Oleh: politisimuslim | April 23, 2007

DUA PUTARAN DI ANTARA PUTARAN-PUTARAN DAKWAH

Rasulullah saw. berjalan di Makkah dalam dua putaran. Pertama, putaran pengajaran, peneladanan, dan penyiapan pemikiran dan kerohanian. Ke dua, putaran penyebaran dakwah dan perjuangan.
Putaran pertama adalah putaran pemahaman pemikiran, pengaktualan pemikiran dalam individu-individu dan pembentukan kutlah mereka berdasarkan pemikiran tersebut. Putaran ke dua adalah putaran transfer pemikiran menjadi kekuatan potensial di masyarakat yang mendorong untuk diterapkannya pemikiran itu dalam kancah kehidupan, karena pemikiran akan tetap menjadi sekedar informasi selama belum diterapkan. Tidak ada perbedaan antara informasi-informasi ini dengan yang terdapat dalam buku-buku atau otak manusia. Informasi-informasi itu hakikatnya tersimpan dalam suatu tempat. Karena itu, pemikiran tidak memiliki nilai jika belum ditransformasikan untuk diterapkan dalam kehidupan. Agar pemikiran diterapkan, maka harus berjalan dengan putaran yang mengubahnya dari pemikiran menuju kekuatan yang memotivasi dalam diri manusia. Dengan itu, maka masyarakat akan beriman, memahaminya, mengembannya, dan memperjuangkannya untuk diterapkan. Ketika itu, penerapannya menjadi perkara yang pasti dan hasil yang alami.
Seperti demikianlah Rasul melaksanakan dakwah di Makkah dalam dua putaran. Adapun putaran pertama adalah putaran dakwah mengajak manusia memeluk Islam, membina mereka dengan pemikiran-pemikirannya, mendikte (membimbing) mereka dengan hukum-hukumnya, dan membentuk kutlah orang-orang yang mampu dibentuk dalam kutlah di atas dasar aqidah Islam. Putaran ini adalah putaran pembentukan kutlah secara rahasia dalam dakwah. Demikian itu menunjukkan bahwa Rasul tidak pernah lepas dari dakwah dan bersungguh-sungguh membina orang-orang yang masuk Islam dengan pemikiran-pemikiran. Beliau mengumpulkan mereka di rumah al-Arqam, dan mengirim sahabat yang akan membina mereka dalam bentuk kutlah di berbagai halaqah. Maka kaum muslimin berkumpul di rumah-rumah mereka secara rahasia, di bukit-bukit dan di rumah al-Arqam dengan rahasia pula. Mereka membentuk kutlah. Setiap hari teman mereka bertambah dan hubungan mereka satu dengan yang lainnya juga semakin bertambah dekat. Setiap hari kesadaran mereka tentang hakikat penting yang mereka emban (Islam) juga semakin bertambah. Lalu mereka dituntut siap untuk berkorban di jalan Islam hingga dakwah tertanam dalam jiwa mereka dan Islam mengalir di dalam diri mereka seperti darah yang mengalir dalam jasad mereka. Lalu mereka menjadi Islam aktual yang berjalan.
Dengan demikian, dakwah tidak bisa tetap terkurung dalam jiwa mereka meski mereka berusaha menyembunyikan diri mereka dan merahasiakan kutlah mereka. Semangat menyembunyikan mengumpulkan mereka. Lalu mereka berdialog dengan orang yang percaya pada mereka dan pada orang yang bersikap manis pada mereka dan siap menerima dakwah. Maka orang merasakan dakwah dan keberadaan mereka. Dan dengan demikian dakwah pada awalnya bertolak dari satu titik permulaan dan harus disebarkan. Maka ditemukanlah upaya-upaya untuk menyebarkannya dan berdakwah kepada semua manusia. Dengan demikian putaran pertama berakhir, yaitu putaran pembentukan kutlah secara rahasia dan pembinaan yang membangun kutlah ini. Maka jadilah putaran ini harus berpindah menuju putaran ke dua, yaitu putaran interaksi dan perjuangan dengan memberikan pemahaman Islam pada manusia. Dalam putaran itu, mereka saling bertanya-jawab dan menerima Islam sehingga Islam menyatu dalam jiwa mereka, atau menolak dan menyerangnya sehingga mereka berbenturan dengan pemikiran-pemikiranya. Benturan ini menimbulkan serangan terhadap orang kafir dan kerusakan, iman dan kebaikan menjadi kokoh, dan pemikiran yang benar menang. Karena pemikiran-pemikiran yang sombong tidak mungkin bertahan (mengunci) di hadapan pemikiran yang benar, juga tidak mampu membatalkannya, meski pemikiran yang sombong itu lari darinya hingga pemikiran yang benar tidak berpengaruh terhadapnya.
Seperti demikian putaran interaksi dimulai dan dalam putaran ini pergulatan antara pemikiran (Islam) dan pemikiran (kufur) dan antara kaum muslimin dan kaum kafir mulai terjadi. Demikian itu dimulai dari kutlah hizbiyah (kelompok politik). Pada waktu itu, Rasulullah saw. bersama para sahabatnya dalam kutlah yang satu keluar dengan tertib di mana bangsa Arab sebelumnya tidak pernah mengalaminya. Beliau thawaf di Ka’bah dan mengumumkan Islam. Semenjak itu Rasulullah saw. telah menjadi orang yang menyebarkan dakwah di antara seluruh manusia dengan cara terang-terangan, di siang hari, berkeliling, dan menantang.
Maka, jadilah ayat-ayat yang turun pada Rasul mengajak pada ketauhidan, mengingkari keberhalaan dan kesyirikan serta mengutuk keduanya, dan mencela bapak-bapak dan nenek moyang tanpa pemikiran. Muatan ayat-ayat yang turun mencela mu’amalah-mu’amalah yang rusak, menyerang riba, dan menghantam perdagangan yang rusak dan penipuan dalam takaran dan timbangan. Rasul akhirnya menjadi orang yang berbicara kepada manusia tentang Islam dalam arti jamaah. Kaumnya berkumpul makan di rumahnya dan beliau berbicara pada mereka dalam bentuk jamaah. Beliau meminta mereka patuh (masuk Islam) dan mendukungnya. Namun, mereka menolaknya dengan sangat jahat. Kemudian beliau mengumpulkan penduduk Makkah di bukit Shafa dan mengajak mereka berbicara. Tiba-tiba emosi para pemimpin kafir Quraisy terbakar dan mereka menjadi marah. Abu Lahab berdiri dan menolaknya dengan sangat biadab. Akibatnya, permusuhan antara Nabi saw. dan kaum kafir Quraisy semakin bertambah seiring memuncaknya kemarahan di tengah gesekan pergulatan antara kabilah-kabilah Arab non-Quraisy dan Nabi saw.
Seperti demikianlah keberadaan dakwah. Dakwah mengelompok dalam pembinaan yang dipusatkan (markas) dengan bentuk halaqah-halaqah di rumah-rumah, di antara bukit-bukit, dan di rumah al-Arqam. Pembinaaan secara berkelompok. Kemudian dakwah beralih dari tahapan dakwah sebatas pada orang-orang yang bersimpati dan siap menerima Islam menuju tahapan dakwah yang mengajak manusia secara umum. Dakwah jama’iy dan pembinaan jama’iy memiliki pengaruh yang kuat dalam kaum Quraisy. Karena itu, dendam kafir Quraisy semakin bertambah dan rasa khawatir akan bahaya Islam semakin menghantui mereka. Mereka pun mulai mengambil langkah-langkah permusuhan lebih tegas dan pengekangan yang lebih ketat setelah tidak mempedulikan Muhammad dan dakwahnya. Maka, penganiyaan dan siksaan yang menimpa Nabi saw. dan para sahabatnya semakin meningkat. Akan tetapi, dakwah jama’iy memiliki pengaruh yang kuat dalam dakwah itu sendiri. Semua orang akhirnya mendengar kalimat Islam. Ajakan kembali pada agama Allah di tengah seluruh penduduk Makkah mulai tersebar luas dan tidak ada hari kecuali sebagian dari mereka memeluk Islam karena Allah semata. Setiap orang yang keras, lemah, dan yang diharamkan mulai beriman. Semua orang tidak dipalingkan oleh perdagangan dan jual-beli dari berpikir tentang apa yang diserukan kepada mereka oleh Rasulullah saw. Dengan itu, maka sebagian pedagang Makkah beriman. Begitu juga tokoh-tokoh Makkah, para pemimpinnya, dan orang-orang yang jiwanya mengetahui kesucian, kebeningan hati, dan kebenaran. Mereka pun menghilangkan permusuhan dan kesombongan dari diri mereka. Mereka adalah orang-orang yang memasrahkan wajah mereka pada Allah semata-mata karena mengetahui kebenaran dakwah dan juru dakwahnya. Islam pun tersebar di Makkah dan orang-orang dari kalangan kaum pria dan wanita masuk Islam. Dengan demikian, dakwah jama’iy mempunyai pengaruh yang mampu mengalihkan dakwah ke penjuru dunia yang lebih luas, meski pengalihannya membawanya pada kesulitan yang dahsyat, siksaan, dan berbagai jenis penganiayaan. Pengaruh itu menambah api dendam yang semakin membakar jiwa para pemimpin kafir Quraisy dan mendorong mereka untuk lebih meningkatkan serangan dan penganiayaan pada Rasulullah saw. Beliau diperlakukan dengan kasar, biadab, dan menuntutnya sebaga budak yang memang mereka selama ini menjadi pemimpin Makkah.
Maka, antara Rasul dan para sahabatnya di satu sisi dengan kafir Quraisy pada sisi yang lain mulai memasuki tahapan dakwah yang paling sulit. Ini adalah satu di antara tahapan-tahapan dakwah lainnya. Beliau bersama para sahabatnya memasuki putaran dakwah yang lebih mengerikan di antara putaran-putaran lainnya. Jika pengalihan tahapan dakwah dari putaran pembinaan ke putaran interaksi adalah putaran yang paling lembut (halus atau ringan), karena memang hanya membutuhkan hikmah, kesabaran, dan kecermatan berperilaku, maka putaran interaksi ini adalah putaran dakwah yang paling sulit karena membutuhkan kelantangan, keterus-terangan, dan penantangan tanpa memperhitungkan hasil-hasil dan perolehan-perolehan apapun. Dalam kondisi demikian, fitnah dan penganiayaan kaum kafir terhadap kaum muslimin sering terjadi. Dalam kondisi ini, iman dan kemampuan menanggung resiko beriman serta pengakuan membenarkan adanya hari pertemuan juga tampak menonjol.
Seperti demikianlah Rasulullah saw. berjalan dalam putaran dakwah. Beliau dan para sahabatnya menanggung beban yang sangat berat seperti beban-beban yang dipikul gunung-gunung yang menjulang tinggi. Beban-beban itu berbentuk berbagai penganiayaan, pembodohan, penyiksaan, dan perusakan. Akibatnya, di antara mereka ada yang hijrah ke Habasyah membawa lari agamanya. Ada juga yang mati di bawah penyiksaan. Ada juga yang menanggung siksaan yang sangat keras dan menyakitkan. Mereka tetap melanjutkan dakwah dalam kodisi demikian dalam waktu yang lama yang cukup untuk mempengaruhi masyarakat Makkah dengan Islam dan menceraiberaikan kezaliman-kezaliman. Jika Rasulullah tinggal di Daar al-Arqam selama tiga tahun untuk berdakwah dan mengakhiri putaran pertama untuk dilanjutkan pada putaran pembentukan kutlah secara rahasia dan pembinaan di tengah-tengah tiga tahun ini, maka Rasulullah saw. telah menghabiskan waktu selama 8 tahun untuk memperjuangkan Islam secara terang-terangan. Beliau langsung turun ke gelanggang masyarakat, berjuang di tengah-tengah mereka, dan menampakkan mukjizat-mukjizat Islam kepada manusia. Bersamaan dengan itu, tekanan kafir Quraisy, penyiksaan mereka pada kaum muslimin, dan kemurkaan mereka untuk memerangi Islam tidak mengendur dan meringan.
Memang benar, gesekan yang terjadi di antara kaum muslimin dan kafir Quraisy menyebabkan seluruh lorong Jazirah Arab mendengar Islam. Udara dakwah berhembus ke seluruh penjuru Jazirah sambil menerbangkan aroma dakwah kepada mereka dengan hujjah-hujjah dan berdiskusi tentangnya. Akan tetapi, bangsa Arab pada waktu hanya berdiri sebagai penonton dan belum melangkah ke arah keimanan. Bahkan, respon mereka hanya sebatas usaha meredam kemarahan kafir Quraisy sekaligus menjauhi Rasulullah saw. Sikap demikian tentu tidak berpengaruh pada kemarahan kafir Quraisy, tetapi justru semakin menindas Rasulullah dan para sahabatnya. Kemudian tampak keharusan pengalihan tahapan dakwah ke tahapan ketiga, yaitu tahapan penerapan Islam. Akan tetapi, kekerasan masyarakat Arab di Makkah tidak menunjukkan kemungkinan adanya penerapan ini. Meningkatnya penganiayaan terhadap kaum muslimin tidak memungkinkan adanya peluang untuk berdakwah, bahkan hal itu menciptakan kondisi yang memisahkan mereka dari dakwah. Berpalingnya manusia dari dakwah menambah penderitaan dan kesedihan mereka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: