Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

MEMILIH KEPALA NEGARA

بسم الله الرحمن الرحيم

MEMILIH KEPALA NEGARA

Allah SWT mewajibkan setiap muslim untuk taat kepada syariat-Nya dan mengatur setiap aspek kehidupan pribadi, masyarakat dan negara dengan syariat-Nya itu, selama dia beriman kepada Allah SWT. Dia berfirman:

]إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[

Sesungguhya perkataan orang-orang yang beriman bila diserukan kepada Allah dan RasulNya untuk menerapkan hukum (syariat Islam) diantara mereka, mereka menyatakan “kami mendengar dan kami menaati”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (TQS. an-Nuur [24]: 51)

]فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ[،

Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan (syariat Islam) dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepada engkau (TQS. Al-Maidah [05]: 48).

]وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ[.

Hendaklah engkau memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah (syariat Islam), dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kalian terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepada engkau (TQS. Al-Maidah [05]: 49).

Syariat Islam tidak mungkin bisa dilaksanakan secara utuh tanpa negara Islam (Khilafah). Individu bisa saja melaksanakan sebagian hukum, seperti ibadah, makanan, pakaian, dan akhlak. Namun sebagian hukum ibadah yang lain, seperti jihad, tidak bisa dilaksanakan oleh individu. Sementara hukum-hukum syara’ lain yang berkaitan dengan sistem pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sistem persanksian, dan hudud, sistem informasi, hubungan internasional, serta urusan jihad dan perang; semuanya tidak bisa dilakukan oleh individu, melainkan harus oleh negara. Bahkan, hukum-hukum yang berkaitan dengan individu, yang bisa dilakukan oleh individu, umumnya tidak bisa mereka laksanakan, karena negara yang memerintah mereka adalah negara sekuler yang tidak Islami. Negara tersebut justru mendorong masyarakat dengan kurikulum pendidikan dan media massa agar tidak terikat dengan Islam. Hal itu karena mereka mengekor kepada gaya hidup Barat.

Indonesia saat ini tengah menghadapi pemilihan kepala negara. Indonesia merupakan negeri Islam terbesar, dari aspek jumlah penduduknya (232 juta, 202 juta di antaranya adalah Muslim). Inilah yang menyebabkan Indonesia layak untuk menegakkan Khilafah, memimpin seluruh umat Islam, dan mengintegrasikan seluruh negeri Islam dengan Khilafah, agar secara keseluruhan mereka menjadi kekuatan besar yang dibangun berdasarkan akidah dan syariat Islam, mengemban risalah Islam ke seluruh dunia serta mengembalikan keadaan umat Islam seperti semula, sebagaimana yang digambarkan oleh Allah SWT.:

]كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ[

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, yang menyeru kepada kemakrufan, mencegah kemunkaran, dan beriman kepada Allah. (TQS. Ali ‘Imran [03]: 110)

Saat ini, jarak tidak lagi menjadi persoalan, bahkan seluruh dunia kini seolah-olah menjadi kota kecil, dengan bantuan media massa dan sarana komunikasi.

Kaum Muslim adalah umat yang satu, dan mereka harus mempunyai satu negara, yaitu Khilafah, dan satu kepala negara, yaitu khalifah, yang memerintah berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah Swt. Seorang Muslim tidak boleh meninggalkan pemerintahan seorang khalifah, atau tidak mentaatinya, berdasarkan sabda Rasul saw.:

«مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً» [رواه مسلم]

Siapa saja yang melepas tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya ia akan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Siapa saja yang mati sedangkan dipundaknya tidak ada bai’at, maka matinya seperti mati jahiliyah (HR. Muslim).

Juga sabda beliau:

«إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا اْلآخِرَ مِنْهُمَا» [رواه مسلم].

Jika ada dua khalifah telah dibaiat, maka bunuhlah yang terakhir (dibaiat) di antara keduanya (H.r. Muslim).

Dalam Piagam Madinah yang telah diratifikasi oleh Rasul saw., ketika hijrah dari Makkah al-Mukarramah ke Madinah telah dinyatakan:

«بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، هَذَا كِتَابٌ مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ قُرَيْشٍ وَيَثْرِبَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ فَلَحِقَ بِهِمْ، وَجَاهَدَ مَعَهُمْ. إِنَّهُمْ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ دُوْنِ النَّاسِ، … وَإِنَّ الْمُؤْمِنِيْنَ بَعْضُهُمْ مَوَالِي بَعْضٍ دُوْنَ النَّاسِ … وَإِنَّ سِلْمَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاحِدَةٌ، لاَ يُسَالَمُ مُؤْمِنٌ دُوْنَ مُؤْمِنٍ فِيْ قِتََالٍ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ».

Bismillahirrahmanirrahim, ini merupakan dokumen (yang diratifikasi) oleh Muhammad, Nabi saw. antara kaum Mukmin, Muslim, baik Quraisy maupun Yatsrib, dan siapa pun yang mengikuti mereka, maka statusnya sama dengan mereka, dan berjihad dengan mereka. Mereka adalah umat yang satu, untuk menghadapi umat manusia yang lain… Sesungguhnya kaum Mukmin, satu sama lain adalah pelindung, untuk menghadapi umat manusia yang lain… Dan, keamanan kaum Mukmin adalah satu; seorang Mukmin tidak boleh diserahkan kepada orang non Mukmin (Kafir) dalam peperangan di jalan Allah.

Para imam mazhab empat —rahimahumullah ta’ala— telah sepakat, bahwa: “Imamah hukumnya fardhu, dan bahwa kaum Muslim harus mempunyai seorang imam yang menegakkan syiar agama, dan mengembalikan keadilan kepada orang-orang yang dizalimi dari orang-orang yang zalim. Bahwa kaum Muslim pada waktu yang sama di seluruh dunia tidak boleh mempunyai dua imam, (hukum larangan adanya dua kepala negara/khalifah itu tetap berlaku) baik keduanya bersepakat, maupun keduanya berpecah”.

Sungguh merupakan sesuatu yang mengherankan dan memalukan, rakyat Indonesia yang Muslim rela terhadap sistem Kufur sekuler yang diterapkan kepada mereka meskipun mereka telah mencium kebusukannya, dan justru mereka meninggalkan dan menjauhi sistem Islam. Padahal, sistem (Islam) tersebut merupakan sistem yang benar, yang telah diturunkan oleh wahyu dari sisi Allah SWT. Allah menyatakan sistem tersebut:

]الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا[

Hari ini, Aku telah menyempurnakan agama kalian untuk kalian, dan menyempurnakan nikmat-Ku untuk kalian, dan Aku rela Islam menjadi agama bagi kalian. (Q.s. al-Maidah: 03)

]فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى$ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى$ [.

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (TQS. Thaha [20]: 123-124)

Nabi saw. bersabda:

«حَدٌّ يُعْمَلُ فِي اْلأَرْضِ خَيْرٌ ِلأَهْلِ اْلأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِيِنَ صَبَاحاً» [رواه النسائي وابن ماجه].

Satu sanksi hudud yang diterapkan di muka bumi, lebih baik bagi seluruh penduduk bumi, ketimbang mereka dihujani empat puluh pagi. (HR. an-Nasa’i dan Ibn Majah)

Ada perbedaan antara hukum kepala negara dalam Islam dengan kepala negara dalam sistem sekuler. Dalam sistem sekuler, kepala negara dipilih untuk melaksanakan undang-undang buatan, yang dibuat oleh manusia, dan bertentangan dengan syariat Allah.

Sedangkan di dalam Islam, pembuat hukum, atau yang berhak membuat hukum hanyalah Allah SWT, bukan rakyat, bukan pula kepala negara. Kepala negara dipilih umat untuk melaksanakan hukum Allah, sehingga dia harus mengadopsi syariat Islam yang bersumber dari al-Quran dan As-Sunah serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya, yang dinilai sebagai pendapat terkuat untuk dijadikan undang-undang negara. Dengan undang-undang itulah kepala negara mengurus segala kepentingan masyarakat. Telah diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit, bahwa beliau telah berkata:

« بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ» [رواه البخاري ومسلم].

Kami telah membai’at Rasulullah saw. untuk setia mendengarkan dan mentaati perintahnya, baik dalam keadaan susah maupun mudah, baik dalam keadaan yang kami senangi ataupun tidak kami senangi (HR. Muslim).

Dengan demikian, kepala negara dalam sistem politik Islam merupakan perwujudan dari kekuasaan di tangan rakyat guna mewujudkan kedaulatan syariat, bukan kedaulatan rakyat. Umat atau rakyat (kaum Muslim) merupakan faktor penentu, apakah hukum syara’ yang akan diterapkan, ataukah hukum thaghut?; Apakah kedaulatan tetap berada di tangan manusia, ataukah diambil dari apa yang diturunkan oleh Allah?

Oleh karena itu, dalam memilih kepala negara, setiap muslim haruslah memperhatikan hal-hal berikut:
1. Memilih kepala negara yang memenuhi syarat-syarat pengangkatan (syuruth al-in’iqadz), yakni muslim (haram non muslim menjadi kepada negara), laki-laki (haram wanita menjadi kepala negara), baligh, berakal, adil (dengan tetap konsisten dalam menjalankan hukum-hukum Islam), merdeka dan mampu melaksanakan amanat sebagai kepala negara. Selain syarat-syarat utama tadi, diutamakan kepala negara memiliki syarat afdhaliyah (keutamaan), seperti mujtahid, pemberani, Quraisy, dan politikus ulung.
2. Memilih kepala negara yang mampu menjamin kekuasaan atas negeri ini agar tetap independen (merdeka) dari cengkraman kaum Kufar, dan hanya bersandar kepada kaum Muslim. Dengan kata lain, kepala negara itu mampu mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya dari cengkraman asing, bukan sebaliknya dengan membiarkan negeri ini tetap dalam cengkeraman dan dominasi kekuatan asing, baik dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, keamanan ataupun yang lain. Dalam hal ini, Allah SWT. berfirman:

]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ[
Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kalian… (TQS. An-Nisa [4]:59).

Kata ‘minkum’ (di antara kalian) maknanya adalah dari kalangan kaum Mukmin, karena merekalah yang diseru. Allah juga berfirman:

]وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً[.

Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin (TQS. An-Nisa[4]:141).

Menyangkut keamanan, kepala negara yang akan dipilih harus mampu meletakkan keamanan negeri ini semata di tangan warganya, dan bukan di tangan warga negara asing imperialis. Ia tidak boleh mengijinkan adanya cengkeraman kekuasaan negara kafir imperialis terhadap tentara dan polisi. Ia juga boleh tidak mengijinkan negara asing membuat pangkalan militer di wilayahnya, dan tidak membiarkan mereka mengintervensi kebijakan keamanan di dalam negeri.

3. Melaksanakan syariat Islam secara utuh dan menyeluruh secara konsisten. Allah SWT. berfirman:

]إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ أَمَرَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ[

Tidak ada hukum melainkan milik Allah, Dia memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain-Nya (TQS. Yusuf [12]:40).

Juga firman-Nya:

]فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[.

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. An-Nisa[4]:65).

4. Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyatukan negeri-negeri Muslim di seluruh dunia sehingga kaum muslimin benar-benar dapat mewujudkan persatuan dan kekuatan utama di pentas dunia di bawah naungan Khilafah Islamiyyah. Sesungguhnya umat Islam adalah bersaudara, bagaikan satu tubuh, sehingga sistem dan kepemimpinannya pun harus satu. Nabi saw. bersabda:

«إِذَا بُوْيِعَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا اْلآخِرَ مِنْهُمَا» [رواه مسلم].

Jika ada dua khalifah telah dibaiat, maka bunuhlah yang terakhir (dibaiat) di antara keduanya (H.r. Muslim).

Kesatuan mereka itulah satu-satunya yang akan melahirkan kekuatan, dan dengan kekuatan itu kerahmatan (Islam) akan terwujud di muka bumi. Dengan kekuatan itu pula negeri-negeri Muslim bisa dipertahankan/dijaga dari dominasi, penindasan dan penjajahan negeri-negeri kafir seperti yang terlihat di Irak, Afghanistan, Palestina dan sebagainya.

Akhirnya, semua berpulang kepada umat Islam, apakah negeri ini akan terus dipimpin oleh penguasa zalim dan dikendalikan oleh sistem sekuler dengan mengabaikan syariat Islam sehingga terus terpuruk; Ataukah sebaliknya, yaitu terpilih pemimpin yang amanah dan menegakkan syariat; sehingga kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan benar-benar akan terwujud? Begitu juga, semua berpulang kepada umat Islam, apakah negeri-negeri muslim akan tetap tercerai-berai seperti sekarang, dan tenggelam dalam kehinaan, seperti kondisi di Irak, Afghanistan, Palestina dan sebagainya; Atau sebaliknya, semakin menyatu sehingga izzul Islam wal muslimin juga benar-benar akan berkibar?

Karena itu, umat Islam di Indonesia sebagai pemegang kekuasaan hendaknya memperhatikan momentum tersebut, dimana pemilihan kepala negara akan segera tiba waktunya. Mereka harus mempunyai seorang kepala negara yang mempunyai syarat-syarat yang disebutkan di atas. Dan hendaknya mereka tetap berusaha untuk menyiapkan dan mengangkat kepala negara yang akan menegakkan syariat Islam, sebagai ganti sistem sekuler; menerapkan Islam secara total, dan menyatukan negeri-negeri di bawah naungan Negara Khilafah Islamiyah.

Wahai umat Islam, inilah saatnya! Ambillah langkah yang benar! Salah mengambil langkah berarti turut melanggengkan kemaksiatan. Marilah kita renungkan firman Allah SWT:
]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ[
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (TQS. Al-Anfal [8]: 24).[]

Hizbut Tahrir Indonesia
11 Rabiul Akhir/31 Mei ‏2004


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: