Oleh: politisimuslim | April 21, 2007

Darimanakah Harakah Islam Harus Mulai?

Darimana harakah Islam harus mulai memperbaiki keadaan masyarakat? Apakah dengan terlebihi dahulu memperbaiki individunya, seperti yang dilontarkan oleh kebanyakan gerakan Islam? Ataukah, dengan memperbaiki kondisi dan sistem masyarakatnya, sebelum memperbaiki individunya? Atau, perbaikan itu tidak mungkin berhasil apabila tidak didukung oleh sebuah Negara yang memperbaiki keadaan masyarakat dan individu? Atau bagaimana?
Fakta menunjukkan bahwa perbaikan terhadap individu tidak cukup dengan sendirinya dapat memperbaiki masyarakat. Namun ini tidak berarti bahwa perbaikan individu dapat diremehkan dan dianggap tidak begitu penting. Sebab, untuk memperbaiki masyarakat, diperlukan upaya besar yang dititikberatkan pada perubahan sistem yang berlaku di tengah-tengah masyarakat, perubahan pemikiran dan kebudayaan yang telah mengakar di dalamnya, serta perasaan individu masyarakat.
Perubahan tersebut tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan adanya usaha dari suatu kelompok yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena kelompok tersebut terbentuk dari sejumlah individu, tentu harus diupayakan terlebih dahulu mengubah diri mereka sendiri menjadi orang yang Shalih sebelum orang lain. Dan seharusnya upaya dan aktivitas kelompok tersebut tidak terbatas hanya memperbaiki sekelompok orang lain lalu menjadikannya sebagai bagian dari kelompok da’wah mereka, tetapi upaya yang paling pokok adalah mengubah masyarakat yang ada sekarang ini menjadi masyarakat Islam, melalui jalan pembinaan pemikiran dan perasaan individu-individunya.
Tidak dapat diperselisihkan lagi bahwa kondisi politik dan ekonomi yang berubah dan berkembang saat ini di negeri-negeri Islam selalu mengarah kepada suatu kondisi yang tidak sesuai dengan kepentingan umat Islam. Sering kita dengar banyak analisa terhadap keadaan tersebut dari intelektual-intelektual Muslim di berbagai negeri Islam. Tetapi diantara analisa-analisa tersebut yang paling menarik ialah dua pendekatan berikut ini:
(1) Memahami Keadaan Masyarakat. Ada diantara sebagian intelektual muslim yang mencoba menganalisa dengan cara membahas problema-problema yang ada sekarang. Mereka yakin bahwa setiap pemecahan suatu masalah tidak dapat dilakukan kecuali dengan memahami keadaan/fakta masalah tersebut, persis seperti halnya seorang dokter yang tidak akan memberi obat sebelum melakukan diagnosa terhadap penyakit yang diderita pasiennya.
(2) Pesimis terhadap Keadaan. Sebagian intelektual lainnya berusaha menciptakan sikap pesimis terhadap diri kaum muslimin. Caranya, mereka selalu memperbandingkan kemajuan bangsa-bangsa Barat dengan kemunduran kaum muslimin saat ini. Mereka sengaja menonjolkan keadaan kaum muslimin yang payah tersebut dari berbagai aspeknya. Setelah itu mereka tidak memberikan pemecahan jitu terhadap problema tersebut, bahkan sama sekali tidak berusaha menyumbangkan jalan keluar untuk mengatasinya. Mereka itu seolah-olah mengatakan kepada kaum muslimin: “Itulah keadaan umatmu”. “Kalian tidak akan mengalami perubahan!”, teriaknya. Terhadap analisa semacam inilah, kita harus waspada.
Oleh karena itu, telah menjadi kewajiban bagi siapa saja yang mendambakan suatu kebangkitan kaum muslimin, agar tidak hanya memaparkan masalah-masalah kaum muslimin, tanpa memberikan pemecahan. Karena sikap seperti ini tidak akan menyumbangkan suatu pemikiran baru. Tetapi, yang seharusnya adalah mulai menentukan rencana-rencana yang tepat untuk merancang pemecahan jitu bagi kaum muslimin dan mengembalikan mereka ke posisi mulia sebagai umat yang paling unggul di dunia. Dengan cara demikian mereka dapat menjadi umat yang dikehendaki Allah SWT sebagai “Khaira Ummah” yang dilahirkan dan menonjol di tengah-tengah umat manusia. Nah, disinilah kemudian timbul pertanyaan: “Dari mana kita harus mulai?”
Kalau kita meneliti jawaban dari berbagai gerakan Islam terhadap pertanyaan ini, akan kita dapatkan dua macam pandangan:
Pertama: Perbaikan Individu
Kelompok ini berusaha memperbaiki setiap individu muslim dengan memfokuskan perhatian yang sangat besar terhadap fondasi masyarakat. Mereka menganggap manakala telah didapatkan kesempatan yang cukup untuk memperbaiki fondasi tersebut, maka kaum muslimin akan kembali mendapatkan kemuliaannya seperti sedia kala. Dan menurut mereka, “Allah menghindarkan orang-orang Muûmin dari peperangan”(baca: Surat Al Ahzab: 25)
Kedua: Perbaikan Masyarakat
Kelompok ini beranggapan bahwa usaha yang paling benar adalah membentuk sebuah negara yang memikul beban da’wah dan melindungi kaum muslimin dari berbagai penyakit yang mereka derita, serta mengubah masyarakat menjadi masyarakat Islam yang dengan perubahan itu pasti akan mempengaruhi individu-individunya, sekaligus memperbaiki keadaan mereka.
Di antara dua pandangan tersebut, terdapat perbedaan metode sekalipun tujuannya sama yaitu mengembalikan kejayaan umat Islam. Mengingat tujuan tersebut merupakan keperluan yang sangat penting, maka perlu kita bicarakan lebih mendalam untuk mengetahui mana yang paling benar.
Sebelum menjawab pertanyaan terakhir ini, terlebih dahulu kita harus sepakat terhadap satu hal pokok, bahwa Islam telah menentukan dan menunjukkan kebenaran itu. Diantaranya ialah apa yang tercantum dalam Al Qurâan, surat An Nisaa ayat 59:
“…(Lalu) jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu (masalah), maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qurâan) dan Rasul (sunnahnya)”
Oleh karena itu, dalam rangka menyatukan pendapat, marilah kita lihat bagaimana Rasulullah saw mulai menjalankan da’wah, dan berupaya menyelamatkan masyarakat jazirah Arab dari perpecahan sosial dan politik, sehingga mereka dapat bangkit bahkan mampu menaklukkan dunia.
Memang benar bahwa yang pertama kali dilakukan Rasulullah saw adalah membentuk aqidah yang benar pada diri siapa saja yang baru masuk Islam, disertai dengan memperbaiki tingkah laku mereka. Tetapi, beliau sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa hanya dengan itu saja beliau ingin membentuk sebuah masyarakat Islam. Kita semua tahu bahwa Rasulullah saw selalu keluar pada setiap musim haji untuk menyampaikan da’wah kepada delegasi-delegasi yang datang dari berbagai penjuru sekitar kota Mekkah agar mereka memeluk Islam1). Mengapa beliau menyampaikan da’wah kepada qabilah-qabilah tersebut, padahal penduduk Quraisy sendiri belum seluruhnya menerima Islam? Tidakkah kita melihat bahwa beliau tidak pernah mengatakan: “Aku akan membatasi usahaku pada individu masyarakat Makkah saja dengan memperbaiki tingkah laku mereka, dan dengan jalan itu Islam dapat ditegakkan”. Apa artinya?
Artinya ialah bahwa Rasulullah saw telah memahami bahwa kekuatan politik dan militer itu merupakan suatu keharusan. Beliau selalu memikirkan hal itu, termasuk pada saat beliau menempuh da’wah fardiah yang berusaha menyelamatkan setiap orang dari api neraka. Memang benar, bahwa beliau telah menentukan target yang lebih dari itu, yaitu menyelamatkan seluruh umat manusia dari api neraka, tetapi beliau tidak akan mampu menyampaikan ide-ide Islam kepada seluruh umat manusia apabila suaranya terbungkam.
Dari sinilah beliau menyertakan langkah meminta pertolongan dan perlindungan terhadap langkah pembinaan dan persiapan aqidah masyarakat. Tetapi, apakah Rasulullah saw menunggu sampai beliau memiliki suatu pondasi yang cukup kuat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh kelompok da’wah pertama diatas (yakni yang memperbaiki individu saja)? Fakta sejarah menunjukkan, bahwa tatkala beliau telah mulai meminta perlindungan dari pemimpin masyarakat Thaif, beliau berangkat sendirian ke sana. Sekalipun pada akahirnya beliau tidak berhasil, sampai-sampai anak-anak kecil pun melemparinya dengan batu2). Ini menunjukkan bahwa sekalipun da’wah Rasulullah masih dalam tahap awal, tetapi beliau telah
——————-1) Lihat Sirah Ibnu Hisyam Jilid I, halaman 422-427.2) Ibid, halaman 419.merencanakan untuk mencari kekuatan dan menjadikan hal ini sebagai salah satu usaha yang paling utama. Maksud dari kekuatan itu adalah memiliki sebuah negara.
Juga, bukankah Rasulullah pernah mengatakan kepada sahabatnya –sebelum hijrah tentunya: “Kita belum diperintahkan berperang”3). Bukankah ini isyarat bahwa peperangan itu akan terjadi, bahkan akan memiliki kedudukan penting dalam melindungi Islam setelah tegaknya negara Islam kelak?
Ada sebagian orang yang melontarkan suatu pemahaman bahwa penduduk Yatsriblah yang telah datang kepada Rasulullah saw dan mengajak beliau untuk datang ke negeri mereka sebagai salah satu upaya untuk mengatasi perselisihan dan permusuhan yang selalu terjadi antara dua suku besar, “Aus dan Khajraj”. Pemahaman seperti ini berkeinginan agar kaum Muslimin menerima secara apriori pendapat yang mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak pernah meminta sendiri dari para pemimpin Madinah untuk mendirikan negara di Madinah, melainkan merekalah (penduduk Madinah) yang menawarkan dan memberikannya! Dengan kata lain, hal ini terjadi begitu saja tanpa ada rencana sebelumnya. Namun fakta yang tercantum dalam kitab-kitab sirah Rasul menunjukkan sebaliknya.
Cukuplah kita membaca riwayat Ibnu Hisyam yang menceritakan peristiwa itu, yang menjadi saat-saat yang sangat penting dalam sejarah Islam ini. Hanya saja kita tidak akan mencantumkan nash secara keseluruhan, tetapi hanya ucapan orang-orang Anshar kepada Nabi saw4): “Kami telah meninggalkan kaum kami dalam keadaan saling bermusuhan dan buruk, sehingga tidak ada satu kaum pun yang keadaannya lebih buruk seperti mereka. Oleh karena itu Allah SWT mudah-mudahan menyatukan hati mereka dengan engkau. Nanti kita akan mendatangi mereka dan mengajak mereka untuk mengikutimu, lalu kami akan menawarkan kepada mereka agama yang kami terima dari engkau”.
——————-3) Ibid, halaman 448.4) Ibid, halaman 328-329.
Perkataan mereka, “Ajabnaaka” (yang kami terima dari engkau), menunjukkan bahwa Rasulullahlah yang telah meminta pertolongan dan perlindungan dari mereka. Itulah yang dapat dimengerti dari perkataan tersebut, kecuali kalau memang ada kamus-kamus bahasa terdapat pengertian yang lain dari itu.
Sebagai penguat argumentasi dan pemahaman ini, kita kutipkan sebuah riwayat Asy Sya’bi, bahwa pada saat itu As’ad bin Zararah bertindak sebagai pemimpin suku Al Khazraj. Pemimpin suku ini berkata kepada Rasulallah saw5):
“…Engkau telah meminta kepada kami (untuk menyerahkan kekuasaan milik kami). Sedangkan kami adalah suatu kelompok masyarakat yang hidup di negeri mereka dalam keadaan mulia dan kuat. Namun di situ tidak ada yang rela dipimpin oleh orang dari luar suku kami, khususnya bagi kaumnya sendiri yang paman-pamannya tidak memberikan perlindungan bagi mereka. (Terus terang bahwa) permintaan tersebut adalah suatu hal yang sukar sekali. Tetapi kami ini (telah bersepakat untuk) memenuhi permintaanmu itu…”
Tinggal kini kita menyebut tindakan Umar, ketika beliau memutuskan membuat kalender Islam ternyata beliau menjadikan peristiwa hijrah sebagai tahun pertama. Penafsiran tindakan Umar ini tidak lain adalah bahwa peristiwa hijrah adalah merupakan awal lahirnya negara dan masyarakat Islam pertama. Apakah ada seorang peneliti yang dapat membicarakan masalah masyarakat Islam sebelum membicarakan masyarakat Islam di Madinah?
Cobalah kita berfikir, bagaimana mungkin bisa membangun suatu masyarakat Islam sekarang ini tanpa ada sebuah negara Islam! Kalau Rasulullah saw saja selama 13 tahun berda’wah di Mekkah tidak berhasil,
——————-5) Lihat Dalailumi Nubuwah, Abu Nu’aim Al Ashbahani, halaman 106.padahal beliau mendapatkan pertolongan dari Allah SWT; juga sekalipun beliau –seperti yang diakui pula oleh para orientalis– tidak pernah menghadapi kepercayaan/agama yang begitu berbahaya. Lalu bagaimana dengan kita? padahal kita ditantang untuk menghadapi ide-ide sekuler dan materialis, serta serangan kebudayaan Barat yang didukung oleh kekuatan militer dan sistem intelegen-nya? Apakah mungkin kita dapat menghadapi semua bahaya dan tantangan ini dengan tangan kosong (tanpa sebuah negara)?
Sekalipun telah kita sebutkan bukti-bukti yang jelas seperti di atas, masih saja ada sebagian orang yang menolak menganalogikan keadaan sekarang dengan keadaan masa lalu. Mereka beralasan bahwa keadaan masa lampau berbeda dengan keadaan sekarang, di samping Rasulullah saw sendiri punya keistimewaan dan kelebihan. Atau, bahwa penyerupaan ini akan mendorong kita “berkhayal” dan menjauhkan diri dari kenyataan! Dan walaupun kita tegas menolak alasan-alasan tersebut, tetapi baiklah kita akan mencoba meneliti dan melihat keadaan sekarang ini –sekalipun dipisahkan dari sirah Rasul dan cara beliau memecahkan persoalan– Kita akan lihat bahwa akal, di samping syara’, akan mengantarkan kita kepada kesimpulan yang serupa.
Ambillah, misalnya, suatu negeri yang penduduknya mayoritas muslim. Di tengah-tengah negeri itu berkembang banyak ide, dan kepentingan yang saling bertentangan, seperti partai-partai komunis/sosialis atau paham sekuler, di samping adanya ketegangan dengan agama-agama lain, taruhlah agama kristen misalnya; tentu dalam masyarakat seperti ini orang-orang lambat laun akan menjauhkan diri dari Islam, rasa ketaqwaan akan berkurang, dan aqidah Islam akan menjadi mudah goyah dalam diri kaum muslimin. Pada saat kita meneliti masyarakat seperti ini, kita harus membayangkan secara jujur bahwa masyarakat yang kita jadikan contoh ini merupakan suatu gambaran yang ada pada setiap masyarakat Islam secara umum. Atau paling tidak merupakan suatu gambaran yang mewakili negeri yang akan diperbaiki, sekalipun pendekatan masing-masing kita berbeda.
Harus kita perhatikan disini, bahwa partai-partai Sosialis itu dapat bergerak tentu mendapat dukungan dari salah satu partai politik dan militer yang besar di tingkat internasional. Derasnya arus sekulerisasi juga karena didukung oleh negara-negara Barat dan Timur secara bersamaan, selain –ini yang sangat menyedihkan– oleh negeri-negeri Islam sendiri. Akan halnya aktivitas kristenisasi, praktek mereka didukung oleh negara-negara Eropa, khususnya Perancis dan Vatikan. Kita tidak dapat membayangkan apa akibatnya jika sekolah-sekolah misionaris di negeri-negeri Islam, seperti Libanon, didirikan oleh penduduk Nasrani dan dapat dipertahankan keberadaannya sepanjang masa, tanpa mendapat dukungan dari orang-orang Nasrani di seluruh dunia. Jadi pengaruh-pengaruh ideologi dan pemikiran yang menentang Islam selalu didukung oleh kekuatan politik dan militer dari negara tertentu. Lantas umat Islam, siapa yang melindungi kepentingan-kepentingan mereka? Apa kita harus berlindung kepada negara-negara yang ada di dunia Islam, sementara pemimpinnya merupakan kaki tangan negara adidaya yang tidak punya harga diri lagi?
Cukuplah kita melihat bagaimana sikap Saudi Arabia, yang merupakan tanah Hijaz dan pusat Islam pertama terhadap pengusiran sekitar 300.000 kaum muslimin dari Bulgaria tahun 1989. Lihat pula bagaimana sikap Saudi dan Kuwait dalam meminta perlindungan kepada Amerika Serikat untuk menghancurkan salah satu negeri Islam Irak, dan meluluskan keinginan Amerika Serikat disana untuk menghancurkan kekuatan militer dan ekonominya. Kita jadi bertanya, apakah ini dapat terjadi kalau kaum muslimin mempunyai suatu daulah yang mempertahankan negeri-negeri mereka dan menjaga kehormatannya. Padahal dahulu khalifah Al-Mu’tasim (masa Abbasiyah) telah membakar kota Rumiyah (Roma), juga membunuh 90.000 orang hanya untuk mendukung seorang wanita muslimat yang berteriak sambil memanggil: “Waa Mu’tasimaah, di manakah engkau wahai Al Mu’tasim”, setelah dilanggar kehormatannya oleh tentara Romawi. Juga jauh sebelumnya, Rasul mengumumkan perang terhadap kaum Yahudi dari Bani Qainuqa’, hanya untuk melindungi wanita yang dibuka jilbabnya oleh orang Yahudi.
Namun sekarang siapa yang bisa membalas kehormatan kaum muslimin yang dilanggar musuh Islam di Palestina, di India, Bosnia, Myanmar, Filipina atau di tempat-tempat lainnya? Apa pidato-pidato, seminar, lokakarya, kongres, dll bisa melakukannya!?
Mata tidak bisa melawan penusuk mata, tetapi pedang bisa menghancurkan sarungnya. Akhirnya kita dapat simpulkan bahwa setiap pemikiran yang ditujukan untuk membangkitkan kaum muslimin hendaknya mampu membentuk kesadaran individu sebagai langkah awal, menghidupkan dan mengembangkan aqidah mereka, juga menampakkan kerusakan dan kekeliruan ideologi Barat, disamping selalu berusaha memperbaiki perilaku setiap muslim semaksimal mungkin, dan memecahkan persoalan-persoalan masyarakat.
Tetapi harus selalu diingat bahwa cara tersebut tidak cukup untuk mengubah keadaan. Bahwasanya jalan yang sempurna dan komplit yang ditempuh untuk membangkitkan kaum muslimin adalah dengan membentuk kesatuan politik dan ekonomi di bawah satu bendera dan satu naungan, yaitu negara khilafah yang berusaha menyampaikan da’wah secara totalitas ke seluruh penjuru dunia. Dan hendaknya usaha untuk mewujudkan ini semua harus mendapat perhatian lebih dan memerlukan curahan pikiran dan tenaga yang sangat besar dari seluruh kaum Muslimin di dunia, khususnya yang ada di Timur Tengah sebagai pembawa harapan bagi seluruh umat Islam di dunia.
Bila kita sudah tahu bahwa daulah khilafah adalah syarat mutlak untuk membangkitkan kaum muslimin secara sempurna, maka inilah jalan yang ditempuh untuk mengadakan “ishlah” (perbaikan) yang kita inginkan. Yaitu jalan tersebut pernah ditempuh oleh Rasulullah saw. Karena itu, kita tidak boleh menyimpang sedikitpun dari padanya atau mengambil jalan tengah. Misalnya berkompromi dengan penguasa yang menentang kehadiran Islam di bidang politik dan ekonomi negara, atau di bidang hukum dan peradilan.
Kita bukanlah umat yang biasa mengambil jalan tengah (moderat). Pilihan kita hanya dua; keinginan itu tercapai atau kita harus mati karenanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: