda itu berarti asal-muasal kehidupan, tempat kembali setelah kehidupan, dan hubungan kehidupan dengan keduanya. Ini merupakan pemikiran menyeluruh tentang kehidupan dan apa yang dipaparkan pemikiran tersebut berupa aturan kehidupan. Demikianlah kata mabda ini diberikan pada pemikiran menyeluruh beserta aturannya, yaitu akidah dan solusinya. Lalu, mengapa harus ada fikrah dan thariqah untuk menjadi sebuah mabda dan mengapa mesti thariqah yang membuat mabda ini riil dalam realitas kehidupan? Ini jelas dari keadaan mabda itu sendiri yang merupakan kumpulan fikrah dan thariqah. Jika pemikiran menyeluruh tentang kehidupan dunia itu ada dan metode (thariqah)nya juga ada, maka berarti mabda telah riil dalam benak penganutnya. Adapun gambaran apa yang ada dalam benak terhadap realitas kehidupan, pelaksanaan, dan penerapannya pastilah membutuhkan sebagai satu-satunya jalan untuk mengimplementasikankan pemikiran menyeluruh ini dalam kehidupan. Apabila satu per satu dari metode–yaitu tata cara pelaksanaan, pemeliharaan, dan tata cara pengembanannya untuk didakwahkan–itu berkurang, maka kerusakan akan menyusup ke dalam nilai pemikiran tadi, serta merusak kesempurnaan dan kemampuan pemikiran ini untuk menyelesikan masalah kehidupan. Hal inilah yang menjadikan pemikiran praktis (amaliyah) menjadi filsafat khayalan (khayaliyah).
Ini dinisbahkan pada adanya mabda di satu sisi, dan implementasinya dalam kehidupan di sisi yang lain. Akan tetapi, apakah adanya mabda dan implementasinya sudah cukup untuk memutuskan kebenaran sebuah mabda?
Sebenarnya, kesahihan atau kebatilan sebuah mabda terkait erat dengan akidahnya karena itu merupakan asas terpancarnya aturan untuk urusan kehidupan. Apabila asasnya sahih, aturannya juga pasti sahih, begitu pun sebaliknya. Namun, dari mana datangnya kesahihan sebuah mabda?
Sebelumnya telah kami jelaskan pada topik ‘metode yang benar bagi keimanan yang benar’, bahwa kesahihan akidah datang dari kesesuaian pemikiran akidah itu dengan fitrah manusia dan dapat memuaskan akal. Jika dua syarat ini tidak tercapai, maka akidah seperti itu batil. Maksud kesesuaian akidah dengan fitrah adalah adanya pengakuan fitrah manusia, yaitu bersifat lemah dan membutuhkan Pencipta yang Maha Pengatur. Hal ini sesuai dengan naluri beragama yang tidak bisa mengingkari atau mengabaikan fitrah manusia. Adapun maksud dari akidah dibangun di atas akal adalah akidah ini tidak dibangun di atas materi atau benda sebagaimana yang kita lihat pada Komunisme dan Sosialisme, serta juga tidak dibangun di atas dasar kompromi, seperti halnya Kapitalisme Demokrasi.

Diskusi

Tanya : Dari mana titik tolak penentuan benar tidaknya ikatan yang terjadi di antara manusia?
Jawab: Dari kaidah-kaidah baku yang menjadi sandaran untuk menentukan ikatan mana yang layak bagi manusia, serta dapat mengantarkan pada kemajuan dan kebangkitan.
Tanya : Apa kaidah dan sandaran tersebut?
Jawab: Yaitu, ikatan yang berdasarkan pada akal (pemikiran), bukan berdasarkan pada perasaan naluri. Ikatan ini bersifat langgeng di setiap waktu dan tempat, tidak temporal, dan juga ikatan ini menyodorkan solusi sempurna untuk semua segi kehidupan.
Tanya : Akan tetapi, manusia itu kadang emosional dan juga kadang logis, bagaimana jika demikian?
Jawab: Memang benar demikian, perasaan manusia meskipun berbeda dengan hewan, yaitu berupa perasaan yang berubah-ubah, hal ini tidak bisa dijadikan dasar ikatan di antara umat manusia.
Tanya : Bagaimana cara memisahkan emosi (perasaan) dan rasio (akal) pada manusia?
Jawab: Akal (yang dimaksud adalah proses berpikir, penerj.) adalah fungsi otak yang tidak berlangsung sempurna kecuali dengan adanya fakta yang dipindahkan ke dalam otak melalui alat indra, serta adanya penafsiran dari informasi yang tersimpan dalam otak. Alat indra di sini sebagai perantara untuk menghimpun fakta dan informasi dalam otak.
Sementara itu, emosi atau perasaan adalah fungsi naluri. Peranan alat indra terhadap naluri amatlah besar dalam merangsang munculnya naluri sehingga emosi dan perasaan ini muncul, sebagaimana pula cara berpikir mempunyai peranan yang lain. Salah satu dari akal atau emosi mungkin saja mendominasi atau menguasai satu sama lain, namun tidak mungkin bisa memisahkan keduanya.
Tanya : Penjelasan makna akidah telah selesai dibahas, yaitu pemikiran menyeluruh mengenai kehidupan, tapi mengapa akan lebih sempurna jika akidah ini digabungkan dengan kata rasional (aqliyah) menjadi akidah rasional (aqidah aqliyah)?
Jawab: Akidah ini terkadang bersifat wijdaniyah (perasaan) yang didasarkan pada respon naluri beragama yang membuat manusia menduga bahwa patung itu berhak untuk disembah atau salib itu berhak untuk diagungkan, padahal jika dibahas hakikat persoalan ini dengan bukti logis akan tampak ketidaklayakan patung atau salib itu untuk disembah dan diagungkan.
Tanya : Bukankah sudah kita sebutkan dengan adanya makna akidah, akan menjelaskan hakikat kehidupan dunia?
Jawab: Benar. Sesungguhnya telah jelas bagi kita ketika dipertanyakan apakah manusia, alam semesta, dan kehidupan itu makhluk dari sang Pencipta atau bukan, serta apakah mereka membutuhkan pengaturan Penciptanya atau tidak. Bukti yang bisa disaksikan bahwa kehidupan ini adalah materi, sedangkan materi bersifat kekurangan, lemah, dan butuh pada yang lain. Karena itu, kehidupan ini adalah makhluk bagi Pencipta yang tidak mempunyai sifat kurang dan lemah, serta tidak membutuhkan yang lain saat penciptaan dan pengaturan makhluk-Nya, Dia adalah Allah Swt.
Tanya: Ini adalah pandangan Islam mengenai hakikat kehidupan, bagaimana pandangan Kapitalisme Demokrasi dan juga Sosialisme-Komunisme mengenai hal ini?
Jawab: Kapitalisme Demokrasi mengompromikan antara pandangan Islam yang mengakui adanya Pencipta dan pengaturan Ilahi dengan Sosialisme Komunisme yang mengingkari adanya Pencipta dan pengaturan Ilahi, Sosialisme memandang keduanya sebagai materi. Jadi, paham Kapitalisme mengakui adanya Tuhan Pencipta, tetapi menghilangkan pengaturannya.
Tanya: Apa maksud terpancarnya aturan dari akidah rasional?
Jawab: Maksudnya, sumber aturan itu adalah akidah. Ketika akidah Islam menyatakan bahwa Allah Swt. itu Pencipta dan Pengatur, maka inilah makna dari syahadatain, “Tidak ada ilaah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Akidah ini mengeluarkan sejumlah aturan untuk mengatur semua aspek kehidupan manusia karena makna, “Tiada ilaah selain Allah” adalah tidak ada yang berhak disembah, kecuali Allah Swt. dan makna, “Muhammad adalah utusan Allah“ bahwasanya Muhammad saw. membawa risalah dari Allah Swt. bagi manusia untuk mengatur kehidupan mereka di segala bidang.
Tanya : Apakah pengertian mabda yang terdiri dari fikrah dan thariqah itu hanya dikhususkan untuk Islam?
Jawab: Tidak demikian, tetapi pengertian ini ditentukan untuk semua mabda. Kapitalisme Demokrasi dan Sosialisme Komunisme termasuk dalam penentuan ini pula. Keduanya mempunyai pemikiran menyeluruh dari segi akidah dan aturan yang menyelesaikan urusan kehidupan. Sebagaimana juga pada keduanya didapati tata cara pelaksanaan, pemeliharaan akidah, serta tata cara pengembanan dakwah.
Tanya : Adakah mabda lain, selain dari tiga mabda ini?
Jawab: Tidak ada, dan tidak mungkin ada mabda keempat selama pemikiran-pemikiran dan metode-metodenya telah menutup kemungkinan untuk itu. Akidah suatu mabda bisa saja mengimani Pencipta sekaligus sebagai Pengatur kehidupan ini; bisa juga mengimani Pencipta, tapi tidak untuk mengatur kehidupan; atau ada pula akidah yang mengingkari adanya Pencipta dan pengaturan-Nya sekaligus, dan tidak ada kemungkinan yang keempat. Adapun metode (thariqah)nya bisa saja metode akidah yang lengkap untuk mengatur semua aspek kehidupan atau mengatur sebagiannya saja. Dengan demikian, tidak mungkin ada akidah tanpa ada metodenya.
Adapun akidah lain selain mabda, seperti akidah Nasrani, bersifat menyeluruh, tetapi tidak mempunyai aturan bagi interaksi manusia, selain aturan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, yaitu dalam bentuk ibadah. Adapun interaksi manusia dengan dirinya sendiri dan dengan manusia lain tidak diatur olehnya. Akidah ini mengembalikan semuanya pada Taurat, “Tidaklah Aku diutus untuk menghapus undang-undang, tetapi untuk menyempurnakannya”. Akidah Taurat ini dibatasi aturan kehidupan setelah kehidupan ini matang dan berkembang. Akidah ini hanya menyodorkan aturan untuk bani Israil pada zaman Nabi Musa as.
Adapun Akidah Islam bersifat menyeluruh dan menjelaskan aturan untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat. “Kami tidak mengutusmu (Muhammad), kecuali untuk seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan” (QS Saba’ [34]: 28) dan firman-Nya, “Kami tidak mengutusmu (Muhammad), kecuali sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 107).
Sementara itu, akidah Kapitalisme Demokrasi dan Sosialisme keduanya menjelaskan aturan untuk semua aspek kehidupan sesuai kemampuan berpikir manusia dalam mengatur. Dengan demikian, kedua akidah tadi adalah buatan akal manusia dan bukan berasal dari Pencipta manusia yang Maha Mengetahui terhadap segala yang dibutuhkan manusia di setiap waktu dan tempat. Berbeda halnya dengan akidah dan aturan Islam.
Tanya : Mengapa kita memberi nama metode (thariqah) untuk semua tata cara itu?
Jawab: Agar bisa dibedakan antara metode (thariqah) dengan cara teknis (uslub) dan sarana (wasilah), karena keduanya sangat berbeda jauh. Ciri khas dari metode adalah bersifat konstan (tetap) dan unik (beda dari yang lain). Jadi, ketika dikatakan bahwa setiap manusia memiliki metode masing-masing dalam hidupnya, maka ini berarti manusia mengembalikan perhatiannya pada keyakinan dan kepuasan akalnya dari sisi bagaimana dia menjalani kehidupannya. Namun, ketika dikatakan bahwa ini adalah uslub (cara), ini berarti pada saat manusia memahami sesuatu. Karena itu, ada perbedaan antara metode (thariqah) dan cara (uslub) atau antara strategi dan taktik, jika kita membandingkan dengan istilah dalam peperangan.
Tanya : Mengapa metode ini mencakup tiga hal?
Jawab: Tata cara pelaksanaan aturan merupakan hal urgen dalam mabda. Karena itu, jika tidak ada, aturan itu hanya ide semata yang tidak berhubungan dengan masalah kehidupan. Tata cara pemeliharaan akidah juga urgen bagi mabda karena jika tidak ada, dasar mabda ini tidak terjaga dan tidak bisa menghadapi bahaya dan ancaman.
Adapun tata cara pengembanan dakwah juga penting bagi mabda karena jika tidak ada, maka akidah dan aturan ini tidak akan sampai kepada seluruh manusia untuk mengatur urusan kehidupan mereka. Karena itu, ketiga tata cara ini harus ada supaya metode pada setiap mabda menjadi sempurna.
Tanya : Mengapa lahirnya mabda ini dibatasi dengan dua cara, yaitu melalui wahyu dan melalui kejeniusan manusia?
Jawab: Tidak ada cara lain lagi untuk lahirnya mabda dan penampakannya dalam realitas kehidupan. Mabda yang dibuat manusia dinamakan dengan Mabda Wadh’i (buatan) dan mabda yang lahir dari wahyu Allah Swt. untuk disampaikan kepada manusia melalui Rasul-Nya dinamakan dengan Mabda Ilaahi.
Tanya: Apakah ada istilah atau ungkapan terkini yang sebanding dengan kata mabda?
Jawab: Ada, yaitu ideologi yang berarti kumpulan pandangan dan aturan tentang kehidupan.
Tanya : Apa maksud ungkapan ‘si fulan tidak memiliki mabda’?
Jawab: Artinya seseorang yang tidak mengatur pemikiran, tingkah laku, dan interaksinya dengan kaidah yang tetap, tetapi dengan kaidah yang berubah-ubah mengikuti hawa nafsunya.
Tanya : Apa makna keberadaan mabda yang semata-mata mabda dan keberadaan mabda dalam realitas kehidupan? Selain itu, apa perbedaan di antara dua pernyataan ini?
Jawab: Keberadaan mabda semata-mata mabda, berarti lahir dan eksistensi suatu mabda sebagai pemikiran di dalam benak pemiliknya, yaitu jika seseorang jenius, pemikirannya sampai pada mabda atau jika seorang rasul, dia diberi wahyu untuk disampaikan. Adapun keberadaan mabda dalam realitas kehidupan, yaitu mabda ini ditularkan oleh pemiliknya, baik dia seorang rasul maupun seorang jenius kepada orang lain. Kemudian, mereka meyakininya dan beraktivitas untuk menerapkan mabda ini dalam kehidupan hingga mereka berhasil mewujudkan dalam realitas kehidupan masyarakat. Keberadaan mabda sebagai pemikiran semata dan mabda itu diterapkan dalam realitas adalah dua hal yang amat jauh berbeda.
Tanya: Mengapa kita menghubungkan kebenaran dan kesalahan mabda dengan akidahnya bukan dengan aturan-aturannya?
Jawab: Akidah merupakan asas dan mabda tidak bisa tetap berdiri tanpa asas yang benar dan lurus. Lalu, aturan sebagai bangunan yang tegak di atas mabda harus benar pula. Setiap cacat yang menyusupi akidah akan beruntun menimpa aturan dan kemudian hilang dari realitas kehidupan sebagaimana pula asasnya.
Tanya: Adakah tambahan penjelasan mengenai tegaknya mabda di atas akal?
Jawab: Tegaknya mabda di atas akal adalah adanya bukti-bukti yang dibangun di atas fakta yang terindra yang dapat dipastikan keberadaannya. Ketika akal berpikir tentang seekor unta bagaimana diciptakan, langit bagaimana ditinggikan, dan bumi bagaimana dihamparkan, maka akal akan sampai pada kesimpulan tentang keberadaan Khalik yang telah mengatur semua itu. Kemudian, akal meyakini eksistensi Khalik dan pengaturannya itu. Inilah yang dimaksud dengan akidah yang dibangun di atas akal dan bukan di atas yang lain.

Bagian 3

Pemaparan

Kita telah memahami bahwa tidak ada akidah yang sahih, kecuali dibangun berdasarkan akal, serta sesuai dengan fitrah manusia dan naluri beragamanya. Dibangunnya akidah berdasarkan akal, artinya tidak mencukupkan hanya pada perasaan, tetapi juga pada bukti-bukti yang terindra. Bukti-bukti tersebut berasal dari dalam ataupun dari luar diri manusia, serta dari alam kehidupan, hewan, atau dari bintang-bintang dan benda angkasa lainnya. Kesesuaian akidah dengan fitrah dan naluri beragama, artinya tidak mengabaikan naluri yang ada pada manusia. Di samping itu, bahwasanya penampakan dan kecenderungan naluri ini membutuhkan pengaturan. Apabila tidak diatur, kehidupan manusia akan rusak dan sengsara. Contohnya, naluri beragama yang tidak mampu membuat aturan untuk mengatur dirinya dan tata cara beribadah, serta tidak bisa menentukan siapa yang berhak untuk disembah.
Pada diskusi sebelumnya, kami telah menyinggung keharusan mabda dibangun di atas akal (pemikiran) dan bukan pada asas materi dan kompromi. Pertanyaannya sekarang, materi apa yang mungkin dijadikan landasan akidah? Apakah ada saat ini mabda yang dibangun berdasarkan materi? Apa yang dimaksud dengan metode kompromi? Lalu, adakah mabda yang dibangun berdasarkan metode kompromi di dunia saat ini?
Dunia saat ini dipenuhi dengan berbagai pemikiran, pendapat, dan juga keyakinan. Di antaranya ada yang berhubungan dengan langit (ajaran samawi); ada yang berhubungan dengan bumi (ajaran buatan manusia); serta ada yang menggabungkan antara ajaran langit dan bumi dengan berbagai bentuknya. Pembahasan kita terfokus pada pemikiran yang menyeluruh, yaitu pemikiran yang memberikan penafsiran tentang segala yang ada di dunia ini. Yaitu, yang terdiri dari manusia, alam semesta, dan kehidupan; realitas yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia ini; serta hubungan semuanya dengan realitas yang ada sebelum dan sesudah kehidupan.
Dengan pemikiran seperti ini, akan menjawab pertanyaan manusia dari mana dia berasal, ke mana dia akan kembali, serta kaitan di antara keduanya. Penafsiran atau jawaban terhadap pertanyaan tersebut memberikan kaidah (landasan) berpikir bagi manusia untuk mengatur pemikiran dan pemahaman dalam kehidupannya. Kita tidak akan membahas jauh pemikiran-pemikiran parsial yang mencoba menafsirkan beberapa aspek kehidupan. Hal ini sebagaimana dalam ajaran Budha yang menempatkan aspek rohani dan tata cara keagamaannya sebagai perantara untuk keluhuran individu manusia, tanpa memperhatikan kemajuan masyarakat. Selain itu, sebagaimana yang dilakukan oleh penganut Hindu berupa pengagungan pada sapi dan sibuk dengan membeda-bedakan masyarakat dalam kasta-kasta.
Ini contoh-contoh pemikiran parsial yang berhubungan dengan bentuk apa yang ada di langit. Adapun contoh pemikiran yang menolak hubungan dengan langit, seperti halnya aliran wujudiyah yang memandang adanya manusia seperti gambaran adanya alam keseluruhan, serta menolak pengakuan terhadap naluri beragama pada manusia dan sifat manusia yang membutuhkan yang lain bagaimanapun keadaannya. Seperti paham utopia (kemustahilan) yang memandang, ketika terlepasnya seluruh ikatan kehidupan dan hubungan sosial masyarakat, terdapat asas terbentuknya individu dan masyarakat. Pada hakikatnya hal ini merupakan respon dari pemikiran materialis, serta hawa nafsu yang melanda masyarakat Timur dan Barat.
Saat ini kita kesampingkan pemikiran-pemikiran parsial yang tidak akan pernah beranjak pada derajat mabda, serta kita akan melihat pemikiran mabda. Mabda yang ada di dunia saat ini tidak lebih dari tiga, yaitu mabda Kapitalisme Demokrasi di dunia Barat dalam bentuk negara, kemudian mabda ini diikuti oleh negara-negara di dunia Timur; mabda Sosialisme Komunisme; dan mabda Islam. Mengapa urutannya demikian? Karena disesuaikan dengan mabda mana yang lebih dominan diterapkan di dunia saat ini. Kapitalisme sebagai sebuah negara telah menguasai dunia hingga negeri-negeri Sosialis bertekuk lutut karenanya, bahkan pemikiran mereka telah tercerabut. Adapun mabda Islam tak satupun negara di dunia ini yang menerapkannya. Kita hanya menemukan beberapa bagian telah terhapus karena berbagai bentuk bujuk rayu terhadap masyarakatnya, sebagaimana kita mendapati pula sebagian masyarakat yang lain mengumumkan perang terhadap Islam dengan bentuk lain dan slogan-slogan lain.
Sekarang akan kita dalami kemunculan masing-masing dari ketiga mabda tersebut. Kita akan membahasnya dengan cara membandingkan kaidah-kaidahnya, tata cara mencapai kepemimpinan berpikir di masyarakat, dan pengaturan aspek kehidupan dengan syariatnya. Dimulai dengan mabda yang lebih banyak bahaya dan pengaruhnya di dunia sekarang, yaitu mabda Kapitalisme Demokrasi. Dari mana asalnya penamaan mabda ini? Kita dapati nama mabda ini berasal dari fakta pemaksaan akidah mabda ini kepada masyarakatnya. Yaitu, munculnya kelompok orang yang memiliki kekayaan (kapital) dan dominasi mereka atas masyarakat. Akan tetapi, bagaimana lahirnya akidah ini dan bagaimana akidah ini dapat menimbulkan dominasi pada masyarakat dan dunia?
Pada masa lalu, para penguasa Eropa dan Rusia menjadikan agama sebagai alat untuk menguasai dan mengeksploitasi masyarakat melalui kaki tangan mereka, yaitu kaum agamawan (rijaluddin). Kita tidak lupa dengan terjadinya peperangan yang berlarut-larut di antara mereka. Pada saat itulah, banyak dari filsuf dan ilmuwan mengingkari agama sama sekali, serta ada pula di antara mereka yang berpendapat untuk memisahkan agama dari kehidupan dan dari penataan urusan kehidupan.
Pada akhirnya, mereka menyepakati ide untuk menjauhkan agama agar tidak turut campur dalam urusan kehidupan. Kesepakatan ini mengantarkan pada pemisahan agama dari negara sebagai lembaga yang berwenang mengatur kehidupan. Masalah ini selesai dengan kesimpulan mengabaikan agama dan tidak dibahas apakah agama diakui atau tidak karena pembahasan dibatasi dengan keharusan memisahkan agama dari kehidupan.
Akan tetapi, mengapa ide pemisahan agama dari kehidupan (Sekularisme) ini dianggap sebagai jalan tengah? Karena pemikiran ini mencoba mendamaikan kaum agamawan (para pendeta Nasrani)–yang menginginkan segala sesuatu tunduk pada mereka dengan dalih agama– dengan para filsuf dan kaum intelektual–yang menolak agama dan kekuasaan kaum agamawan.
Ide sekuler ini mengakui adanya agama, tetapi menolak campur tangannya dalam menata kehidupan. Maksud dari pengakuan ini adalah mereka mengakui adanya Pencipta alam semesta sebagaimana mereka mengakui adanya Hari Kiamat, yang berarti ide ini pun mengakui apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia. Karena itu, ide ini menjadi akidah yang mencakup pemikiran dasar tentang kehidupan dan pemikiran cabang untuk menyelesaikan problem kehidupan yang dibangun di atas akidahnya.
Sekarang, bagaimana lahirnya akidah Sosialisme? Akidah ini lahir dari hasil berpikir para intelektual yang ternama di Eropa, di antaranya adalah Hegel, Karl Marx, dan Lenin. Mereka menolak agama dan kekuasaan pendeta Nasrani, mereka tidak melihat adanya jalan tengah (kompromi) untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Akhirnya, mereka mengakhiri pemikiran memisahkan agama dari kehidupan dan dari negara. Kemudian, mereka hanya mempunyai pendapat bahwa kehadiran agama harus ditolak. Hal ini berarti mereka menolak realitas yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia.
Mereka hanya melihat kehidupan ini sebagai materi yang terdiri dari manusia, alam semesta, dan kehidupan. Materi adalah asal dari segala sesuatu, serta evolusi materi akan mewujudkan segala sesuatu. Ini berarti mereka menolak adanya Pencipta sesuatu yang ada dan mengingkari aspek rohani pada segala sesuatu itu. Mengakui adanya aspek rohani–menurut mereka–berbahaya bagi manusia, mereka meyakini agama adalah candu bagi masyarakat, sebagaimana yang dikatakan oleh Marx, dan atas dasar inilah akidah Sosialisme ditegakkan.
Dengan demikian, materi adalah dasar pemikiran bagi mereka karena proses berpikir menurut mereka adalah refleksi materi (benda) pada otak, tidak lebih dari itu. Evolusi materi dianggap merupakan penyebab dari segala sesuatu yang ada. Mereka mengingkari adanya Pencipta dan Hari Kiamat. Materi itu azali sehingga kehidupan dunia ini hanya untuk kehidupan itu saja. Di atas pemikiran seperti inilah, dibangun seluruh pemikiran cabang dan aturan kehidupan mereka.
Ide Sosialisme ini bukan filsafat khayali, tetapi sebuah mabda dan kenyataannya dianut oleh banyak negara, seperti Uni Soviet sebagai negara adidaya di masa lalu yang menunjukkan kekuatannya di dunia. Sayangnya, mereka tidak memperhatikan faktor terjadinya kehancuran negaranya sehingga bukan saja hancur, namun terpisah menjadi negeri-negeri lebih kecil yang akhirnya tidak menganut Sosialisme, tetapi menganut ide Kapitalisme Demokrasi.
Bagaimana dengan lahirnya Akidah Islam? Akidah Islam datang dari wahyu Allah Swt. yang disampaikan kepada Rasul-Nya Muhammad saw. Allah Swt. memerintahkan Muhammad untuk menyampaikan risalah Islam ini kepada seluruh manusia, yang diawali dengan bangsa Arab–dan risalah ini turun dengan menggunakan bahasa mereka, kemudian diakhiri dengan seluruh wilayah di dunia. Mereka tidak saja mengamalkan risalah ini, tapi juga terikat untuk meneladani Muhammad dalam dakwah dan penerapan Islam. Kalimat Syahadat, ‘Tiada ilaah selain Allah dan Muhammad Rasulullah’ yang berarti tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Swt. meniscayakan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana wajib pula mengaitkan segala aktivitas dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad saw.
Hal ini berarti adanya kehidupan ini karena adanya Pencipta yang juga Pengatur kehidupan ini, lalu Dia akan membangkitkan manusia pada Hari Kiamat untuk membalas setiap jiwa terhadap apa yang diyakini dan dilakukannya. Dengan demikian, Islam memandang bahwa kehidupan dunia ini ada yang telah menciptakannya dan juga mengaturnya. Hubungan kehidupan ini dengan Pencipta adalah, Dia (Allah Swt.) telah menciptakan kehidupan dan mengatur segala urusan-Nya. Adapun hubungan dunia ini dengan sesudahnya, yaitu Hari Kiamat adalah adanya balasan bagi semua keyakinan dan perbuatan. Dengan kenyataan seperti ini, Akidah Islam adalah akidah praktis yang memberikan solusi bagi semua problem kehidupan dan tentu saja Akidah Islam adalah akidah ideologis.

Diskusi

Tanya : Adakah perbedaan antara fitrah manusia dengan naluri beragama?
Jawab: Ya ada, fitrah itu meliputi semua naluri yang ada pada manusia dan bukan hanya naluri beragama saja.
Tanya : Bagaimana akidah bisa selaras dengan fitrah?
Jawab: Akidah mengakui kelemahan manusia dalam membuat aturan yang benar untuk interaksi manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya, dan dengan manusia yang lain. Akidah juga mengakui butuhnya manusia kepada Pencipta dengan risalah dan pengaturan-Nya yang sempurna dan senantias layak di setiap zaman dan tempat.
Tanya : Bagaima akidah bisa selaras dengan naluri beragama?
Jawab: Akidah mengakui kelemahan naluri dalam membuat pengaturan hubungan manusia dengan Tuhannya, dan naluri membutuhkan adanya aturan itu. Karena itulah, aturan diturunkan dari Sang Pencipta.
Tanya : Bagaimana gambaran orang yang berkeyakinan hanya dikaitkan dengan ide samawi saja?
Jawab: Ini adalah gambaran keyakinan akan adanya Pencipta langit. Hal itu karena keberadaan langit yang dapat diindra dan dijangkau, serta bukan sesuatu yang mustahil untuk diyakini. Orang semacam ini hanya menghubungkan keyakinannya dengan langit saja. Artinya, dia hanya membatasi aktivitasnya pada perkara-perkara ibadah dan tidak mengurusi kehidupan dunianya yang lain, yaitu ketika dia berhubungan dengan manusia lain ataupun dengan dirinya sendiri sekalipun.
Hal ini tampak pada kaum sufi, orang yang banyak beribadah mahdhah (ritual), kaum zuhud, dan orang-orang yang bermeditasi yang menghabiskan usianya dengan beribadah.
Tanya : Bagaimana gambaran orang yang meyakini gabungan ide samawi dengan ide bumi?
Jawab: Ini adalah gambaran keyakinan terhadap adanya Pencipta langit dan bumi, serta sekaligus sebagai Pengatur semua makhluk yang hidup di dalamnya. Namun, jika orang itu meyakini Pencipta hanya sebagai Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan, lalu tidak mengaitkan bumi dengan pengaturan urusannya, maka dia telah memisahkan Pencipta dengan makhluk-Nya, serta hanya menjadikan Tuhan sebagai Pencipta dan bukan sebagai Pengatur.
Tanya: Bagaimana gambaran orang yang berkeyakinan dengan ide bumi saja?
Jawab: Ini maksudnya bukan orang yang meyakini adanya Pencipta bumi, melainkan gambaran keyakinan terhadap materi yang dicerminkan dengan bumi, seperti halnya dalam mabda Sosialisme.
Tanya : Mengapa mabda Kapitalisme disebut dengan mabda Kapitalisme Demokrasi?
Jawab: Nama Kapitalis merupakan hal yang paling menonjol dalam mabda ini. Sementara itu, menggabungkannya dengan sebutan Demokrasi karena dari sisi hakikatnya memang demikian.
Tanya: Dari mana asalnya kata Demokrasi yang dilekatkan pada mabda Kapitalisme ini?
Jawab: Asalnya dari adanya pemikiran tentang empat kebebasan yang harus dipelihara di tengah-tengah kehidupan manusia.
Tanya : Mengapa demikian?
Jawab: Kita melihat akidah Kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan dan memberi kewenangan pada manusia untuk membuat aturan hidupnya sendiri tanpa membutuhkan rujukan pada Pencipta yang–menurut mereka– telah menciptakan, tetapi kemudian membiarkan manusia.
Jadi, sebenarnya akidah ini telah memberikan hak pada manusia untuk menikmati kebebasan sehingga manusia menjadi tuan bagi dirinya sendiri, setelah membuang jauh-jauh kedaulatan Tuhan atas dirinya. Tidak akan sempurna kehidupan manusia, kecuali adanya kebebasan yang mencakup semua aspek kehidupannya. Empat kebebasan itu adalah kebebasan berakidah, berbicara, kepemilikan, dan kebebasan bertingkah laku. Dari ide kebebasan kepemilikan, lahirlah sistem ekonomi Kapitalis, kemudian sistem ini mencuat, bahkan mendominasi sehingga mabda ini dinamakan Kapitalisme.
Dari empat kebebasan tadi, muncul Demokrasi yang memandang kedaulatan individu ada pada dirinya, dia akan bertindak sesuka hatinya. Begitu pun kedaulatan masyarakat ada pada diri mereka, serta mereka bisa memutuskan dan mengatur urusannya sesuai dengan keinginannya. Kedaulatan individu atas akidahnya, berarti di pagi hari dia meyakininya dan sore hari lepas dari akidahnya. Selain itu, kedaulatan individu untuk berpendapat, dia akan berbicara apa saja dan kapan saja diinginkan.
Tanya : Mengapa ide Sosialisme dan Komunisme digabungkan dalam mabda Sosialisme?
Jawab: Karena Sosialisme mempunyai banyak jenis pemahaman yang terpancar darinya, di antaranya adalah Komunisme. Namun, ada pula yang sama sekali tidak berhubungan dengan Komunisme, seperti Sosialisme Barat atau bahkan Sosialisme Islam yang penuh dengan kedustaan dan kebohongan.
Tanya: Jika demikian mengapa tidak disebut saja dengan mabda Komunisme?
Jawab: Sebenarnya Komunisme tidak pernah ada dalam kenyataan, yang ada hanyalah Sosialisme. Kami menyebutnya demikian karena sesuai dengan realitas yang terjadi saat ini dan karena para penganut mabda ini mengatakan bahwa kondisi mereka berada satu langkah menuju Komunisme. Meskipun demikian, kenyataan yang terjadi di dunia Sosialis sekarang bertentangan dengan apa yang mereka katakan karena Sosialisme sekarang telah mundur ke belakang kembali pada Kapitalisme.
Tanya : Mengapa tidak ada satu pun negara yang menganut mabda Islam, sementara itu sering kita dengar di media adanya Negara Islam?
Jawab: Sesungguhnya tidak ada satu pun negara yang dijuluki dengan Kapitalis, Komunis, ataupun Islam secara serampangan ataupun kiasan. Namun, disebut demikian karena negara ini menganut akidah suatu mabda, kemudian aturannya diterapkan di tengah masyarakat. Selain itu, negara ini juga mendakwahkan akidahnya. Saat ini tidak satu pun negara yang menerapkan Islam seperti itu.
Adapun apa yang kita dengar di media yang dimaksud dengan Negara Islam adalah negeri-negeri yang ada di dunia Islam, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim. Kita lihat di negeri-negeri itu, banyak tersiar luas dakwah Islam yang berupaya untuk menerapkan syariat Islam dalam kehidupannya supaya Negara Islam yang sebenarnya dapat berdiri tegak, bukan hanya negara kiasan dan namanya saja.
Tanya : Mengapa kita mengatakan bahwa mabda Kapitalisme adalah mabda yang paling berbahaya di antara ketiga mabda?
Jawab: Di satu sisi, mabda Kapitalisme telah menguasai kehidupan mayoritas penduduk bumi saat ini, baik di Timur maupun Barat. Pada di sisi lain karena negara ‘nomor satu’ ini, yaitu Amerika telah menganut dan merealisasikan mabda ini untuk menundukkan dunia. Sampai-sampai negeri Sosialis sekalipun yang dipimpin Rusia ditundukkan, lalu dilanjutkan oleh Cina pada saat kehancurannya.
Tanya : Mengapa pada mabda Kapitalisme, aspek ekonomi dan moneter lebih menonjol daripada aspek lainnya?
Jawab: Hal ini karena yang menjadi nilai umum pada mereka adalah manfaat yang ada pada materi. Dalam kondisi ini, orang yang mempunyai harta terbanyak akan mendominasi masyarakat dan mengatur negara sesuai dengan keinginannya. Karena itu, kita melihat para pemilik harta dan modal (kapital) menjadi kepala negara di Amerika.
Tanya : Apakah ada contoh peperangan atas nama agama dalam sejarah bangsa Eropa?
Jawab: Peperangan tersebut terjadi dalam dua periode, yang pertama selama tujuh tahun dan yang kedua selama seratus tahun. Saat ini terjadi perang antara Irlandia dan kaum Protestan di Inggris.
Tanya: Siapa tokoh intelektual dan filsuf yang memimpin perang pemikiran melawan gereja yang dijadikan alat untuk memeras masyarakat oleh pihak penguasa dan para kaisar?
Jawab: Mereka adalah Rousseau, Voltaire, Durkheim, Freud, Kierkegaard, Kant, A. Camus, dan yang lainnya.
Tanya : Adakah orang yang mengingkari agama sama sekali?
Jawab: Ada, yaitu Feuerbach yang dianggap sebagai Bapak Spiritual Karl Marx. Pencetus teori akal pertama dan berpengaruh besar bagi Marx adalah Hegel, namun Marx menyerang pemikiran Hegel dengan menyatakan pendapat yang berlawanan. Pemikirannya adalah asal mula kehidupan ini bukanlah akal. Akal berada pada posisi kedua setelah materi dan akal hanyalah hasil refleksi materi terhadap otak.
Tanya : Masih adakah kaum agamawan yang melihat adanya harapan pada saat kedudukan mereka yang telah jatuh atau mereka memang berupaya untuk menyelamatkannya?
Jawab: Mereka berupaya menyelamatkannya dengan dua cara. Pertama, cara yang ditempuh dari dalam, yaitu ketika muncul gerakan pembaruan agama. Kedua adalah cara dari luar, yaitu ketika mereka memimpin perang salib melawan Daulah Islam. Kaum agamawan menempatkan diri mereka sebagai pelayan raja-raja dan para pemimpin Eropa dengan dalih menjaga tempat-tempat suci. Padahal, sebenarnya hal itu merupakan cara untuk membagi rampasan perang dan gambaran kedengkian mereka kepada Islam yang senantiasa menyelamatkan bangsa mereka dari kegelapan dan kezaliman.
Tanya : Apa maksud perkataan Marx, “Agama adalah candu masyarakat”?
Jawab: Marx terpengaruh kondisi Eropa yang benar-benar mengerikan ketika kaum agamawan dengan para raja dan kaisar memimpin atas nama agama. Kondisi ini membuat Marx bersikap sama terhadap agama apa pun sebagaimana agama pada saat itu. Lalu, menurutnya meyakini agama dapat menyia-nyiakan kehidupan dan melumpuhkan gerak masyarakat untuk melawan kezaliman dan penganiayaan.
Keyakinan ini menjerumuskan Marx pada dua kesalahan fatal, pertama Marx telah menggeneralisasi seluruh agama, baik Islam maupun di luar Islam. Padahal, kondisi ini terjadi karena agama di masa itu dijadikan alat oleh kaum agamawan untuk mengeksploitasi masyarakat dan membius mereka untuk tidak melawan. Kedua, dalam hal ini Marx dengan jari jemarinya yang sia-sia telah memutarbalikkan fakta dan menyalahi kebenaran. Karena itu, bagaimana mungkin hal seperti ini ditujukan kepada agama Islam? Padahal, pengaruh Islam yang gilang-gemilang dan bercahaya itu senantiasa bersinar di mana-mana, bahkan secara khusus di jantung Eropa sendiri.
Tanya : Mengapa kita tidak menyetujui pendapat Sosialisme yang menjelaskan bahwa pemikiran itu hasil dari refleksi fakta terhadap otak?
Jawab: Pemikiran tidak akan sempurna hanya dengan proses refleksi saja. Semua yang dihasilkan melalui refleksi bukanlah berupa pemikiran. Supaya refleksi itu berlangsung sempurna dibutuhkan cermin, sedangkan cermin itu tidak ada di dalam otak. Hasil dari refleksi adalah pemindahan fakta ke otak. Akan tetapi, apakah cukup dengan adanya pemindahan fakta ke otak ini sudah bisa menghasilkan pemikiran oleh orang yang jenius sekalipun? Jawabannya tentu tidak!
Pemindahan itu–baik sempurna maupun tidak–adalah tugas alat indra. Supaya pemindahan fakta ke otak ini berjalan dengan baik, maka alat indra pun harus berfungsi baik dan sempurna. Setiap terjadi tipuan alat indra akan menghasilkan pemikiran yang keliru. Kemudian, apakah dari pemindahan fakta oleh alat indra ke otak dengan cara yang benar sudah bisa menghasilkan pemikiran? Sesungguhnya kita telah menyaksikannya pada seorang anak kecil yang dia belum bisa berpikir seperti orang dewasa. Jadi benar, semua ini kembali pada kematangan alat indra dan adanya sebab lain yang urgen, yaitu keberadaan informasi (maklumat). Dengan bantuan informasi, fakta yang dipindahkan oleh alat indra ke otak akan bisa dipahami dan diberikan keputusan atau hukum.
Jika tidak seperti itu, bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah mengetahui bahasa Cina, bahkan hurufnya sekalipun akan dapat membaca tulisan Cina? Dia akan bisa membacanya bila diberikan informasi tentang bahasa Cina dan huruf-hurufnya. Alat indralah yang memindahkan gambaran lembaran tulisan huruf-huruf, kata-kata, dan kalimat ke dalam otak. Lalu, setelah dihubungkan dengan informasi yang telah ada sebelumnya, barulah seseorang akan dapat membaca dan memahaminya.

Bagian 5
Pemaparan

Setelah kita membahas dari mana asal mula lahirnya ketiga mabda dan bagaimana akidah masing-masing ini mampu memberikan solusi untuk semua problem kehidupan sehingga bukan merupakan akidah teoretis (filsafat khayali), maka pada bab ini akan dijelaskan perbandingan-perbandingan mabda dalam memandang siapa manusia; cita-cita luhur yang hendak dicapai; pandangan terhadap masyarakat; serta pelaksanaan aturannya.
Akidah Kapitalisme dan Sosialisme berbeda dalam pemikiran dasar tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan, namun keduanya sepakat dalam nilai luhur manusia yang dibuat sendiri oleh manusia untuk dirinya. Nilai luhur yang mereka junjung tinggi adalah kebahagiaan, dalam arti manusia dapat menikmati sepuas-puasnya kenikmatan jasmani dalam hidupnya. Kenikmatan itu adalah sarana untuk mencapai kebahagiaan, bahkan merupakan kebahagiaan itu sendiri. Keduanya juga sama dalam memberikan kebebasan kepada individu untuk mengatur dirinya sesuai dengan apa yang diinginkannnya dan bebas untuk mewujudkan kebahagiaannya. Kebebasan individu adalah salah satu yang diagungkan oleh kedua mabda ini.
Ada perbedaan pada kedua mabda tersebut ketika memandang sebuah masyarakat. Kapitalisme berpendapat bahwa masyarakat merupakan kumpulan individu sehingga mabda ini disebut pula mabda Individualisme. Fokus akidah ini berbicara individu dan jaminan kebebasannya. Hal ini menjadikan kebebasan dalam berakidah (berkeyakinan) sesuatu yang diagungkan dalam mabda ini. Begitu pun dengan kebebasan kepemilikan pada seseorang.
Namun, kebebasan kepemilikan ini tidak dikaitkan dengan falsafah mabda yang membebaskan dengan sebebas-bebasnya tanpa ada batasan dalam pemilikan sesuatu, tetapi terikat dengan adanya campur tangan negara dalam menjamin kebebasan antar-individu. Negara menerapkan batasan ini dengan kekuatan militer dan tekanan undang-undang. Meskipun demikian, negara dalam pengertian mereka tetap sebagai perantara dan bukan tujuan sehingga kedaulatan tetap berada di tangan individu, bukan pada negara.
Mabda Sosialisme memandang masyarakat sebagai kumpulan manusia dengan segala interaksinya yang terjadi antara dia dengan alam semesta sebagai satu kesatuan. Semuanya bersama-sama mengalami perubahan dan perkembangan. Individu tidak bisa mengalami perubahan sendiri, kecuali bersama-sama dengan alam, serta interaksinya tadi sebagaimana halnya gigi dalam putaran roda. Hal ini berarti seseorang tidak punya kebebasan akidah dan kepemilikan. Negara–menurut mereka–adalah supervisor interaksi manusia dengan alam. Negara mengikat akidah dan kepemilikan individu. Negara adalah sesuatu yang diagungkan dalam mabda ini.
Adapun Akidah Islam memandang nilai luhur pada manusia dan masyarakat bukan dibuat oleh manusia, melainkan berasal dari Allah Swt., yaitu berupa perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, yang tidak akan pernah berubah. Kita melihat pemeliharaan generasi manusia, pemeliharaan akal, kehormatan, jiwa, harta, atau kepemilikan, pemeliharaan akidah (agama), serta adanya jaminan keamanan individu dan negara adalah nilai-nilai luhur yang bersifat pasti, tidak akan mengalami perubahan untuk memelihara kehidupan individu dan masyarakat. Untuk memelihara nilai-nilai luhur ini dibuatlah sanksi keras berupa hukuman hudud, qishash, dan ta’zir. Pemeliharaan nilai-nilai luhur ini ditempatkan sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan karena merupakan perintah dari Allah Swt. dan bukan untuk meraih nilai materi. Hal inilah yang akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan pada diri Muslim. Kebahagiaan ini digambarkan dengan mendapatkan ridha Allah Swt. dan bukan pada kepuasan dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan kenikmatannya.
Mengapa Islam memperhatikan manusia terlebih dulu, sementara itu keberadaan seorang Muslim sebagai anggota masyarakat menjadi perhatian berikutnya? Islam memandang manusia sejatinya sebagai makhluk yang mempunyai naluri dan kebutuhan jasmani. Dengan demikian, Islam mengatur cara memenuhi semua kebutuhan manusia secara terperinci, serta tidak membungkam sebagian kebutuhan dan melepaskan sebagian yang lain. Aturan itu ditujukan untuk ketenangan dan kesejahteraan manusia, serta akan menjauhkan manusia dari cara-cara hewan dengan kebrutalan nalurinya.
Islam memandang keberadaan manusia sebagai anggota masyarakat bukan merupakan bagian yang terpisah darinya. Masyarakat ibarat satu tubuh, tapi bukan seperti gigi dalam roda. Pandangan seperti ini akan mengantarkan pada perlindungan dan pemeliharan masyarakat. Pada saat yang sama akan melindungi dan memelihara individu. Rasul saw bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum Allah adalah seperti satu kaum yang bersama-sama berlayar di atas kapal, sebagian mereka berada di bagian atas kapal dan sebagian lain berada di bawah. Orang-orang yang berada di bagian bawah, saat mereka membutuhkan air karena dahaga akan terlebih dulu melewati orang-orang yang berada di bagian atas. Kemudian, orang-orang di bagian bawah ini berkata, ‘Andai saja kita lubangi bagian kita dan tidak mengganggu orang di atas kita’. Maka itu, apabila mereka dibiarkan melakukan apa yang mereka inginkan, pasti akan celakalah semuanya. Namun, jika semua mencegah mereka agar selamat, maka selamatlah semuanya”.
Dengan pandangan seperti ini, Islam mempunyai pemahaman khas tentang sebuah masyarakat, yaitu merupakan sekelompok manusia yang saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi ini lahir dari kesamaan pemikiran dan perasaan mereka, serta dari aturan (sistem) yang mengatur urusan hidup mereka. Pemikiran, perasaan, dan aturan ini merupakan sekumpulan perintah dan larangan Allah Swt. Dengan demikian, seorang Muslim senantiasa mengikatkan dirinya dengan Islam dan tidak menginginkan kebebasan sebagaimana dalam pandangan Kapitalisme ataupun Sosialisme. Tidak ada kebebasan berakidah setelah beriman, setiap kemurtadan akan diberantas dan pelakunya berhak untuk dibunuh, Rasul saw. bersabda, “Siapa saja di antara kalian yang mengubah agamanya (Islam), maka bunuhlah dia”. Tidak ada juga kebebasan individu dalam bertingkah laku, setiap pezina akan diberi hukuman dera atau rajam. Allah Swt. berfirman, “Hendaklah (pelaksanaan) hukuman keduanya disaksikan oleh sekumpulan orang Mukmin” (QS an-Nuur [24]: 2). Demikian pula setiap pemabuk diberi hukuman dera.
Begitu pula tidak ada kebebasan dalam berekonomi (kepemilikan) sehingga pemilikan individu harus karena sebab-sebab yang disyariatkan, tidak ada pencurian, perampasan, penipuan, riba, dan yang lainnya. Di samping itu, dilarang membelanjakan harta secara foya-foya dan sia-sia. Mabda Islam telah menjadikan perintah dan larangan Allah Swt. sebagai pengendali dan pemelihara, sementara itu negara sebagai pelaksananya. Artinya, hukum syara’lah sebagai pemilik kedaulatan dan bukan negara, seperti pada mabda Sosialisme dan bukan pula rakyat, seperti pada mabda Kapitalisme. Dalam Islam, rakyat adalah pemilik kekuasaan, artinya metode pelaksanaan aturannya berpegang pada ketakwaan yang ada pada seorang Mukmin.

Diskusi

Tanya: Apa yang menjadi pemikiran dasar pada mabda Kapitalisme?
Jawab: Yaitu, bahwasanya dunia yang terdiri dari manusia, alam semesta, dan kehidupan ini adalah hasil ciptaan Tuhan, tetapi Pencipta ini tidak mengatur. Pengaturan diserahkan kepada manusia.
Tanya: Apa yang menjadi pemikiran dasar pada mabda Sosialisme?
Jawab: Dunia ini bukan ciptaan siapa pun, dunia ini adalah materi. Pengaturannya datang dari materi dan dari evolusi materi.
Tanya : Apa yang dimaksud dengan nilai-nilai luhur?
Jawab: Tujuan-tujuan besar bagi ketenangan hidup manusia.
Tanya : Apa perbedaan antara nilai-nilai luhur dengan cita-cita luhur?
Jawab: Keduanya punya arti yang sama. Cita-cita adalah nilai dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai ini harus direalisasikan dalam kehidupannya, meskipun terkadang berkurang atau bertambah jumlahnya mengikuti peluang dan lingkup kehidupan manusia, sebagai contoh bisa saja ada empat nilai luhur dan delapan cita-cita.
Tanya: Bagaimana kesamaan nila-nilai luhur pada mabda Kapitalisme dan Sosialisme?
Jawab: Keduanya bersepakat, nilai luhur yang ada pada manusia itu ketika manusia menjadi pengatur dirinya dan kehidupannya. Selanjutnya, manusia akan menetapkan nilai dan tujuan besarnya.
Tanya: Mengapa kedua mabda tersebut memandang kebahagiaan itu adalah pemenuhan kenikmatan jasmani?
Jawab: Hal ini karena yang membuat nilai dan tujuan itu adalah manusia sendiri, dia tidak melihat yang lain, kecuali pada diri dan jasmaninya saja. Manusia tidak merasakan kebahagiaan kecuali dengan ketenangan dan ketenteraman dalam kenikmatan jasmaninya.
Tanya: Bagaimana keduanya bersepakat dalam memberi kebebasan kepada manusia?
Jawab: Hal itu disebabkan kebebasan itu adalah jalan untuk meraih kenikmatan jasmani.
Tanya: Apa yang dimaksud dengan kebebasan bertingkah laku pada seseorang?
Jawab: Manusia bisa mengatur dirinya sesuai dengan yang diinginkan dan berbuat sesukanya tanpa campur tangan orang lain.
Tanya : Apa maksud dari kebebasan dalam berakidah?
Jawab: Manusia bebas meyakini paham apa saja yang dia inginkan, dan melakukan apa saja sesuai dengan keyakinannya tanpa campur tangan orang lain.
Tanya : Apa maksud dari kebebasan ekonomi?
Jawab: Manusia bebas memiliki apa saja yang diinginkan dengan cara bagaimanapun dalam mendapatkannya dan berapa pun jumlahnya. Dia mengatur harta miliknya sesuai dengan keinginannya tanpa ada campur tangan orang lain.
Tanya : Apa yang dimaksud dengan kebebasan kepemilikan itu tidak terkait dengan falsafah akidah Kapitalisme?
Jawab: Falsafah akidah Kapitalisme memberikan kebebasan tanpa batas dalam kepemilikan dan cara-cara memilikinya. Namun, hal ini tidak diberlakukan dalam realitasnya, kebebasan kepemilikan ini dilandaskan pada yang lain, yaitu pada negara yang menggunakan kekuatan militer dan tekanan undang-undang.
Tanya: Apa maksud negara dalam sistem Kapitalisme merupakan sarana dan bukan tujuan?
Jawab: Maksudnya, negara berperan dalam membatasi dan memelihara kebebasan. Setelah hal ini terjadi, cukuplah peranannya berhenti sampai di situ.
Tanya : Apa maksud kedaulatan itu milik individu, bukan milik negara?
Jawab: Mereka menetapkan segala sesuatu dalam kehidupan sesuai dengan keinginan dan kehendak mereka dalam mengikuti kebebasan yang ada padanya. Negara dalam sistem ini menjadi pihak yang membuat aturan untuk membatasi kebebasan dan memelihara kebebasan individu tadi, tidak lebih dari itu.
Tanya : Bagaimana realitasnya penjelasan di atas bila dikaitkan dengan agama?
Jawab: Agama wajib dipisahkan dari kehidupan dan dari aturan perundang-undangan. Manusialah yang membuat aturan itu sesuai dengan keinginannya.
Tanya: Apa maksud dari pandangan Sosialisme tentang interaksi antara manusia dengan alam itu pasti adanya?
Jawab: Manusia–menurut mereka–digambarkan sebagai salah satu bagian dari alam yang tidak dapat berkembang kecuali bersama dengan alam dan tunduk padanya.
Tanya: Apa yang dimaksud dengan alam dalam mabda Sosialisme?
Jawab: Alam adalah lingkungan berisi materi dengan apa yang ada di dalamnya, seperti sarana produksi, alam itu sendiri, dan interaksinya dengan manusia.
Tanya: Jika demikian, apa definisi masyarakat menurut pandangan Sosialisme?
Jawab: Masyarakat adalah kumpulan dari manusia, ditambah dengan sarana produksi dan interaksi yang produktif, atau dengan kata lain masyarakat itu adalah kumpulan manusia dan interaksinya dengan sarana kehidupan.
Tanya: Mengapa dari pandangan Sosialisme tentang masyarakat seperti yang sudah dijelaskan, membuat tidak adanya kebebasan berakidah dan berekonomi pada seseorang?
Jawab: Hal ini karena individu manusia hidup bersama-sama dengan sarana kehidupan dan interaksinya. Sarana ini telah mencukupi berbagai interaksi, dan jika sarana ini berubah, maka berubah pula interaksi yang ada mengikuti perubahan pada materi (sarana) tadi. Dengan demikian, tidak ada kebebasan bagi individu untuk berakidah, selain perubahan materi. Selain itu, individu juga tidak mempunyai kebebasan memiliki dan mengatur apa yang dimilikinya.
Tanya: Kalau demikian , dari mana datangnya keterikatan akidah pada mereka?
Jawab: Dari kehendak negara. Negara membatasi kepemilikan, negara adalah pusat interaksi dalam perubahan materi.
Tanya : Apa maksud dari penjelasan di atas dalam realitasnya jika dikaitkan dengan agama?
Jawab: Dalam sistem Sosialisme, pada dasarnya agama tidak mempunyai tempat dalam kehidupan. Adapun yang ada hanyalah pengaturan interaksi manusia dengan alam.
Tanya: Apa maksudnya nilai luhur dalam Islam dalam memelihara masyarakat itu bersifat langgeng dan tidak akan mengalami perubahan?
Jawab: Maksudnya, perintah dan larangan Allah Swt. yang telah menentukan caa-cara pemeliharaan masyarakat dengan seluruh aspeknya itu senantiasa tetap pada setiap waktu dan tempat. Tata cara pemeliharaan ini tidak tunduk pada keinginan manusia ataupun masyarakat, tetapi tunduk pada keinginan Tuhannya manusia yang telah menciptakannya, serta yang paling mengetahui apa yang layak bagi keberlangsungan hidup individu dan masyarakat.
Tanya: Apa perbedaan antara pemeliharaan jenis manusia dengan pemeliharaan terhadap kemanusiaan?
Jawab: Pemeliharaan jenis manusia yang terdiri dari pria dan wanita dilakukan dengan pelaksanaan satu aturan khusus, yaitu aturan pernikahan dalam Islam. Adapun pemeliharaan terhadap kemanusiaan–dalam pengertian bukan hewan–dilakukan dengan pengaturan terhadap naluri baqa’ (eksistensi) dengan mengatur kecenderungan suka akan harta; kecenderungan mempertahankan jiwa dan negerinya; atau mengatur kecenderungan manusia yang ingin menguasai orang lain.
Tanya : Bagaimana Islam memelihara tujuan luhur masyarakat?
Jawab: Dengan sangsi yang keras berupa hukum hudud, qishash, dan ta’zir yang masing-masing sesuai dengan tujuan luhur tersebut.
Tanya: Apakah kebutuhan jasmani dan kebutuhan naluri berbeda dengan kecenderungan?
Jawab: Tidak, keduanya sama, misalnya kebutuhan seks itu adalah kecenderungan seks itu sendiri yang merupakan satu dari manifestasi naluri seksual yang nyata dalam kehidupan manusia.
Tanya: Apa perbedaan antara pandangan Islam terhadap individu dan masyarakat dengan pandangan Sosialisme?
Jawab: Islam memandang masyarakat adalah kumpulan individu yang di dalamnya diperhatikan perbedaan individu satu sama lain. Islam memberi semangat pada kemampuan manusia dan memberinya peluang untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya agar indvidu dapat memperoleh ketenangan. Dalam masyarakat Islam, diperhatikan pula perbedaan posisi di antara kelompok, misalnya dengan memberi hak untuk menikmati fasilitas hidup yang menjadi keinginan individu.
Sementara itu, Sosialisme tidak memberi kesempatan pada individu keluar dari bagian, ibarat gigi dalam roda kelompok. Hak individu dan kelompok di dalam Islam tidak melanggar atau menutupi hak individu dan kelompok lainnya. Berbeda dengan Sosialisme, tidak ada hak selain hak-hak kelompok. Karena itu, mereka mengatakan harus adanya diktator lapisan buruh atau apa yang disebut dengan kaum Proletar
Tanya : Apa maksud tidak ada kebebasan dalam Islam dan Islam dibangun di atas dasar ibadah?
Jawab: Maksudnya adalah dalam semua urusan kehidupan harus ada keterikatan pada perintah dan larangan Allah Swt. Hal ini berarti keterikatan terhadap iradah Allah Swt. dan bukan pada salah satu dari makhluk-Nya. Ada perbedaan yang amat jauh antara penghambaan kepada Pencipta dengan penghambaan kepada makhluk. Pada yang pertama, terdapat kebebasan dalam keinginan manusia dari dominasi semua makhluk, sementara itu yang kedua, keinginan-keinginan manusia dikuasai oleh makhluk lain atas dirinya.
Tanya : Apakah susunan masyarakat pada ketiga mabda itu berbeda?
Jawab: Tentu saja, Islam memandang masyarakat terbentuk dari sekelompok manusia yang diikat oleh pemikiran, perasaan, dan aturan tertentu. Sosialisme memandang masyarakat adalah sekelompok manusia yang diikat oleh interaksi di antara mereka dan dengan sarana-sarana produksi. Adapun Kapitalisme memandang masyarakat sebagai kumpulan individu yang menikmati empat kebebasan, namun terikat oleh negara sebagai pemelihara kebebasan individu dan bukan karena falsafah kebebasan yang tanpa batas.
Tanya : Apakah ada tambahan penjelasan tentang gambaran kebebasan dalam Kapitalisme yang tidak terikat pada falsafahnya, tetapi terikat pada negara?
Jawab: Kebebasan apa pun sebenarnya berarti tidak ada keterikatan. Jadi, pada falsafahnya kebebasan itu tidak menerima keterikatan karena jika tidak begitu, bukan kebebasan namanya. Pada saat negara dalam sistem Kapitalis turut campur dengan dalih memelihara kebebasan individu, sebenarnya sudah terjadi pembatasan kebebasan gerak manusia pada semua perilaku individu dan masyarakat. Artinya, negara telah membatasi kebebasan individu yang empat tadi.
Demikianlah makna kebebasan yang sesungguhnya adalah lawan dari terikat. Jadi, adanya pembatasan dari negara dengan alasan memelihara kebebasan bukan makna sebenarnya, serta bukan falsafah mabda ini.

Bagian 5
Pemaparan

Setelah kita membandingkan beberapa perbandingan dari ketiga mabda tadi, yaitu pandangan masing-masing terhadap individu dan masyarakat, dalam bab ini akan dijelaskan perbandingan lainnya, yaitu akidah masing-masing mabda yang memancarkan aturan; standar perbuatan manusia; pandangan khas terhadap masyarakat; dan tentang metode penerapan aturan yang terpancar dari akidah.
Akidah Sosialisme memandang materi sebagai asal dari segala sesuatu. Segala sesuatu bersumber dari materi dengan adanya proses evolusi. Akidah Kapitalisme memandang adanya keharusan untuk memisahkan agama dari kehidupan dan berikutnya dipisahkan dari negara, serta mereka menolak membahas adanya peranan Pencipta dalam pengaturan kehidupan manusia. Sementara itu, Islam menetapkan bahwa Allah Swt. Merupakan Pencipta dan Pengatur kehidupan, Dia menurunkan risalah untuk manusia berupa agama. Kemudian, manusia akan dimintai pertanggungjawabannya berdasarkan keimanan dan perbuatannya di Hari Akhir. Akidah Islam ini mencakup keimanan kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Qadha Qadar, yang baik dan buruk dari Allah Swt.
Adapun mengenai terpancarnya aturan dari akidah, Sosialisme memandang aturan itu diperoleh dari sarana produksi. Sistem (aturan) feodal diperoleh dari kapak sebagai alat produksi yang digunakan saat itu. Aturan Kapitalisme diperoleh dari alat industri modern, demikianlah aturan menurut mereka mengikuti perubahan pada sarana produksi. Kapitalisme memandang manusia mengambil aturan dari fakta kehidupannya setelah dipisahkannya dari agama. Adapun Islam memandang Allah Swt. telah mengutus Sayyidina Muhammad saw. untuk seluruh manusia dengan membawa risalah. Manusia harus mengikatkan dirinya dengan risalah itu dengan cara mempelajari masalah yang dihadapinya, kemudian ia menggali solusinya dari Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya.
Mengenai standar perbuatan dalam kehidupan manusia, Sosialisme memandang aturan yang lahir dari materi itu sebagai standar perbuatan. Karena itu, standar ini akan berubah mengikuti perubahan aturan. Kapitalisme memandang manfaat sebagai standar, kapan saja manfaat itu ada maka perbuatan pun dilakukan.
Adapun Islam memandang halal dan haram sebagai standar. Kapan pun yang halal itu ada maka boleh dilakukan, serta kapan pun haram itu ada maka dilarang melakukannya. Standar ini tidak mengalami perubahan dan perkembangan. Dalam Islam, manusia tidak berhukum pada manfaat, juga tidak pada evolusi materi, tetapi berhukum hanya pada syara’ semata.
Adapun pandangan terhadap masyarakat, Sosialisme berpendapat masyarakat itu kumpulan umum dari manusia, alam, dan interaksi sebagai satu kesatuan materi. Dengan berubahnya alam dan munculnya sarana produksi yang baru, berubah pula kehidupan manusia dan muncul interaksi baru. Kemudian, terjadi perubahan masyarakat secara menyeluruh dengan adanya perubahan pada materi ini. Peranan manusia dalam perubahan tidak lain hanyalah dengan memunculkan pertentangan di antara kelompok manusia untuk mempercepat perubahan di masyarakat. Dari sinilah, terjadi perubahan pada individu. Individu berubah bersama masyarakat seperti halnya perputaran gigi roda.
Adapun Kapitalisme memandang masyarakat sebagai kumpulan individu. Apabila urusan individu selesai, selesai pula urusan masyarakat karena negara hanya bertugas mengurusi individu saja. Sementara itu, Islam memandang asas masyarakat adalah akidah dengan apa yang dikandungnya berupa pemikiran, perasaan, dan aturan yang terpancar dari akidah.
Masyarakat Islam akan terwujud manakala pemikiran Islam, perasaan Islam, dan peraturan Islam menguasai masyarakat. Hal ini akan membentuk hubungan manusia dengan manusia lain dalam satu jamaah, tetapi belum membentuk masyarakat, kecuali adanya interaksi di antara mereka. Interaksi tersebut tidak akan terjadi, kecuali adanya kesamaan pemikiran, perasaan, dan peraturan. Salah satu dari unsur tadi hilang, interaksi tidak akan terjadi dan selanjutnya tidak akan terbentuk suatu masyarakat.
Jadi, masyarakat dalam Islam terdiri dari manusia, pemikiran, perasaan, dan aturan. Apabila seluruh manusianya Muslim, namun pemikiran mereka Kapitalis, perasaan mereka nasionalis, dan aturan mereka adalah sistem Demokratis, maka masyarakatnya bukan masyarakat Islam. Jadi, untuk membentuk masyarakat Islam haruslah pemikiran dan perasaan, serta aturannya harus bersumber dari Akidah Islam.
Adapun penerapan aturan dalam realitas kehidupan, Mabda Sosialisme memandang negara sebagai pelaksana aturan dengan menggunakan kekuatan militer dan tekanan perundang-undangan. Kapitalisme memandang negara sebagai pengawas kebebasan dan pihak yang mencegah pelanggaran terhadap kebebasan individu ataupun masyarakat. Negara tidak turut campur ketika terjadi pengeksploitasian dan perampasan hak-hak karena sama-sama ridha.
Berbeda dengan Islam, yang memandang pelaksanaan aturan itu terjadi dari individu dengan dorongan ketakwaan kepada Allah Swt.; dari negara dengan dorongan perasaan masyarakat terhadap keadilan Islam; serta dari umat yang bekerja sama dengan pemimpin karena dorongan amar makruf nahi munkar. Selain itu, juga dari penguasa negara dengan pelaksanaan ‘uqubat (sanksi) ketika negara telah mengatur urusan individu dan jamaah, namun ada individu yang melanggar, maka negara akan memberinya sanksi.
Negara dalam Islam tidak seperti Sosialisme yang mengatur urusan jamaah, individu, dan perubahan aturan. Negara dalam Islam mengatur urusan jamaah dan dan tidak mengatur urusan individu, kecuali ketika dia lemah. Negara dalam Islam tidak mengubah aturan dan aturan tidak akan berubah selamanya. Meskipun demikian, negara mempunyai wewenang untuk mengadopsi hukum-hukum syara’ pada saat beragamnya hasil ijtihad terhadap masalah yang terjadi ataupun masalah yang baru.
Hal ini sebagaimana pula Negara Islam berbeda dengan negara Kapitalis yang semata-mata menjamin kebebasan individu, walaupun terjadi pelanggaran hak orang lain. Individu dalam Islam terikat dengan perintah dan larangan syar’i, serta dilarang untuk mengganggu hak orang lain, sekalipun dengan keridhaan ataupun paksaan.

Diskusi

Tanya: Apa arti dari pendapat Sosialisme bahwa segala sesuatu itu bersumber dari materi dengan proses evolusi?
Jawab: Yang dimaksud dengan evolusi materi adalah perpindahan materi dari satu kondisi pada kondisi yang lain. Evolusi ini terjadi secara alami pada materi dan juga pada aktivitas dengan terjadinya pertentangan antara unsur positif dan negatif. Pertentangan ini adalah penyebab evolusi setiap materi dan setiap aktivitas material, baik yang bersifat maknawi ataupun spiritual.
Tanya : Mengapa orang-orang Kapitalis menolak pembahasan eksistensi Pencipta, padahal mereka membahas tidak adanya peranan Pencipta dalam kehidupan?
Jawab: Pada awalnya pembahasan ini difokuskan pada Pencipta dan eksistensinya, serta akibat yang dihasilkannya berupa adanya kehidupan dunia ini. Sebelumnya, kaum Kapitalis tidak menginginkan hak ini karena mereka telah merasakan eksploitasi kaum agamawan terhadap masyarakat mereka pada abad pertengahan di Eropa.
Karena itu, pembahasan mereka batasi pada keharusan untuk menjauhkan campur tangan Pencipta dalam kehidupan, sama saja apakah eksistensi Pencipta ini diakui oleh orang yang mengakuinya ataukah tidak diakui sama sekali. Pada hakikatnya mereka ingin menghindari kesimpulan berupa kepastian adanya Pencipta agar mereka tidak terikat dengan agama yang telah diturunkannya.
Tanya: Apakah agama Islam sama dengan agama-agama lain dalam masalah akidah?
Jawab: Benar, Islam sama dengan agama lain dari segi keimanan terhadap Pencipta, yang menurunkan risalah untuk manusia dan akan menghisab manusia pada Hari Kiamat terhadap segala perbuatan yang dilakukannya atas keinginan dan pilihannya, baik perbuatan ini berhubungan dengan keimanan, muamalah dengan orang lain, maupun yang lainnya. Karena itu, agama Islam sama dalam pokok agama (tauhid) dengan agama yang lain, tetapi berbeda pada syariat yang terpancar dari yang pokok tadi. Firman Allah dalam surat al-Maa-idah (5) ayat 48, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”.
Tanya : Apa makna iman pada Qadha dan Qadar, yang baik dan buruknya berasal dari Allah Swt?
Jawab: Makna Qadha seperti telah dijelaskan sebelumnya, yaitu perbuatan yang berasal dari manusia atau yang menimpa manusia tanpa keinginan dari dirinya, manusia tidak bisa mendatangkan perbuatan tersebut dan juga tidak kuasa untuk menolaknya. Manusia akan menafsirkan sesuatu itu buruk apabila ditemukan kemudharatan di dalamnya, dan akan dikatakan sesuatu itu baik, apabila ditemukan manfaat pada sesuatu tersebut.
Keimanan mengharuskan seorang Muslim meyakini Qadha yang menimpanya, meskipun dia menafsirkan yang baik atau buruk, semua itu berasal dari Allah Swt. Demikian pula dengan Qadar, yaitu karakteristik dan potensi-potensi yang telah Allah Swt. simpan pada benda dan segala sesuatu, baik yang hidup maupun yang tidak hidup.
Tatkala manusia memanfaatkan karakteristik dan potensi ini, terkadang dia mengalami sesuatu yang mudharat sesuai dengan persepsinya. Terkadang pula manusia mengalami hal yang membawa manfaat sehingga dia memberi penafsiran dengan baik dan buruk. Keimanan telah mengharuskan seorang Muslim untuk meyakini Qadar. Meskipun demikian–karena pemanfaatan, Qadar itu menghasilkan kebaikan atau keburukan sesuai dengan penafsirannya dan semua itu berasal dari Allah Swt.
Tanya : Apa arti terpancarnya aturan (sistem) dari akidah?
Jawab: Aturan itu gambaran dari akidah. Ketika aturan itu dari Akidah Islam, yaitu Iman pada al-Quran dan Sunah, maka dari kedua itulah aturan tersebut diambil. Ketika akidah Sosialisme melihat bahwa evolusi materi adalah pencipta segala sesuatu, maka sesungguhnya dari situlah aturan datang, yaitu sarana–sarana produksi yang berubah dan berkembang dari mulai kapak hingga mesin sebagai sumber diambilnya aturan Sosialis. Kapak melahirkan aturan feodal dan mesin industri melahirkan aturan Kapitalis.
Begitu pula ketika akidah Kapitalisme memisahkan agama dari kehidupan, maka sebagai sumber lahirnya aturan adalah fakta atau kejadian dalam kehidupan yang dianggap layak bagi dirinya dan masyarakatnya.
Tanya : Seperti apa terpancarnya aturan dari al-Quran dan Sunah?
Jawab: Seorang Muslim hendaknya mempelajari masalah yang dihadapinya hingga dipahami dengan baik. Kemudian, dia mengkaji dalil dari al-Quran, Sunah, Ijma Sahabat, dan Qiyas–apabila tidak didapati dalil dalam al-Quran dan Sunah–yang berhubungan dengan masalah tadi. Lalu, solusi dari masalah tadi digali dari dalil yang berkaitan. Solusi yang digali dari dalil inilah yang dimaksud dengan aturan (nidzam).
Tanya : Bagaimana standar perbuatan pada Sosialisme bisa berubah?
Jawab: Hal itu terjadi dari berubahnya aturan materi yang menurut mereka terkait dengan sarana-sarana produksi dan perkembangannya. Aturan (sistem) feodal yang menghadirkan standar tertentu akan berubah pada sistem Kapitalis mengikuti perubahan sarana produksi dari kapak hingga mesin.
Tanya : Mengapa standar perbuatan dalam Islam, yaitu halal dan haram tidak menerima adanya perubahan selama diperhatikan di dalamnya kemaslahatan individu dan jamaah di setiap waktu dan tempat?
Jawab: Maslahat di mata Islam ada pada saat hukum syara’ menyelesaikan semua masalah, yaitu saat adanya hukum halal dan haram. Jika Islam menghalalkan sesuatu, maka padanya ada satu maslahat. Akan tetapi, tidak berlaku sebaliknya, yaitu di mana ada maslahat pada sesuatu maka berarti sesuatu itu halal.
Jika Islam mengharamkan sesuatu, maka di situ ada manfaat yang ditimbulkan apabila sesuatu itu ditinggalkan. Adapun maksud dari apa yang dipandang oleh kaum Muslim itu baik, maka berarti juga baik di sisi Allah, adalah apa yang dipandang oleh kaum Muslim itu mengikuti halal dan haram, dan tidak menyimpang darinya.
Tanya : Adakah contoh untuk hal tersebut?
Jawab: Ada. Misalnya daging babi–meski dianggap baik oleh Muslim karena terpengaruh oleh orang non-Muslim, Islam tidak melihat ada maslahat di dalamnya, tidak pula pada jual belinya karena hal itu diharamkan betapapun mendatangkan banyak manfaat. Contoh lain, adalah wanita yang memperlihatkan auratnya–meski dianggap baik oleh Muslim karena mengikuti pendapat orang non-Muslim, Islam tidak melihat ada maslahat, walaupun dianggap terlihat bagus atau bermanfaat karena hal itu diharamkan dalam Islam.
Demikian pula, demokrasi, sekalipun dianggap baik oleh mayoritas kaum Muslim karena terpengaruh oleh fakta, Islam tidak melihat adanya kemaslahatan. Demokrasi diharamkan karena telah menyelewengkan kedaulatan milik syara’ menjadi milik masyarakat, meskipun di dalamnya terdapat manfaat.
Tanya : Apakah alam yang dimaksud Sosialisme itu terdiri dari bumi, atmosfer, dan seluruh Muslim yang melingkupinya?
Jawab: Bukan. Alam yang dimaksud mereka adalah bumi, lingkungan, dan sarana produksi dari segi karakter positif dan negatif yang menyifatinya. Lalu, Sosialisme menyebut pertentangan yang menjadi penyebab evolusi sebagai karakter, namun mereka (para penganutnya) tidak tahu siapa yang telah menciptakan karakter seperti ini dan pengaturannya.
Tanya: Apa maksud adanya peran manusia dalam menciptakan pertentangan untuk mempercepat proses evolusi materi menurut pandangan Sosialisme?
Jawab: Manusialah yang menciptakan permusuhan antara orang kaya dan orang miskin di masyarakat agar terjadi perpindahan atau perubahan dari satu kondisi ke kondisi lain yang berbeda. Dapat pula dengan cara mengadakan sarana produksi yang baru yang dapat menciptakan aturan baru di masyarakat sehingga masyarakat berubah dari satu kondisi pada kondisi lain.
Tanya : Apakah negara dalam Kapitalisme tidak bekerja untuk masyarakat, tetapi bekerja untuk individu?
Jawab: Dalam ideologi ini, tugas negara adalah untuk masyarakat, tapi yang tampak bukanlah mengatur urusan jamaah, melainkan merupakan campur tangan negara dan pembatasan hak jamaah untuk kepentingan individu. Kebebasan individu dan kepentingannya merupakan asas dan tujuan. Di samping itu, apa yang dilakukan negara untuk jamaah, tidak lain adalah untuk kepentingan individu.
Tanya: Selama Islam memandang maslahat merupakan kondisi yang menciptakan interaksi manusia untuk membentuk sebuah masyarakat, tetapi mengapa di dalam perbuatan tidak diperhatikan adanya maslahat?
Jawab: Pandangan manusia terhadap kemaslahatan yang dianggap layak untuk dirinya dan jamaahnya merupakan pandangan yang terbentuk karena pengaruh pemikiran, perasaan, dan aturan Islam. Artinya, karena adanya perintah dan larangan Allah Swt., dan bukan karena pandangan materi atau adanya manfaat. Perhatian terhadap hukum-hukum syara’ akan mewujudkan kemaslahatan sehingga adanya hukum-hukum syara’ dalam kehidupan ini adalah untuk mewujudkan kemaslahatan di semua aspek kehidupan. Jadi, dalam Islam kemaslahatan itu tidak diingkari, tetapi sesuatu yang diakui dalam hukum syara’. Adapun yang diingkari adalah ketika kemaslahatan itu menetapkan hukum bagi kita.
Tanya : Apakah sedikit atau banyaknya jumlah kaum Muslim menentukan jenis masyarakat tempat mereka hidup?
Jawab: Tidak, yang menentukan jenis masyarakat apakah Islam atau bukan Islam, adalah lengkap atau tidaknya unsur pembentuk masyarakat. Apabila semua unsur tidak ada, maka berarti masyarakat kafir, dan apabila sebagian unsur tidak ada, maka itu berarti masyarakat yang tidak Islami.
Tanya: Apa perbedaan Sosialisme dan Islam ketika negara masing-masing mengatur urusan individu dan kelompoknya?
Jawab: Dalam sistem Sosialis, negara mengatur semua urusan individu dan kelompok. Akan tetapi, dalam sistem Islam negara hanya mengatur urusan kelompok dan individu yang tidak mampu merasakan kebahagiaan dan ketenangan, jadi tidak semua urusan individu ditangani negara.
Tanya : Apa perbedaan antara kekuatan militer serta tekanan undang-undang dalam penerapan aturan pada sistem Sosialis, dengan kekuasaan negara dalam sistem Islam?
Jawab: Ketika aturan dijalankan, Sosialisme berpegang pada kekerasan fisik selamanya. Karena hal itu, merupakan satu-satunya cara untuk menerapkan aturan, meskipun manusia merasakan ketidakadilan. Adapun Islam tidak berpegang pada kekerasan fisik, kecuali untuk menghadapi sebagian kecil orang yang menyimpang dari aturan karena jamaah Muslim meyakini keadilan aturan Islam. Mereka melaksanakan aturan dengan dorongan takwa kepada Allah Swt. dan bersama-sama dengan penguasa melakukan amar makruf nahi munkar. Tidak ada kekerasan fisik saat menerapkan aturan selain ketika ada orang-orang di antara kaum Muslim yang menyimpang dari beberapa aturan.
Tanya : Apakah ada tambahan penjelasan tentang pendapat Sosialisme bahwa sumber segala sesuatu itu adalah materi?
Jawab: Yang dimaksud dengan evolusi materi dalam Sosialisme, adalah berpindahnya kondisi materi pada kondisi lain. Perpindahan ini akan menghasilkan suatu materi. Satu contoh, ketika suhu panas air bertambah naik hingga mendidih, maka air akan berubah menjadi uap. Kemudian, uap ini akan mengeluarkan gerak pendorong yang kuat untuk menghasilkan sesuatu yang baru yang bisa digunakan dalam industri pabrik. Contoh gerak lain, seperti traktor yang bisa memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain. Dari perpindahan materi ini, dihasilkan suatu benda dan juga perbuatan. Inilah yang mereka maksud dengan asal dari segala sesuatu itu adalah evolusi materi.

Bagian 6
Pemaparan

Setelah kita bahas perbandingan beberapa hal dari ketiga mabda dalam dua bab yang lalu, sekarang tinggallah menyempurnakannya dengan membahas perbandingan yang terakhir. Perbandingan ini sangat urgen, meskipun bukan yang paling penting.
Telah kami sebutkan pada bab pertama mengenai standar kebenaran satu akidah, yaitu dilihat dari akidah itu sendiri apakah sesuai dengan fitrah manusia dan dibangun di atas landasan akal. Dua hal ini merupakan sifat yang membedakan manusia dari makhluk lain. Pertama, apabila akidah tidak berkesuaian dengan fitrah, dalam arti tidak mampu memenuhi kelemahan fitrah manusia, maka bukan merupakan akidah yang manusiawi. Hal ini tidak hanya pada asasnya–dari segi memperhatikan hakikat manusia–dan tidak pada tujuannya–dari segi tidak akan pernah terwujud kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia.
Sejauh mana kesesuaian ketiga mabda yang ada dengan fitrah manusia dan apakah ketiganya dibangun berlandaskan pada akal?
Sesungguhnya hanya mabda Islam sajalah yang sesuai dengan fitrah manusia karena keinginan untuk beragama adalah fitrah manusia. Naluri beragama ini membutuhkan Pencipta yang mengatur karena adanya kelemahan manusiawi, yaitu naluri yang butuh pada rujukan tertentu berupa pengagungan akan sesuatu. Oleh karena itu, manusia di setiap masa mempunyai agama dan menyembah sesuatu, meski yang disembahnya itu berupa manusia lain, bintang, batu, hewan, api, dan yang lainnya.
Kemudian, Islam datang untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada makhluk dan mengajaknya untuk menyembah hanya kepada Allah Swt., Pencipta dan Pengatur. Namun, mabda Sosialisme mengingkari adanya Allah dan aspek rohani, serta mengalihkan kesadaran dan pengagungan manusia kepada Pencipta kepada pengagungan mabda, selain bersandar kepada makhluk, sehingga manusia kembali mundur ke belakang. Kenyataannya, mereka tidak mampu menghilangkan fitrah beragama pada dirinya, tapi hanya mampu mengalihkan dengan cara yang salah. Karena itu, mabda ini telah gagal dari segi kesesuaian dengan fitrah karena menyalahi tabiat manusia. Mereka memaksakan hal ini dengan berpegang pada kekuatan fisik agar manusia tunduk pada mabda Sosialisme.
Demikian pula mabda Kapitalisme bertentangan dengan fitrah manusia–yaitu naluri beragama–yang tampak pada pengagungan dan pengaturan manusia terhadap perbuatannya yang memunculkan perbedaan dan pertentangan ketika pemberlakuan pengaturan tersebut. Inilah bukti kelemahan mabda ini. Sementara itu, yang seharusnya agama menjadi pengatur perbuatan manusia dalam kehidupan. Lalu, Kapitalisme telah menjauhkan agama dari kehidupan manusia. Perlu diketahui, kepentingan agama dalam kehidupan manusia tidak sebatas ibadah, tetapi mencakup keterikatan terhadap seluruh aturan yang telah Allah Swt. perintahkan sebagai Pencipta dan Pengatur dalam menyelesaikan persoalan hidup manusia.
Akidah Kapitalisme telah menjauhkan agama dari kehidupan sehingga akidah ini bertentangan dengan fitrah manusia, dan telah gagal dari segi kesesuiannya dengan fitrah. Akidah Kapitalis menjadikan agama sebagai persoalan individu. Walhasil, hanya Islam satu-satunya akidah yang mengakui naluri beragama dan manifestasinya dalam pengagungan dan pengaturan ibadah. Mabda Islam sesuai dengan fitrah manusia, dan Islam sukses dalam hal ini.
Kedua, Akidah Islam merupakan satu-satunya akidah yang positif bagi manusia. Akidah Islam telah menjadikan akal manusia sebagai asas keimanan terhadap keberadaan Allah Swt., dengan cara mengarahkan pandangan pada keberadaan alam semesta, manusia, dan kehidupan. Melalui unsur-unsur ini dapat dipastikan keberadaan Allah Swt. sebagai Pencipta dan Pengatur.
Akal manusia menunjukkan sesuatu yang dicari oleh fitrahnya dengan kesempurnaan mutlak, serta akal ini memberi petunjuk kepada manusia agar bisa memahami keberadaan Pencipta dan mengimani-Nya. Seorang Muslim, selain diperintahkan untuk mengimani adanya Allah, juga diperintahkan untuk mengimani kenabian Muhammad dan al-Quran dengan metode berpikir. Di samping itu, mengimani perkara gaib yang telah ditunjukkan oleh sesuatu yang telah dipastikan kebenarannya oleh akal, yaitu al-Quran dan Hadis Mutawatir.
Akidah Sosialisme dibangun di atas materi bukan di atas akal. Hal ini karena akal (pemikiran) telah dihasilkan dari materi. Sosialisme berpendapat adanya pemikiran itu setelah adanya materi dan materi adalah asal dari segala sesuatu. Mereka mengatakan ketika materi direfleksikan ke otak akan menghasilkan pemikiran. Seperti itulah yang terjadi, ketika manusia berpikir tentang satu materi yang direfleksikan ke dalam otaknya. Jadi, tidak ada pemikiran sebelum ada proses refleksi.
Anggapan mereka ini keliru dilihat dari dua segi. Pertama, proses refleksi antara materi dan otak sesungguhnya tidak ada karena keduanya tidak mempunyai potensi terjadinya refleksi seperti halnya cermin. Adapun yang terjadi pada keduanya adalah pemindahan kesan (citra) terhadap materi ke dalam otak melalui alat indra, dan hal ini pasti adanya. Kedua, adanya pengindraan terhadap fakta tidak akan pernah menghasilkan pemikiran, tetapi hanya diperoleh kesan saja mengenai fakta tersebut, meskipun terjadi secara berulang-ulang. Dalam proses ini harus ada informasi sebelumnya pada manusia yang akan menafsirkan fakta yang telah diindra supaya diperoleh satu pemikiran.
Pengindraan terhadap tulisan berbahasa Cina misalnya, tidak mungkin bisa dimengerti oleh orang yang sama sekali tidak mengetahuinya, meskipun berulang kali dia mengindra tulisan tersebut. Namun, ketika kita berikan pengetahuan tentang bahasa Cina, maka orang tersebut dapat menggunakan pengetahuan itu untuk memahami pemikiran yang ada pada bahasa Cina tersebut.
Inilah yang dinamakan dengan pemahaman secara akli (pemahaman yang diperoleh dengan cara berpikir, yaitu mengaitkan fakta dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya). Hal ini membedakan manusia dari makhluk lainnya. Adapun pemahaman yang bersumber dari perasaan, lahir dari naluri dan kebutuhan jasmani, seperti yang terjadi pada hewan dan manusia yang tidak berpikir. Karena itu, pemikiran dan pemahaman mustahil dapat diwujudkan pada manusia, kecuali dengan adanya informasi atau pengetahuan sebelumnya dan adanya pemindahan fakta oleh alat indra ke dalam otak. Berdasarkan hal ini, maka akidah Sosialis telah keliru memahami pemikiran dan cacat karena tidak dilandaskan pada akal.
Adapun Kapitalisme dibangun di atas jalan tengah antara kaum agamawan (pendeta Nasrani) dan para intelektual, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Mereka mengakui adanya agama, tapi memisahkannya dari kehidupan. Ini adalah jalan yang disepakati dari adanya pertentangan sengit yang berlangsung berabad-abad antara kaum intelektual dengan kaum agamawan. Jalan tengah yang menjadi pemikiran dasar mereka ini sebenarnya mencampurkan kebenaran dan kebatilan, mencampuradukkan iman dan kekufuran, serta menyamarkan cahaya dan kegelapan, padahal keduanya tidak mungkin bisa dipertemukan. Karena itu, akidah Kapitalis adalah akidah rusak karena tidak berlandaskan pada akal.
Dengan demikian, akidah Islam merupakan satu-satunya akidah yang sahih. Hal ini karena sesuai dengan fitrah manusia dan berlandaskan pada akal. Sementara itu, kedua mabda yang lain–yaitu Kapitalisme dan Sosialisme–batil dan cacat karena bertentangan dengan fitrah manusia dan tidak berlandaskan pada akal.

Diskusi

Tanya: Apa maksudnya manusia itu beragama karena fitrahnya?
Jawab: Pada dasarnya manusia itu merasakan adanya kekurangan pada dirinya di hadapan kekuatan sempurna yang berhak untuk diagungkan. Manusia membutuhkan pengaturan dari Pencipta karena kekurangannya tadi.
Tanya: Mengapa dalam sejarah kehidupan manusia ada yang menyembah makhluk, padahal di tengah-tengah mereka terdapat para rasul dan nabi?
Jawab: Sebagaimana halnya saat ini dan di setiap masa, senantiasa ada manusia yang menyimpang dari ajaran kenabian dan kerasulan. Hal ini karena manusia mempunyai kekuasaan untuk memilih, apakah dia akan beriman pada sesuatu, pada yang lain, atau akan mengingkarinya. Semuanya itu dilakukan sesuai dengan pilihannya tanpa ada paksaan.
Tanya : Benarkah dasar dari ibadah itu adalah pengagungan?
Jawab: Ya, bahkan hal itu terkait erat dengan ibadah selamanya. Hubungan ini tidak akan berubah dari sisi tidak akan dihasilkan dari kedua hal tadi tanpa ada yang lain.
Tanya: Mengapa akidah yang berlandaskan pada materi bersifat negatif?
Jawab: Akidah seperti itu tidak sesuai dengan tabiat manusia yang punya kecenderungan untuk beragama dalam fitrahnya. Mereka mengklaim pada dasarnya beragama itu berarti mundur ke belakang, padahal sebenarnya naluri beragama itu adalah fitrah yang disimpan oleh Pencipta pada diri manusia. Rasa takut kepada Allah dan mengagungkan-Nya merupakan penampakan dari naluri ini.
Tanya: Bagaimana akidah Sosialisme Materialisme dapat meraih kesuksesannya dengan tuntutan perut, kekuatan, dendam kesumat, dan penyimpangan akal?
Jawab: Karena hal itu bertentangan dengan fitrah manusia dan karakternya; slogan-slogan mereka mengeksploitasi tuntutan perut; keberanian orang-orang yang lapar; dan kedengkian orang yang gagal dalam hidupnya. Mereka menggambarkan, keyakinan dan keterikatan diri dengan pemikiran tersebut adalah jalan untuk menuju kesejahteraan dan kebahagiaan, serta bisa mengeluarkan mereka dari kondisi yang ada. Untuk itu, mereka menggunakan propaganda teori konflik yang keliru dari sisi akal dan perasaan. Inilah yang mengakibatkan penyimpangan pemikiran.
Tanya : Bukankah di dalam teori-teori mereka terlihat kekuatan pemikiran masing-masing?
Jawab: Ini hanyalah kemampuan berdebat dalam rangka menghindari pembahasan tentang asal-usul manusia, serta kebutuhan perut dan tubuhnya.
Tanya: Kapitalisme mengakui adanya agama, tetapi mengapa Kapitalisme bertentangan dengan fitrah manusia?
Jawab: Mereka menolak membahas pengakuan terhadap ada tidaknya Pencipta. Masalah pengakuan ini mereka serahkan kepada individu sesuai dengan keinginannya, dan masalah ini tidak punya nilai dalam urusan kehidupan. Sementara itu, fitrah manusia mengatakan bahwa kehidupan ini tidak akan berjalan lurus–baik untuk individu maupun masyarakat–kecuali dengan adanya agama dan pengagungan kepada Pencipta, bukan pada yang lain. Kemudian, terikat dengan larangan dan perintah-Nya dalam mengatur kehidupan individu dan masyarakat, serta tidak terikat pada yang lain.
Tanya: Mengapa antara Kapitalisme dan Sosialisme terjadi perbedaan dalam penerapan akidah masing-masing, padahal keduanya sama-sama bertentangan dengan fitrah?
Jawab: Sosialisme menggunakan kekuatan untuk menundukkan manusia secara paksa agar menerima mabdanya. Demikian pula, dalam membentuk masyarakat, mereka menggunakan cara pergolakan. Selamanya Sosialisme tidak mengakui individu, kecuali seperti sebuah gigi dalam roda karena yang penting bagi mereka adalah masyarakat dan diterapkannya mabda Sosialisme kepada mereka.
Adapun Kapitalisme dilandaskan pada pemikiran kebebasan individu. Individu dan permasalahannya menjadi titik perhatian dalam penerapan mabda ini dan tanpa ada paksaan sebagaimana Sosialisme. Dalam Kapitalisme, seseorang bebas mengimani dan mengkufuri apa pun berdasarkan keinginannya, serta bebas berbuat apa pun dan kapan pun sesuai dengan keinginannya. Tidak ada campur tangan negara pada masyarakat, kecuali dalam rangka memelihara kebebasan individu mereka. Demikianlah perbedaan penerapan dari kedua mabda ini.
Tanya: Jika demikian, apa maksudnya bahwa akidah Islam satu-satunya akidah yang positif?
Jawab: Akidah Islam adalah satu-satunya akidah yang sesuai dengan fitrah manusia karena mengakui naluri beragama yang menjadi fitrahnya. Akidah Islam juga sesuai dan dilandaskan pada akal karena akal dijadikan sandaran dalam mengimani keberadaan Allah Swt. dan dalam ketaatan kepada-Nya.
Tanya: Apakah pemikiran manusia itu lebih dulu keberadaannya daripada manusia itu sendiri sehingga kita mengatakan salah pada pendapat Sosialis yang menyimpulkan keberadaan materi lebih dulu sebelum pemikiran?
Jawab: Ya benar, materi berpikir telah ada sebelum keberadaan manusia itu sendiri, sebagaimana sekarang kita mewujudkan informasi yang nantinya akan kita ajarkan kepada anak-anak kita sebelum mereka berada.
Tanya : Dari mana materi berpikir yang pertama atau informasi sebelumnya (maklumat sabiqah) itu berasal?
Jawab: Dari Pencipta materi dan Pencipta manusia yang berfirman dalam Kitab-Nya, “Dia telah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” (QS al-Baqarah [2]: 31).
Tanya : Bagaimana terjadinya proses berpikir pada manusia?
Jawab: Setiap fakta yang terindra akan dipindahkan ke dalam otak oleh satu atau lebih alat indra manusia. Manusia berulang kali menangkap kesan dari fakta itu dan dengan bantuan informasi yang sudah ada sebelumnya tentang fakta itu, dia mengeluarkan hukum atau keputusan terhadap fakta itu setelah ada bantuan pemikiran terhadap fakta hukum dan proses berpikir tersebut. Seandainya tidak ada otak yang berfungsi baik dan tidak ada maklumat sabiqah tentang suatu fakta, maka pengindraan yang berulang terhadap fakta akan tetap menjadi pengindraan dan tidak dapat berubah menjadi sebuah pemikiran.
Tanya : Mengapa kita tidak menamakan pemindahan fakta ke otak ini sebagai refleksi seperti halnya dalam Sosialisme?
Jawab: Pemindahan fakta yang diindra ke otak tidak sama dengan refleksi karena tidak adanya potensi refleksi yang terdapat pada otak ataupun fakta itu. Andai saja mungkin digambarkan potensi refleksi itu sebagai cermin, tetap saja hal itu tidak didapati.
Tanya: Apa perbedaan proses pemahaman yang terjadi pada manusia dengan makhluk hidup lainnya?
Jawab: Pemahaman pada manusia terjadi karena aktivitas berpikir dalam otaknya melalui kerja informasi sebelumnya (maklumat sabiqah) yang tersimpan dalam otak setiap kali alat indra memindahkan suatu fakta yang ingin dipahaminya ke otak. Adapun proses pemahaman pada makhluk lain bekerja sempurna dengan perasaan (naluri) yang ada padanya setiap kali naluri itu menuntut pemenuhan. Tuntutannya ini dikembalikan pada perasaan yang secara alami dapat membedakan apakah sesuatu itu bisa memenuhi tuntutan atau tidak. Seorang anak kecil misalnya, dia dapat membedakan mana air susu ibunya dan mana sepotong batu dengan nalurinya, begitu pula hewan dapat membedakan mana makanan yang layak baginya dan mana yang tidak, berdasarkan identifikasi nalurinya.
Tanya: Bagaimana akidah Kapitalisme dibangun di atas dasar kompromi?
Jawab: Jalan kompromi ini adalah pemisahan agama dari kehidupan. Dinamakan jalan kompromi karena mengompromikan tuntutan kaum agamawan untuk melanggengkan kekuasaan atas agama dengan tuntutan kaum intelektual yang mengingkari agama sepenuhnya. Kompromi ini mengakui jaminan adanya agama dan tidak mengingkarinya sehingga kaum agamawan menjadi rela dengan keputusan ini. Akan tetapi, agama ini dijauhkan dan dipisahkan dari kehidupan dan kaum intelektual menerima keputusan ini sehingga mereka bisa mempercayai ilmu, serta melakukan percobaan dan penemuan yang produktif.
Tanya : Apa perbedaan iman terhadap adanya agama dalam kehidupan dengan wajib adanya agama dalam kehidupan ?
Jawab: Keberadaan sekadar agama dalam kehidupan, berarti adanya fitrah alami dalam kehidupan manusia, sebagaimana naluri yang diciptakan pada manusia. Adapun wajib keberadaan agama dalam kehidupan berarti keterikatan dengan segala hal yang telah ditetapkan agama berupa makna kehidupan yang mencakup perintah dan larangan agama. Keberadaan agama berarti keimanan bahwa sesungguhnya Allah Swt. Pencipta alam semesta. Wajib keberadaan-Nya berarti keimanan bahwa Allah Swt. adalah Pengatur alam semesta dengan perintah dan larangan-Nya, yang seluruh urusan kehidupan wajib berjalan sesuai dengan pengaturan-Nya.

Bagian 7

Pemaparan

Pada uraian tiga bab sebelumnya, kita melihat beberapa hasil perbandingan ketiga mabda yang ada. Ternyata hanya Islam satu-satunya mabda yang lurus dan benar yang mampu mengantarkan manusia membangun kesejahteraan hidupnya di dunia dan kebahagiannya di akhirat. Pertanyaannya sekarang, apakah kaum Muslim menerapkan Islam dalam kehidupan mereka ataukah mereka hanya mengimaninya saja dan menerapkan akidah yang lain?
Untuk menjawab pertanyaan ini, secara global bahwasanya kaum Muslim pada masa Rasul saw. hingga jatuhnya Daulah Islam yang direpresentasikan dengan Khilafah ‘Utsmaniyah selamanya mereka menerapkan Islam. Kemudian, dapat dikatakan bahwa yang menerapkan Islam dan aturannya dalam kehidupan ini adalah pihak Daulah (negara). Penerapan Islam oleh Daulah dilakukan oleh dua pihak, yaitu Hakim (Qadhi) yang menyelesaikan sengketa di antara manusia dan Penguasa yang memerintah manusia.
Apakah seorang qadhi menyelesaikan persengketaan di antara manusia itu dengan Syariat Islam?
Dengan dalil Mutawatir kita dapat memastikan bahwa sejak masa Rasul saw. hingga berakhirnya Khilafah Islam di Istanbul, para qadhi memutuskan perkara persengketaan manusia dengan hukum Syariat Islam di seluruh aspek kehidupannya. Apakah persengketaan itu terjadi di antara sesama Muslim ataupun terjadi antara Muslim dengan yang lainnya. Mahkamah yang ada dahulu hanya satu, yaitu mahkamah yang memutuskan dengan hukum Syariat Islam saja. Kemudian, datang pengaruh dari kaum penjajah yang membuat mahkamah ini terpisah menjadi dua, yaitu mahkamah syariat dan mahkamah sipil.
Hal ini terlihat dalam ringkasan selebaran-selebaran mahkamah syariat yang masih tersimpan di al-Quds, Baghdad, Damaskus, Mesir, Istanbul, dan tempat lainnya sebagai bukti yang membenarkan hal tersebut. Adapun undang-undang Barat yang sengaja dimasukkan berdasarkan fatwa ulama karena (dianggap) tidak adanya penyimpangan dari agama Islam, adalah seperti undang-undang hukum pidana pada masa Utsmani yang dimasukkan pada tahun 1275 H (1857 M), undang-undang hak-hak perdagangan pada tahun 1276 H (1858).
Mahkamah syariat yang kemudian dibagi dua menjadi mahkamah syariat dan mahkamah sipil terjadi pada tahun 1288 H (1870 M) dan dibuatlah bagi mahkamah ini aturan tersendiri. Lalu, pada tahun 1295 H (1877 M) dibuat peraturan tentang pembentukan mahkamah-mahkamah sipil dan diikuti pada tahun 1296 H (1878 M) dibuat landasan mahkamah hak (keuangan) dan hukum pidana. Pada tahun 1286 H undang-undang sipil disahkan ketika para ulama menyusun sebuah majalah yang ilegal dan tidak diakui oleh Daulah dan peraturannya.
Dengan demikian, jelaslah bahwa semua undang-undang tersebut tidak dibuat untuk dijalankan kecuali setelah adanya penetapan fatwa dan izin dari Syaikhul Islam. Jadi, peradilan Islam sesungguhnya telah diterapkan secara praktis di seluruh Daulah Islam.
Tinggallah pertanyaan terakhir, apakah para penguasa menerapkan Islam di seluruh aspek kehidupan sepanjang masa Daulah Islam sebagaimana halnya qadhi?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kami katakan, penerapan Islam oleh penguasa terlihat dalam lima aspek, yaitu pergaulan sosial, perekonomian, pemerintahan, pendidikan, dan politik luar negeri. Seandainya kita mengamati dengan saksama kelima aspek ini telah diterapkan oleh Daulah Islam. Aspek pergaulan sosial mengatur hubungan antara pria dan wanita yang diatur dengan hukum Islam, hampir-hampir seluruh negeri Islam senantiasa menerapkan aturan Islam dalam aspek ini.
Adapun sistem perekonomian tergambar dengan cara-cara Daulah memungut harta dari masyarakat untuk menyelesaikan masalah ekonomi. Selain itu, tata cara mengatur pengeluaran harta berupa pemungutan zakat dengan berbagai jenisnya dan pendistribusiannya hanya kepada delapan ashnaf yang berhak mendapatkannya. Uang hasil pungutan zakat ini tidak digunakan untuk membiayai urusan administrasi negara. Daulah juga memungut harta seperti kharaj, jizyah, dan tarif bea cukai sesuai denngan syariat untuk membiayai urusan negara dan masyarakat. Daulah akan mendistribusikan harta tersebut bagi kaum yang lemah dan orang yang membutuhkan dari kalangan fakir miskin, ibnu sabil, dan sebagainya, tanpa menyepelekan dan mengurangi hak mereka.
Adapun dalam aspek pemerintahan, struktur negara terdiri dari delapan macam, yaitu sebagai berikut.
1. Khalifah (kepala negara).
2. Mu’awin Tafwidh (pembantu Khalifah yang berkuasa penuh).
3. Mu’awin Tanfidz (pembantu Khalifah bidang administrasi).
4. Amirul Jihad (panglima perang).
5. Qadhi (hakim).
6. Wali (gubernur).
7. Mudir (Aparat administrasi negara).
8. Majlis Ummat.
Struktur ini senantiasa ada sepanjang masa. Khalifah selalu ada hingga posisi ini dilenyapkan oleh kafir penjajah pimpinan at-Taturk pada tahun 1342 H atau 1924 M. Mu’awin Tafwidh dan Mu’awin Tanfidz membantu Khalifah dalam menjalankan pemerintahan. Tentara dan panglima perang mereka adalah orang-orang yang punya reputasi menonjol dari yang lainnya. Adapun keberadaan para wali, qadhi, dan mudir tidaklah perlu membutuhkan dalil lagi karena mereka bertugas mengurusi kepentingan masyarakat. Adapun Majlis Ummat dengan representasi pertimbangan dan musyawarah mereka, ada atau tidaknya mereka, tidak mempengaruhi jalannya pemerintahan, sebagaimana yang terjadi dalam sistem demokrasi yang menempatkan Majlis Ummat pada posisi salah satu pilar pemerintahan.
Adapun dari aspek penerapan aturan pendidikan, pendidikan dalam Islam diatur berdasarkan syariat Islam dalam hal pembinaan keislaman dan menjauhkan tsaqafah asing yang bertentangan dengan Islam. Seluruh jenjang pendidikan menjadi pusat perhatian para ulama dan pelajar karena berkembangnya keilmuan dan perguruan-perguruan tingginya.
Adapun politik luar negeri dijalankan berdasarkan aturan Islam ketika Daulah Islam bergaul dengan negara lain. Dalam kondisi ini, negeri-negeri lain itu memandang Daulah sebagai Daulah Islam bukan yang lain, dari aspek inilah Daulah menjadi termasyhur dan terkenal.
Demikianlah tampak dengan jelas bahwa penguasa Islam telah menerapkan Syariat Islam di seluruh aspek kehidupan yang tercermin dalam kelima hal di atas. Begitupun halnya dengan qadhi (hakim) yang menyelesaikan persengketaan di antara manusia dengan aturan Islam. Hal inilah yang memastikan bahwa Islam telah diterapkan oleh Daulah Islam dengan kesuksesan yang tiada bandingannya.
Setelah masa Khulafa’ur-Rasyidin, pernah terjadi kekacauan dan sedikit guncangan pada proses baiat dan hampir saja terjadi pewarisan kekuasaan. Namun, tidak sampai menghilangkan baiat, tapi hanya terdapat kesalahan dalam penerapannya dan yang pasti sistem khilafah tidak berubah menjadi sistem pewarisan tahta atau putra mahkota. Sistem pewarisan tahta ini tidak pernah diakui di sepanjang Daulah Islam berdiri, hanya baiat sajalah yang diakui Daulah. Adapun bagaimana baiat itu diambil dari kaum Muslim, terjadi perbedaan tata cara pada setiap periode pemerintahan. Sebagian mereka mengambil baiat dari kaum Muslim; sebagian lagi mengambilnya dari ahlul halli wal aqdi; dan ada juga yang mengambil baiat dari Syaikhul Islam di akhir pemerintahan Utsmani yang hampir mundur.
Seandainya kita kembali ke masa perjalanan Daulah Islam, pada masa Khulafa’ ur-Rasyidin baiat diambil dari kaum Muslim seluruhnya dan tidak satu kelompok dan tempat pun yang tertinggal. Di masa berikutnya, yaitu masa Umawiyah dan ‘Abasiyah, baiat dilakukan oleh ahlul halli wal aqdi di negeri tersebut. Keadaan ini terus berlanjut hingga masa Utsmani yang membatasi baiat dilakukan oleh Syaikhul Islam saja.
Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa selama Daulah Islam berdiri, pengangkatan khalifah dilakukan dengan baiat. Tidak seorang khalifah pun yang diangkat dengan cara pewarisan tanpa dibaiat sama sekali. Dalam hal ini, tidak ada satu peristiwa pun sebagai pengecualian.
Kesalahan penerapan baiat pernah terjadi, yaitu tatkala seorang khalifah semasa hidupnya telah menjadikan anaknya, saudaranya, sepupunya, atau siapa pun dari keluarganya menjadi penggantinya kelak. Namun, setelah wafatnya khalifah, baiat terhadap penggantinya itu diperbarui lagi. Dengan demikian, baiat tetap dilakukan dan tidak menjadi pewarisan atau putra mahkota.
Demikianlah aturan (sistem Islam) satu-satunya sistem yang diterapkan selama masa Daulah Islam dan bukan aturan yang lain.

Diskusi

Tanya : Apa yang dimaksud dengan Islam diterapkan secara praktis?
Jawab: Pertama, aturan Islam diterapkan secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan. Kedua, perselisihan yang terjadi di tengah masyarakat diselesaikan dengan aturan Islam.
Tanya : Dapatkah penerapan teori ditujukan pada Islam?
Jawab: Ya, bisa saja. Ketika manusia hidup di satu negeri yang mayoritas penduduknya menentukan beberapa penampakan keislaman, mereka menganggap dirinya telah menerapkan Islam. Padahal, semua itu hanyalah tambal sulam dari sistem demokrasi yang rusak.
Tanya : Mengapa penerapan aturan Islam dibedakan antara penguasa dan qadhi?
Jawab: Penguasa adalah orang yang mengadopsi perundang-undangan di setiap aspek kehidupan, sedangkan qadhi adalah pelaksana dari undang-undang yang telah diadopsi penguasa untuk menyelesaikan perselisihan di antara manusia.
Tanya : Apakah Islam hanya diterapkan bagi kaum Muslim saja yang menjadi warga khilafah?
Jawab: Tidak. Aturan Islam juga diterapkan kepada selain Muslim, meskipun terdapat sedikit perbedaan. Mereka diperkenankan menjalankan ajarannya sendiri, serta tidak terikat Syariat Islam, seperti dalam masalah makanan dan pakaian.
Tanya : Apa yang dimaksud dengan al-khushumat (perdata) dan al-jaza’ (pidana)?
Jawab: Al-Khushumat adalah perkara yang diperselisihkan dua orang yang masing-masing mengklaim satu harta sebagai miliknya, seperti kepemilikan rumah atau kendaraan. Adapun al-jaza’ (pidana) adalah seseorang menuntut balas kepada orang yang menganiayanya, seperti pemukulan dan pelecehan yang dilakukan terhadapnya.
Tanya : Apa yang dimaksud dengan undang-undang hukum perdata?
Jawab: Yaitu, segala sesuatu yang berhubungan dengan pengaturan seseorang dalam masalah pernikahan, perceraian, dan waris.
Tanya : Bagaimana mahkamah dapat terpengaruh penjajah hingga terbagi menjadi dua, yaitu mahkamah syariat dan sipil?
Jawab: Untuk urusan hak-hak dan pidana ada mahkamah tersendiri, dan untuk perkara perdata juga ada mahkamah tersendiri. Hal ini terjadi ketika tentara penjajah menguasai negeri Islam. Mereka memaksakan undang-undangnya untuk diterapkan dalam urusan pidana. Kemudian, dibuatlah mahkamah yang terpisah dengan maksud menjauhkan Islam dari kehidupan umum.
Tanya: Bagaimana mereka berhasil melakukan hal itu dan dapat menguasai kaum Muslim?
Jawab: Hal itu terjadi karena kelemahan kaum Muslim sehingga penjajah dapat menguasainya dan menyewa orang yang benci Islam untuk mempengaruhi pemikiran generasi muda Muslim. Mereka adalah orang yang telah dibina dengan tsaqafah penjajah.
Tanya : Seperti apa majalah yang disebut-sebut sebagai al-Ahkam asy-Syar’iyyah (Undang-Undang Syariat)?
Jawab: Yaitu, satu majalah yang berisi hukum-hukum syara’ berupa kaidah-kaidah umum yang dibuat oleh madzhab Hanafi pada tahun 1286 H (1868 M) untuk mengatur urusan muamalah masyarakat.
Tanya : Mengapa para ulama mengeluarkan fatwa tentang kebolehan memasukkan undang-undang Barat ke dalam sistem Daulah Islam?
Jawab: Menurut pengetahuan mereka, hal itu tidak apa-apa karena terdapat kemiripan antara undang-undang Islam dengan Barat. Selain itu, mereka merasa kehilangan kemampuan untuk menggali Syariat Islam karena kemunduran berpikir yang dialami.
Tanya: Kapan mahkamah terbagi dua menjadi mahkamah syariat dan sipil?
Jawab: Pada tahun 1288 H (1870 M).
Tanya: Apakah penerapan Islam dalam bidang peradilan berakhir mengikuti berakhirnya penerapan perundang-undangan?
Jawab: Tidak. Penerapan peradilan–sekalipun hanya sebagiannya saja–masih tetap dijalankan dan senantiasa terus berlangsung di beberapa negeri Islam setelah Kekhilafahan runtuh dan penguasanya turun tahta, yang dulunya menerapkan perundang-undangan yang diadopsinya dalam semua aspek kehidupan.
Tanya : Apakah sebuah pemerintahan dianggap menerapkan Islam jika hanya menjalankan sistem peradilan Islam saja?
Jawab : Tidak. Pemerintahan Islam terkait erat dengan Khalifah yang menggali atau mengadopsi undang-undang dari al-Quran dan Sunah. Adapun qadhi (hakim) hanya menjalankan apa yang sudah disusun oleh Khalifah.
Tanya : Mengapa aturan pergaulan hanya terbatas mengatur interaksi pria dan wanita beserta apa yang ditimbulkannya saja?
Jawab: Interaksi antara pria dan wanita akan memunculkan keluarga yang merupakan cikal bakal pembentukan masyarakat dengan apa yang ada di dalamnya berupa hubungan sosial. Adapun bentuk pembentukan masyarakat yang lainnya diatur dengan tujuan yang lain.
Tanya: Mengapa tata cara pengembangan harta tidak dibahas dalam sistem perekonomian?
Jawab: Masalah pengembangan harta termasuk pembahasan ilmu ekonomi dan bukan dalam sistem ekonomi. Ilmu itu ada berdasarkan penemuan dan penelitian yang tentu saja tidak demikian untuk sebuah sistem. Sebuah sistem tidak boleh didapat melalui penemuan ataupun penelitian.
Tanya : Mengapa Daulah tidak mengambil satu pun aturan perpajakan, padahal Daulah memberlakukan pajak bea cukai?
Jawab: Sebenarnya Daulah tidak mengambil sistem pungutan pajak berganda ataupun yang lainnya karena hal itu digunakan oleh sistem yang lain. Adapun pajak bea cukai tidak termasuk yang demikian, tetapi merupakan pengawasan Daulah terhadap perdagangan luar negeri dan dalam negri, serta merupakan pelaksanaan politik hubungan Internasional.
Tanya : Kenyataannya sekarang orang miskin dan fakir banyak tersebar di negeri-negeri Islam, lalu di mana letak keadilan pendistribusian dalam Islam?
Jawab: Orang miskin dan fakir hanya akan ada pada kondisi tertentu yang sebenarnya bisa cepat dihilangkan. Kondisi ini terjadi karena kecurangan, kelalaian, dan buruknya penerapan aturan ekonomi Islam, atau karena tidak adanya penerapan sistem tersebut.
Tanya : Adakah contoh yang nyata bagaimana Daulah begitu semangat untuk menghilangkan kemiskinan dan kefakiran?
Jawab: Daulah akan mengatur pemberian kepada orang-orang lemah yang tidak mempunyai sanak saudara yang akan menafkahinya. Daulah akan melarang orang untuk boros dan berfoya-foya agar dia tidak terjatuh dalam kemiskinan. Selain itu, dijalankannya wasiat pada orang yang berhak menerimanya. Di samping itu, Daulah membangun pemukiman penduduk di setiap kota, untuk perjalanan para haji. Semua ini dilakukan Daulah untuk menghilangkan senjangnya kebutuhan.
Tanya : Bukankah ada keinginan yang kuat untuk mengambil tsaqafah Barat yang sudah diterjemahkan pada masa ‘Abasiyah?
Jawab: Itu merupakan penerjemahan buku-buku keilmuan dan bukan tsaqafah yang bertentangan dengan Islam.
Tanya : Pernahkan terjadi kelalaian dalam membuka sekolah-sekolah oleh Daulah Islam?
Jawab: Pernah, yaitu pada akhir masa Kekhilafahan Utsmani disebabkan terjadinya kemunduran berpikir.
Tanya : Adakah contoh kejayaan pendidikan di masa Daulah Islam?
Jawab: Perguruan tinggi di Cordoba, Baghdad, Damaskus, Iskandariyah, Mesir, dan lain-lain adalah contoh untuk hal tersebut.
Tanya: Bagaimana gambaran politik luar negeri yang dilandaskan pada sistem Islam?
Jawab: Hubungan Daulah Islam dengan negara lain didasarkan pada aturan Islam dan kemaslahatan kaum Muslim, yaitu ketika interaksi itu antara negeri Islam dan negeri kufur dan ada pula aturan yang mengatur perjanjian yang sesuai syariat dengan negara lain itu dalam berbagai kondisi.
Tanya: Mengapa eksistensi Daulah Islam ditentukan oleh khalifah?
Jawab: Khalifah mengadopsi hukum-hukum Islam untuk mengatur urusan kehidupan di dalam negeri Daulah. Dia juga mengemban bendera jihad untuk menyebarkan Islam ke luar negeri Daulah. Ini semua adalah peran dari Daulah Islam.
Tanya: Apa perbedaan antara khalifah dan imam dalam kepemimpinan Daulah Islam?
Jawab: Tidak ada perbedaan di antara keduanya, seandainya pemimpin Daulah Islam diberi nama seperti keduanya, hal itu boleh karena dua istilah ini mempunyai penunjukan makna syar’i. Apabila tidak didapati penunjukan makna syar’i maka nama tersebut tidak boleh digunakan.
Tanya: Dengan cara bagaimana penjajah kafir menghancurkan Kekhilafahan pada tahun 1924 M melalui Kemal at-Taturk?
Jawab: Dengan berbagai persekongkolan yang dilakukan mereka sehingga berkobar peperangan. Hal ini akan lebih terperinci pembahasannya dalam buku yang berjudul, “Kayfa hudimat al-Khilafah (Bagaimana Kekhilafahan Dihancurkan)”.
Tanya: Adakah perbedaan makna kata wazir (menteri) dengan mu’awin secara syar’i sehingga kata ini bisa digunakan atau harus ditolak?
Jawab: Pada masa ‘Abasiyah kedua kata itu tidak mengandung perbedaan, penggunaan gelar wazir atau mu’awin punya makna yang sama. Namun, sekarang kata wazir (menteri) mengandung penunjukan sistem pemerintahan demokrasi yang bertentangan dengan Islam.
Tanya : Apa perbedaan sistem Islam dengan sistem demokrasi?
Jawab: Dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syara’’ dan kekuasaan berada di tangan umat. Adapun dalam sistem demokrasi kedaulatan dan kekuasaan keduanya berada di tangan umat. Karena itulah, mereka memisahkan dan menjauhkan Islam sebagai satu agama dalam kehidupan.
Tanya: Selama seluruh kewenangan berada di tangan khalifah, tidakkah hal ini sama dengan diktator atau tirani agama?
Jawab: Diktator akan menghasilkan pada diri seseorang tiga kekuasaan, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif, menurut pembagian sistem demokrasi. Hal ini tidak ada dalam Islam sehingga pada dasarnya tidak ada pembagian seperti ini. Kedaulatan dalam Islam bukan ditangan umat sehingga sumber kedaulatan tidak dianggap diktator ataupun tirani agama.
Tanya : Bagaimana gambaran tentara Daulah Islam?
Jawab: Mereka diatur dengan aturan Islam yang dipatuhi oleh dewan prajurit, serta terikat dengan aturan syara’’ dalam menjalankan tugas ketentaraannya untuk misi jihad dalam rangka melindungi negara dan menyingkirkan hambatan yang menghalangi penyebaran dakwah Islam.
Tanya: Mengapa syura tidak dianggap sebagai pilar pemerintahan dalam Islam dan kekuasaan berada di tangan umat?
Jawab: Karena syura hanyalah proses pengambilan pendapat yang tidak bersifat mengikat, sedangkan pilar pemerintahan haruslah bersifat mengikat. Kekuasaan pada umat memungkinkan mereka leluasa untuk menjalankan haknya, yaitu mengangkat seorang penguasa. Adapun pengambilan suara umat ini bukan untuk diterapkan sebagaimana dalam sistem demokrasi.
Tanya: Mengapa dalam pengangkatan khalifah untuk kepemimpinan kaum Muslim difokuskan dengan sistem baiat?
Jawab: Karena kaidah pokok yang kedua dalam sistem pemerintahan Islam adalah kekuasaan berada di tangan umat. Hal ini terlihat dalam pelaksanaan praktis umat ketika mengangkat khalifah. Sebagaimana yang terjadi pada masa Khulafa’ ur-Rasyidin oleh kaum Muslim, oleh ahlul halli wal ‘aqdi, dan juga oleh Syaikhul Islam pada masa Utsmani.
Tanya: Apa perbedaan sistem pewarisan kerajaan dengan baiat yang diambil dengan cara pewarisan yang terjadi pada beberapa masa kekhilafahan?
Jawab: Sistem kerajaan berpijak pada pewarisan putra mahkota dan diakui sebagai keputusan yang harus dilaksanakan. Tidak seorang pun dari masyarakat campur tangan dalam mengangkat rajanya. Adapun kepemimpinan Daulah Islam, kepala negara, atau khalifah tidak bersandar pada cara seperti itu, tetapi dengan cara baiat. Hal ini tampak jelas selama Daulah Islam berdiri.
Tanya: Namun, mengapa para khalifah setelah masa Khulafa’ur-Rasyidin mewarisi kepemimpinan negara?
Jawab: Yang terjadi sebenarnya bukan sistem pewarisan sebagaimana dalam sistem kerajaan, melainkan pengambilan kepemimpinan tanpa bersandar pada baiat. Akan tetapi, setiap khalifah yang mewariskan kedudukannya kepada anaknya, saudaranya, atau siapa pun dari kerabatnya, menghendaki penggantinya itu dibaiat semasa dia masih hidup. Lalu, setelah wafatnya khalifah tersebut, baiat kembali dilakukan kepada anaknya atau siapa pun yang menjadi penggantinya.
Tanya: Tidakkah ini dianggap sebagai siasat atau rekayasa yang dapat membahayakan posisi dalam Daulah?
Jawab: Tidak diragukan lagi hal ini merupakan kesalahan dalam penerapan sistem pemerintahan yang sesuai syara’ untuk mengangkat seorang pemimpin, terlepas dari dikatakan rekayasa atau tidak, karena siasat atau rekayasa ini tidak dapat menghilangkan kesempurnaan baiat sebagai sebuah sistem yang syar’i.
Tanya : Adakah contoh yang sama dengan praktik kesalahan penerapan sistem ini?
Jawab: Proses pemilihan wakil rakyat dalam sistem demokrasi tetap dikatakan pemilihan dan bukan disebut penunjukan sekalipun yang berhasil memenangkan suara itu adalah orang-orang yang telah dikehendaki oleh pemerintahan. Kejadian ini tidak dianggap menghilangkan pemilihan dan diganti menjadi penunjukan, tetapi dianggap sebagai kesalahan dalam penerapan sistem demokrasi.

Bagian 8

Pemaparan

Setelah kita melihat bagaimana Islam diterapkan secara nyata di dalam kehidupan, sudah semestinya kita pun melihat dengan saksama sejauh mana buah keberhasilan yang dapat dipetik dari penerapan Islam ini, supaya kita bisa mencari sebab-sebab eksistensi dan kekebalan umat Islam terhadap kehancuran. Di samping itu, bagaimana umat dapat kembali bersiap sedia mengembalikan kondisi kejayaan sebelumnya, meskipun terdapat ketamakan musuh-musuh umat yang berbeda akidahnya.
Keberhasilan akidah Islam dan peran kepemimpinannya yang paling menonjol adalah mampu mengubah kondisi bangsa Arab yang mengalami kemunduran berpikir menjadi bangkit pemikirannya, tatkala kaum Muslim di bumi ini mengemban dakwah Islam yang ditujukan ke daerah Irak, Persia Timur, negeri Syam Selatan, Mesir, dan Afrika Selatan. Setiap bangsa ini mempunyai kaum, bahasa, dan agama yang berbeda. Akan tetapi, dengan sentuhan keadilan Islam dan pemahaman mereka tentang Islam, menjadikan beberapa orang yang terpilih tunduk dan bergabung dengan bangsa Arab sebagai umat Islam yang satu. Inilah manifestasi kemampuan Islam untuk menyatukan berbagai bangsa dengan cemerlang, meskipun sarana transportasi amat lemah, yaitu unta dan kuda, dan alat komunikasi hanya berupa lisan dan pena.
Dari sini muncul pertanyaan, apa perbedaan ekspansi (perluasan wilayah) Islam dan penjajah Barat dalam hal ini? Jawabnya adalah ekspansi Islam dilakukan untuk menyingkirkan halangan fisik bagi dakwah Islam. Negeri-negeri yang ditaklukkan tidak dipaksa untuk memeluk Islam, tetapi dijelaskan kepada mereka pemikiran Islam yang praktis. Akal mereka akan memahami dan fitrah mereka juga tertunjuki dengan penjelasan itu sehingga mereka berbondong-bondong masuk Islam.
Adapun ekspansi penjajah kafir bertujuan menguasai bangsa-bangsa yang lemah untuk mengeksploitasi dan merampas kekayaannya demi kepentingan bangsa penjajah. Karena itu, kita melihat bagaimana mereka bersandar pada penyesatan tsaqafah dan politik hingga memaksakan alasan yang penuh dusta. Di samping itu, mereka terus melanggengkan kekuasaannya untuk menjauhkan kaum Muslim dari Islam dan menjerumuskannya dalam kesengsaraan.
Kita kembali menegaskan bahwa keberlangsungan bangsa-bangsa tadi sebagai bangsa Muslim ada sampai saat ini. Bahkan, mereka bergabung dengan kelompok-kelompok kebangkitan Islam yang terus berkembang, kendatipun banyak tipu daya politik, ancaman-ancaman militer, pengrusakan akidah, serta racun-racun pemikiran yang disebarkan penjajah Barat dan Timur. Kondisi ini menjadi bukti yang amat jelas betapa umat Islam mampu memelihara kesatuan umatnya yang menganut Islam hingga Hari Kiamat.
Adapun apa yang dialami oleh kaum Muslim di Andalusia, yaitu pemusnahan dengan cara penggeledahan, pembakaran, dan pembantaian, itu semua tidak mengeluarkan mereka dari keislamannya. Demikian pula yang terjadi pada kaum Muslim di Bukhara, Kaukasus, Turkistan, dan juga di Afganistan. Semua itu adalah tekanan yang dilakukan penjajah Barat dan Timur, tidak ada bedanya. Namun, kita melihat dan mendengar bagaimana bangsa-bangsa yang dizalimi itu mampu bertahan dalam keislamannya, bahkan bersiap sedia untuk kembali pada kejayaannya yang lalu. Seperti inilah keberhasilan yang dicapai Islam dalam memelihara akidah dan peraturannya, selanjutnya dapat mewujudkan kepemimpinan bagi bangsa-bangsa lain.
Keberhasilan kedua yang diraih Akidah Islam dalam memimpin manusia yang merupakan dampak penerapan aturan dalam realitas kehidupan adalah diakuinya umat Islam sebagai umat yang tinggi peradaban, tsaqafah, dan keilmuannya. Semua prestasi itu tercapai ketika umat berada dalam naungan Daulah Islam yang agung di antara berbagai umat dan negara lainnya selama dua belas abad, dan terus bertambah hingga abad ke-16 M, bahkan sampai pertengahan abad ke-18 M. Hal ini memperkuat keberhasilan kepemimpinan dan kesuksesan Islam dalam penerapan akidah dan aturannya di tengah-tengah manusia. Selain itu, mempertegas bahwa jika kaum Muslim tidak melepaskan dirinya dari kesatuan Daulah dan sebagai umat yang mengemban dakwah Islam untuk memimpin manusia yang terjajah, serta jika tidak melalaikan dakwah Islam, niscaya tidak akan terjadi kondisi buruk yang menimpa mereka. Yaitu, selama umat Islam berupaya untuk berpegang teguh pada Islam.
Pertanyaannya sekarang, mengapa terjadi perbedaan yang amat besar antara penerapan Islam pada masa awal dan masa-masa setelahnya?
Jawabannya, Agama Islam sesuai dengan fitrah manusia, dan Islam memandang manusia sebagai makhluk hidup yang punya perasaan, bukan sebagai robot. Karena itu, aturan Islam diterapkan pada manusia sebagai manusia, dan bukan sebagai robot karena adanya perbedaan. Dengan adanya perbedaan ini, kemudian terjadi penerapan aturan yang menyimpang atau penyelewengan dengan berbagai bentuknya secara alami. Dengan demikian, munculnya orang-orang fasik dan durhaka di tengah masyarakat menjdi satu hal yang wajar, sebagaimana pula adanya orang kafir dan munafik, serta orang yang murtad dan ateis. Namun, semua itu tidak akan mempengaruhi warna masyarakat Islam yang terbentuk dari pemikiran, perasaan, dan aturan tempat manusia hidup dengan ajaran Islam.
Mana bukti yang kuat untuk hal tersebut? Yaitu, penerapan Islam yang dilakukan Rasulullah saw., padahal di masa Rasul ada orang-orang kafir, munafik, durhaka, murtad, dan juga ateis. Kendatipun demikian, manusia mana pun bisa memastikan bahwa Islam telah diterapkan secara sempurna dan menyeluruh, demikian pula keberadaan masyarakat Islam.
Semua itu memastikan bahwa Islam sajalah yang diterapkan kepada umat Islam sejak berdirinya Daulah Islam di Madinah al-Munawwarah dengan hijrahnya Rasul saw. ke sana hingga tahun 1362 H atau 1918 M ketika kaum penjajah mengganti Islam dengan sistem Kapitalisme.

Diskusi

Tanya: Seperti apa kondisi bangsa Arab yang pemikirannya rendah sebelum Islam datang?
Jawab: Seluruh bangsa arab bergelimang dengan lumpur fanatisme keluarga dan kesukuan, juga berada dalam gelapnya kebodohan yang mengerikan.
Tanya: Bagaimana Islam dapat mengubah bangsa Arab menjadi bangkit pemikirannya?
Jawab: Islam telah mengubah akidah mereka yang batil dengan Akidah Islam yang sahih karena Akidah Islam sesuai dengan fitrah manusia dan berlandaskan pada akal. Kemudian, aturan yang diterapkan dalam kehidupan mereka adalah aturan Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
Tanya: Seperti apa kekuatan dalam Islam yang mampu menguasai berbagai bangsa dan kaum?
Jawab: Kekuatannya adalah saat menggabungkan berbagai bangsa dan kaum itu ke dalam naungan Islam tanpa ada paksaan sehingga mereka menjadi umat Islam yang satu.
Tanya : Akan tetapi, mengapa Islam menempuh jalan perang dan ekspansi seperti halnya mabda lain?
Jawab: Yang menjadi pembahasan di sini bukanlah bentuk ekspansinya, melainkan tujuan apa yang terkandung di dalamnya. Islam menggunakan kekuatan untuk melenyapkan kekuatan yang menghalangi sampainya Islam ke berbagai bangsa. Langkah tersebut bukan untuk memaksa mereka agar memeluknya, melainkan untuk menjelaskan Islam kepada mereka dan melaksanakan penerapan Islam dalam kehidupan mereka. Berbeda dengan mabda selain Islam, mereka melakukan ekspansi untuk memaksakan akidahnya dan merampas kekayaan negeri yang ditaklukannya, seperti yang dilakukan penjajah Barat di Andalusia dan negeri lainnya. Terkadang mereka menggunakan salah satu cara di antara misi tadi, seperti yang dilakukan orang Sosialis Komunis di negeri-negeri Islam.
Tanya: Di mana letak perbedaan ekspansi Islam dengan mabda lainnya?
Jawab: Yaitu, pada apa yang dilakukan oleh kaum Muslim dan para penjajah. Kaum Muslim menghancurkan hambatan fisik untuk membukakan jalan bagi bangsa yang ditaklukan supaya akal mereka terbuka dan memilih untuk memasuki agama Islam berdasarkan kepuasan akal dan ketenangan jiwa, dan mereka hidup berdampingan dengan orang Muslim yang memasuki negerinya itu. Sementara itu, para penjajah memaksakan akidahnya untuk dianut dan juga merampas kekayaan milik negeri yang ditaklukannya demi kepentingan mereka.
Tanya: Apa yang menjadi penghalang kaum Muslim untuk kembali menerapkan aturan Islam, setelah keluarnya para penjajah dari negeri mereka?
Jawab: Ada dua penghalang yang sulit diakhiri oleh kaum Muslim, yaitu tsaqafah Kapitalisme Demokrasi yang menyesatkan dan penindasan para penguasa kaum Muslim.
Tanya : Berhasilkah para penjajah mengeluarkan kaum Muslim dari keislaman mereka saat terjadi kerusakan akidah umat Islam?
Jawab: Tidak berhasil. Namun, hanya terjadi kekacauan dan kebingungan, serta ketidakjelasan pandangan kaum Muslim. Tidak pernah diketahui sepanjang sejarah, keluarnya satu bangsa Islam dari keislamannya.
Tanya: Akan tetapi, bagaimana dengan kaum Muslim Andalusia, Kaukasus, dan negeri sekitarnya?
Jawab: Hal itu terjadi karena kedengkian kaum penjajah Nasrani yang melenyapkan mereka dengan mahkamah inquisisi dan pembantaian besar-besaran di Barat, serta yang semisalnya di Timur. Namun, ternyata begitu cepatnya negeri ini kembali pada keislamannya ketika mereka melihat cahaya yang terpancar dari kejernihan Islam dan keadilan syariatnya.
Tanya : Mengapa pada pertengahan abad ke-18 M hal itu terjadi?
Jawab: Daulah Islam saat pemerintahan Utsmani itu telah tercerai-berai dan jatuh ketika kedengkian para penjajah Salib di Timur dan Barat tengah bergelora.
Tanya : Pernahkah umat Islam berlepas diri dari dakwah Islam?
Jawab: Ya benar, saat Daulah Islam terpecah-belah dan mengalami kemunduran pemahaman terhadap risalah Islam. Mereka meninggalkan penerapan syariat di akhir masa pemerintahan Utsmani.
Tanya: Mengapa umat Islam melalaikan dakwah dan penerapan syariat?
Jawab: Saat itu Daulah disibukkan oleh perang yang dilancarkan oleh penjajah dalam bentuk perang militer dan budaya. Hal ini membuat kelemahan pada Daulah. Selain itu, terkontaminasinya pemikiran Islam.
Tanya : Namun, mengapa kondisi seperti ini tidak dialami oleh Daulah Islam yang pertama?
Jawab: Saat itu pemikiran Islam masih jernih dan berpegang pada akidah masih kuat, serta musuh-musuh Islam masih lemah.
Tanya : Apakah terjadinya kondisi ini selamanya terjadi secara alami?
Jawab: Benar, selamanya manusia merupakan makhluk sosial, dia tidak hidup di atas garis yang tetap selamanya tanpa ada perbedaan pemahaman. Hal ini ibarat ukuran rancang bangunan yang terperinci.
Tanya: Bagaimana awalnya kekacauan itu terjadi yang berikutnya menimbulkan kelemahan pada umat Islam?
Jawab: Yaitu, ketika beberapa penguasa di masa Utsmani melakukan penyimpangan dengan tidak menerapkan Islam secara benar dan mereka mengizinkan diterapkannya aturan selain Islam. Muncullah sekelompok orang pada masa kelemahan–disebabkan bertambah jauhnya Daulah dari pemahaman Islam, kemudian mereka berhasil melakukan aktivitas yang malah melemahkan Daulah. Para penguasa tidak pernah berhasil melakukan aktivitas yang dapat menguatkan pemikiran dan pemahaman terhadap Islam seperti pada masa sebelumnya.
Tanya : Adakah dalil tentang kebenaran kebenaran tersebut dalam al-Kitab dan Sunah?
Jawab: Dalilnya adalah apa yang terjadi di masa Rasul saw. Pada masa itu terdapat kaum kafir, munafik, orang durhaka, dan orang yang murtad. Namun, mereka semua tidak mempengaruhi diberlakukannya Syariat Islam dan dakwah Islam.
Tanya: Pada masa Khulafa’ ur-Rasyidin kaum Muslim menghadapi fitnah, seperti di masa Khalifah Utsman dan terbunuhnya para khalifah yang lain, mengapa hal itu terjadi?
Jawab: Peristiwa pembunuhan merupakan perkara alami di setiap zaman dan tidak bergantung pada kuat atau lemahnya Daulah. Adapun fitnah yang terjadi saat itu merupakan satu bentuk ketidakjelasan dan perbedaan pendapat dalam memahami realitas dan syariat. Inipun merupakan perkara alami yang dihadapi manusia karena perbedaan pemahaman yang tidak dilarang oleh Islam.
Tanya: Apakah hanya mabda Islam yang diterapkan oleh Daulah Islam yang pertama hingga masa Daulah Utsmani?
Jawab: Benar. Hanya Islam yang diterapkan kepada umat Islam, baik bangsa Arab maupun bangsa di luar Arab sejak masa Rasul saw. di Madinah hingga datang penjajah menguasai negeri Islam.
Tanya : Namun, apakah Anda lupa terhadap dakwah untuk menerapkan Islam pada saat ini yang akan menghadapi situasi permusuhan, baik dari dalam negeri maupun di luar negeri Islam?
Jawab: Tidak. Kita tidak melupakan hal itu. Namun, sambutan umat Islam terhadap penerapan Islam dan berdirinya Khilafah–dengan pertolongan Allah Swt.–akan mencegah semua rongrongan musuh, baik dari dalam maupun dari luar.
Tanya: Akan tetapi, akankah mereka terus berupaya untuk memunculkan berbagai fitnah dari dalam dan dari luar, untuk menjatuhkan Kekhilafahan pada saat berdiri nanti?
Jawab: Usaha musuh-musuh itu tidak akan pernah bernilai apa-apa dengan adanya pertolongan Allah Swt. selama umat Islam bergerak aktif di dalamnya, serta perlindungan dari negeri-negeri di sekitarnya, selama tidak ada campur tangan militer asing.

Bagian 9
Pemaparan

Setelah kita meyakini bahwa hanya Islamlah yang diterapkan selama masa pemerintahan Islam, serta tersebar-luasnya Islam adalah hasil dari penerapan ini. Dengan demikian, saat ini diperlukan adanya pelurusan kembali perspektif sejarah penerapan Islam tersebut. Bagaimana hal ini dapat diwujudkan?
Pertama, yang harus diperhatikan adalah kita dilarang mengambil sejarah Islam dari musuh-musuh Islam, tapi harus diperoleh dari penelitian terperinci yang dilakukan kaum Muslim sendiri.
Kedua, kita harus menghindari analogi generalisasi terhadap masyarakat tempat kita mempelajari sejarah para tokohnya atau terhadap satu aspek sejarah dari masyarakat tersebut. Sebagai contoh, jangan mengambil sejarah periode Umayah dari sejarah hidup Yazid dan jangan mengambil sejarah periode ‘Abasiyah dari sejarah hidup beberapa khalifahnya. Di samping itu, kita juga tidak boleh mengambil sejarah masa ‘Abasiyah dari buku al-Aghani yang dikarang untuk menceritakan tingkah laku para biduan, para pelawak, para penyair, dan sastrawan karena yang akan tampak nantinya adalah masa pemerintahan yang penuh dengan kefasikan dan penyimpangan. Selain itu, juga tidak mengambilnya dari buku-buku Tasawwuf karena nantinya seolah-olah masa itu penuh dengan sikap zuhud dan uzlah (mengasingkan diri), padahal yang harus kita ambil adalah sejarah masyarakat secara keseluruhan.
Akan tetapi, apakah ada buku-buku sejarah masyarakat Islam di setiap masa yang disusun oleh sejarawan terdahulu?
Jawabnya adalah tidak ada, yang ada hanyalah cerita-cerita para penguasa dan beberapa pejabat, itupun kebanyakan ditulis oleh orang-orang yang tidak layak dipercaya. Mereka itu pada umumnya, kalau tidak para pencela, pasti para pemuja sehingga tidak satupun yang dapat diterima riwayatnya.
Saat mempelajari masyarakat Islam dengan pandangan seperti ini, yaitu mempelajarinya secara kritis dan teliti, kita mendapati masyarakat terbaik ada hingga pertengahan abad ke-12 H. Ketika itu mereka hidup dengan sistem Islam hingga akhir Daulah Utsmani sebagai sebuah Daulah Islam tanpa memperhatikan beberapa kekurangan yang dilakukannya.
Dari sini muncul pertanyaan, layakkah sejarah menjadi sumber untuk mengetahui apakah suatu sistem dan fiqih, Islami atau tidak?
Jawabnya, tidak layak. Misalnya, konsep sistem Sosialisme tidak diambil dari sejarah bangsa Rusia, tetapi diambil dari buku tentang ideologi Sosialisme itu sendiri. Pengetahuan hukum Inggris juga tidak diambil dari sejarah Britania, tetapi dari buku-buku kodifikasi hukum Inggris sendiri. Demikian pula dengan dengan Islam, mestinya untuk mengetahui sejarah masyarakat Islam harus kembali pada buku-buku fiqih Islam, untuk digali hukum-hukumnya dari rujukan dalil-dalil terperinci dari al-Kitab, Sunah, Ijma, atau Qiyas.
Sejarah tidak boleh dijadikan sumber untuk kedua hal tadi, yaitu sistem dan fiqih, sekalipun itu diambil dari sejarah Umar bin Khatthab, Umar bin Abdul-Aziz, atau Harun al-Rasyid. Tidak pula diambil dari berbagai peristiwa sejarah yang menuturkan mereka atau dari buku yang dikarang tentang biografi mereka. Apabila ada pendapat Umar dalam suatu perkara diikuti, tidak lain karena itu merupakan hukum syara’ yang digali Umar dan diterapkannya, sebagaimana pula halnya mengikuti hukum yang digali Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ja’far, atau yang lainnya. Semua itu diikuti bukan karena hal itu adalah peristiwa sejarah.
Demikian pula untuk mengetahui suatu sistem itu diterapkan atau tidak, tidak boleh diambil dari sejarah. Namun, harus dari fiqih yang diterapkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di masa mana pun karena sejarah tidak lebih dari pemindahan cerita. Dengan merujuk pada fiqih, kita mendapati hanya sistem Islam yang diterapkan kaum Muslim sepanjang periode Daulah mereka. Mereka menggalinya dari dalil-dalil syara’ dan mereka sangat selektif terhadap penggalian dalil yang lemah.
Benar, sejarah memang menceritakan bagaimana penerapan sistem dalam bentuk penyebutan peristiwa-peristiwa politik. Hanya saja semestinya sejarah mengikuti penelitian mendalam yang dilakukan kaum Muslim. Dengan melihat pada sejarah, kita mendapati sejarah itu mempunyai tiga sumber, yaitu buku-buku sejarah, atsar (pemberitaan Sahabat), dan riwayat hadis. Mana dari ketiganya yang layak dijadikan sumber yang bisa dipercaya untuk sejarah dan gambaran penerapan sistem?
Buku sejarah tidak layak menjadi sumber karena banyak kebohongan dan fitnah yang disisipkan di dalamnya. Adakalanya disisipkan oleh orang yang menulisnya atau berlawanan dengan orang yang menulis tentang mereka di masa lain. Sejarah keluarga ‘Alawiyah di Mesir tahun 1952 M adalah bukti terbesar yang kontemporer. Karena itu, jangan merujuk pada buku sejarah untuk mengetahui penerapan sistem dan bagaimana penerapan itu berlangsung.
Adapun atsar (cerita Sahabat) meski tidak berbentuk rantai sejarah, dengan penelaahan yang sungguh-sungguh akan memberikan kenyataan sejarah tentang sesuatu dan menyebutkan beberapa peristiwa yang terjadi. Dengan merujuk pada atsar kaum Muslim di negeri mereka, kita mendapati bukti yang meyakinkan mengenai sistem Islam dan hukum-hukumnya sebagai satu-satunya sistem yang diterapkan.
Adapun riwayat merupakan sumber yang sahih apabila periwayatannya juga sahih, sebagaimana halnya periwayatan hadis. Inilah cara yang ditempuh kaum Muslim, seperti Imam ath-Thabari dan Ibnu Hisyam ketika mereka menyusun buku –buku mereka. Jadi, sejarah Islam jangan diambil dari buku-buku sejarah yang tidak ditempuh dengan cara periwayatan sahih, ketika ingin diketahui, apakah hanya Islam yang diterapkan dan bagaimana cara penerapannya?
Adapun yang terpenting dari dua sumber di atas, yaitu dari atsar dan riwayat yang bisa dipercaya, didapatkan manfaat atau keuntungan, yaitu kita dapat memastikan bahwa Islam sajalah yang diterapkan oleh umat Islam di sepanjang masa Daulahnya dan bukan penerapan yang lain.
Apakah penerapan Islam ini terus berlangsung setelah penguasaan penjajah kafir terhadap negeri Islam sejak akhir perang dunia pertama?
Tidak, penjajah kafir saat itu menerapkan sistem Kapitalisme dalam semua aspek kehidupan dengan tujuan menghalangi kembalinya Islam di tengah kehidupan selama-lamanya. Hal inilah yang mengharuskan kita untuk melenyapkan aturan mereka seluruhnya agar kehidupan Islam kembali berlangsung. Namun, bagaimana hal itu bisa direalisasikan?
Semestinya cara untuk merealisasikan kembali Islam ditengah kehidupan adalah cara yang sama dengan apa yang ditempuh Rasul saw. Yaitu, dengan mengembalikan akidah Islam agar hidup dalam jiwa kaum Muslim. Kemudian, aturan Islam diterapkan di antara mereka, serta kepada umat dan bangsa-bangsa lain yang mengemban mabda mereka. Hal itu agar bangsa-bangsa non-Muslim mau menerapkan aturan Islam, baik mereka meyakini atau tidak. Berkaitan dengan ini karena keyakinan terhadap mabda bukan syarat bagi orang yang menjadi objek penerapan mabda, melainkan syarat bagi orang yang akan menerapkannya saja.
Dengan demikian, umat Islam akan bangkit bersama dengan bangsa-bangsa lain yang berlindung di bawah panji Islam. Umat Islam dilarang untuk melalaikan dan menyia-nyiakan mabda Islam walaupun sedikit dalam kehidupannya. Dilarang pula menyepelekan akidah dan aturan yang terpancar darinya. Kelalaian apa pun atau bahkan menggantinya dengan akidah lain, seperti Materialisme atau manfaat dan dengan sistem lain, seperti Sosialisme dan Kapitalisme Demokrasi, maka umat Islam akan menghadapi kelemahan terus-menerus. Selain itu, umat Islam akan dikuasai musuh-musuhnya sehingga terhalang untuk membangkitkan cara berpikirnya.
Kebangkitan ini tidak akan pernah dicapai kecuali dengan menggabungkan akidah dan aturan yang diterapkan dalam kehidupan mereka. Hal ini bisa diwujudkan hanya dengan satu cara, yaitu menegakkan kembali Daulah Islam di muka bumi yang diawali pada satu tempat tertentu. Kemudian, dilanjutkan di tempat-tempat lain dengan mengemban risalah Islam bagi seluruh manusia.

Diskusi

Tanya: Apakah semua buku-buku sejarah Islam yang ditulis oleh musuh-musuh Islam tidak boleh dijadikan rujukan?
Jawab: Benar, tidak boleh. Khususnya mereka yang dendam dan dengki sehingga dikenal sebagai orang-orang yang suka memburuk-burukkan gambaran Islam.
Tanya: Namun, ada pula sejarawan Muslim yang memutarbalikkan realitas gambaran Islam?
Jawab: Hal inilah yang membutuhkan penyelidikan yang mendalam, termasuk kepada sejarawan Muslim sekalipun, khususnya orang-orang yang tendensius. Bagaimana Islam dan kaum Muslim dimusuhi.
Tanya: Apa maksud tidak boleh melakukan analogi generalisasi terhadap masyarakat dalam sejarah seseorang?
Jawab: Maksudnya, kita jangan menjadikan sejarah penguasa mana pun sebagai dalil atau standar bagi keseluruhan masyarakat di masa itu. Masa Umayah misalnya, jangan diambil dari sejarah Yazid atau Umar bin Abdul Aziz.
Tanya: Mengapa kitab al-Aghani karangan Abu Farj al-Ashfahani tidak boleh dijadikan rujukan sejarah?
Jawab: Sekalipun seorang Muslim, dia telah menyusun berita-berita dari para penyair dan pelawak. Adapun mereka hanyalah sudut tertentu di masyarakat pada masa ‘Abasiyah. Masyarakat ‘Abasiyah menurut perspektif mereka adalah masyarakat fasik dan menyimpang, padahal yang sesungguhnya tidaklah demikian.
Tanya : Jika kita tidak boleh mengambil sejarah Islam dari buku-buku sastra dan buku-buku sufi, padahal para penulisnya adalah Muslim, maka berarti sumber rujukan menjadi sangat sedikit?
Jawab: Realitasnya sumber sejarah Islam yang tertulis dan memiliki tujuan yang benar amatlah sedikit. Hal ini karena tidak ditulis dalam bentuk yang mendalam dan jernih, serta mencakup masyarakat di setiap masa.
Tanya: Bolehkah bersandar pada sejarah untuk mengetahui realitas sebuah sistem dan hukum yang ada pada satu Daulah atau satu masa?
Jawab: Tidak boleh. Sistem diambil dari buku-buku ideologi, bukan dari sejarah suatu negeri. Aturan (sistem) Sosialisme tidak diambil dari sejarah bangsa Rusia, tetapi diambil dari buku-buku ideologinya.
Tanya: Jika kita tidak boleh bersandar pada sejarah sebagai sumber untuk memahami aturan (sistem), bolehkah kalau dipergunakan untuk menggali hukum-hukum?
Jawab: Tentu saja tidak, untuk memahami sistem saja tidak boleh apalagi digunakan untuk menggali hukum-hukum bagi sistem tersebut.
Tanya: Dari sumber mana kita dapat mengetahui bahwa mabda Islam merupakan kumpulan akidah dan aturan?
Jawab: Dari buku-buku fiqih Islam yang jumlah dan jenisnya tidak terhitung, serta tidak boleh dari sumber yang lain.
Tanya : Dari mana sumber untuk menggali hukum?
Jawab: Dari dalil-dalil yang terperinci yang diambil dari al-Quran dan Sunah.
Tanya: Mengapa fiqih dianggap sebagai sumber untuk mengetahui suatu sistem yang diterapkan?
Jawab: Fiqih merupakan solusi problem manusia di masa kapan pun. Mengetahui fiqih, berarti mengetahui aturan yang diterapkan di masa itu.
Tanya: Bukankah sejarah menceritakan penerapan sebuah sistem juga?
Jawab: Benar demikian, namun sejarah menceritakan peristiwa itu tanpa dikaitkan satu sama lain, dan tanpa diperinci.
Tanya: Dengan demikian, apakah sejarah Islam itu harus sampai pada sumbernya atau sesuatu yang mendasar, seperti sejarah yang disusun ath-Thabari?
Jawab: Benar, seharusnya ada keinginan kuat untuk memeriksa riwayatnya dan membersihkannya dari kelemahan, seperti halnya pada fiqih yang harus dibersihkan dari pendapat-pendapat yang lemah. Jika tidak demikian, berarti penggalian dalilnya yang lemah, padahal kita dilarang untuk beramal dengan pendapat yang lemah dalilnya, sekalipun berasal dari seorang Mujtahid Mutlak.
Tanya : Dari mana bukti yang kita peroleh bahwa hanya fiqih Islam saja yang ada di dunia Islam selama masa Kekhilafahan?
Jawab: Dari data-data yang tersimpan di mahkamah-mahkamah syariat di seluruh Ibu kota negeri Islam.
Tanya : Apa nilai sejarah bagi kehidupan umat Islam?
Jawab: Untuk menelaah tata cara penerapan syariat Islam. Hal itu diketahui dari peristiwa-peristiwa politik yang datang dari sejarah.
Tanya : Namun, bukankah penyebutan peristiwa politik itu lebih banyak hal yang disimpangkannya?
Jawab: Untuk itu, perlu juga adanya penyelidikan mendalam dari kaum Muslim terhadap hal itu.
Tanya : Apakah autobiografi lebih dapat dipercaya dari buku-buku sejarah atau tidak?
Jawab: Tidak bisa, karena di dalamnya bercampur dengan berbagai kepentingan dan obsesi.
Tanya : Jika tidak mungkin mempercayai selain riwayat sebagai cara untuk menulis sejarah, bagaimana kita bisa sampai pada sejarah yang dapat dipercayai?
Jawab: Kita harus melakukan penyaringan atau seleksi terhadap buku-buku sejarah terdahulu, seperti tarikh at-Thabari, sirah Ibnu Hisyam, al-Waqidi dan yang lainnya untuk sampai pada gambaran yang paling dekat yang bisa dipercaya. Adapun buku sejarah yang tidak berdasarkan pada riwayat, perlu dilakukan penyelidikan dan pendalaman sehingga bisa didapat sesuatu yang bisa dipercaya darinya.
Tanya : Apa maksud perkataan Lord Allenby selaku panglima ekspansi ke al-Quds?
Jawab: Dia mengatakan, “Saat inilah perang salib berakhir?”. Maksud dari perkataannya itu cukup mendalam, yaitu terjadi kekalahan kaum Muslim yang sebelumnya tidak pernah dirasakan oleh pasukan salib sejak berperang delapan abad yang lalu pada masa Shalahuddin al-Ayyubi. Namun, kemudian kaum Muslim jatuh karena faktor internal saat mereka menerapkan aturan kufur.
Tanya: Padahal, kaum Muslim tidak pernah melepaskan akidah mereka. Mengapa begitu pentingnya sehingga meyakini akidah dianggap sebagai jalan untuk meraih kebangkitan?
Jawab: Metode kebangkitan itu adalah meyakini akidah Islam sebagai landasan berpikir dalam semua aspek kehidupan, bukan hanya sebagiannya saja. Kaum Muslim mengimani bahwasanya Allah Swt. adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta, Dia ada sebelum kehidupan dan dari-Nyalah syariat datang untuk mengatur kehidupan. Mengikatkan diri dengan syariat adalah hal yang nantinya akan dihisab.
Tanya: Selama Islam diterapkan pada berbagai bangsa, kemudian mereka meraih kebangkitan meskipun tidak meyakini Islam. Akan tetapi, ketika umat Islam mengambil aturan Kapitalisme misalnya, meskipun tidak meyakininya, mengapa tidak mempengaruhi dan menghasilkan kebangkitan?
Jawab: Yang dimaksud dengan mempengaruhi dan menghasilkan kebangkitan di sini adalah mempengaruhi dan menghasilkan kebangkitan pemikiran dan jiwa manusia pertama kali, kemudian terjadi kebangkitan materi. Kebangkitan seperti ini tidak bisa dicapai tanpa meyakini akidahnya. Tatkala akidah Materialisme bertentangan dengan fitrah manusia dan akal menolaknya, maka akidah ini tidak mungkin diterapkan pada berbagai bangsa kecuali dengan menggunakan tangan besi dan kekuatan senjata. Bangsa-bangsa itu begitu cepatnya bangun dari tidur semata-mata karena mimpi buruk yang menekan dan hampir-hampir menghancurkan pundaknya. Inilah yang dialami oleh negara Uni Soviet dahulu.
Tanya: Mengapa kita tidak mengambil fanatisme Arab sebagai sistem kehidupan?
Jawab: Ikatan seperti itu bukan sistem ataupun akidah. Itu hanyalah sebuah pemikiran mengenai fanatisme bangsa Arab tanpa memperhatikan jahiliyah atau Islamnya mereka dan tanpa memedulikan maju atau terbelakangnya kehidupan mereka.
Tanya: Mungkinkah dilakukan penggabungan aturan hidup mana pun selain Islam dengan Akidah Islam?
Jawab: Seperti halnya yang terjadi pada umat Islam saat ini, sungguh mereka telah menggabungkan sistem Kapitalisme dalam kehidupannya dengan akidah Islam. Akidah ini telah ada dalam jiwa-jiwa mereka.
Tanya : Apa nilai dari penggabungan ini?
Jawab: Nilainya sangat negatif karena Akidah Islam hanya dijadikan aspek rohani dalam hubungan manusia dengan Tuhannya ketika mengibadahi-Nya dan sedikit akhlak yang diterapkan pada dirinya. Hubungan dirinya dengan manusia lain dan masyarakat dalam muamalah diabaikan. Mereka dihukumi dan diatur oleh sistem Kapitalisme dalam bidang ekonomi dan demokrasi dalam bidang pemerintahan. Karena itu, di mana pemikiran-pemikiran syariat yang terpancar dari Akidah Islam itu ditempatkan dalam realitas kehidupan kaum Muslim saat penggabungan ini dilakukan?!!
Tanya: Apakah negara-negara di dunia Islam melakukan penggabungan ini?
Jawab: Tidak diragukan lagi bahwa setiap negeri Islam melakukan hal itu, tanpa memperhatikan anggapan sebagian orang bahwa Islam itu lebih banyak dari yang lainnya dan tuduhan bahwa Sosialisme atau Demokrasi itu lebih banyak dari yang lain.
Tanya : Kapan penggabungan akidah Islam dengan kekufuran yang terjadi di dunia Islam ini akan berakhir?
Jawab: Hal ini berakhir saat umat Islam kembali pada keislamannya secara sempurna dalam akidah dan aturannya, dan tidak akan pernah menerima penyimpangan ini. Sungguh jauh Allah Swt. dari hal seperti ini, setelah kekufuran gagal memasuki jiwa dan akal manusia.

ULASAN

Dengan mempelajari perbandingan ketiga mabda yang ada yaitu Islam, Sosialisme-Komunisme, dan Kapitalisme sudah cukup bagi setiap orang yang mempunyai akal dan hati untuk berpikir sejauh-jauhnya dalam mengamati peristiwa yang terjadi di alam ini dan menentukan sikap apakah dia akan membiarkan dunia ini terus-menerus berada dalam benturan pemikiran di antara dua mabda yang hanya akan mendatangkan bencana dan kerugian bagi kehidupan manusia dalam semua aspek kehidupan. Apakah ini merupakan kewajiban bagi manusia yang berakal dan berpikir, serta yang tersinari dan terbersihkan hatinya untuk dapat memahami persoalan ini dan memberikan sikapnya?
Tuntutan masyarakat Sosialis akhir-akhir ini untuk mencampakkan ideologinya dan ingin terbebas dari Sosialisme, terjadi setelah mereka terimbas arus reformasi dan era keterbukaan atau dengan sebutan glassnot dan perestroika yang dikomandoi Rusia dan negeri-negeri lain yang tergabung dalam Uni Soviet. Ini terjadi setelah Gorbachev bermain bersama Amerika, disusul kemudian oleh Boris Yeltsin, tokoh Rusia dengan dukungan mantap dari Amerika khususnya, dan umumnya dari negara-negara Barat.
Tuntutan ini menjadi bukti nyata kekalahan mabda Sosialisme-Komunisme yang rusak. Ideologi ini merupakan sebuah ideologi buatan manusia yang tunduk terhadap penafsiran dan revisi manusia, sesuai dengan pengaruh lingkungan dan realitas yang terjadi. Lebih khusus lagi, ketika tuntutan dan tekanan realitas terus bertambah, serta tidak dapat dibendung lagi. Penjagaan akidah Sosialisme–beserta aturan yang terpancar darinya–dari pengaruh celupan warna Kapitalisme adalah sesuatu yang lazim terjadi pada mereka, sekalipun kesan dogmatis dan ketundukan terhadap sistem masih mendominasi dan terus berkembang hingga tidak bisa ditutupi lagi. Adapun yang terjadi adalah sebaliknya, pada saat partai-partai Sosialisme yang ada di Eropa Timur dengan keberaniannya memproklamasikan diri sebagai partai Sosialis Demokrat yang berbasis Kapitalisme.
Maka, sejak saat itu Sosialisme-Komunisme terhapus dari muka bumi dan digantikan oleh Kapitalisme Demokrasi dalam bidang pemerintahan dan perekonomian.
Adapun kebatilan, kerusakan, dan kecacatan mabda Kapitalisme Demokrasi sudah sangat jelas tampak bagi orang yang punya hati dan penglihatan, termasuk bagi para intelektual mereka sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: