Oleh: politisimuslim | April 18, 2007

Wanita-wanita yang haram dinikah

Wanita-wanita yang haram dinikahi telah disebutkan pengharamannya dengan jelas sebagaimana ang tercatum dalam Al Qur’an dan As-Sunnah dan dasar pengharamannya adalah Al Qur’an dan As-Sunnah. Di dalam Al Qur’an tercantum firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu mengawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lam­pau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (An-Nisaa: 22)

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudaramu yang perempan, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu) dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan diharamkan juga kamu mengawini wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian.” (An-Nisaa: 23-24)

Sedangkan yang berasal dari As-Sunnah adalah apa yang diri­wayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwasanya beliau bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki (muslim) menghimpun antara seorang wanita dengan bibinya (yang berasal dari Ibu), atau bibinya (yang berasal dari Bapaknya).”
Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim darri ‘Aisyah ra. bahwa­sanya Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya persusuan itu (akan) mengharamkan apa yang telah diharamkan melalui (sebab) kelahiran.”

Diharamkan menikahi ibu secara mutlak, dan setiap wanita yang memiliki asal-muasal keturunan darinya melalui kelahiran, baik yang biasa disebut dengan Ibu (kandung) yang sebenarnya yang telah melahirkanmu, atau ibu majaz yaitu yang telah melahahirkan anak-anakmu dan begitu silsilahnya terus-menerus. Begitu pula kedua nenekmu dari pihak Ibu, kedua nenekmu dari pihak Bapak, maupun kedua nenekmu ibumu dan kedua nenek bapakmu dan terus silsilahnya ke atas, baik yang mewarisi maupun yang tidak mewarisi, semua itu disebut sebagai ibu yang haram dinikahi.
Diharamkan sama sekali menikahi anak-anak perempuanmu, yang meliputi setiap wanita yang meiliki hubungan nasab (darah) kepadamu melalui kelahiran, seperti anak kandung, anak perempuan dari anak laki-laki maupun dari anak perem­puan dan begitru terus (silsilahnya) turun ke bawah, baik yang mewarisi maupun yang tidak mewarisi, semua itu aisebut sebagai anak-anak perempuan yang haram dinikahi.
Diharamkan juga menikahi saudara-saudara perempuanmu secara mutlak dilihat dari tiga aspek, yang berasal dari kedua Ibu Bapak, yang berasal dari bapak (saudara tiri perempuan) dan yang berasal dari ibu (saudara tiri perem­puan).
Diharamkan menikahi bibi dari pihak bapak dilihat dari riga sisi, yaitu wanita yang menjadi saudara nenek seterus­nya keatas. karema setiap nenek memiliki ibu, demikian juga setiap saudara perempuan nenek adalah bibi yang haram dini­kahi.
Diharamkan menikahi anak-anak perempuan saudara laki-lakimu dan setiap wanita yang emiliki hubungan nasab dengan saudara laki-laki melalui kelahiran, yang dikenal dengan sebutan anak perempuan saudara laki-laki. Mereka haram dinikahi dilihat dari sisi bahwa mereka juga saudara begitu juga anak perempuan dari saudara perempuan haram dinikahi.
Diharamkan menikahi ibu-ibu persusuan, yaitu yang telah menyusuimu begitu juga ibu-ibu dan nenek-nenek mereka, begitu terus (silsilahnya) ke atas, sesuai dengan apa yang telah disebutkan dalam hal nasab. Setiap wanita yang telah menyusukanmu berarti ibumu, atau setiap kamu menyusu kepada wanita maka mereka itu adalah ibumu, atau setiap yang menyu­sukanmu dan ia menyusukan pula perempuanlain, atau ia meyu­sukan perempuan lain bersama-sama denganmu satu susuan, meskipun beberapa kali menyusui, maka mereka itu adalah saudara perempuanmu yang haram dinikahi olehmu.
Diharamkan menikahi ibu-ibu dari isterimu (mertua). Barang siapa yang telah menikahi seorang wanita maka haram atas laki-laki tersebut menikahi ibu-ibu mereka baik karena hubungan darah ataupun hubungan persusuan, kerabat dekat maupun jauh hanya semata-mata disebabkan aqad, baik ia telah digaulinya maupun belum, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Amru bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi saw bersabda:

“Barang siapa menikahi seorang wanita kemudia ia menthalaq­nya sebelum mencampurinya, naka tidak mengapa menikahi anak perempuan yang dalam pemeilharaanmu (anak tiri), dan tidak dihalalkan atasmu mengawini ibunya.” (An-Nisaa: 23)

Diharamkan menikahi anak-anak perempuan isterimu yang telah engkau campuri. Mereka adalah anak tiri, tidak diharamkan (atasmu menikahinya) kecuali jika ibu-ibu mereka telah engkau campuri. Termasuk golongan ini adalah setiap anak perempuan dari isteri, baik melalui hubungan darah maupun sepersusuan, hubungan dekat maupun jauh, mewarisi atauun tidak mewarisi, sesuai dengan penyebutannya sebagai anak perempuan.
Apabila ibu (anak perempuan tersebut) telah dicampuri, maka haram atas laki-laki itu mengawini akan (permpuan) tirinya, baik ia dalam peliharaannya ataupun tidak, karena ayat: “…yang dalam pemeliharaanmu.” Ia diberi predikat sesuai dengan sifat-sifatnya yang dominan, dan tidak menyimpang dari syarat-syarat yang dapat mengeluarkannya. Adapun firman Allah SWT: “dari isteri yang telah kamu campuri.” maka inilah yang telah megeluarkannya, yang dijelaskan dengan gamblang oleh ayat berikutnya:
“tetapi jika kamu belum bercampur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengawininya.” (An-Nisaa: 23)

Dengan demikian apabila belum mencampuri isteri (kemudian diceraikan) maka tidak diharamkan mengawini anak perempuan­nya itu.
Diharamkan mengawini isteri dari anak laki-laki (menan­tu) secara mutlak. Dengan kata lain diharamkan seorang laki-laki mengawini mengawini isteri dari anak laki-lakinya, dan anak laki-laki dari anak perempuannya, baik dilihat dari hubungan darah maupun sepersusuan, memiliki hubungan dekat maupun jauh, baik sudah dicampuri ataupun belum.
Diharamkan mengawini isteri dari bapak. Seorang laki-laki diharamkan mengawini isteri dari bapak (ibu tiri), baik hubungannya dekat maupun jauh, mewarisi ataupun tidak, memiliki hubungan darah maupun melalui persusuan. Telah diriwayatkan dari Nasa’i bahwasanya Barra bin ‘Azib berkata:

“Aku telah bertemu dengan pamanku, sedangkan ia membawa panji-panji lalu aku berkata: apa yang telah engkau lakukan ? maka ia berkata : “aku telah diutus oleh Rasulullah saw untuk menjumpai seorang pria yang telah mengawini isteri dari bapaknya sesudah ia memenggal lehernya atau membunuh­nya.”

Diharamkan menghimpun dua orang wanita yang bersaudara, baik melalui hubungan darah maupun persusuan, baik dari kedua orang tua yang sama maupun berasal dari bapak yang sama atau ibu yang sama, baik sebelum dicampuri maupun sesudah dicampuri. Jika ia mengawiininya dengan aqad yang sama maka aqadnya rusak.
Diharamkan menghimpun seorang wanita dengan bibinya (dari pihak bapak) atau seorang wanita dengan bibinya (dari pihak ibu). Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Abu hurairah ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

“janganlah seorang laki-laki menghimpun antara seorang wanita dengan bibinya (baik dari pihak bapaknya ataupun ibunya).”
Sedangkan yang diriwayatkan oleh Abu Daud berbunyi:

“Janganlah seorang laki-laki menghimpun seorang wanita dengan bibinya dari pihak ayah atau bibinya dari pihak bapak dengan anak perempuan dari saudaranya yang laki-laki, seorang wanita dengan bibinya dari pihak ibu, dan bibinya itu dengan anak perempuan saudaranya yang wanita,

Dan diharamkan mengawini wanita-wanita yang telah bersuami. Allah SWT menyebut mereka dengan kata-kata “Muh­shanaat”, sebab mereka telah menjaga kehormatannya melalui pernikahan.
Larangan dalam persusuan sama dengan larangan yang disebabkan hubungan darah. Setiap wanita yang diharamkan (untuk dinikahi) disebabkan hubungan darah, maka diharamkan pula desebabkan persusuan. Mereka itu adalah kaum ibu, anak perempuan, saudara perempuan, bibi baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu, anak perempuan dari saudara laki-laki, anak perempuan dari saudara perempuan, dengan penjela­san yang gamblang disebabkan karena hubungan darah. Nabi saw bersabda:

“Diharamkannya hubungan persusuan sebagaimana diharamkannya karena hubungan darah.”
Sedangkan riwayat Imam Muslim:

“Diharamkannya persusuan sebagaimana diharamkannya karena kelahiran.”
Aisyah ra telah meriwayatkan:
“Sungguh beruntung saudara Abu Qais yang telah meminta izin kepadaku setelah turunnya ayat mengenai hijab. Aku berkata : Demi Allah Aku tidak mengizinkan kepadanya sampai Raulullah saw mengizinkannya, dan sesungguhnya saudara Abu Qais bukan­lah saudara sepersusuanku, namun isterinyalah yang telah menyusiku. Kemudian Rasulullah saw masuk ke kamarku, lalu aku berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya laki-laki itu bukan saudara sepersusuanku, isterinyalah yang telah menyu­suiku. Maka beliau berkata : ‘izinkanlah dia, karena dia adalah pamanmu, semoga engkau memperoleh kebahagiaan.”
Yang mengharamkan dalam persusuan adalah air susu itu sendiri. Dan shahibul laban yang telah menyusui seseorang, maka ia menjadi haran baginya, begitu pula orang-orang yang telah disusuinya, baik shahibul laban itu laki-laki atau wanita, baik yang meyusui itu anaknya sendiri ataupun bukan. Dari sini maka diperbolehkan bagi seseorang (mengawini) seorang wanita yang menjadi saudara dari dsudara sepersusuannya, tetapi tidak diperbolehkan baginya (mengawi­ni) saudara sepersusuannya baik laki-laki maupun wanita. Apabila sesorang telah disusui oleh seorang wanita maka wanita itu telah menjadi ibunya diakibatkan persusuan, dan suami wanita itu telah menjadi bapaknya akibat dari persu­suan ini. Sedangkan anak-anaknya merupakan saudara-saudara sepersusuan baginya, akan tetapi saudara perempuan dari orang yang telah disusui tadi bukan saudara bagi saudaranya yang sesusu. Dengan demikian bagi mereka (saudara sesusu) boleh mengawini saudara perempuan dari saudaranya yang sesusu. Sebab yang mengharamkannya adalah air susu, bukan sebab lain.
Inilah wanita-wanita yang haram dinikahi, sedangkan selain yang sejelaskan di atas tidak diharamkan menikahinya, sebagaimana dirman Allah SWT :
“Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian.” (An-Nisaa: 24)
Kecuali yang elah dijelaskan keharamannya, yaitu dari golon­gan musyrik dan wanita yang telah bersuami.

Poligami

Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an :

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An-Nisa’ : 3)
Ayat ini diturunkan kepada Nabi saw pada tahun ke delapan hijriah. Di turunkan untuk membatasi jumlah isteri pada batas (maksimal) empat orang saja. Sebelum ayat ini diturun­kam jumlah isteri tidak ada batasannya bagi seorang laki-laki. Dengan menyimak dan memahami ayat ini tampak jelas bahwasannya ayat itu diturunkan untuk membatasi jumlah isteri hingga empat orang saja. Ayat ini bermakna, kawinilah olehmu wanita-wanita yang memang dihalalkan bagimu menikahi­nya, dua, tiga atau empat. Bilangan dua, tiga atau empat disebut secara berulang dengan beriringan, yaitu kawinilah dari kalangan wanita baik-baik dari jumlah seperti ini, dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat. Seruan ayat ini untuk keseluruhan (lil jami’), oleh karena itu pengulangan itu harus dilakukan agar terkena terhadap setiap orang yang hendak melakukan pernikahan terhadap beberapa wanita sesuai dengan jumlah yang diizinkan, dengan syarat bahwa jumlah wanita yang hendak dinikahinya itu tidak lebih dari empat orang agar orang yang hendak melakukan pernikahan lebih dari satu tidak melampaui batas yang empat orang ini. Contoh yang sama kita katakan jika hendak membagi harta terhadap seke­lompok orang, misalnya jumlah harta itu 1000 dinar. Kemudian kita katakan bagilah harta itu dua dinar-dua dinar, tiga dinar-tiga dinar atau empat dinar-empat dinar. Apabila bilangan itu anda ucapkan dalam bentuk mufrod (tunggal), tentu tidak akan ada artinya. Oleh karena itu ucapan dua-dua, tiga-tiga atau empat-empat (di dalam ayat di atas) adalah suatu yang pasti (tidak ada lagi penafsiran lain) agar setiap orang yang menghendaki bilangan tertentu dapat mengerti dari ungkapan tersebut. Dan Allah SWT berfirman bahwa setiap orang dari kalian mengawini wanita-wanita yang baik dua, tiga atau empat, ini menunjukkan setiap orang diantara kalian dapat menikahi dua, tiga atau empat orang wanita.
Adapun arti dari ayat :
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.”
Yaitu apabila kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap jumlah-jumlah bilangan tersebut, maka nikahilah seorang wanita saja, sekaligus meninggalkan upaya untuk menghimpun empat orang wanita.
Setiap perkara (yang menyangkut bilangan-bilangan itu) selalu terikat dengan unsur keadilan. Siapa saja yang mampu berlaku adil, boleh baginya melakukan perkara-perkara tadi. Sedangkan bila kalian lebih suka memilih satu, itu adalah pilihan yang paling dekat untuk tidak berlaku curang. Arti dari kata-kata :”Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Yaitu lebih dekat untuk tidak berlaku curang, sebab arti aniaya sama dengan curang.
Aisyah ra meriwayatkan dari Nabi saw :

“Janganlah kamu berbuat aniaya, yaitu janganlah kamu berbuat curang.”
Ayat Al-qur’an itu membolehkan adanya poligami dan membata­sinya pada bilangan empat, akan tetapi diperintahkan pula agar berlaku adil terhadap mereka. Dianjurkan agar membatasi pada jumlah satu orang jika memang terdapat kekhawatiran tidak dapat berlaku adil, karena pembatasan terhadap bilan­gan satu dalam keadaan adanya rasa khawatir tidak dapat berlaku adil adalah hal yang lebih dekat untuk tidak berlaku curang, yaitu sifat yang harus di miliki setiap muslim
Namun demikian perlu diketahui bahwa keadilan bukanlah syarat bolehnya melakukan poligami, dan hal ini merupakan hjkum bagi seorang laki-laki yang hendak mengawini sejumlah tertentu dari kalangan wanita, dan apa yang harus dimiliki laki-laki tersebut supaya boleh berpoligami, serta dorongan untuk membatasi pada satu wanita saja jika memang ada kekha­watiran tidak dapat berlaku adil. Hal ini tergambar secara sempurna dalam ayat :

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat.”
Ayat ini mengandung arti bolehnya berpoligami secara mutlak. Dan kalimat ini telah selesai kemudian dilanjutkan denganka­limat lainnya, yaitu : “Kemudian jika kamu takut.” kalimat ini bukan syarat melainkan kalimat baru yang berdiri sen­diri. Seandainya hal itu menjadi syarat, pastilah akan dikatakan kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga atau empat jika kamu dapat berlaku adil. Tetapi syarat itu tidak ada sehingga aspek keadilan secara pasti bukanlah syarat, Jadi perkara ini merupakan hukum syara’ yang berbeda dengan hukum yang pertama. Yang pertama adalah bolehnya berpoligami sampai batas empat orang, kemudian muncul hukum yang lain, yaitu lebih disukai untuk membatasi pada satu orang isteri saja jika memang dengan berpoligami akan mendatangkan sikap tidak dapat berlaku adil diantara mereka.
Berdasarkan hal ini maka Allah SWT menjelaskan bolehnya berpoligami tanpa ada keterikatan ataupun syarat-syarat yang lainnya, dan tidak ada ta’lil (diqiaskan dengan sesuatu), bahkan setiap muslim dibolehkan mengawini dua, tiga atau empat orang wanita yang meurutnya baik. Maka dijumpai dalam firman Allah SWT :”yang kamu senangi”, yaitu sesuatu kebai­kan yang kamu jumpai pada mereka. Dan menjelaskan bahwasanya Allah SWT telah memerintahkan berbuat adil diantara kaum wanita, dan menganjurkan jika berada dalam keadaan khawatir berbuat aniaya diantara wanita (isteri) agar membatasi pada satu orang saja, sebab membatasi isteri pada satu orang saja lebih dekat untuk tidak berlaku aniaya. Adapun sifat adil yang dituntut terhadap isteri bukan­lah keadilan yang mutlak, akan tetapi sifat adil terhadap kaum wanita (isteri) yang masih dalam kemampuan manusia merealisasikannya, karena Allah SWT tidak memberikan kepada manusia beban kecuali sebatas kesanggupannya, sebagaimana firman ALlah SWT:

“Allah tidakk membebani seseorang malainkan dengan kesanggu­pannya.” (Al Baqarah: 286)

Memang benar bahwa kata ta’dilu tercantum dalam bentuk umum, sebagaimana firman ALlah SWT: “Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil.” berbentuk umum mencakup setiap bentuk keadilan. Akan tetapi kata yang bersifat umum ini ditakhsis desuai dengan kemampuan manusia berdasarkan keter­angan ayat yang lainnya:

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isterimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demiki­an, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (An-Nisaa: 129)

Sesungguhnya Allah SWT menjelaskan di dalam ayat ini dengan mendorong untuk mengupayakan sebatas kemampuannya berlaku adil dan mempersamakan sesama isteri, sehingga tidak terda­pat kecenderungan yang berlebihan, tidak berlebih tidak berkkurang terhadap kewajiban-kewajiban yang harus ditunai­kan terhadap mereka (isteri). Oleh karena itu tidak diminta atas kamu keadilan yang sempurna beserta tujuan-tujuannya. Dan dalam perkara ini tidak dibebankan atasmu selain sebatas kemampuan saja, dengan syarat setelah mengerahkan segala kemampuan dan potensi, karena pembebanan di luar kemampuan tergoong ddalam tindakan kezhaliman:

“Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun.” (Al Kahfi: 59)

Dan firman Allah SWT:
“Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) (An-Nisaa: 129)

berhubungan dengan firman Allah SWT:
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil.” (QS. an-Nisa’ : 129) sebagai penutup (akibat) dalam perkara ini. Hal tersebut sebagai alasan bahwasannya kamu tidak akan dapat berlaku adil dalam kasih sayang, dan yang dapat dipah­ami (mafhumnya) bahwa mampu berlaku adil dalam perkara selain kasih sayang. Ini merupakan suatu bentuk keadilan yang dituntut dan diwajibkan sebagaimana dalam ayat sebelum­nya yang mengkhususkan dalam perkara selain kasih sayang, jadi terdapat pengecualian keadilan yaitu dalam bentuk kasih sayang dan berkumpul (dengan isteri). Dalam masalah ini keadilan bukanlah suatu hal yang harus (wajib), karena manusia tidak akan mampu berlaku adil dalam perkara kasih sayang. Dan pengertian ini ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra yang berkata :

“Bahwasanya Rasulullah saw telah bersumpah dan berlaku adil, seraya berdo’a ‘ya Allah sesungguhnya aku bersumpah atas apa yang aku sanggupi, maka janganlah Engkau memasuk­kanku dalam perkara yang Engkau sanggupi namun aku tidak tidak memiliki kesanggupan.” yaitu hatinya.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra mengenai firman Allah SWT :
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri 9mu).” (An-Nisaa: 129)

Beliau berkata: dalam perkara kasih sayang dan berkumpul (dengan isteria).
Allah SWT telah memerintahkan untuk menjauhkan diri dari kecenderungan (kepada yang dicintai), dengan kata lain sebenarnya cenderung itu sesuatu hal yang mubah. Karena mafhum dilarangnya denderung secara mutlak berarti menunjuk­kan bolehnya denderung (kepada yang dicintai), seperti misalnya larangan untuk bersikap royal sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (jangan terlalu kikir dan jangan terlalu royal) (Al Israa: 29)

Artinya boleh memberi. Berdasarkan hal ini maka Allah SWT membolehkan suami cenderung terhadap sebagaian isteri-isterinya, akan tetapi melarang untuk berlaku cenderung (mencintai sesuatu) secara total dan mencakup setiap sesua­tu. Bahkan sifat cenderung ini boleh dilakukan selama sesuai dengan tempatnya, yaitu dalam hal kasih sayang dan keingi­nan. Disinilah makna ayat agar ejauhi kecenderungan yang membabi buta, karena yang disinggung adalah kecenderungan yang dapat menjadikan seorang wanita dalam keadaan terlan­tar, yaitu antara memiliki suami atau tidak. Telah diriway­atkan dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda:
“Barang siapa yang mempunyai dua orang isteri, lalu ia cenderung kepada salah satu diantaranya, maka ia akan datang pada hari kiamat nanti sambil menyeret sebelah pundaknya dalam keadaan runtuh atau condong.”

Atas dasar hal ini maka sifat adil yang diwajibkan atas seorang suami adalam menyamakan diantara isteri-isterinya sesuai dengan kemampuannya baik dalam hal tinggal bersamany, perihal makanan, pakaian tempat tinggal dan lain-lain. Sedangkan yang tergolong dalam pengertian cenderung (mencin­tai sesuatu) maka hal itu hanya dalam bentuk kasih sayang dan keinginan, dan dalam perkara ini tidak diwajibkan meme­nuhi keadilan (sempurna) karena memang berada di luar kemam­puan, disamping menjadi pengecualian berdasarkan nash Al Qur’an.
Inilah topik pembahasan mengenai poligami sebagaimana yang dijelaskan dalam nash-mash syara’, dan berdasarkan pengkajian terhadap nash-nash tersebut, disamping membatasi hanya mengambil perngertian berdasarkan bahasa dan syara’ semata, kemudian berpijak pada apa yang telah ditunjuk dan diistimbat dari nash-nash tersebut. Jelasnya bahwa Allah SWT telah membolehkan berpoligami dengan bentuk kebolehan yang umum tanpa adanya suatu syarat pun atau keterikatan terhadap sesuatu. Dan nash-nash itu tidak dapat dicari-cari ‘illa­tnya, bahkan Allah SWT membeberkan dengan cara memberi petunjuk terhadap tidak adanya ‘illat, sebagaimana firman Allah SWT:
“Wanita-wanita yang kamu senangi”. (An-Nisaa: 3)

Dengan demikian wajib kita berhenti sesuai dengan batas-batas nash syara’, dan atas apa yang telah diistimbat dari hukum-hukum syara’, tidak diperbolehkan mencari-cari alasan dengan argumen adanya ‘illat, tidak ada ‘illat dalam perkara keadilan, tidak sesuai dengan kebutuhan, dan tidak cocok dengan alasan-alasan lainnya. karena nash tersebut tidak memiliki ‘illat hukum, dan ‘illat tidak tercantum dalam nash-nash itu. Sedangkan ‘illat hukum haruslah ‘illat yang syar’i, dengan kata lain wajib disebutkan di dalam nash syara’ tersebut sehingga kita dapat mengistinbat hukum secara benar melalui illat itu, dan dapat diperoleh hukum syar’i. Apabila ‘illat itu adalah ‘illat aqliyaah atau tidak tercantm di dalam nash-nash syara’, maka tidak akan diperoleh hukum syara’ melalui cara istinbath. yang dipero­leh hanyalah hkum wadl’i, yang tidak boleh diambil dan diterapkan, karena (tata cara penyimpulannya) sama dengan hukukm kufur. Setiap hukum yang tidak sesuai dengan syara’ maka hukum tersebut tergolong hukum kufur. Berdasarkan hal ini maka definisi hukum syar’i adalah seruan Syari’ (Khitha­busy Syari’) yang mengharuskan hukum diambilhanya dari seruan Syari’ (Allah SWT), baik diperoleh dari nash, dari mafhumnya, dari dalalahnya atau melihat dari adanya tanda-tanda dalam nash tersebut yang menunjukkam adanya hukum syara’. Terdapatnya tanda-tanda dalam setiap hukum menggo­longkanna sebagai hukum syar’i.
Amarah (tanda-tanda) seperti ini termasuk illat yang syar’i yang tercantum di dalam nash syara’, baik berbentuk jelas atau dalalah atau istinbath atau qiyas. Apabila tidak ter­cantum amarah ini dalam suatu nash dengan kata lain tidak ada ‘illatnya maka berarti tidak memiliki arti apa-apa. Atas dasar hal ini maka jelas bahwa tidak diperbolehkan mencari-cari ‘illat dalam perkara poligami, karena di dalam seruan Allah SWT itu tidak tercantum tanda adanya ‘illat. Tanda adanya ‘illat tidak akan digolongkan sebagai hukum syara’ kecuali apabila terdantum dalam seruan Allah SWT.
Namun demikian tiadanya ‘illat hukum syara’ bukan berarti tidak adanya pejelasan mengenai suatu fakta yang menjadi akibat dari hukum syara’, dan suatu fakta sebagai penyelesaian dari suatu problematika. Tetapi dalam hal ini yang terjadi adalah penjelasan mengenai suatu fakta, bukan ‘illat suatu hukum. Terdapat perbedaan penjelasan mengenai fakta dangan ‘illat suatu hukum. ‘Illat suatu hukum mengha­ruskanbersifat tetap/terus-menerus, sehingga dapat dianalog­kan terhadap sesuatu yang lain disebabkan adanya ‘illat dalam perkara tersebut. Sedangkan pejelasan mengenai suatu fakta penjelasan suatu kejadian di saatmenerangkannya, yang sifatnya tidak tetap dalam perkara tersebut, sehingga tidak dapat dianalogkan dengan perkara-perkara yang lainnya. Berdasarkan hal ini maka (ada orang yang ) menggambarkan akibat dari berpologami bahwasanya sekelompok orang yang membolehkan poligami tidak akan terjadii wanita-wanita simpanan. Sementara sekelompok orang yang mengahalangi adanya poligami mengakibatkan banyaknya wanita-wanita simpa­nan. Lebih dari itu, poigami ternyata dapat memecahkan banyak sekali problematika yang terdapat dalam sekelompok manusia dilihat dalam kedudukan mereka sebagai sekumpulan manusia yang memrlukan pemecahan berupa poigami. Beberapa problematika itu antara lain:

1. Ditemukannya tabi’at-tabi’at di luar kebiasaan pada sebagian laki-laki yang merasa tidak cukup hanya dengan satu isteri. Mereka ini akan mengekspresikan kemampuannya yang di liar kebiasaan terhadap isterinya dan akan mengakibatkan keburukan terhadap isterinya itu, atau mereka akan mencari sasaran yang lain. begitu seterusnya, atau apabila terdapat pintu yang memberikankan kepada mereka peluang untuk melaku­kan pernikahan baik dengan dua orang, tiga orang atau empat orang isteri. Dalam perkara ini akan terjadi muncul dan tersebar luasnya kekejian diantara manusia, tersebarnya buruk sangka dan keraguan dalam anggota keluarga. Oleh karena itu orang yang bertabi’at seperti ini diberikan suatu tempat/sistem yang memberikan kesempatan dihadapannya untuk memenuhi dahaga jasadnya yang luar biasa itu, dengan cara yang halal yang telah disyari’atkan oleh Allah SWT.

2. Kadang-kaddang dijumpai adanya wanita yang mendul tidak memiliki anak akan tetapi baik isteri aupun suamnya sama-sama saling mencintai dengan sepenuh hati sehingga kedua belah pihak ingin mempertahankan kehdupan rumah tangganya dengan penuh ketentraman, namun sang suami ingin mempunyai anak dan demikian cintanya terhadap anak-anak. Maka apabila ia tidak diperbolehkan untuk menkah lagi dan di hadapannya hanya terdapat peluang yang sempit, maka apakah ia harus menceraikan isteri pertamanya, dan dalam waktu yang sama ia akan meruntuhkan pilar rumah tangga dan ketentramannya sekaligus memporak-porandakannya, atau tidak diperbolehkan sama skali hidup bersenang-senang bersama-sama anak-anaknya. Dalam perkara ini berarti telah terjadi pemerkosaan terhadap rasa kebapakan sebagai penampakan dari naluri melestarikan jenis. Oleh karena itu seorang suami yang menghadapi situasi seperti ini harus mendapatkan kesempatan untuk menikah dengan wanita lain agar mendapatkan anak keturunan yang didambakannya.

3. Kadang-kadang ditemukan seoranf isteri yang menderita sakit sehingga tidak memungkinkan baginya melakukan hubungan suami-isteri, atau tidak dapat melakukan pelayanannya terha­dap rumah tangga, suami dan anak-anaknya. Sedangkan sang isteri memiliki kedudukan yang istimewa di mata suaminya, mencintainya dan tidak ingin menceraikannya, dan tidak akan sanggup hidup bersama isterinya itu tanpa adanya isteri yang lain. Maka dalam keadaan seperti ini harus diberikan kepada sang suami kesempatan untuk menikah lebih dari satu isteri.

4. Akibat terjadinya peperangan atau pergolakan yang mengorbankan ribuan bahkan jutaan kaum laki-laki sehingga tidak terdapat keseimbangan antara jumlah kaum pria dan wanita, seperti yang pernah terjadi sebagai akibat perang dunia pertama maupun kedua yang malanda dunia khususnya di daratan Eropa. Apabila kaum pria tidak sanggup mengawini lebih dari satu wanita lalu apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang tersisa? Mereka akan hidup tanpa pernah mengecap kehidupan berumah tangga, ketentramannya dan ketenangan bersama suaminya. Maka hal ini (poligami) lebih utama untuk memberikan kesempatan apabila naluri melestarikan jenis muncul daripada embahayakan nilai-nilai akhlaq.

5. Adanya tingkat pertumbhan penduduk suatu umat, bangsa atau belahan dunia yang lain yang tidak seimbang antara jumlah penduduk laki-laki dan wanita. Jumlah kaum wanitanya lebih banyak dibandingkan jumlah kaum laki-lakinya, menyebabkan tidak seimbangnya antara populasi laki-laki dan wanita dan hal ini melanda banyak bangsa dan umat di dunia. Dalam keadaan seperti ini tidak mungkin dapat dipecahkan problematika ini kecuali dengan dibolehkannya poligami.

Inilah problematika yang terjadi di tengah-tengan umat manusia baik yang menmpa bangsa-bangsa maupun umat. Apabila poligami dilarang maka masalah ini tetap ada tanpa ada pemecahan dan tidak akan dapat diatasi masalah tersebut kecuali dengan poligami. Dari sinilah maka keharusan adanya poligami sebagai sesuatu perkara yang dibolehkan sehingga problematika menimpa manusia dapat dipecahkan. Islam telah datang dengan membolehkan poligami namun tidak sampai pada tingkat mewajibkan. Kebolehan poligami merupakan perkara yang harus ada. Meskipun demikian harus diketahui pula bahwa keadaan dan situasi ini yang menimpa manusia maupun komuni­tas manusia adalah problematika yang nyata teradi, bukan merupakan ‘illat adanya poligami, dan bukan pula sebagai syarat untuk berpoligami. Bahkan seorang pria boleh berpo­ligami dua, tiga atau empat secara mutlak, baik di hadapkan pada masalah yang membutuhkan pemecahan berupa poligami ataukah tidak ada. Sebab ALlah SWT berfirman:
“Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga atau empat.” (An-Nisaa: 3)

Dalam ayat ini terdapat kata yang kamu senangi, berbentuk umum, tanpa adanya suatu keterikatan maupun syarat. Adapun mencukupkan diri hanya pada seorang isteri saja, maka hal itu amat dianjurkan oleh syara’ dalam keadaan satu saja, yaitu khawatir tidak dapat berlaku adil. Selain keadaan ini syara’ tidak pernah menganjurkan menikah hanya dengan satu wanita, begitu pula nash-nash lainnya. Disamping itu poligami merupakan hukum syara’ yang tercantum di dalam Al Qur’an secara jelas. Sesungguhnya peradaban Kapitalisme dan propaganda Barat bertentangan dengan Islam secara diametrikal bahkan terhadap seluruh agama lainnya. Mereka telah menggambarkan hukum tentang poligami sebagai gambaran yang keji dan busuk dan dijadikan oleh mereka sebagai suatu alat untuk menikam agama disamping simbol dari kemunduran suatu agama. Yang mendorong mereka melakukan hal itu bukan dilandasi suatu pengkajian terhadap hukum-hukum ALlah SWT akan tetapi memang sengaja menikam Islam, dan bukan didorong oleh unsur-unsur lainnya. Propaganda ini telah mempegaruhi kaum msulimin tertama pihak-pihak yang memegang kekuasaan dan intelektual yang mengakibatkan banyak diantara kaum muslimin yang masih memiliki perasaan cinta terhadap Islam bangkit membela Islam. Akibatnya mereka lalu mena’wilkan dengan ta’wil yang keliru untuk mencegah tindakan poigami sebagai pelarian bagi mereka di bawah pengaruh propaganda yang selalu diagung-agungkan oleh musuh-musuh Islam. Berdasarkan kenyataan ini maka kaum msulimin harus diingatkan bahwa apa yang dipandang terpuji atau tercela adalah apa yang memang dipuji atau dicela menurut syari’at. Apa yang dibolehkan oleh syara’ maka perkara itu berarti tergolong terpuji, sedangkan perka­ra yang dilarang oleh syara’ berarti tergolong tercela.
Sesungguhnya masalah poligami, baik penampakannya itu dapat diraba kebaikannya ataukah tidak, baik dalam rangka memecahkan problematika yang sedang terjadi ataukah tidak, maka syara’ telah membolehkannya. dan jika Al Qur’an telah menyebutnya, berarti tergolong perbuatan terpuji, sebaliknya melarang poligami tergolong perbuatan tercela, karena beras­al dari hukum kufur. Dan harus ada kejelasan bahwasanya Islam tidak mengkategorikan perkara poligami itu dalam suatu bentuk kewajiban atas kaum muslimin, bukan pula suatu perka­ra yang mandub, tetapi menjadikannya suatu perkara yang mubah, yang boleh dilakukan mereka jika memang dipandang demikian. Dan memberikan kepada manusia suatu pemecahan yang boleh dilakukan apabila memang membutuhkan pemecahan terse­but. Diperbolehkan pula bagi kaum muslimin agar tidak meng­haramkan diri mereka apa yang mereka senangi dari kaum wanita apabila menurut pandangannya memang cenderung terha­dap hal itu. Dan dibolehkan poligami bukan dengan mewajib­kannya, ini yang menjadikan poligami sebagai jalan keluar bagi kelompok manusia, masyarakat yang paling layak/pantas.

Kehidupan Suami Isteri

Isteri tidak berserikat dengan suami dalam kehidupan, isteri adalah sahabat suami. Pergaulan antara keduanya bukan pergaulan sebagaimana dalam serikat, bukan pula terpaksa harus bergaul sepanjang hidupnya. Kehidupan antara suami isteri adalah kehidupan penuh persahabatan. Satu sama lain saling bersahabat dengan sempurna dalam segala hal. Persaha­batan yang satu kepada yang lain memberikan ketenangan. Allah menjadikan isteri sebagai tempat yang tenang bagi suami. Firman Allah SWT :
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. al-A’raf : 189)

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia mencipta­kan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Rum : 21)
Kata `as-saknu` berarti ketenteraman, yaitu seorang suami akan merasa tentram kepada isterinya, begitu pula sebaliknya seorang isteri akan merasa tentram kepada suaminya. Satu dengan yang lain memiliki kecenderungan, tidak saling men­jauhi. Jadi pada dasarnya dalam perkawinan itu terdapat ketentraman, sehingga kehidupan suami isteri adalah kehidu­pan yang penuh ketenangan, tercipta suasana saling bersaha­bat antara suami dan isteri yang mampu melahirkan suasana damai dan tentram. Syara’ menjelaskan apa yang menjadi hak isteri atas suaminya dan hak suami atas isterinya. Ayat-ayat al-qur’an dan hadits-hadits banyak memaparkan hal ini dengan jelas. Firman Allah SWT :

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewaji­bannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. al-Baqarah : 228)
Artinya hak yang dimiliki isteri atas suaminya sama sebagai­mana hak suami atas isterinya. Oleh karena itu Ibnu Abbas berkata :

“sungguh aku suka berhias untuk isteriku sebagaimana ia berhias untukku, dan aku suka meminta agar dia menunaikan hakku terhadapnya, maka wajib aku tunaikan haknya atas diriku, sebab Allah SWT berfirman :”Dan para wanita mempun­yai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” Yaitu perhiasan yang tidak tergolong perbuatan dosa.”
Melalui perawi yang sama :

“Bagi para isteri berhak mendapatkan (suasana) persahabatan dan pergaulan sebagaimana para isteri (diperintahkan) taat yang diwajibkan atas mereka terhadap suami mereka.”
Allah SWT memerintahkan agar suami isteri bergaul dengan baik, sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. an-Nisa’ : 19)
“Setelah itu boleh ruju’ lagi dengan cara yang ma’ruf.” (QS. al-Baqarah : 229)

Allah SWT memerintahkan agar persahabatannya dengan isteri harus sebaik-baiknya supaya pergaulan dan persahabatan diantara mereka berlangsung secara sempurna. sebab hal itu menciptakan ketentraman jiwa dan kedamaian hidup. Pergaulan suami terhadap isteri lebih dari yang diwajibkan, yaitu memberikan kepada isterinya hak atas mahar dan nafkah agar tidak bermuka masam tanpa sebab ( karena termasuk perbuatan dosa), bertutur kata lemah lembut, tidak bertingkah keji dan kasar dan tidak memperlihatkan kecenderungan kepada yang lain selain kepadanya.
Rasulullah saw telah berpesan kepada kaum laki-laki terhadap urusan kaum wanita. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya dari Jabir bahwasannya Rasulullah saw telah bersabda dalam khutbah wada’ :

” Bertaqwalah kepada Allah dari urusan kaum wanita, karena kalian telah mengambilnya dengan amanat (izin) Allah, kehor­matan mereka telah halal bagi kalian dengan kalimat Allah, kalian memiliki hak atas isteri-isterimu agar (mereka) tidak boleh memasukkan ke tempat tidurmu orang-orang yang dibenci­nya. Apabila mereka melakukan perbuatan tersebut, maka pukullah merekae dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan atas mereka berhak dipenuhi rizki dan pakaiannya dengan cara yang ma’ruf.”
Diriwayatkan bahwasannya Nabi saw bersabda :”Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang baik terhadap ke­luargamu, sesungguhnya aku berlaku paling baik diantara kalian terhadap keluagaku”.
Diriwayatkan bahwa beliau saw memiliki pergaulan yang amat indah, bersenda gurau dengan keluarhanya, dan bersikap lemah lembut terhadap keluarganya, mampu membuat isteri-isterinya tertawa terutama Aisyah ra Ummul Mukminin sehingga tercurah kasih sayang beliau kepadanya dengan cara seperti itu. Aisyah ra meriwayatkan bahwa beliau berlomba dengan rasulullah saw sambil bergendongan, begitu sebaliknya. Maka beliau saw bersabda : “Ini adalah untukmu.”
Rasuullah saw apabila telah usai melakukan shalat isya’, langsung masuk ke salah satu isterinya seraya bersenda gurau bersama keluarga sejenak sebelum tidur sebagai hiburan. Diriwayatkan dari Ibnu Majah bahwa Nabi saw bersabda:
“Orang yang paling baik diantaramu adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya.”
Semua ini menunjukkan agar para suami bersikap dan bergaul denga sebaik-baiknya terhadap isteri-isteri mereka. Kadang-kadang di dalam kehidupan suami isteri muncul suasan keruh di tengah-tengah kebahagiaan, maka Allah SWT menjadikan pemimpin rumah tangga di tangan suami dan dijadi­kannya suami pemimpin atas isterinya, sebagaimana firman Allah SWT:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (An-Nisaa: 34)

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewaji­bannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.” (Al Baqarah: 228)

Diperintahkan agar isteri mentaati suaminya. Rasulllah bersabda: “Apabila seorang isteri menolak ajakan suaminya ke tempat tidur, maka malaikat akan melaknatnya sampai ia kembali (bersedia).”
Nabi saw bertanya kepada seorang wanita : “Apakah engkau sudah bersuami? Wanita itu menjawab : Ya. Lalu beliau melan­jutkan : “Sesungguhnya ia (suami) adalah surga atau neraka­mu.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari Bahwasanya Nabi saw pernah bersabda:

“Tidak boleh seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya berada di dalam rumah melainkan dengan izinnya, tidak boleh perempuan membelanjakan harta yang tidak dizinkan oleh suaminya, karena perbuatan itu berlawanan arah dengan suami­nya.”
Diriwayatkan dari Ibnu Baththah dalam membahas hukum-hukum bagi wanita berasal dari Anas bahwasanya seorang lelaki melakukan safar sementara isterinya ia larang keluar rumah. Lalu Bapak si wanita itu sakit, kemudian ia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk menjenguk bapaknya, akan tetapi beliau bersabda kepadaya: “Bertaqwalah kepada Allah, dan janganlah engkau melanggar permintaan suamimu.” Tak berapa lama Bapaknya pun meninggal, lalu kembali ia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk melaat jenazahnya, tetapi beliau tetap bersabda: “Bertaqwalah engkau kepada Allah, dan jan­ganlah engkau melanggar perintah suamimu.” Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada Nabi saw: “Sesungguhnya Aku mengampuni wanita itu disebabkan ketaatan kepada suaminya.”
Syara’ telah memberikan kepada suami hak untuk melarang isterinya bepergian ke luar rumahnya, baik karena keperluan menjenguk kedua orang tuanya atau pergi berziarah kepada mereka, atau sesuatu yang mengharuskannya keluar, atau dalam rangka dermawisata. Semuanya tidak diperbolehkan bagi isteri keluar rumahnya kecuali jika suaminya mengizinkan. Namun demikian tidak pantas bagi seorang suami melarang isterinya untuk pergi menjeguk dan berziarah ke kedua orang tuanya, karena hal itu berarti telah memutuskan tali hubungan kedua­nya, dan ini dapat menjadi beban bagi isteri karena melang­gar perintah suaminya. Oleh karena itu Allah SWT memerintah­kan agar bergaul dengan cara yang ma’ruf. Dan melarang isteri untuk menjeguk dan berziarah ke kedua orang tuanya bukanlah perbuatan ma’ruf, begitu pula jika suami melarang isterinya keluar untuk pergi ke masjid bukanlah tindakan yang ma’ruf. Diriwayatkan bahwa Nabi saw pernah bersabda:

“Apabila seorang isteri membangkang kepada suaminya maka Allah SWT telah memberikan hak untuk memberikan pelajaran terhadap isterinya, sebagaimana firman Allah :

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nudyuznya (meninggalkan kewwajibannya), maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Kemudian jika mereka mentaati­mu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusah­kannya.” (An-Nisaa: 34)

Yang dimaksud dengan pukulan di sini adalah pukulan yang ringan, yaitu yang tidak membahayakan, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Rasulullah saw dalam khutbah wada’nya tatkala bersabda: “Apabila mereka melakukan perbuatan terse­but, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membaha­yakannya.”
Dengan demikian kepada suami telah diberikan wewenang untuk memberikan pelajaran terhadap isterinya jika melakukan perbuatan dosa, sebab pada suami terdapat kepemimpian atas urusan rumah tangganya. Selain perbuatan yang menyalahi suami dan diperintahkan oleh syara’ menunaikannya maka tidak boleh bagi seorang suami mengganggunya sama sekali. Allah SWT berfirman: “Kemudian jika kereka mentaatimu, maka jan­ganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (An-Nisaa: 34)
Bahkan wajib bagi suami menjadikan isteri-isteri yang seper­ti itu sebagai teman karib, bersikap lemah-lembut dalam meminta sesuatu apa saja terhadap isterinya, sampai jika diperlukan oleh suami hendaknya ia memilih situasi dan kondisi yang cocok. Rasulullah sawa bersabda:
“Janganlah mengetuk pintu rumah (isteri) pada malam hari., sampai (memberinya kesempatan) rambutnya yang kusut disisir rapi dan perempuan yang ditinggal pergi lama itu mempercan­tik diri.”

Arti kemimpinan suami terhadap isteri di dalam rumah bukan berarti bahwa dialah yang berkuasa secara otoriter didalam rumah seperti seorang penguasa yang tidak dapat dilanggar perintahnya. Akan tetapi arti kepemimpinan suami di dalam rumah menyagkut hanya urusan yang berkait dengan rumah tangga saja, jadi bukan kepemimpinan dalam kekuasaan dan pemerintahan. Oleh karena itu seorang isteri berhak menjawab ucapan suaminya, berdiskusi dan membahas apa yang dikatakan­nya, sebab keduanya laksana dua orang bersahabat, bukan antara pihak yang memerintah dan yang diperintah, penguasa dan bawahan. Malah kedua belah pihak bersahabat karib dan memberikan kepada salah satu diantara mereka kepemimpinan dalam urusan mengelola rmah tangga keduanya. Demikianlah yang dilakkan Rasulullah saw di rumahnya, yaitu bagaikan shahabat terhadap isteri-isterinya, bukan seperti penguasa yang otoriter terhadap mereka, meskipun beliau adalah seo­rang kepala negara dan seorang Rasul. Umar bin Khaththab ra berkomentar: “Demi Allah, sesungguhnya kami pada masa jahi­liyah tidak memperdulikan urusan kaum wanita sampai Allah menurunkan ketentuan tentang mereka dan meberikan kepada mereka (bagian) hak. Lalu beliau (Umar) melanjtkan kata-atanya, ketika aku berada dalam satu urusan tiba-tiba ister­iku berkata, seandainya engkau berbuat begini dan begitu. Akupun menjawab ada urusan apa engkau di sini, dan apa perlunya engkau dengan urusan yang kulakukan? Ia menukas, sungguh mengherankan engkau ini wahai puteri AL Khaththab, engkau tidak ingin ditentang akan tetapi puterimu menentang Rasulullah saw sehingga beliau gusar sepanjang hari. Umar kemudian melanjutkan penuturannya, aku lalu mengambil mantel dan pergi ke luar menemui Hafsah. Aku berkata kepadanya, wahai anakku engkau telah menentang Rasul sehingga beliau merasa gusar sepanjang hari. Hafsah menjawab, demi Allah, memeang kami menentangnya. AKu berkata lagi ketahuilah olehmu, aku memperingatkanmu terhadap azab Allah, orang telah terpesona dengan kecantikannya sendiri dan mengira cinta Rasulullah saw hanya karena itu. Kemudian aku pergi­menemui Ummu Salmah karena kami masih berkerabat, dan kucer­itakan kepadanya. Lalu Ummu Salamah berkata kepadaku, sung­guh mengherankan engkau ini wahai Ibnul Khaththab, engkau selalu turut campur dalam segala urusan, sampai-sampai hendak mencampuri rumah tangga Rasulullah saw. Umar berkata, kata-katanya itu amat mempengaruhiku sehingga aku mengurung­kan apa yang telah aku rencanakan, Kemudian akupun pergi.”
10:05 PM

Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya bahwasanya Abu Bakar pernah meminta izin kepada Rasulullah saw untuk menemuinya, setelah dizinkan ia pun masuk, lalu datang Umar ketika meminta izin juga kemudian ia pun masuk. Dilihatnya Nabi sedang duduk dalam keadaan masyghul di tengah-tengah isterinya yang juga sedang masgul dan berdiam diri. Ketika itu Umar berkata: “Aku akan mengatakan sesuatu yang dapat membuat Nabi saw tertawa.” Lalu katanya: “Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat binti Kharija (isteri Umar) meminta belanja nafkah kepadaku, maka aku bangkit menghampirinya dan kupeluk lehernya.” Maka Rasulullah pun tertawa seraya bersabda: “Mereka itu sekarang berada di sekelilingku meminta belanja (nafkah)
Berdasarkan gambaran di atas jelas bahwa arti kepe­mimpinan seorang laki-laki terhadap wanita memebrikan otono­mi kepada laki-laki, akan tetapi dilakukan dengan penuh persahabatan, tidak dengan cara otoriter dan dominasi, hendaknya dilakukan melalui pembahasan dan diskusi.
Ini dilihat dalam aspek pergaulan, adapun dalam hal pelaksanaan pekerjaan sehari-hari di rumah, maka seorang isteri diwajibkan melayani suaminya, seperti membuat adonan roti, memasak, membersihkan rumah, menyediakan minuman bila diminta, menyiapkan makanan dan melayani suaminya terhadap perkara yang seharusnya dilakukan di dalam rumah serta segala hal yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga secara mutlak. Sedangkan kewajiban suami memenuhi apa yang dilakukan di luar rumah, seperti menyediakan air, membersih­kan kotoran, memotong kuku (?) dan hendaknya berdandan sebagaimana isterinya berdandan untuknya dan lain-lain.
Ringkasnya bahwa segala sesuatu yang harus dilakukan di dalam rumah menjadi kewajiban wanita untuk mengerjakannnya, apapun jenis pekerjaan itu. Dan segala sesuatu yang harus dilakukan di luar rumah menjadi kewajiban laki-laki untuk mengerjakannya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi saw dalam kisah mengenai Ali dan Fatimah ra.:

“Bahwasanya beliau telah menetapkan bagi puterinya untuk mengerjakan pekerjaan di dalam rumah, sedangkan terhadap Ali mencakup pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah.”
Rasulullah saw telah memerintahkan isteri-isteri beliau untuk mekerja melayaninya, seraya bersabda:

“Wahai ‘Aisya ambilkan aku makan dan minum, ambillah pisau lalu asahlah dengan batu.”
Diriwayatkan pula :
“Bahwasanya Fatimah telah datang kepada Rasulullah saw mengadukan bahwa ia tidak dapat beristirahat, dan meminta pembantu kepada beliau supaya merintgankan pekerjaannya.”

Semua ini menunjukkan bahwa pelaksanaan melayani suami, dan mengurus rumah tangga merupakan salah satu kewajiban dari berbagai kewajiban seorang isteri yang harus dilakukan­nya. Meskipun demikian kewajiban itu ditunaikan sesuai dengan kemampuannya. APabila pekerjaannya amat banyak dan berat, maka wajib bagi suami menyediakan pembantu sehingga pekerjaannya dapat diselesaikan. dalam hal ini isteri berhal meminta pembantu kepada suaminya. Apabila pekerjaan di dalam rumah sedikit dan sang isteri mampu mengerjakannya, maka suami tidak wajib menyediakan pembantu. Bahkan sang isteri wajib melaksanakan kewajiban itu, dengan alasan apa yang telah ditegaskan oleh Rasulullah saw terhadap puteri­nya, Fatimah untuk mengerjakan pekerjaan di dumahnya. Dengan demikian seorang suami harus bergaul dengan osterinya dengan cara yang ma’ruf, begitu pula terhadap isteri hendaknya bergaul dengan cara yang ma’ruf kepada suaminya, sehinnga tercipta kehidupan suami-isteri kehidupan yang tenteram, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (Ar-Ruum : 21)

‘ A Z L

‘Azl adalah tindakan seorang suami yang tengah menggauli isterinya dan ketika air maninya hampir terpancar dikeluar­kan kemaluannya dari kemaluan isterinya. Hukum ‘azl menurut syara’ adalah boleh. Dengan demikian apabila seorang laki-laki tengah menggauli isterinya dan air maninya hampir terlepas maka kemaluannya dikeluarkan dari kemaluan isteri­nya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari ‘Atha dari Jabir yang berkata:

“Kami pernah melakukan ‘azl di masa Rasulullah saw sedangkan Al Qur’an saat itu masih turun.”
Diriwayatkan pula dari ‘Atha yang mendengar dari Jabir berkata :
“Kami pernah melakukan azl pada masa Rasulullah saw, kemud­ian hal itu sampai kepadanya (nabi), namun beliau tidak mencegah kami.”

Ini merupakan taqrir Rasulullah saw mengenai ‘azl yang menunjukkan kebolehannya, sebab seandainya ‘azl itu haram tentulah Rasulullah saw tidak akan mendiamkannya. Hukum tentang ‘azl oleh para shahabat disandarkan ke masa Rasulul­lah saw. Apabila pada shahabat menyandarkan suatu hukum ke masa nabi saw maka hal itu disebut sebagai hadits marfu’. Secara zhahir bahwa Nabi saw telah memperhatikan (melihat) perkara tersebut kemudian memutuskannyam kerena baanyaknya orang yang menanyakan kepada beliau hukum tersebut. Kebole­han ‘azl tercantum dalam banyak hadits shahih. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim dan Abu Dawud dari Jabir ra:

“Sesungguhnya seorang laki-laki pernah datang pada masa Rasulullah saw lalu berkata: ‘Sesungguhnya kami mempunyai seorang jariyah (hamba wanita) ia hamba wanita kami dan penyiram kebun kurma kami, dan aku menggaulinya, akan tetapi aku tidak suka jika ia hamil. Kemudian Nabi saw bersabda: ‘Lakukanlah ‘azl terhadapnya apabila kamu sukai, sebab sesungguhnya akan sampai pada wanita itu apa yang ditaqdir­kan Allah kepadanya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Said :

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw dalam perang Bani Musthaliq, lalu kami memperoleh tawanan perang (dari pendu­duk sipil yang terlibat perang/sabaya) dari orang-orang Arab, kemudian kami mempunyai keinginan terhadap wanita, sedangkan kami amat berat hidup membujang sementara kami menyukai azl, maka kami tanyakan hal itu kepad Rasulullah saw, beliau menjawab : ‘Mengapa kamu tidak melakukannya, karena Allah ‘azza wa jalla benar-benar telah menentukan apa yang akan diciptakannya sampai hari kiamat.”
Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Jabir yang berkata :

“Seorang laki-laki Anshar datang kepada Rasulullah saw lalu ia berkata : `Sesungguhnya aku memiliki seorang hamba wanita sedangkan aku menggaulinya dan aku tidak suka kalau ia hamil. Kemudian Nabi saw bersabda : “Lakukanlah ‘azl jika engkau suka, karena sesungguhnya akan sampai pada wanita itu apa yang ditakdirkan Allah kepadanya.”
‘Azl dibolehkan secara mutlak walau bagaimanapun tujuannya, baik bertujuan untuk tidak melahirkan (anak), supaya anaknya sedikit, atau bertujuan menyayangi isteri disebabkan lemah karena hamil dan melahirkan, atau agar tetap tampak awet muda dan dapat saling menikmati dengan tidak membebaninya (dengan hamil/memiliki anak) ataupun maksud-maksud lainnya.
Maka seorang suami boleh melakukan ‘azl apapun tujuannya, hal ini disebabkan karena dalil-dalil yang membahas perkara ini berbentuk mutlak, tidak terikat berbagai kondisi, ber­bentuk umum dan tidak terdapat dalil yang mengkhususkannya, sehingga dalil-dalil tersebut dibiarkan dan tetap berlaku umum atau mutlak. Tidak bisa dikatakan disini bahwa ‘azl sama dengan membunuh seorang anak sebalum diciptakan-Nya. Terdapat hadits-hadits yang menjelaskan penolakan terhadap tuduhan itu. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Sa’id :

“Seorang laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki hamba wanita dan aku melakukan ‘azl, aku tidak suka ia hamil, sementara aku menyukai apa yang disukai seorang laki-laki, tetapi orang-orang yahudi berkata bahwa ‘azl adalah pembunuhan kecil. Maka beliau menjawab : ‘Orang-orang yahudi berdusta, seandainya Allah menghendaki mencip­takan sesuatu, maka tak ada seorangpun yang dapat mengha­langinya.”
Terdapat nash yang membolehkan ‘azl dengan maksud tidak ingin memiliki anak. Diriwayatkan dari Imam Ahmad dan Muslim dari Usamah bin Zaid :

“Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw, lalu ia berkata : `Sesungguhnya aku melakukan ‘azl terhadap isteriku.` Kemudian Nabi saw bertanya kepadanya :`Mengapa engkau lakukan hal itu ? Laki-laki itu menjawab : `Aku merasa kasihan terhadap anaknya atau pada anak-anaknya.` Maka Rasulullah saw bersabda : “Kalau hal itu berbahaya tentu telah tertimpa bahaya orang-orang Persia dan Romawi.”
Beliau disini menggunakan kata `lam taf’al` tidak dikatakan dengan `laa taf’al`. Dari hadits ini dipahami bahwa beliau menyetujuinya, sekaligus memberitahukan bahwa munculnya anak setelah memiliki anak sebelumnya tidak akan membawa mudharat
dengan alasan apa yang terjadi dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Usamah bin Zaid bahwa seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah saw lalu ia berkata :

“Sesungguhnya aku melakukan ‘azl terhadap isteriku karena aku kasihan pada anakku. Maka Rasulullah saw bersabda :`Seandainya memang seperti tidak mengapa, orang-orang Persia dan Romawi tidak tertimpa madharat karena hal itu.”
Diriwayatkan pula dari Imam Muslim melalui Abdurrahman bin Basyar dari Abi Sa’id :

“Khawatir kalau-kalau kehamilan itu membahayakan anak yang disusui.”
Apabila Rasulullah saw menetapkan/menyetujui ‘azl supaya tidak terjadi kehamilan yang dapat membahayakan anak yang masih dalam penyusuan, maka hal itu merupakan justifikasi terhadap ‘azl agar tidak terjadi kehamilan disebabkan khawa­tir banyaknya tanggungan, atau menghindar dari akibat yang dihasilkan dari hubungan suami isteri, atau yang lainnya. Sebab Allah SWT bila mengetahui bahwa seorang anak akan lahir, maka pasti anak itu lahir, baik dilakukan ‘azl atau tidak. Oleh karena itu riwayat Ibnu Hibban dalam hadits Anas bahwasanya seorang laki-laki bertanya mengenai ‘azl, maka Nabi saw menjawab:

“Seandainya air yang dapat melahirkan anak ditumpahkan pada batu yang besar niscaya cari batu itu pasti akan lahir seorang anak.”
Disini tidak dapat dikatakan bahwa membatasi keturunan itu menyalahi anjuran Nabi saw untuk memperbanyak keturunan, dimana beliau bersabda : “Kawinlah kalian, kembangkanlah keturunan kalian dan perbanyaklah.”

“wanita yang berkulit hitam tetapi subur selbih baik dari pada wanita cantik tetapi mandul.”

Kebolehan ‘azl tidak bertentangan dengan anjuran untuk memperbanyak keturunan, dalam masalah kedua terdapat doron­gan untuk memperbanyak keturunan, dan dalam masalah lain terdapat kebolehan ‘azl. Adapun apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Judzamah binti Wahb Al Asadiyah yang berka­ta:

“Pernah Rasulullah saw hadir di tengah-tengah orang banyak seraya bersabda: ‘Sungguh aku pernah berkeinginan merlarang ghillah (bercampur dengan isteri yang masih menyusukan anak) lalu aku mengamati orang-orang Persia dan Romawi, ternyata mereka melakukan ghilah, tetapi toh tidak membayakan anak-anak mereka sama sekali.’ Kemudian mereka menanyakan tentang /azl, maka beliau saw menjawab : ‘Itu adalah pembunuhan secara samar, (dan itulah yang dimaksud dengan firman Allah:
“Dan apabila bayi-bayi wanita yang dikubur hidup-hidup itu ditanya.”
Hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih lain yang secara gamblang membolehkan ‘azl. Apabila terdapat suatu hadits yang bertentangan dengan hadits-hadits lain yang lebih banyak, maka hadits-hadits yang banyak itulah yang lebih rajih dibandingkan yang sedikit. Berdasarkan hal ini maka hadits tersebut ditolak karena bertentangan dengan hadits-hadits lain yang lebih kuat dan lebih banyak jalan periwayatannya.
Tidak dapat juga dikatakan bahwasanya menngumpulkan hadits ini dengan hadits-hadits yang membolehkan ‘azl be­rarti bahwa hadits tersebut menunjukkan makruhnya ‘azl. Hal itu mungkin jika tidak terdapat pertentangan, yaitu terdapat larangan Rasulullah pada hadits kedua sedangkan hadits-hadits yang pertama tidak. Hadits yang diriwayatakan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dari Abu Said: “Orang-orang yahudi berkata bahwa ‘azl adalah pembunuhan kecil. Maka beliau mejawab : ‘Orang-orang yahudi berdista.’ Dan hadits Jazimah berkata:

“Itu adalah pembunuhan secara samar, dan itulah (yang dimak­sud dengan firman Allah: Dan apabila bayi-bayi wanita yang dikubur hidup-hidup itu ditanya. Tidak mungkin menggabungkan dua hadits seperti ini. Mungkin pula kedua macam hadits itu tergolong hadits yang nasih dan yang mansuh atau salah satu lebih kuat dari yang lainnya sehingga yang lemah ditolak. Sejarah hadits itu tidak diketahui. Hadits Abu Said didukung oleh hadits-hadits lain yang banyak, sedangkan hadits yang diriwayatkan melalui Jazimah hanyalah satu, tidak diperkuat oleh hadits-hadits lain. Maka hadots itu ditolak dan berda­sarkan metoda pentarjihan yang kuatlah yang diterima. Dengan demikian ‘azl dibolehkan secara mutlak, bukan suatu hal yang makruh, apapun maksud atau tujuan dari orang yang melakukan ‘azl itu karena dalil-dalil tentang ‘azl yang umum sifatnya. Seorang laki-laki yang ingin melakukan ‘azl tidak memerlukan izin isterinya karena perkara ini tergantung kepada suami bukan isteri. Tidak dapat dikatakan karena sesungguhnya jimak adalah hak seorang isteri maka air mani menjadi hak isteri, dan tidak boleh seorang suami menumpahkan air mani di luar kemaluan isterinya tanpa izin sang isteri. Hal seperti ini adalah pemahaman berdasarkan illat aqli, bukan illat syar’i sehingga tidak memiliki nilai apa-apa. Dengan sendirinya alasan itu tertolak. Memang benar bahwa jimak merupakan hak isteri tetapi penumpahan air mani bukanlah hak isteri, dengan alasan bahwasanya seorang yang impoten jika ia telah berkumpul dengan isterinya tetapi tidak dapat terpancar air maninya dianggap hak isteri telah diperoleh dengan berkumpulnya mereka berdua. Dan dalam keadaan seperti ini isteri tidak memiliki hak untuk melakukan faskh (memba­talkan pernikahannya).
Adapun apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Umar bin Khaththab yang berkata: “Rasulullah saw melarang ‘azl terha­dap perempuan yang merdeka, kecuali dengan izinnya.”
Hadits ini adalah hadits dloif, dalam rangkaian sanadnya terdapat Ibnu Luhaiah, terhadap pribadi orang ini terdapat perkataan yang negatif. Berdasarkan hal ini, maka hadits-hadits tersebut di atas dibiarkan dalam keadaan mutlak, yaitu bolehnya ‘azl.

Hukum ‘azl sesuai dengan praktek penggunaan obat (pil), kondom, spiral yaitu untuk mencegah kehalmilan. semua itu termasuk suatu perkara, sebab dalil-dalil yang membolehkan ‘azl sesuai dengan tujuan pemakaian alat-alat kontrasepsi. Hal ini termasuk suatu perkara dari berbagai perkara yang banyak tadi. Boleh bagi seorang suami untuk melakukan upaya pencegahan kehalmilan, baik dengan cara ‘azl atau dengan cara yang lainnya. Apa yang diperbolehkan bagi seorang laki-laki, maka bagi wanita pun hukumnya boleh, karena dasar hukumnya adalah boleh mencegah kehamilan dengan cara apa saja.
Kebolehan untuk mencegah kehalmilan ini bersifat khu­sus, dan pencegahan kehamilan ini sifatnya sementara. Adapun mencegah kehamilan yang bersifat fized dan dilakukan penge­birian, hal ini adalah tindakan yang haram. Penggunaan alat-alat kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan total dan menghentikan kelahiran, atau melakukan operasi medis yang bertujuan untuk mencegah kehamilan secara total dan menghen­tika kehamilan maka hal itu tergolong perbuatan yang haram, tidak boleh melakukannya karena termasuk salah satu jenis pengebirian, sehingga hukumnya sesuai dengan hukum pengebi­rian, sebab perbuatan ini memutuskan keturunan/kelahiran sebagaimana halnya pengebirian.
Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqash berkata:

“Rasulullah saw telah melarang Ustman bin Madh’un hidup membujang, dan seandainya Rasulullah mengizinkannya tentu kami akan berkebiri.”
Bahwa Ustman bin Madh’un telah datang kepada Nabi saw lalu berkata :

“Wahai Rasulullah sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki yang tahan hidup menyendiri/membujang, maka izinkanlah aku melakukan pengebirian. Rasul kemudian menjawab :`Tidak, tapi kalian hendaknya melakukan puasa.` Dalam riwayat lain ter­cantum kata-kata :
“Wahai Rasulullah apakah engkau mengizinkan aku melakukan pengebirian ? Maka Rasulullah menjawab : `Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kami kerahiban yang lurus lagi lapang.” Sedangkan dari Anas berkata :
“Bahwasannya Nabi memerintahkan kepada kami agar mampu menanggung beban (nikah), dan mencegah kami dari hidup membujang dengan larangan yang sangat, lalu beliau bersabda : `Kawinilah oleh kalian wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan bangga dengan banyaknya kalian dihadapan ummat-ummat lain di hari Kiamat.”

Sesungguhnya mencegah/menghalangi kelahiran secara total/fixed adalah perbuatan yang bertentangan dengan syari’ yang telah menjadikan kelahiran dan memiliki keturunan yang baik sebagai asal/dasar diadakannya perkawinan. Oleh karena itu Allah SWT berfirman dalam rangka memberikan alasan kepada manusia berkenaan dengan perkawinan :

“Dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu anak-anak dan cucu-cucu.” (An-Nahl : 72)
Syari’ telah menjadikan banyaknya anak/keturunan sebagai suatu hal yang dianjurkan (mandub), dan didorong serta pelakunya mendapatkan pujian. Diriwayatkan dari Anas bahwa­sannya Nabi bersabda :

“Kawinilah oleh kalian wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan bangga dihadapan para Nabi di hari Kiamat dengan banyaknya kalian.”
Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Kawinilah oleh kalian ibunya anak-anak karena sesungguhnya aku akan bangga bersamamu pada hari kiamat nanti.”
Dari Ma’qal bin Yassar berkata :

“Seorang laki-laki datang menghadap Nabi saw, lalu ia bertanya :`Sesungguhnya aku telah jatuh hati kepada seorang wanita yang keturunan mulia lagi cantik, akan tetapi ia mandul, apakah aku boleh mengawininya ? Beliau menjawab : `tidak`. Kemudian laki-laki itu datang lagi untuk kedua kalinya, tetapi Nabi tetap melarangnya. Kemudian laki-laki itu datang untuk ketiga kalinya, maka beliaupun bersabda : `Kawinilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur, karena sesungguhnya aku akan bangga bersama kalian.”

Sesungguhnya kebolehan mencegah kehamilan yang bersifat sementara baik yang berupaw ‘azl atau cara yang lainnya tidak berarti boleh melakukan abortus (pengguguran kandun­gan). Abortus, apabila dilakukan setelah masa ditiupkannya ruh terhadap janin merupakan perbuatan yang haram, baik abortus itu dilakukan dengan cara minum obat atau ramuan-ramuan tertentu, atau dengan menggerak-gerakkan anggota tubuh tertentu, atau melalui cara-cara kedokteran, baik dilakukan oleh pihak ibu, atau pihak bapak atau pihak dokter (perawat), sebab hal itu merupakan pelanggaran terhadap jiwa manusia dimana darahnya haram (ditumpahkan). Perbuatan termasuk tindakan kriminal yang harus ditebus dengan diyat.
Dan ukurannya disamakan dengan diyat Ghurrah, baik hamba laki-laki atau wanita, dan nilainya sepersepuluh dari diyat terhadap orang dewasa.
Allah SWT berfirman :

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar.” (QS. Al-An’am : 151)
Diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra berkata :

“Bahwa Rasulullah telah memutuskan janin seorang wanita dari Bani Lihyan yang terjatuh kemudian (janinnya) mati dengan diyat ghurrah baik hamba laki-laki atau wanita.”
Gugurnya kandungan sedikit sekali terjadi pada janin yang bentuknya sudah lengkap sebagaimana wujud manusia, seperti telah memiliki jari, tangan, kaki, kepala, mata atau kuku.

Adapun jika pengguguran kandungan sebelum ditiupkannya ruh pada janin, yaitu jika hal itu dilakukan setelah hari ke-40 usia janin, dan sejak berlangsungnya penciptaan janin, perbuatan seperti ini termasuk haram. Hukum yang diambil sama dengan hukum pengguguran kandungan setelah ditiupkannya ruh, yaitu haram, sehingga yang melakukannya wajib membayar diyat ghurrah baik laki-laki atau wanita. Hal ini disebabkan penciptaan telah dimulai atas janin, dan nampak sebagian anggota tubuhnya serta jelas bahwa janin itu hidup dan akan menjadi wujud manusia yang sempurna. Atas dasar hal ini pelanggaran tersebut merupakan pelanggaran terhadap hidup manusia yang darahnya terjaga, perbuatan ini termasuk pembu­nuhan atas jiwa manusia yang telah diharamkan oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya :

“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup dita­nya karena dosa apakah ia dibunuh.” (QS. at-Takwir : 89)

Dengan demikian haram atas seorang ibu atau bapak, atau dokter dan perawat menggugurkan kandungan setelah usia janin melampaui 40 hari. Dan siapapun yang melakukannya berarti telah terjerumus dalam perbuatan kriminaldan dosa, yang mengharuskannya membayar diyat atas gugurnya kandungan yaitu diyat ghurrah baik laki-laki ataupun wanita sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Bukhari dan Muslim.
Tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan, baik tatka­la penciptaan itu tengah berlangsung atau setelah ditiupkan­nya ruh, kecuali jika dokter telah menetapkan bahwa jika janin itu tetap berada dalam perut ibunya maka akan menda­tangkan kematian bagi ibunya yang secara otomatis juga kematian bagi janin tersebut. Dalam kondisi ini di bolehkan pengguguran kandungan untuk memelihara nyawa ibu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: